His Purpose

His Purpose
181. Regret : Our Promise



"Kamu kapan melamar Valencia?" tanya Roman di sela makan malam.


Gabriel menelan kunyahan sebelum menjawab. "Secepatnya. Mumpung Uncle Elias sudah memberi restu."


Roman mengangguk setuju. Ia sedikit melirik Abhi yang tak bersuara apa pun kecuali makan. Sama halnya dengan Rayan yang memang tak banyak bicara. Astaga, kenapa orang-orang mendadak jadi pendiam?


Gibran pun terlihat sibuk menyuapi Maria lantaran istrinya itu sibuk memegangi dot berisi ASI di mulut Alisandra. Melihat sekeliling, Roman merasa tak ada semangat. Ia rasa hanya dirinya yang paling antusias dengan pertemuan keluarga ini.


"Suasana ini tak ada bedanya dengan pemakaman," gumamnya pelan.


"Oh iya, kapan Nick pulang?" Maria bertanya pada Gibran.


"Besok lusa," jawab lelaki itu.


Nick tengah berada di Swiss untuk menempuh pendidikan S3-nya. Gibran turut memberi izin dengan mendukung sekaligus membiayai pendidikan Nick.


Sebagai gantinya Gibran punya Harley yang tak kalah berintegritas sebagai tangan kanan, terlebih Harley lahir dari didikan Sandra yang pasti kemampuannya tak perlu diragukan.


Sejak kematian Sandra, Harley memutuskan mengabdi pada Gibran. Hal tersebut adalah amanat sang nyonya sebelum meninggal.


"Oh, syukurlah. Kukira dia akan menghabiskan libur natal di sana. Padahal kan kuliahnya belum mulai, baru juga survei tempat sudah songong menetap," sungut Maria.


Gibran terkekeh menepuk pelan bibir sang istri yang mengerucut. "Jangan bersungut di depan anak kita," ucapnya mengingatkan.


Maria akhirnya bungkam. Ia kembali menimang Sandra yang kini sudah terlelap. "Laura mana, ya?"


Martha juga tak ada. Tumben sekali.


"Laura dan Martha ikut membersihkan kamar tamu, Nyonya." Harley menyahut tanpa diminta.


"Oh, begitu. Ya sudah, Koko bawa Sandra ke kamar, ya? Aku mau ambil ponsel. Ketinggalan di taman."


"Minta pelayan saja yang ambilkan."


"Apa, sih? Begitu saja nyuruh orang."


Perkara mengambil ponsel adalah hal kecil, tak perlu segala menyuruh orang lain.


Gibran menghela nafas dan menerima Sandra di pangkuannya. Padahal ia belum makan. Ternyata begini repotnya memiliki anak.


"Sudah, jangan merajuk, nanti aku kasih Koko yang enak-enak," bisik Maria pelan.


Kontan raut Gibran berubah cerah. "Deal," sambarnya cepat.


Maria mencibir. Giliran itu saja Gibran selalu antusias. Maria gegas beranjak meninggalkan meja makan. Meski tadi berlagak kesal, ujung-ujungnya Gibran luluh melihat Sandra menggeliat kecil dalam dekapannya.


Malam semakin larut, semua orang kini berangsur memasuki kamar. Maria yang melihat Gibran sudah standby di tempat tidur spontan memutar mata.


Pria itu tersenyum miring menatap Maria penuh arti. Tangannya menarik pelan tali kimono dan menyibak kain satin itu hingga dada bidangnya kini terekspos sempurna.


Maria yang enggan mengingkari janji mau tak mau mendekat, menerima uluran tangan Gibran untuk naik ke atas ranjang dan berakhir duduk di pangkuan lelaki itu.


Gibran berdesis kecil meremas bokong Maria. Matanya terpejam ketika Maria dengan sengaja menggerakkan pinggulnya di sana.


Dengan tidak sabar Gibran menurunkan tali gaun atas Maria. Dua bongkahan sekal dan besar terpampang nyata di depan mata. Setelah 2 bulan puasa tidak menyentuh Maria, Gibran akhirnya bisa merasakan langsung dua gunung kembar yang kerap membuatnya gemas setiap kali Alisandra menyesap di sana.


"Ohh ... shhh ..." Gibran melabuhkan ciuman di pucuknya.


Sementara Maria tersenyum mengusap rambut pria itu seraya terus bergerak memanjakan pusat tubuh sang suami yang kini berangsur mengeras.


Lenguhan keluar dari mulut Maria maupun Gibran. Lelaki itu menghisap pelan puncak dada Maria dan terpejam takjub merasakan cairan yang mengalir merembesi lidahnya.


Maria membiarkan saja. Toh, ia sudah punya persediaan ASI di kulkas.


"Aaahh ... shhh ... emh ..."


Keduanya larut dalam gairah yang sama-sama menggebi. Setelah sekian lama tak berhubungan, Gibran melepaskan hasratnya habis-habisan.


Sementara itu, Abhi membawa kursi rodanya memasuki ruang anggur. Sesaat matanya mengedar mengamati berbagai macam minuman di sana. Ia bergeming di antara ratusan botol yang berjajar, lalu mengambil satu yang paling tua dan tinggi kadar alkoholnya.


Bayangan pertemuan pertamanya dengan Sandra berputar kembali tanpa diminta. Abhi ingat, alkohol yang membuat mereka menjadi dekat.


Kala itu mereka sama-sama tengah melepas penat usai seharian bekerja. Dari mulai obrolan ringan hingga berat tanpa sadar mengalir begitu saja, hingga mabuk membawa mereka melewati malam panas bersama, hal itu berlanjut pada hari-hari berikutnya. Abhi dan Sandra tak mampu membendung gairah satu sama lain.


Bagi Abhi, Sandra adalah wanita pertama yang merenggut malam indahnya, sekaligus wanita yang berhasil meruntuhkan prinsip Abhi yang semula tak pernah terpikir sebuah pernikahan.


Abhi dan Sandra menikah di sebuah gereja kecil di Inggris. Pernikahan yang sederhana lantaran tak dihadiri satupun keluarga. Selain restu yang menjadi kendala, waktu itu mereka juga belum menjadi apa-apa.


Abhi masih tertatih merintis usahanya, sementara Sandra yang terlahir dari keluarga kaya lebih memilih melepas semua fasilitas dan lari bersama Abhi.


Pernikahan itu mengajarkan banyak hal bagi mereka. Keduanya sama-sama belajar mendewasakan sikap, meninggalkan kebiasaan hedon, lalu saling memahami satu sama lain.


Sandra dan Abhi dikaruniai anak pertama tepat ketika mereka pindah ke Indonesia. Saat itu perusahaan Abhi juga sedang naik-naiknya.


Figur keluarga bahagia terpancar nyata dalam kebersamaan mereka. Kehadiran Gibran seolah menjadi penerang dalam ikatan yang sejatinya tak dilimpahi restu keluarga.


Semuanya baik-baik saja, hingga beberapa bulan setelah El, anak kedua mereka lahir, Sandra sedikit berubah, pun sikapnya berangsur dingin kepada Abhi maupun anak-anak.


Sampai akhirnya Abhi menemukan surat cerai yang Sandra tinggalkan di kamar bayi tepat di samping El yang tengah terlelap. Sandra lari bersama putra sulung mereka, meninggalkan Abhi dan Gabriel dalam kehampaan malam yang menelan mereka di antara kebingungan.


Sampai saat ini Abhi kerap bertanya-tanya mengenai alasan Sandra memilih pergi. Padahal sebelumnya mereka sudah berjanji akan hidup bersama sampai mati.


Sandra dan teka-tekinya, kini Abhi mengerti satu hal yang menjadi inti permasalahan mereka.


Abhi menunduk melirik map yang beberapa waktu lalu Harley berikan. Matanya kembali sendu mengingat kembali fakta mengejutkan yang selama ini Sandra sembunyikan.


Kenyataan bahwa semua kesalahan itu berasal dari Abhi sendiri sungguh menyentak rasa sesalnya bertahun-tahun membenci Sandra.


"Aku bersedia melepas semua kemewahan ini untukmu, dan aku tak akan segan melepasmu bila ada wanita lain di antara kita."


Seharusnya Abhi sadar, bahwa satu-satunya alasan yang akan membuat Sandra pergi adalah sebuah perselingkuhan.


Abhi bodoh karena terlambat menyadari hal tersebut. Ia membenci Sandra sementara kesalahan itu ada pada dirinya.


"Sandra, i'm so sorry."


Abhi membuka penutup anggur di tangannya lalu menenggak banyak-banyak alkohol tersebut. Ia juga mengeluarkan sebotol kecil obat dan menelannya sampai habis.


Abhi mengunyah butir-butir obat itu diiringi tegukan anggur. Ia bersandar lemah di atas kursi roda, menatap kosong rembulan yang bersinar di luar sana.


Setidaknya aku menepati satu janjiku, yaitu mati di sampingmu.


"Papaaaa!!!" Raungan Gabriel malam itu berhasil membangunkan seluruh penghuni mansion.


Abhimanyu ditemukan meninggal dalam keadaan mulut berbusa. Gabriel mengguncang tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa. Roman yang semula berjalan gontai mendadak kehilangan rasa kantuknya.


Sementara itu, Rayan dan Gibran masuk secara bersamaan. Pakaian Gibran bahkan belum sepenuhnya rapi. Maria yang tengah menggendong Sandra karena bayi itu ikut terbangun, refleks terhuyung dengan raut terkejut. Ia menyerahkan Alisandra pada Harley sementara dirinya berlari menghampiri kepanikan.


Alisandra menangis kencang di pelukan Harley yang juga turut mematung menyaksikan kegaduhan di ruang anggur.


Malam itu, tepat pukul 12 malam Abhimanyu berpulang ke sisi Tuhan, membawa segenap janji dan penyesalan kepada sang mantan istri, juga cinta yang sejatinya belum padam kendati berbagai cobaan merenggut kebahagiaan.