
"Waktu itu ... pesta perusahaan temanku di London."
Maria menoleh sambil mengernyit, pertanda ia belum mengerti apa yang Gabriel katakan. Ia sudah berhenti menangis, meski kadang masih terseguk pelan lantaran efek dari histerianya beberapa saat lalu.
Gabriel turut menoleh dan menatap Maria. Ia tersenyum lemah sebelum kemudian menunduk saat lanjut bercerita. "Pertama kali aku ... mengkhianatimu," bisiknya pelan.
Maria paham, tapi rasanya biasa saja. Mungkin karena Maria sudah sepenuhnya mencintai Gibran dan melupakan El sebagai masa lalunya.
"Aku minta maaf," bisik Gabriel lagi. "Dan bodohnya aku ketagihan."
"Satu tahun aku mengkhianatimu. Rasanya hati sesak seolah dihinggapi beban berat. Aku merasa bersalah, tapi aku juga tidak bisa berhenti mengunjunginya. Aku memang bajingan, Maria. Aku benar-benar minta maaf." Suara Gabriel terdengar sedikit bergetar.
Maria terus membiarkannya bercerita, ia tahu Gabriel butuh semua itu. Ia pun sama, mereka harus sama-sama menyelesaikan ini secara baik-baik.
"Dia hamil. Alasan kenapa aku nekat lari di hari pernikahan kita. Aku tidak mungkin menikahimu sementara tanggung jawabku yang lain terlantar."
"Saat itulah Gibran datang memberi sebuah penawaran, bahwa ia akan menikahi dan menjagamu dengan baik meskipun aku pergi."
"Aku memang sudah tahu dia menyukaimu sedari lama, itulah yang membuatku yakin menitipkanmu padanya."
Gabriel menoleh. "Gibran mencintaimu sejak dulu, Maria," ucapnya ambigu.
Maria terdiam, ia lebih tertarik dengan satu kenyataan yang Gabriel beberkan barusan. "Kamu ... punya anak?"
Lelaki itu menggeleng, membuat Maria refleks mengernyit.
"Dia keguguran. Dan kehamilan kedua kemarin juga sama. Mungkin ini hukuman Tuhan atas semua dosa yang kami lakukan menyakitimu dulu."
"Oh ... maaf." Maria tidak tahu harus melakukan penghiburan apa. Ia sendiri sedang tak mampu melakukan itu.
Gabriel tersenyum. "Bukan apa-apa. Aku sudah berusaha ikhlas."
Mereka kembali terdiam dalam keheningan. Keduanya bersandar di tembok tepi ruangan. Rasa haus dan lapar mendera, tapi mau bagaimana lagi, Maria harus mati-matian menahan itu sekarang.
Sabar ya, Nak. Maafkan Mommy karena tidak bisa makan sekarang.
Maria berbisik dalam hati serapa terus mengusapi perutnya yang sesekali menimbulkan pergerakan.
"Sudah berapa bulan?" tanya Gabriel.
"Delapan."
Pria itu mengangguk-angguk. "Valen juga sama, ia keguguran di usia kandungan hampir tujuh bulan. Andai masih bertahan mungkin sekarang sudah delapan."
Maria menatap Gabriel prihatin. "Sabar, ya. Tuhan pasti akan mengirimkan penggantinya nanti."
Namun El tersenyum getir. "Aku tidak tahu apa kami masih bisa bersama setelah ini."
Maria mengernyit, sementara Gabriel lagi-lagi tersenyum berusaha santai. "Tidak ada yang tahu takdir seseorang. Entah cinta kita yang akan terus terhalang restu, atau aku yang akan mati sekarang di sini."
"Jangan bicara seperti itu. Kita pasti akan pulang dengan selamat. Papa dan yang lain pasti sedang mencari kita sekarang."
Kamu tidak tahu bagaimana kejamnya Willis, Maria. Atau kamu tidak ingat.
Tak lama Bagas kembali muncul memasuki ruangan. Sudut bibirnya terangkat tipis menatap bergantian Maria dan Gabriel yang sudah lusuh di tempatnya.
Maria mengamati semua pergerakan Bagas dengan awas. Pria itu membawa sebuah proyektor, lalu keluar dan kembali dengan sebuah papan putih besar berukuran hampir 2 meter.
Maria maupun Gabriel mengernyit, bertanya-tanya apa yang hendak Bagas lakukan dengan semua alat-alat termasuk laptop itu.
Gabriel tersenyum mengejek. "Apa kau mau mengajak kami nonton bersama?"
Bagas tak menghiraukan, ia hanya menoleh sesaat sambil tersenyum miring menanggapi selorohan Gabriel. Usai menempatkan semuanya, Bagas berbalik lalu duduk di sebuah kursi menghadap mereka.
Matanya tepat manatap Maria. "Aku akan memberimu tayangan yang luar biasa, Maria."
Maria berkerut dalam.
"Kamu belum tahu seburuk apa suamimu yang sedang sekarat itu, kan?" Bagas menyeringai. Ia mengotak-atik laptop di meja diiringi tatapan aneh Gabriel dan Maria.
Gabriel menegang ketika foto lama Gibran muncul sebagai permulaan. Apa yang mau pria gila itu lakukan? Itu foto Gibran sewaktu kuliah di New York. Jangan-jangan...
Sejenak ia melirik Maria yang masih belum bereaksi apa-apa. Ini baru dimulai. Bagas semakin semangat untuk menguak seluruh rahasia besar yang terselip dalam rumah tangga pasangan itu.
Gabriel berdiri dan dengan cepat menghampiri Bagas. Ia berusaha mematikan proyektor itu yang lantas menimbulkan perkelahian di antara mereka.
"Cukup. Berhenti, Sialan. Kau bisa membunuhnya!"
Bagas tertawa. "Membunuh? Berarti sejak awal kau memang tahu semuanya." Mereka saling menatap tajam. "Termasuk kondisi Maria yang kehilangan sebagian ingatannya."
"Ingatan apa?" Suara Maria menyeruak.
Bagas maupun Gabriel menoleh. Tersenyum miring, Bagas menatap Maria seolah berhasil menangkap mangsa. "Kamu ingin tahu kan, Sayang?"
Gabriel menggeleng keras. "Jangan. Jangan, Maria. Ini sangat berbahaya untukmu."
Maria mengernyit dalam. Ia sungguh bingung dan penasaran. Ingatan apa yang Gabriel dan Bagas maksud di sini. Lalu, apa hubungannya dengan Gibran?
Maria menatap Bagas menuntut jawaban. "Katakan, ingatan apa yang kau maksud?"
Mata Bagas melirik Gabriel penuh kemenangan.
"El?" tegas Maria.
Gabriel masih enggan mengurai cengkraman pada Bagas. Tidak, ia tidak berniat melepasnya jika saja Bagas tak menyerang lukanya hingga mau tak mau pegangan itu terlepas.
Gabriel terbatuk memegangi dadanya. Saat ia akan balik menyerang, Bagas sudah menampilkan sejumlah foto lain di proyektor. Salah satunya potret Maria dan Gibran yang nampak bersama akrab.
Gabriel menoleh lamat pada Maria. Rautnya awas menyaksikan bagaimana tubuh Maria yang menegang hebat di tempatnya. "Maria ..."
"Dia memiliki kekasih yang sangat cantik dan manis." Bagas mulai kembali membuka suara. "Seorang mahasiswi semester 4 asal Indonesia yang dalam 2 tahun itu tak berhenti mengejar dan mendekatinya."
"Gadis itu tergila-gila dengan Aaron yang ia panggil sebagai Senior."
Tangan Maria mulai bergetar, ludahnya kering tertelan habis-habisan. Berbagai cuplikan yang mulai terasa familiar terus bermunculan. Foto-foto tersebut mengurai ingatan asing yang secara konektivitas terhubung pada mimpi-mimpi yang sering dialami Maria.
Sosok yang sebelumnya hanya ia ingat setengah kini perlahan-lahan mulai jelas terlihat.
Senior ...
Aaron ...
Gibran ...
Benar. Mereka memang memiliki kemiripan yang tidak asing di mata Maria.
Maria menyentuh kepalanya yang berdenyut hebat. Berbagai cuplikan memaksa masuk memenuhi otaknya yang kini terasa sesak oleh ingatan dan suara-suara aneh yang berasal dari 2 orang.
Gabriel beranjak mendekati Maria. Ia berusaha meraih kepala Maria yang lantas wanita itu tepis dengan keras.
"Maria ..."
Maria tak berhenti menggeleng, tubuhnya bergetar hebat lantaran memori-memori itu seolah menghantamnya habis-habisan.
Gabriel terhenyak melihat darah keluar dari hidung Maria. Ia berusaha menghentikan Maria yang sepertinya berupaya keras mengingat semuanya.
"Maria?"
"Nama gadis itu ..."
"Cukuupp!!" Gabriel berseru ketika Bagas hendak kembali membuka suara.
Namun setan gila itu tak peduli. Ia tetap meneruskan kalimat yang kini semakin memukul keras keadaan Maria.
"Maria Pradita Tjandra."
Gabriel berlari ke arah Bagas dan menyerang lelaki itu dengan membabi-buta. Bagas tertawa-tawa di sela pukulan Gabriel yang menghujani wajahnya.
Sementara Maria, ia menatap kosong lantai di bawahnya dengan tubuh menggigil serta hidung yang mimisan.
Delapan puluh lima persen ingatannya hampir kembali. Ia ingat siapa Gibran. Ia tahu siapa itu Aaron. Senior itu ... dia ... dia pria pertama yang menorehkan luka paling besar di hidup Maria.