His Purpose

His Purpose
44. Consequence



"Begitukah kau melihatku selama ini? Sebuah tameng yang menyelamatkanmu dari kehancuran."


Hening. Ketegangan menguar di antara mereka. Gibran mendekat perlahan, ia mendengus sembari mengurung Maria di dinding. "Kau memang tidak berubah."


Maria berkedip, dahinya mengernyit menatap Gibran yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. "Apa?"


Lelaki itu tak menjawab. Ia hanya balas menatap Maria dalam diam. Waktu bergulir hingga beberapa menit berlalu, keduanya masih dalam posisi yang sama. Hingga kemudian Gibran menjauh dan beranjak dari hadapan Maria.


Pria itu melenggang begitu saja, meninggalkan Maria yang mau tak mau mendengus sembari melempar delikan tajam.


"Kau berusaha menggodaku?"


Gibran tak menghiraukan pertanyaan Maria. Pria itu dengan santai menekan tombol lift dan bersiap masuk ketika tiba-tiba Maria menyusul mendahuluinya.


"Sayangnya aku bukan Jesi si pelayan murahan yang mau-mau saja kau ciumi," ketusnya yang kini berdiri di dalam lift, bersidekap menatap Gibran dengan raut sinis.


Sesaat Gibran terpaku membalas tatapan Maria. Ia pun masuk dan berdiri di samping wanita itu. Sudut bibirnya berkedut tipis, "Kau cemburu?"


Maria menganga, mendongak tak percaya pada Gibran. "Aku? Cemburu?"


"Yang benar saja. Aku hanya tidak sengaja melihat tanda-tanda merah itu di lehernya. Menjijikan."


Lift membuka di lantai dua. Maria pun hendak keluar dengan kaki menghentak melewati Gibran. Tepat selangkah ia melewati garis pintu, sebuah dorongan cukup keras menyerang punggungnya dari belakang.


Maria menjerit kaget. Lebih terkejut lagi ketika Gibran memepetnya hingga bersandar di tembok lalu mengurung Maria dengan satu lengan, sementara tangan satunya mengangkat dagu Maria ke atas, dan yang Maria rasakan selanjutnya adalah kecupan keras disertai gigitan kecil yang Gibran lakukan di lehernya.


Maria mematung dengan mata terbelalak. Mulutnya membuka lebar dengan wajah syok luar biasa.


"Ap-Ap ..." Ia tergagap, tak mampu mengatakan apa pun.


Suara decapan menghasilkan gelenyar aneh di tubuh Maria. Sapuan mulut Gibran terasa panas hingga mengalir ke nadinya dan merambat ke jantung yang seketika berdetak tak karuan.


Darahnya berdesir cepat. Membuat Maria seketika lemas seolah kehilangan energi. Gibran menahan pinggangnya tepat saat ciuman itu berakhir. Pria itu memutar tubuh Maria, memeluk bahunya dari belakang, menghadap kolase cermin yang menempeli dinding hingga langit-langit di atas mereka.


Maria menatap bayangan dirinya dan Gibran yang terlihat intim di sana. Wajah keduanya bersinggungan. Gibran sedikit mengangkat dagu Maria hingga mengekspos leher seputih porselen yang baru saja menjadi korban serangannya.


Ibu jarinya mengusap bekas kemerahan di sana. Sedang matanya mengikat Maria dalam pandangan. Gibran mengecup telinga sang istri pelan. Ia pun berbisik dengan suara yang membuat Maria meremang hingga sulit menelan ludah. Bulu kuduknya berdiri mendengar suara Gibran yang serak dan sensual.


"Tolong bedakan mana kissmark dan mana make up. Kau mempercayainya, itu berarti kau telah berhasil dikelabui."


Setelah mengatakan itu Gibran serta-merta melepas Maria dan meninggalkannya dalam keterpakuan.


Beberapa saat Maria hanya mematung menatap bayangan dirinya sendiri, masih sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba Gibran. Namun, Maria tak lantas tinggal diam, ia tak akan membiarkan Gibran bertindak semena-mena lagi.


Dengan cepat Maria mengejar Gibran yang hendak memasuki lift, menarik pria itu ke belakang kemudian memberi pukulan di kepala.


"Dasar Sialan! Brengsek tak tahu diri! Kau menciumku seenaknya lagi Bajingan!" Maria menjambaki rambut Gibran dengan brutal, membuat pria itu terkejut dan secara reflek mengerang.


"Argh-" Raut Gibran terlihat kesakitan, namun pria itu berusaha menahannya.


Maria terhenyak. Ia melepas tangannya dari kepala Gibran secara perlahan.


"A-Astaga. Apa sesakit itu?" Maria mengusap-usap rambut Gibran yang barusan ia jambak. Kemudian matanya terpaku pada segaris jahitan yang melintang kecil di belakang kepala.


Maria mematung. Rautnya berubah khawatir mengetahui ada luka seserius itu di sana.


"Ya Tuhan. Koko, i-ini ... Ini ... Ini kenapa? Astaga! Apa aku yang menyebabkan—"


Gibran berbalik, tanpa peringatan pria itu meraih wajah Maria dan meraup bibirnya dalam ciuman. Maria melotot. Lagi-lagi ia dibuat terkejut karena ulah Gibran.


Jantungnya bergemuruh mengalahkan guntur, menghasilkan suara-suara yang bergejolak mengalirkan hawa panas ke seluruh tubuh.


Maria melebur dalam buaian Gibran, hingga lambat-laun matanya mulai menutup tanpa sadar.


Pagutan mulai ia rasakan di bibirnya seiring sesapan Gibran labuhkan di sana. Sesaat ia lupa mereka sempat bertelingkah. Jiwanya melayang oleh sentuhan Gibran yang memabukkan.


Nyatanya, hisapan serta gigitan Gibran tak pelak membuat Maria lemah. Kemarin ia mengatai pria itu labil karena kerap bersikap tak jelas. Tapi, justru di sini Maria sendiri lah yang tak mampu bertahan dalam satu keputusan.


Satu saat ia mengajak Gibran bercerai, tapi sekarang ia malah menikmati ciumannya.


Maria mengerjap saat Gibran mulai melepas ciuman. Pria itu menjauhkan wajah tak lebih dari satu ruas jari, menatap Maria dengan netranya yang sekelam malam.


Nafas mereka bersahutan. Keduanya mematung saling beradu pandang dalam diam. Maria pun berkedip berusaha mengambil kesadaran yang terkikis oleh aksi Gibran barusan. Sementara Gibran, lelaki itu setia memaku Maria dengan lekat.


"Kau menyesal menikah denganku?" bisik Gibran di depan wajah Maria. Hidung mereka hampir bersentuhan.


"Kau yakin ingin bercerai?" tanyanya lagi.


Lama mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Terlebih Maria tak juga menjawab pertanyaan yang dilayangkan Gibran.


Gibran mengusapkan jemarinya di pipi Maria, "Aku akan menceraikanmu jika kau mau."


"Tapi ... hilangkan dulu raut ini dari wajahmu."


Maria merasakan matanya yang membayang, juga penglihatannya yang mulai memburam membalas tatapan Gibran.


"Koko punya tunangan," bisik Maria.


"Apa itu penting bagimu?"


"Selama kau menginginkanku, maka aku akan tetap di sampingmu."


"Tapi, kenapa ..." Maria mulai menangis, "Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang Koko mau? Tolong jangan bersikap seperti ini padaku. Bagaimana pun aku wanita lemah yang mudah terbuai."


Maria terisak. "Aku bisa saja menjerat Koko dengan keegoisanku," lanjutnya.


"Maka jeratlah aku. Dan aku hanya minta satu hal."


"Lupakan Gabriel."


Maria mematung, meneliti raut Gibran yang tak sedingin biasanya. Pria itu memandangnya rumit hingga Maria tak mampu mengartikan ekspresinya.


"Apa? Kenapa?"


Gibran terdiam lama. Ia sempat melirik bibir Maria yang bengkak karena ciuman tadi.


"Karena kamu milikku."


"Dan aku tidak suka berbagi. Baik hati maupun fisik."


"Kau bilang kau bersalah atas semua yang terjadi. Maka dari itu tanggung jawablah. Pernikahan ini atas dasar pilihanmu sendiri."


Hening. Sunyi menyelimuti keduanya. Maria tak mampu bersuara karena situasi ini terkesan sangat tiba-tiba.


"Jika kau ingin memilikiku, maka kau harus siap dengan segala konsekuensinya."