His Purpose

His Purpose
163. A Danger



Seluruh mata memandang ke arah pintu masuk ballroom begitu Gibran dan Maria muncul di sana.


Maria berdiri gugup merangkul lengan Gibran. Pria itu lekas mengusap punggung tangannya dengan halus, guna menenangkan.


Maria mendongak, Gibran mengirim senyum kecil padanya. Baiklah, Maria hanya harus berdiri di samping lelaki itu, berkenalan dengan para kolega, lalu makan.


Maklum, sejak hamil Maria tak bisa jauh-jauh dari makanan. Mulutnya terasa ingin mengunyah terus.


"Tenang. Kamu tidak perlu mengobrol, cukup jawab jika ada yang bertanya. Tapi kalau setidaknya pertanyaan itu memberatkan, kamu boleh hanya diam. Aku tidak menuntut apa pun, Plum."


Maria mengangguk mengerti. Setidaknya title Maria cukup bisa dibanggakan. Meski bukan wanita karir, ia lulus sarjana dengan nilai cukup baik. Satu lagi, ia berasal dari keluarga terpandang sama seperti Gibran. Tidak ada yang mesti membuatnya malu.


Gibran membawanya ke tengah ruangan. Sejumlah rekan dan karyawan langsung mendekat memberi sapaan. Maria hanya mengangguk disertai senyum, atau menyapa balik dengan kalimat pendek semisal 'selamat malam' membalas mereka.


"Sudah berapa bulan, Bu?" tanya salah satu perempuan yang Maria tahu seorang manager divisi.


Maria tersenyum mengusap perutnya. "Delapan."


"Wah, sebulan lagi melahirkan."


"Hehe, iya," kekeh Maria senang.


Gibran tersenyum tipis melihat Maria yang sepertinya sudah mulai nyaman. Ia mengecup singkat pelipis sang istri yang tanpa disadari menimbulkan henyakan iri dari beberapa wanita.


Hal yang wajar mengingat Gibran adalah salah satu role model mereka sebagai calon suami. Di luar sikap apatis Gibran yang dianggap terlalu kejam, pria itu menyimpan pesona tersendiri dalam hal mengenai fisik.


Kemunculan Gibran sebagai pengusaha di tanah air cukup menggegerkan dunia bisnis. Perkembangannya yang pesat berhasil melambungkan nama Gibran yang sebelumnya memang sudah dikenal secara internasional.


"Istrinya sangat cantik. Sama-sama anak sultan pula. Cocok, sih. Mereka serasi. Apalagi sejak tadi Pak Gibran tangannya tidak mau lepas."


"Iya, sudah cantik dari lahir sih itu. Beda kelihatannya."


"Huum."


Obrolan itu menguar ketika Maria dan Gibran sudah jauh beranjak meninggalkan mereka. Keduanya tampak elegan menyapa para tamu kelas atas di sana.


"Eh, tapi apa kamu tahu? Katanya sebelum ini Bu Maria itu calon istrinya Pak Gabriel."


"Gabriel Wiranata? Pemilik WiEl Group yang sempat dikabarkan hilang itu?"


"Bukan hilang, dia kabur di hari pernikahan." Kalimat itu terucap dalam sebuah bisikan.


Satu geng karyawan wanita itu terhenyak. "Apa?"


"Maksudnya, Pak Gibran menikah karena menggantikan adiknya? Ya ampun kasihan sekali. Tapi Beliau terlihat begitu sayang pada Bu Maria. Mana sampai hamil begitu."


"Entahlah. Tapi artikel itu muncul beberapa menit yang lalu. Nih, kalau tidak percaya." Benda berupa ponsel terulur di tengah-tengah mereka.


Memang benar, berbagai pemberitaan mengenai Gibran dan Maria menempati posisi teratas headline di situs pencarian.


Opini-opini tanpa kebenaran bertebaran begitu saja. Gibran tahu itu, dan ia memang sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.


Mulanya Gibran berencana memamerkan Maria saat acara launching game terbaru beberapa bulan lagi setelah anak mereka lahir. Tapi, Maria yang paranoid dengan kisah novel mendadak memaksa ikut.


Terang saja Gibran langsung membakar buku novel yang menceritakan kisah murahan tak bermutu itu. Ia bahkan memaki sang penulis karena telah mencemari pemikiran Maria.


"Mr and Mrs. Wiranata, apa kabar?"


"Baik," sahut Gibran formal. Maria turut mengangguk disertai senyum.


Mereka bersalaman dengan beberapa mitra perusahaan Gibran dari Singapura. Bisa dibayangkan acaranya sebesar apa. Gibran bahkan mengundang kolega dari luar negeri.


Gibran mengangguk senang. Rautnya seolah bangga saat mengusap perut Maria. "Yes. Baby girl."


"Owahh ... hahaha. Selamat, ya."


Gibran hanya mengangguk dan mengulas senyum kecil. Selanjutnya mereka mengobrol sebentar mengenai pekerjaan sebelum memutuskan duduk di meja bundar paling depan dekat stand banner digital yang melintang besar, khusus untuk tamu VVIP.


Gibran menggeser kursi untuk Maria duduk, kemudian ia menyusul melesakkan diri di sampingnya. Terlihat Romanjaya mendekat menyapa sang cucu. Maria melempar cengiran lebar sambil melambai semangat pada si kakek.


Roman mendengus tak percaya. Dasar sok dekat, batinnya. Ia beralih menatap Gibran yang tak jadi duduk ketika ia datang. Bagaimana pun Gibran harus bersikap baik di depan publik. "Selamat ya, Nak. Perusahaan barumu berkembang pesat."


"Hm." Gibran hanya menyahut singkat sambil menerima jabatan tangan dari Roman.


"Andai papamu ada di sini, dia pasti ikut bangga," lanjut Roman sedih.


Mata Maria turut meredup. "Grandpa yang sabar, ya? Papa Abhi pasti akan segera siuman."


Belakangan Maria mengetahui keadaan Abhimanyu yang sebenarnya dari Rayan. Emang dasar Gibran, Maria langsung mencak-mencak saat tahu pria itu berbohong mengenai kondisi ayahnya sendiri.


Terlihat Rayan dan Gabriel mendekat dari kejauhan. Kedua pria itu entah bagaimana bisa bersama. Tapi Rayan memang sudah akrab sedari dulu dengan Gabriel. Tidak terlalu akrab juga, sih. Hanya terlihat lebih sering mengobrol ketimbang dengan Gibran.


"Kak, selamat, ya."


"Selamat," ucap Rayan singkat.


"Hm."


Ingin sekali Maria menyenggol Gibran lantaran pria itu terus saja memasang raut datar dan malas. Tidak bisakah lebih ramah sedikit pada mertua?


Mereka duduk di meja yang sama. Maria yang meminta. Kecuali Gabriel tentu saja. Ia hanya mendecak malas melihat dengan santainya pria itu bergabung di sana. Gabriel hanya melempar cengiran lebar saat Maria mendelik sambil mencebik.


"Kita kan teman. Kakak juga tidak cemburu," dalih Gabriel saat Roman memberinya isyarat untuk pindah.


Haih, sudahlah.


Di luar, tepatnya di gedung seberang jalan seorang pria bertopi menekan sebuah handsfree di telinga. Matanya lurus menatap bangunan di depan, tempat berlangsungnya acara perusahaan Gibran.


"Semua sudah siap."


"......"


"Baik."


Pria itu beralih menekan tombol menghubungi rekannya yang lain, ia sudah berada di dalam gedung mengawasi situasi di sana.


"Lakukan segera. Berhati-hatilah. Ingat, targetmu adalah wanita itu."


***


"Baik, Tuan." Seorang pria dengan setelan waitress bergumam pelan. Ia menunduk menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.


Menghela nafas panjang, matanya menatap lagi jajaran gelas di nampan. Pandangannya terpaku lama pada satu gelas paling ujung.


"Benar, ini hanya tugas mudah. Aku hanya perlu memberikan minuman itu lalu kabur dan mendapat uang." Pelayan itu mengangguk yakin. "Iya, hanya begitu."


Ia mengambil nampan dan mulai berjalan memasuki ballroom, berbaur dengan waitress lain yang juga sibuk wara-wiri membawa minuman.


Matanya mengedar sebentar lalu berhenti di meja khusus VVIP yang ditempati Gibran. Netranya bergeser pada wanita di samping lelaki itu. Wanita cantik dengan perut besar yang kini sedang tertawa anggun.


Adalah Maria, wanita yang harus ia lenyapkan malam itu juga.