His Purpose

His Purpose
169. Take a Pain



Sementara itu, Gabriel yang sudah menemukan tempat persembunyian David, tanpa ragu masuk dan membabat sebagian anak buah pria tua itu. Ilmu bela diri Gabriel tak sehebat Gibran, akan tetapi kemampuannya cukup untuk dibanggakan.


Gabriel berhasil menembus pertahanan utama David. Suara perkelahian tak pelak memenuhi dari ruang depan hingga Gabriel masuk lebih dalam. Tepat ketika itu bunyi ketukan tongkat dan langkah kaki yang menuruni tangga menarik perhatian semuanya.


David Willis, pria itu berjalan turun seraya mata menatap Gabriel. Ia lalu terkekeh meremehkan. "Bocah lemah, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya diiringi tawa.


Gabriel melepas cengkramannya dari salah seorang pengawal yang tadi menyerangnya. Ia membawa langkahnya menghampiri David dan tanpa basa-basi segera mengutarakan tujuannya kemari.


"Berikan penawar itu," tajamnya tanpa basa-basi.


David Willis terkekeh seakan permintaan Gabriel barusan merupakan hal yang lucu. Alih-alih menanggapi, ia justru meminta semua anak buahnya menghajar Gabriel tanpa peringatan.


Gabriel yang tidak siap dan kalah jumlah tentu kewalahan. Namun begitu ia tetap berusaha meski dikeroyok habis-habisan.


David Willis tertawa keras melihat Gabriel yang semakin tak berdaya di tangan anak buahnya. Ia kembali mengejek Gabriel dan mengatainya lemah.


"Kau memang terlahir lemah," ucapnya pongah.


***


Maria berusaha keras melepaskan rantai yang menjerat kakinya, meski semua usaha itu percuma karena hal tersebut hanya menguras tenaga Maria. Tubuhnya sudah lemas, Maria tidak sanggup lagi untuk sekedar bergerak.


Maria menyandarkan tubuhnya di samping ranjang. Dengan lembut Maria mengelus perutnya, mengucapkan kata-kata sayang supaya anaknya bisa lebih tenang.


Maria menoleh pada nampan di atas nakas yang isinya masih utuh tak tersentuh. Maria enggan memakan pemberian Bagas karena satu dan lain hal. Di samping takut diracuni, Maria juga takut Bagas memasukan sesuatu semisal obat perangsang yang akan merugikan Maria.


Bukannya percaya diri, Maria hanya berusaha menjaga diri karena beberapa kali ia mendapati Bagas berlama-lama menatap tubuhnya. Hal itu sangat membuat Maria risih.


Suara pintu yang dibuka membuat Maria memasang sikap waspada. Bagas masuk menghampiri Maria dengan senyum. Namun senyum itu seketika surut saat matanya jatuh pada makanan yang beberapa jam lalu ia simpan untuk Maria makan.


"Kenapa tidak makan?" tanya Bagas dingin. Ia melirik Maria tajam. Raut ramah seolah dengan cepat menghilang dan berganti dengan kemarahan.


"Aku tidak lapar," bisik Maria berusaha berani.


Prang!


Maria tersentak ketika Bagas menyimpan kasar nampan itu di hadapan Maria. "Makan," titahnya memaksa.


Namun Maria tetap menggeleng, membuat Bagas kesal hingga tanpa diduga lelaki itu menarik kasar rambut Maria dan menundukkan kepalanya secara paksa. Lantaran terhalang perut yang besar jatuhnya Maria berbaring miring dengan pipi yang jatuh tepat di atas piring berisi nasi dan lauk pauk.


"Kubilang makan!" sentak Bagas semakin menekan kepala Maria.


Maria menangis tersedu, ia memegangi rambutnya yang terasa perih karena dijambak. Matanya terpejam menghindari luapan nasi dan bumbu yang kini melumuri sebagian wajahnya.


Panas. Apalagi sepertinya bumbu itu mengandung cabai dan merica.


"Makan, Maria," desis Bagas. "Makan atau kuinjak perutmu?"


Sontak Maria menggeleng keras. "Jangan. Kumohon jangan sakiti anakku ..."


"Dengan kamu tidak makan pun kamu sudah menyiksanya secara perlahan."


"Lepas ... bagaimana aku makan jika kamu terus memegangiku ..."


Bagas tak menghiraukan. "Makan dengan mulutmu langsung," titahnya tak berperasaan.


Seumur hidup Maria belum pernah mendapat penghinaan sebesar ini. Bagas memperlakukannya seperti hewan.


Tak berani membantah, Maria pun membuka mulutnya dengan getir. Air matanya mengalir berbaur dengan nasi yang ia makan.


Maria harus lebih berhati-hati dalam bersikap. Salah-salah Bagas mungkin akan menyakiti perutnya.


Maria berhasil menghabiskan setengah. Ia tak kuat lagi. Rasa mual melanda lantaran posisi yang tak mengenakan. Di samping itu, Bagas tersenyum mendekatkan wajahnya. "Bagus. Mulai sekarang jadilah wanita penurut, karena aku lebih menyukai sikapmu yang manis."


Maria mendelik tajam, sorotnya penuh kebencian menatap Bagas. Hingga tak lama perhatiannya teralih pada sebuah kunci yang menyembul di saku celana pria itu.


Itu pasti kunci borgol. Pikir Maria.


Dengan cepat otaknya berputar memikirkan berbagai rencana melarikan diri. Maria benar-benar ingin segera keluar, ia ingin melihat keadaan Gibran. Bagaimana suaminya itu saat ia tinggal. Dan yang paling penting adalah penawar. Apa mereka sudah menemukan penawarnya. Tuhan, jantung Maria seakan dilucuti setiap detiknya. Rasa khawatir tak berhenti mengirimkan ketakutan.


Kira-kira tinggal berapa jam lagi?


Bagas yang sudah melepas jambakannya kini menegakkan kembali tubuh Maria. Ia meraup tisu dan membersihkan wajah wanita itu dari lumuran nasi dan bumbu lauk yang menempel.


Sekarang Bagas menyodorkan segelas air untuk Maria minum. Maria menerimanya tanpa banyak bantahan. Ia menyerahkan kembali gelas tersebut pada Bagas. Lelaki itu menyimpannya di atas nakas, digabung dengan piring kosong di nampan.


"Bagas," panggil Maria pelan.


Bagas menoleh.


"Aku mau pipis."


Sesaat lelaki itu mengangkat alis, berusaha meneliti Maria yang tak menampilkan ekspresi mencurigakan apa pun.


Maria memang jujur ingin pipis. Tahu sendiri di bulan-bulan mendekati kelahiran intensitas buang air memang menjadi lebih sering.


"Pipis?"


"Iya. Please, aku sudah tidak tahan," mohon Maria.


Bagas nampak berpikir lama. Namun pada akhirnya ia pun berdecak dan mengeluarkan kunci dari saku.


Maria sudah senang dan berbinar ketika Bagas meraih rantai di kakinya dan memasukkan kunci di sana.


Namun, Maria salah, Bagas bukan membuka kunci borgol di pergelangan kakinya, melainkan yang terpasang di kaki ranjang.


Selanjutnya Bagas memegangi ujung rantai tersebut lalu berdiri. "Ayo."


"Ayo, tunggu apa lagi?"


Karena tak memiliki pilihan Maria pun susah payah bangkit dengan berpegangan pada sisi ranjang. Kemudian Bagas mengarahkan Maria ke arah pintu tak jauh dari mereka.


Maria diam saja saat Bagas mencantolkan borgol di tangannya pada sebuah besi pegangan dekat closet. Pria itu lalu keluar meninggalkan Maria yang katanya ingin pipis.


Sial, padahal Maria mau sekalian lari setelah dari kamar mandi. Tapi rupanya Bagas tak sebodoh itu. Oke, setidaknya dia tidak ikut masuk menemanimu buang air, Maria!


Usai membuang hajat Maria mengetuk pintu, memberi tahu Bagas bahwa ia sudah selesai. Pintu terbuka. Bagas membuka kunci borgol yang tercantol di besi lalu segera menarik Maria keluar. Pria itu membawa Maria kembali ke ranjang.


Sebelum Bagas mengunci lagi borgolnya di kaki ranjang, Maria segera menarik pria itu hingga jatuh terduduk di sampingnya.


"Bagas ..." panggil Maria sehalus mungkin.


Bagas yang terpaku oleh kedekatan mereka tanpa sadar mengamati wajah Maria dengan begitu intens.


Cantik. Maria selalu mempesona meski sedang hamil sekalipun.


Tanpa sadar Bagas mendekatkan wajahnya hendak mencium Maria. Namun, saat sisa beberapa senti lagi tiba-tiba ...


Duk!


Maria menyundul keras kepala Bagas hingga pria itu memundurkan wajahnya sambil meringis. Ketidak-fokusan Bagas adalah kesempatan bagi Maria.


Ia berusaha mengambil kunci di saku celana Bagas. Sungguh, kepalanya pening luar biasa.


"Maria ... Senior ... Maria ..."


Maria terdiam saat suara-suara asing melintas di kepalanya tanpa diminta. Ia bergeming. Apa itu?


Maria tersentak saat Bagas mencekal lengannya kuat. Ia mendongak dan seketika merinding melihat tatapan tajam lelaki itu.


"Beraninya kamu," desis Bagas kejam.


Bagas mendorong keras tubuh Maria hingga terlentang di atas ranjang. Maria rafleks menjerit dan memberontak saat pria itu berupaya menciumnya. Maria berusaha menendang, mencakar dan menjambak Bagas dengan seluruh tenaga yang tersisa.


Maria memukul keras wajah Bagas hingga hidungnya berdarah. Kelengahan Bagas, Maria manfaatkan untuk kembali menyerang. Ia menendang selang-kangan Bagas lalu mengayunkan kakinya yang terjerat rantai, memutari leher Bagas hingga pria itu tercekik kesulitan bernafas.


Mata Bagas membelalak, ia melotot menatap Maria penuh ancaman. Keduanya bergulat di atas ranjang. Sesekali Maria meringis merasakan perutnya yang terasa mulas seperti tengah datang bulan. Tapi ia tak menyerah. Maria berupaya keras mendapatkan kunci di saku Bagas.


Usahanya tak sia-sia, Maria mendapatkan kunci tersebut dan langsung membuka borgol yang menjerat kakinya, tanpa sedikit pun memberi kelonggaran lingkaran rantai di leher Bagas.


Dirasa pertahanan lelaki itu melemah, Maria pun lekas berlari meninggalkan kamar tersebut dan mencari jalan keluar.


***


Rupanya Maria salah. Ia pikir Bagas mengurungnya di rumah biasa. Namun semuanya sungguh di luar dugaan. Tepat saat keluar kamar yang ia temukan justru tangga melingkar yang sangat panjang hingga ujungnya terlihat meruncing di bawah sana.


Apa Bagas mengurungnya di sebuah menara?


Terdengar tawa Bagas di belakang tubuh Maria. Maria menoleh dan langsung mendapati pria itu tengah menyeringai di ambang pintu.


Sontak Maria kembali waspada melihat Bagas mulai menegakkan tubuh.


Maria mengurungkan niat yang semula hendak menuruni tangga. Ia menjauhi tangga berbahaya itu dan lekas berlari memutari lantai tersebut.


Maria yakin di sana pasti ada jalan pintas, mustahil Bagas naik turun tangga sebanyak itu tanpa menggunakan lift.


Benar saja, Maria menemukan lift tersembunyi yang menyempil di balik dua belah tembok. Cepat-cepat ia memencet tombol di sana dan bergegas melarikan kakinya untuk masuk.


Namun rupanya Bagas berhasil mengejar. Pria itu memeluk Maria dari belakang berusaha menjauhkannya dari pintu lift yang perlahan mulai menutup kembali.


Maria berontak sekuat tenaga, ia mendorong tubuh Bagas ke belakang, dan puji Tuhan pria itu terjengkang membentur railing hingga hampir jatuh melewati pembatas.


Maria gegas menjauh, ia berhasil menahan pintu lift dan masuk meninggalkan Bagas di sana.


Akan tetapi, masalah kembali datang saat Maria tiba di lantai dasar. Pintu lift itu tak kunjung terbuka.


Maria memencet tombol berkali-kali dengan panik. Demi apa pun, kenapa Tuhan begitu kejam padanya.


Di tangah kekalutan Maria, tiba-tiba dinding lift di atasnya terbuka. Maria mendongak dan terdiam ngeri melihat sosok Bagas yang terlihat sangat kecil di kejauhan sana, melambai sambil tersenyum dari ketinggian.


"Maria Sayang ... kau sungguh membuatku kesal." Suara Bagas menggema di kedalaman lorong. "Sudah kubilang aku menyukai wanita manis yang penurut. Tapi kamu sungguh menguji kesabaranku, Sayang."


Ini mengerikan. Seberapa tinggi menara ini sebetulnya?


Bagas menghilang sebentar sebelum kemudian ia kembali membawa selang besar yang kemudian diarahkannya ke bawah.


Maria membelalak ketakutan. Apa yang hendak Bagas lakukan?


Pertanyaan itu terjawab ketika semburan air menghujaninya dengan deras. Maria terbatuk berkali-kali menyusut wajahnya yang basah, sementara di atas sana Bagas tertawa keji mengejek Maria.


"Uhuk, uhuk! Tolong! Tolong hentikan!!!" jerit Maria ketakutan.


Air mulai menggenang hampir semata kaki. Lagi-lagi Bagas tertawa tanpa sekalipun berniat menghentikan kegilaannya.


"Aku akan membuka pintu lift itu jika kamu menurut, Maria."


"Sekarang, cepat katakan bahwa kamu bersedia menikah denganku."


Bagas sudah gila.


Koko, tolong aku ... di sini sangat gelap. Aku takut.