His Purpose

His Purpose
189. Ending : Happy Pleasure



Gibran tak henti menatap testpack di tangannya. Maria bilang usianya sudah 4 minggu. Itu berarti sebulan sebelum dirinya ke Dubai.


Gibran memang cukup lama di negara tersebut. Proyek yang melibatkan Pangeran Arab Saudi itu benar-benar menguras waktu Gibran dan keluarga.


"Plum." Gibran menoleh pada Maria yang berdiri di sampingnya. Mereka tengah sama-sama menatap keluar jendela. Sementara yang lain heboh berfoto tak jauh dari sana.


Suara Sandra dan Gabriel yang paling mendominasi, juga Valencia yang entah mereka sedang berebut apa. Namun dari kedengarannya, sepertinya mereka tengah menggoda Sandra tentang calon adik barunya.


"Hm?" Maria turut menoleh pada Gibran.


"Kemarin kamu kepentok meja, apa tidak apa-apa? Aku ... juga main sedikit kasar," ujar Gibran gugup.


Entah lelaki itu terlalu senang atau malu karena sudah galau seharian gara-gara didiamkan Maria. Bisa juga merasa bersalah lantaran kemarin Gibran cukup keras saat mereka berhubungan.


Maria tersenyum merangkul bisep Gibran dan bersandar di sana. Otot tangan sang suami begitu terasa membuatnya nyaman. "Aku tidak apa-apa, kok. Jangan khawatir, rahimku kuat."


Gibran mengusap wajah Maria. "Maaf."


"Ck, berhenti minta maaf. Memangnya Koko salah apa?"


"Kemarin kamu marah."


"Sudah kubilang aku tidak benar-benar marah. Aku mengabaikan Koko untuk kejutan ini. Meski sebenarnya hal itu tidak ada dalam rencana, sih, hehe. Tapi lucu juga lihat Koko uring-uringan dengan wajah melas." Maria terkikik geli.


Gibran berdecak. Ia mencubit hidung Maria gemas. "Bisa-bisanya kamu jahil seperti itu. Kamu tidak tahu jantungku hampir copot tadi?"


"Hehe, maaf ..." ringis Maria.


Gibran mengulas senyum, menatap Maria hangat. Wajahnya turun mengecup kilat bibir sang istri disertai sedikit l u m a t a n.


Ia melepas rangkulan Maria dan beralih mendekap hangat wanita itu. Gibran menumpukan dagunya di pucuk kepala Maria. Keduanya kembali menatap keluar, menyaksikan warna-warni kerlip malam yang bersinar di sekitar perbukitan.


Benar, bangunan mewah ini terletak di pedestrian Berastagi, sebuah kota di Sumatera Utara yang Gibran pilih sebagai tempat huniannya bersama keluarga.


Ia dan Maria memiliki impian yang sama, membangun rumah di daerah yang memiliki udara dingin dan sejuk. Dulu Swiss adalah list utama mereka, Gibran juga hampir memboyong istri dan anaknya ke negara tersebut. Akan tetapi, kematian sang ibu membuat Gibran mengambil keputusan mendadak.


Pada akhirnya ia dan Maria tetap menetap di sini, bersama Sandra dan anak-anak mereka kelak.


Teriakan Sandra dan orang-orang yang hadir di sana turut meramaikan suasana, namun hal tersebut seakan tak berani mendobrak ketenangan antara Gibran dan Maria.


Dua sejoli itu nampak damai mengamati langit malam. Bisa dilihat mansion mereka berdiri kokoh dari kejauhan, juga istana peristirahatan Abhi dan Sandra terlihat megah berkilau.


"Dua tahun lalu aku hanya memberi Koko kado sebagai hadiah. Saat itu aku tak berani membuat pesta kejutan seperti sekarang karena Koko dan yang lain masih sedih dengan kepergian Papa Abhi dan Mom Sandra," tutur Maria pelan.


Sebuah kecupan mampir di pucuk kepalanya. Gibran menghirup dalam-dalam wangi rambut Maria yang kerap membuatnya mabuk kepayang.


Selama 34 tahun hidupnya, baru sekarang Gibran merasakan hatinya sedamai ini. Maria tak ubahnya seperti cahaya yang menuntun Gibran menemukan sebuah jalan yang indah.


Gibran tak lagi ketakutan dalam kubangan gelap. Wanita itu membawa pendar hangat pada kehidupannya yang beku. Bersama Alisandra dan calon anak mereka yang lainnya, Gibran akan membangun keluarga impian yang dulu pernah gagal orang tuanya wujudkan.


"Mommy! Dydy!" Sandra berteriak sambil menggeliat di pelukan Gabriel. Gadis kecil itu meronta-ronta ingin turun.


"Uncle lepas! Nda mau mimi!"


"Kamu sudah besar, sebentar lagi mau punya adik, masa sekarang masih mau mimi?"


"Pokonya Nda mau mimi! Nda mau mimi! Huaaa ... Mommy ... Hiks ... Hiks ..."


Gibran dan Maria hanya bisa menggeleng sambil membuang nafas. Keduanya saling melempar pandang satu sama lain.


Maria merengut seraya mencibir. "Yang paling susah disapih itu Koko," cetusnya.


Gibran meringis seraya melempar cengiran. "Kalau aku jelas beda, Sayang. Jatahku jelas tanpa limit."


"Tanpa limit? Dikira kartu kredit?"


"Ya kan memang nyicil, Plum. Aku punya cicilan punya anak banyak sama kamu."


Ingin sekali Maria melempar Gibran dari lantai tertinggi gedung ini. Untung sayang, kalau tidak, mungkin sudah sedari tadi Maria mendorong lelaki itu hingga tewas di lereng bukit.


Maria tak menanggapi lagi selorohan Gibran. Ia beralih menghampiri Sandra yang rupanya sudah diam berhenti menangis. Anak itu tengah tiduran di pangkuan Rayan sembari menghisap dot. Matanya berkedip sayu pertanda mengantuk. Sebentar lagi pasti tidur.


Astaga, benar juga. Maria kan tadi bawa susu di tas gendong Sandra. Sepertinya Laura atau Harley yang memberikan itu.


Maria mendekat, namun ... "Sandra biar Papa yang jaga. Kamu fokus saja dengan suamimu. Ini hari spesialnya, kamu harus memberinya sesuatu yang istimewa."


Maria tahu apa istimewa yang dimaksud Rayan. Astaga, ia sedang hamil, yang benar saja.


Dan melihat senyum miring Gibran di belakang sana, Maria tahu ia tak bisa membantah. Dasar, sejak kapan mertua dan menantu itu kompak satu frekuensi?


Sandra terlelap di pangkuan kakeknya. Anak itu lekas diboyong ke mobil untuk segera pulang ke mansion. Yang lain juga turut meninggalkan tempat. Katanya, kapan-kapan Gibran akan mengajak mereka semua berlibur ke luar negeri.


Tentu saja semuanya bersorak senang, apalagi Laura yang memang belum pernah menginjak tanah selain Indonesia, jelas girang bukan main.


"Koko tumben baik? Serius mau bawa semua pekerja liburan?"


Gibran mengangguk. "Mungkin tidak bisa semuanya, sebagian harus jaga rumah. Biar nanti giliran saja."


Maria tersenyum memeluk Gibran. "Suamiku sekarang baik, ya?"


"Memang dulu aku kurang baik?"


"Hm," angguk Maria jujur. "Koko cenderung kejam, sih."


Kenyataan tersebut membuat Gibran tersenyum nanar. Betapa buruknya ia di masa lalu. Kejam, tak punya perasaan, semua itu memang pantas disematkan padanya.


Ia mengecup kening Maria lama. "Aku akan berusaha menjadi lebih baik."


"Janji?" Maria mendongak.


Gibran menunduk balas menatap sang istri dengan senyum teduh. "Janji."


Keduanya lantas mengulas senyum lebar dan kembali berpelukan satu sama lain.


Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa sudah 4 tahun mereka menikah, sesuatu yang semula Maria kira tak akan bertahan lama karena hubungan mereka tak disangka-sangka.


Ternyata ia dan Gibran memang sudah terikat dan punya cerita jauh sebelum sekarang. Kisah masa lalu yang tanpa sadar menjadi benang yang menjerat takdirnya dan lelaki itu.


Maria mencintai Gibran, dari dulu hingga sekarang. Dan ia bersyukur bisa dipersatukan kembali dengannya.


Tuhan memang ahli dalam menyusun skenario hidup. Meski banyak pria yang pernah menjadi kekasihnya, Tuhan tetap mengembalikan Maria pada Gibran sebagai jodohnya.


Gibran, dia adalah lelaki teristimewa yang Tuhan berikan pada Maria.


Kisah mereka akan terus berlanjut hingga keduanya menyapa senja. Maria dan Gibran, mereka adalah satu dari sekian manusia yang setia pada pasangannya.