His Purpose

His Purpose
70. Pair Happiness



Morena bergerak canggung di tempat duduknya. Tepat di seberang meja, Gibran bersidekap santai menatap fokus pada layar. Sementara di depan, Bagas tengah melakukan presentasi mengenai proyek wisata yang saat ini sedang berjalan.


Ada sedikit perubahan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan dan lain sebagainya. Oleh karena itu meeting dadakan ini mau tak mau dilakukan.


Namun, para peserta meeting sedikit dibuat heran dengan ketegangan yang menguar di antara Gibran dan Bagas. Terutama Gibran yang sejak tadi seolah sengaja menekan pria di hadapannya. Ia tak henti melempar pertanyaan yang membuat Bagas terpojok dan kewalahan. Pun matanya tak lepas menatap Bagas dengan tajam.


Gibran seolah menyimpan dendam pada satu rekan kerjanya tersebut.


"Seberapa yakin Anda dengan pencegahan resiko itu. Apa Anda bisa menjamin keamanannya?"


Sudut bibir Bagas berkedut hambar. Ia bukannya tidak peka terhadap apa yang Gibran lakukan. Jelas-jelas lelaki itu sedang berusaha mempermalukannya.


"Tentu, Pak Gibran. Saya akan menanggung semua kerugian apabila strategi ini gagal." Bagas menjawab yakin dan tegas.


Gibran mengangguk lamat. "Oke, berarti sudah cukup. Meeting hari ini selesai. Pak Bagas memegang semua tanggung jawab resiko yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Bukan begitu, Pak Bagas?"


"Benar."


"Baiklah. Rapat kita akhiri sampai di sini."


Sejenak Gibran mengedarkan pandangan pada semua anggota rapat. Ia lalu bangkit mengancingkan jasnya, kemudian melenggang dan membiarkan Nick membereskan berkas miliknya di atas meja.


Gibran keluar dan terdiam saat mendapati Maria duduk bersandar di tepi jendela. Sepertinya wanita itu menyusul dan menunggunya di sana.


Gibran memang sudah janji akan menemaninya jalan-jalan. Beruntung jadwal hari ini tak begitu padat, jadi ia bisa meredam kekesalan Maria yang pasti akan merajuk jika lagi-lagi ia menolak.


"Sudah lama?" Gibran menghampiri Maria.


Wanita itu menoleh dan langsung tersenyum melihat keberadaannya.


Maria menggeleng, "Belum ada setengah jam. Nick memberitahuku perkiraan waktu meeting-nya, hehe."


Gibran mengangguk, ia meraih lengan Maria, membantu wanita itu berdiri dan mengajaknya untuk mulai beranjak dari sana.


Dengan senang hati Maria bangkit dan merangkul lengan Gibran dengan manja. Bibirnya tak henti mengukir senyum, pun matanya memancar penuh kegembiraan. Akhirnya setelah sekian bujukan ia bisa menyeret Gibran jalan-jalan berdua.


Di tengah keriangan hatinya, tiba-tiba mata Maria menangkap satu sosok yang entah sejak kapan menatap lekat ke arahnya. Sesaat Maria terdiam, senyumnya perlahan surut berganti ekspresi aneh dan canggung.


Kening Maria sedikit berkerut, ia sempat melirik ke bawah guna memastikan penampilannya baik-baik saja.


Tidak ada yang salah. Lantas, kenapa pria itu terus menatapnya?


Tiba-tiba Maria teringat sesuatu. Kemarin Laura bilang memberikan bekal makan siangnya pada pria tampan. Jangan-jangan itu pria yang dimaksud.


Siapa namanya? Kemarin Gibran juga sempat membahasnya.


Bima? Darma?


"Kenapa kamu melihat Bagas?"


Bisikan tajam yang berasal dari Gibran berhasil membuat Maria tersadar. Oh ... jadi namanya Bagas?


Maria meringis. Gawat. Melihat raut Gibran yang mulai kaku Maria yakin pria itu sedang menahan kesal.


"Siapa yang lihat dia? Justru aku heran kenapa orang itu melihatku."


Gibran mendengus, "Itu karena kamu memberinya makan siang kemarin."


Maria merengut, "Bukan aku, Laura yang memberikannya."


Melihat Gibran yang mengernyit, Maria pun melanjutkan. "Aku kesal karena Koko bersama wanita lain. Jadi ... ya begitu. Aku menyuruh Laura membuang makan siang itu. Eh, taunya dia malah kasih sama orang lain."


"Sudahlah. Kenapa harus bahas dia? Bukannya kita mau jalan-jalan? Jangan karena hal ini Koko batalin rencana, ya," rajuk Maria.


Maria kembali merangkulkan tangannya di lengan pria itu. "Koko jangan begitu ... Aku tidak bersalah. Jika mau menyalahkan seseorang, salahkan Laura. Kenapa dia harus memberikan makan siang ke pria itu."


"Ayolah ... Padahal semalam Koko sudah puas dengan permainanku. Sekarang giliran Koko puas-puasin aku belanja. Ya ...?"


Maria mengerjap berusaha merayu Gibran. "Kita coba tempat lain nanti," bisiknya sensual.


Gibran mendengus memutar atensinya ke arah lain. Tak pelak tawaran Maria memang cukup menggugah hasratnya.


"Oke," cetus Gibran menyetujui.


Maria bersorak kecil. Ia menyeret Gibran untuk berjalan lebih cepat memasuki mobil. Tanpa mereka sadari, Bagas masih memfokuskan perhatiannya pada Maria. Sudut bibir pria itu berkedut kecil membentuk sebuah senyuman.


"Ternyata sikapnya memang seimut itu."


Tiba-tiba Morena muncul dan berdiri di samping Bagas. Wanita itu bersidekap membuang dengkusan. "Waw ... apa ini? Kamu tertarik dengan istri orang? Cukup berani juga, ya."


Bagas menoleh mengangkat alisnya bertanya, "Kenapa? Kita bebas menyukai siapa saja."


Lagi-lagi Morena mendengus, sudut bibirnya berkedut miring. "Kuingatkan sebelum kau menyesal nantinya. Gibran bukanlah sosok yang mudah diatasi, begitu pula istrinya. Mereka sama-sama gila."


Bagaimana tidak, Morena masih ingat jelas siaran live semalam yang ia yakin dengan sengaja Maria perlihatkan padanya.


Karena ia sempat menangkap seringai juga lirikan Maria yang seolah mengejek Morena yang kala itu diam bak patung.


Maria bahkan dengan percaya diri mempertontonkan tubuh telanjangnya yang sedang dicumbui Gibran. Dalam sekali lihat saja Morena bisa tahu bahwa Gibran memang sudah terpedaya dan dikuasai sepenuhnya oleh Maria.


Itu artinya, apa pun yang menyangkut wanita itu adalah prioritas bagi Gibran. Dan Morena yakin dengan pasti Gibran tak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau bahkan mendekati miliknya.


Termasuk Bagas.


Morena menoleh lagi pada Bagas. Ia menepuk pundak lelaki itu sebagai bentuk rasa simpatinya, karena menurut Morena Bagas tidak akan baik-baik saja jika masih nekat menyimpan ketertarikan itu pada Maria.


***


Maria menekan tombol kamera yang sebelumnya sudah diatur menggunakan timer, lalu cepat-cepat berlari menghampiri Gibran.


"Koko, lihat sana," titahnya sambil menolehkan kepala Gibran menghadap ponsel yang ia tegakkan dengan bantuan tripod hasil rampasan dari Nick.


Gibran mengernyit, "Apa yang kau lakukan?"


Maria berdecak, "Tentu saja berfoto. Kita belum punya foto berdua. Foto nikah saja sangat kaku dan jelek."


Gibran mendengus, ia menolak melihat kamera dan malah melarikan pandangannya ke sekitar tebing yang menyuguhkan pemandangan laut lepas. Maria tak jadi mengajak ke Mall, karena katanya barang-barang di sana membosankan.


Gibran ikut saja apa yang dimau wanita itu, lagipula ia tak begitu senang berada di pusat perbelanjaan, apalagi mengantar wanita berburu barang, hal tersebut akan memakan waktu cukup lama.


"Koko, ih! Lihat sana ..."


"Tidak mau."


"Jangan bilang Koko anti kamera? Koko pasti mati gaya ya kalau berfoto?" tebak Maria.


Pria itu tak menghiraukan dan malah fokus melihat laut. Maria mengerucut berpikir. Padahal ini kesempatan bagus yang sayang untuk dilewatkan.


Akhirnya Maria kembali mengatur ponselnya lalu berlari ke samping Gibran yang kini berdiri membelakangi dengan kedua tangan tenggelam di saku.


Tepat saat hitungan kedua Maria berjinjit dan mengecup kilat pipi Gibran. Potret mesra itu pun berhasil terabadikan, bersama potret lainnya seperti ketika Maria tersenyum lebar menatap Gibran, juga sejumlah pose yang diambil secara candid.


Dalam beberapa foto tersebut, ada satu momen di mana Gibran menatap lembut pada Maria yang tengah tertawa.


Tanpa Maria ketahui Gibran bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Maria bisa tertawa selebar ini seandainya nanti dia tahu siapa Gibran sebenarnya.