His Purpose

His Purpose
82. Instability Hearts



"Nyonya, ayo kita kembali. Hari sudah mulai sore. Udara juga semakin dingin." Laura menegurnya yang tengah membaca di tepi danau.


Danau biru di tengah hutan yang asri dan rindang. Seketika mengingatkan Maria pada kebersamaannya dengan Gibran. Lima hari sudah lelaki itu pergi, dan hingga saat ini Maria hanya bisa mendengar suaranya melalui telpon, juga panggilan video yang kerap mereka lakukan saat Maria hendak tidur.


Jika bukan karena Maria yang merajuk serta mengancam dengan berlagak tidak makan, yang menyebabkan Martha melapor pada Nick, mungkin sampai sekarang Gibran akan membisu tanpa memberinya kabar.


Pria sialan itu sangat pandai menggantung perasaan seseorang. Setelah bermanis-manis sebelum pergi, dia akan hilang bak ditelan bumi. Tapi, Maria tahu pasti Gibran selalu mengawasinya melalui mata-mata yang ada di sini.


Maria mendongak melihat langit yang mulai gelap. Sesuai yang Laura katakan, hari sudah berangsur senja, Maria juga bisa merasakan tajamnya udara menusuk kulit. Ia merapatkan mantel sebelum kemudian berdiri menyerahkan buku pada Laura, lantas beranjak meninggalkan gazebo menyusuri hutan yang juga minim cahaya.


Terlalu larut membaca novel membuat Maria lupa hingga waktu seakan tak terasa. Maria juga baru sadar belum menelpon Gibran. Biasanya pagi, siang, sore, ia akan menanyakan kabar pria itu secara beruntun. Tapi, kemarin Gibran dengan sadar menghubunginya duluan. Kenapa sekarang tidak?


"Laura, apa ada telpon dari Koko siang ini?"


Laura yang berjalan di belakangnya menggeleng ragu. "Sepertinya tidak, Nyonya. Jika ada, mungkin Martha sudah menghubungkannya pada kita."


Maria merenung di sela langkahnya. Dalam hati bertanya-tanya apa yang sedang Gibran lakukan hingga tak sempat memberi kabar.


Koko, semoga kamu tidak lupa bahwa aku menunggumu di sini.


Aku tidak tahu apa kepergianmu murni karena pekerjaan, atau ada hal lain yang tidak kuketahui. Kenapa perasaanku sangat tidak nyaman?


"Laura, sepertinya aku tidak akan berendam. Kepalaku sedikit pusing, rasanya ingin cepat-cepat berbaring dan tidur."


"Apa Anda sakit, Nyonya?" Laura bertanya khawatir. Ia mempercepat langkah hingga sejajar dengan Maria.


Maria menggeleng, "Tidak. Aku baik-baik saja. Mungkin mataku lelah karena terlalu lama membaca."


"Yakin? Wajah Anda sedikit pucat."


"Aku baik-baik saja."


***


Maria membuka matanya perlahan, tepat ketika layar ponsel di sampingnya berkedip menampilkan nama yang sejak tadi ia tunggu-tunggu kemunculannya.


Matanya jatuh pada angka di bagian atas layar. Pukul delapan malam. Itu berarti di New York masih pagi.


Maria menggeser tombol menerima panggilan, nampaklah wajah tampan Gibran memenuhi atensi Maria. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas mahalnya seperti biasa, menyorot Maria dengan tatapannya yang datar namun penuh pengertian.


"Laura bilang kamu sakit?"


Maria merengut enggan menjawab.


"Maaf, tadi tidak sempat menghubungimu. Nick lupa membangunkanku."


Melihat raut lelah Gibran, wajah Maria spontan melunak. Ia jadi merasa bersalah karena menuntut dihubungi setiap waktu. Padahal ia tahu perbedaan waktu Indonesia dan New York pasti menyulitkan Gibran.


"Tak apa. Mulai sekarang cukup siang dan malam saja." Begini lebih baik.


Gibran mengulas senyum tipis, "Aku akan tetap mengusahakan menghubungimu sekalipun tengah malam."


"Makanlah sebelum tidur lagi. Kamu belum makan malam."


Bukan hal mengherankan jika Gibran mengetahui segala hal yang ia lakukan di Mansion. Laura dan Marta sudah pasti rutin memberi laporan. Dasar mereka itu.


"Aku tidak selera makan," lirih Maria dengan suara mengantuk.


Mata Gibran menajam, "Kamu harus makan, Plum. Aku tidak mengizinkanmu untuk sakit."


Maria mencibir, "Memangnya Koko siapa hingga bisa melarang sakit menghampiriku?"


"Jangan keras kepala. Cepat turun sebelum pelayan kembali ke paviliun."


"Tidak mau. Sudah kubilang aku tidak selera makan." Maria memejamkan mata bersiap tidur kembali.


"Maria," tekan Gibran dengan suara tegas nan datar.


Maria tak menggubris. Pun Gibran menghela nafas berusaha sabar. "Bangunlah. Sebentar lagi Laura datang membawa makanan."


Maria menatap Gibran kesal, "Aku bilang tidak mau!"


"Harus mau."


"Tidak."


"Harus."


"Terserah!"


Maria turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu, menguncinya agar Laura atau siapa pun tak bisa masuk.


"Sudah kubilang aku tidak mau apapun. Kepalaku pusing, aku tidak nafsu makan, tidakkah Koko mengerti?" tukasnya menatap Gibran sengit.


Hening. Sorot Gibran terlihat rumit, sementara Maria mati-matian menahan emosinya yang melonjak pesat sejak pertama mendengar suara Gibran.


"Aku panggilkan dokter, ya?" Suara Gibran mulai melunak.


Namun Maria menggeleng, wanita itu kembali berbaring dengan wajah lesu.


"Jangan menolak. Setidaknya kita bisa tahu kondisi kesehatanmu seperti ap—"


"Aku tidak mau! Kenapa Koko tidak paham juga? Yang aku butuhkan itu Koko, bukan dokter! Kapan Koko akan pulang? Katanya cuma sebentar. Ini sudah mau seminggu ..."


Maria menyeka matanya yang tiba-tiba basah. Mata sialan! Kenapa kamu harus mengeluarkan air di saat seperti ini. Harga dirinya lagi-lagi jatuh di hadapan Gibran.


"Plum ..."


"Don't call me Plum!"


Maria menggasak mata sambil terisak. Pertahanannya runtuh. Mau ditahan sekeras apapun ia tetap tak bisa menyangkal kerinduan yang menggunung terhadap Gibran.


Ini baru lima hari, bagaimana kalau pria itu pergi sampai berbulan-bulan? Padahal, Maria sudah tahu dan terbiasa ketika masih tinggal bersama ayahnya. Rayan kerap bepergian lama ke luar negeri maupun kota. Maria memaklumi kesibukan sang ayah yang seolah tiada habisnya.


Tapi kini, entah kenapa ia begitu emosional terhadap lelaki yang bahkan belum ada satu tahun ia kenal.


"Ini sangat tidak nyaman ... hiks ... Kenapa perasaanku tidak enak ..."


Melihat tangisan Maria, tanpa sadar Gibran meremas ponselnya erat. Lelaki itu memejamkan matanya sejenak. Ada yang aneh, ia tidak yakin apa yang terjadi pada Maria. Sepertinya, setelah ini ia harus memastikan sesuatu.


"Perutku serasa penuh. Aku tidak bisa makan. Dan entah kenapa aku membenci wangi sabunku sendiri ... hiks."


"Makanya setiap mandi aku pakai sabun Koko ... Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan hidungku ... Kepalaku juga pusing ... hiks."


Maria terus berceloteh mengenai apa yang dia rasakan selama beberapa hari terakhir. Wanita itu menangis sesenggukan, sesekali ia akan menenggelamkan wajahnya di bantal, mengabaikan tatapan Gibran yang sepertinya tengah kebingungan harus berbuat apa.


Sudut mata Gibran menurun. Ia ingin memeluk Maria namun tak bisa. Pun ia tak pandai berkata-kata. Gibran terbiasa melakukan apa pun secara spontan. Menenangkan seseorang dengan cara bertutur manis bukanlah keahliannya.


"Hiks ... Aku rindu Koko ..."


Maria menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sedu sedan itu terdengar memilukan di telinga Gibran. Namun juga menghadirkan rasa hangat di hati. Entahlah, rasanya sulit dijelaskan. Gibran senang karena Maria begitu bergantung pada kehadirannya.


Tanpa Maria katakan pun, Gibran tahu wanita itu sudah mulai mencintainya. Seperti dulu.


"Plum? Listen."


"Hey, listen to me, please."


"Aku akan mengabulkan apa pun permintaanmu saat pulang nanti. Dengan satu syarat, bagaimana?"


Maria menyingkirkan tangannya menatap Gibran. Wajahnya benar-benar sembab dan mengenaskan. "Apa pun?"


"Hm. Apa pun," angguk Gibran yakin. "Tapi ada syaratnya."


"Apa?" Maria kesulitan mengatur nafas dan suaranya yang tersengguk-sengguk.


"Kamu harus makan secara teratur."


Hening.


"Setuju?"


Maria bimbang. Mungkin jika dalam keadaan normal syarat itu tidaklah masalah baginya. Akan tetapi, akhir-akhir ini suasana hatinya jungkir balik, selera makannya pun naik turun tak menentu.


"Setuju?" tanya Gibran lagi.


Tapi tawaran Gibran sangat sayang tuk dilewatkan. Siapa tahu Maria bisa mewujudkan keinginannya bertemu aktor Hollywood yang selama ini ia idam-idamkan.


"Baiklah. Tapi Koko tidak boleh ingkar janji."


"Tidak akan."


"Jadi, kamu bersedia makan sekarang, kan?"


Setengah hati Maria mengangguk. Gibran tersenyum puas melihatnya. Tepat setelah itu suara pintu kamar yang dibuka terdengar dari arah belakang Maria.


Kontan wanita itu terlonjak bangun. "Tunggu, kenapa Laura bisa masuk? Bukankah aku sudah mengunci pintunya?"


Gibran terkekeh di seberang sana, "Kamu terlalu meremehkan suamimu, Sugarplum."


Sepertinya Maria tidak sadar, diam-diam Gibran berkomunikasi dengan orang rumah selama mereka bicara.