
Maria meraba-raba kasur mencari ponselnya yang berdering. Saat ketemu, nama dan foto Gibran mengambang di sana. Lelaki itu melakukan panggilan video. Maria menoleh melirik jam digital di atas nakas, masih jam sepuluh malam.
Entah berapa lama Maria tertidur. Sepulangnya Kakek Roman ia memang langsung terlelap begitu menyentuh kasur.
Maria menggeser tombol menerima panggilan tersebut. Seketika wajah glow up Gibran memenuhi layar. Ia berkedip sayu menatap sang suami yang samar-samar nampak tersenyum.
"Malam, Sayang."
"Siang ..." sahut Maria dengan suara mengantuk.
Gibran terkekeh menoleh ke belakang tubuhnya yang menampilkan cuaca cerah di luar jendela. Ia kembali menatap Maria yang kini memejamkan mata dengan nafas teratur.
"Aku ganggu tidur kamu?"
Setengah sadar Maria menggeleng. "Kangen ..." lirihnya parau.
Gibran tersenyum tipis. "Martha bilang kamu lari-larian seharian ini?"
Terdengar decakan dari mulut Maria. "Tidak, kok. Aku hanya berjalan-jalan, mereka saja yang berlebihan."
"Bukan berlebihan, tapi kamu memang harus hati-hati. Tolong jangan diulangi. Lihat, sekarang kamu kelelahan."
Maria membuka matanya kesal. "Kenapa Koko malah ikut-ikutan mengomel? Aku tahu aku ceroboh. Tak perlu diingatkan."
Gibran tak bersuara lagi. Maria dan keras kepalanya, ia tahu sia-sia saja jika memaksa. Mata Gibran kemudian turun pada pakaian yang dikenakan Maria.
"Kamu pakai kemejaku?" Itulah yang sedari tadi menarik perhatian Gibran.
Maria yang selalu seksi dengan gaun tidurnya, kini terlihat imut dan panas di balik kemeja besar yang menenggelamkan tubuhnya.
Maria menggumam menjawab pertanyaan Gibran. Ia menarik guling sebagai penyangga ponsel, sementara tangannya menggeliat ke atas berusaha melemaskan otot. Saat itulah Gibran melihat bayangan puncak ranum dada Maria yang tercetak jelas tanpa bra.
Seketika Gibran meneguk ludah. Pusat tubuhnya berkedut, pun nafasnya mulai berat. Ia berdehem mengalihkan sejenak wajahnya ke samping. "Kamu ... tidak pakai bra?"
Seharusnya tak perlu ditanya.
"Hem ... engap."
Gibran menoleh, "Sesak?"
"Bukan. Berat saja rasanya. Entahlah, dadaku seakan mengeras dan sakit akhir-akhir ini."
"Coba lihat."
"Ck, modus." Maria mencibir.
"Lihat. Buka kancingnya."
"Tidak mau."
"Buka."
"Ish. Tidak! Koko pasti mau macam-macam." Maria menyilangkan tangan mencegah pandangan Gibran.
"Aku akan memaafkan apa pun kesalahanmu jika kau menurut."
Kening Maria berkerut nampak berpikir. "Koko serius?"
"Hm. Asal bukan perselingkuhan."
"Siapa juga yang mau selingkuh? Bagaimana aku bisa selingkuh kalau keluar rumah saja tidak boleh? Harusnya di sini Koko yang patut dicurigai. Bisa saja di sana Koko bertemu wanita cantik lalu terlibat hubungan one night—"
"Cukup. Bicaramu mulai melantur," tukas Gibran datar. Wajahnya berubah gelap, sudah pasti lelaki itu sedang kesal.
"Lanjutkan tidurmu. Besok kuhubungi lagi."
"E-Eh! Tunggu! Koko sudah membangunkanku lalu sekarang mau menutup panggilan begitu saja? Seriously?"
Gibran tak menyahut, ia hanya menatap Maria dalam diam. Mulutnya bungkam membentuk garis lurus. Hal tersebut membuat Maria berdecak. "Baiklah, aku minta maaf. Aku percaya Koko tidak serendah itu."
Masih hening.
"Begitu saja marah," gumam Maria.
"Mau tidak?"
Gibran mengangkat satu alisnya hingga terkesan arogan. Astaga, ekspresi menyebalkan itu yang selalu ingin Maria timpuk.
"Wait. Oke, i am sorry. Please open." Gibran menggaruk hidung berlagak santai memeriksa sesuatu di atas meja. Padahal dalam hati ia mati-matian menahan ego.
Gibran tak percaya ia baru saja memohon pada seorang wanita untuk membuka bajunya.
Maria tersenyum penuh kemenangan. Ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja Gibran hingga tersisa setengah. Posisinya menyamping dengan ponsel yang sudah sedikit di jauhkan. Sengaja, supaya Gibran bisa lebih leluasa melihat. Maria jelas tahu apa yang Gibran inginkan.
Ia menyibak kemeja tersebut tepat di bagian dada, hingga kedua bukit kembarnya terpampang nyata di depan layar. Gibran terpaku menatap pemandangan indah itu. Besar, bulat sempurna dan kencang. Sangat menantang, ditambah puncak merah mudanya mengeras seakan mengundang Gibran untuk mengulum dan melahapnya.
Tanpa sadar Gibran menggeram. "Dekatkan."
Dengan senang hati Maria menuruti kemauan Gibran. Ia mendekatkan kamera ke arah dadanya yang sengaja dibusungkan. Jari lentiknya mengusap pelan, memutar hingga sesekali menjepit puncaknya sambil mendesis.
Wajah Gibran sudah merah. Nafasnya terengah dengan mata gelap dan sayu. Berkali-kali lelaki itu menelan ludah. Jangan tanya nasib celananya yang kian menyempit. Sesuatu di dalamnya sukses menegang sempurna.
"Sialan. Ini terlalu seksi," desisnya.
"Tuh, kan, Koko jadi kepengin. Gimana, dong ..." Maria cemas sendiri. Kasihan juga melihat Gibran yang frustasi.
Tak disangka godaan kecil itu membuat hasrat Gibran meluap. Awalnya dia memang sengaja ingin merayu Gibran. Niatnya supaya pria itu cepat pulang. Tapi, kalau sampai menyiksa Maria juga jadi kalut sendiri.
Gibran menjauhkan wajah dari ponsel. Pria itu nampak bersandar di sofa. Matanya berkabut menatap Maria. "Kamu harus memuaskan suamimu, Plum."
"Ba-Bagaimana aku bisa? Kita kan berjauhan."
Gibran menatap Maria lurus, "Sentuh dirimu sendiri."
"A-Apa? Koko bercanda."
"Maria, please ...! I am so zippy!"
"Suruh siapa maksa? Menderita kan jadinya?" rengut Maria disertai gugup.
"Please ... Oh, come on, Honey ..."
Gibran menyentuh dan mengurut pelan sesuatu di balik celana. Matanya tajam menatap payu-dara Maria yang terpampang di layar. "Emh ..."
"Koko, ih! Apaan, sih! Kalau ada yang lihat gimana?"
"Who cares?"
"Oh, yes ..."
Maria yang mendengar Gibran mendesah seperti itu jadi malu sendiri. Ada-ada saja pria triplek itu.
Mata Gibran terpejam. Kepalanya mendongak dengan mulut membuka menikmati sentuhannya sendiri. Kurang puas, ia pun menurunkan resletingnya mengeluarkan pusat tubuhnya yang menegang sempurna.
Matanya kembali menatap rakus pemandangan setengah telanjang Maria di ponsel. Wanita itu melotot menyadari apa yang Gibran lakukan.
"Omo— Koko, kau ..."
"Mendesahlah. Cepat mendesah."
"Tapi ..."
"Give me your sigh."
"Turunkan ponselmu. Aku ingin melihat yang lain."
Dan seketika itu pula Maria mendapati sesuatu yang baru. Erangan, lenguhan, juga geraman Gibran menunjukkan betapa bergairahnya lelaki itu. Gilanya, Maria ikut terbawa suasana hingga melakukan apa saja yang diperintahkan Gibran, termasuk menyentuh dirinya sendiri juga memasukkan jarinya di celah intim yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Maria menikmatinya. Terlebih Gibran juga nampak bersemangat hingga pelepasan itu datang. Raungan puas Gibran mengakhiri aktivitas konyol mereka. Maria tergolek lemah di atas ranjang, sementara Gibran terlihat mengatur nafas sebelum kemudian menyeringai tipis, menunjukkan tangannya yang basah oleh cairan sendiri.
Ini gila! Tapi Maria suka. Kerinduannya seakan sedikit terobati.
Maria menggigit jari ketika Gibran menunjukkan pusat gairahnya yang dipenuhi lelehan putih.
"Koko, anak-anakmu pasti menjerit karena kau membuang mereka begitu saja."
Seketika itu pula tawa keras Gibran menggema untuk pertama kalinya. Pria itu begitu lepas seolah baru keluar dari ruang gelap yang selama ini mencekiknya.
Diam-diam Maria mengulas senyum. Entahlah, tapi melihat Gibran yang pelan-pelan mulai membuka batas membuat Maria lega sekaligus senang.
Itu berarti ada celah untuk Maria masuk, bukan?