
Maria membuka matanya lamat. Tubuhnya menggeliat kecil meregangkan otot-otot yang kaku selepas tidur. Ia berbaring miring sambil berkedip sayu, terdiam sejenak menatap pergerakan seseorang.
Punggung Gibran yang lebar menjadi pemandangan pertama yang ia lihat. Ototnya yang kencang dan liat membuat Maria tanpa sadar tak mampu mengalihkan perhatian. Pria itu tengah memakai kemeja sambil membelakanginya, menatap ke luar jendela yang menampilkan lanskap kota metropolitan Thailand.
Lama Maria terdiam mengamati Gibran. Hingga sedetik kemudian, ia tersadar dan terlonjak di atas ranjang. Kantuknya mendadak lenyap ketika Gibran meringis kecil karena tanpa sengaja menyentuh luka di lengannya.
"Koko tidak apa-apa?" Buru-buru Maria turun dan menghampiri pria itu.
Gibran menoleh sejenak, "Tidak."
"Serius? Jelas-jelas tadi kesakitan," bantah Maria.
"Itu hanya reflek," dalih Gibran, yang tentu saja tidak dipercayai Maria. Namun wanita itu memilih bungkam.
Mata Maria berpendar ke seisi kamar. Pandangannya jatuh pada sofa bed yang di atasnya terdapat selimut dan bantal. Ia tahu semalam Gibran tidur di sana. Salah satu alasan yang membuat Maria sulit terpejam.
Entah kenapa, tapi rasa khawatirnya pada Gibran lumayan besar. Bagaimana pun Maria punya sisi kemanusiaan, apalagi Gibran adalah suaminya. Tentu nalurinya sebagai istri yang membawa ia bersikap demikian.
Meski sofa itu nampak besar dan nyaman, hampir serupa ranjang namun lebih minimalis, tetap saja Maria merasa tidak enak hati melihat Gibran selimutan di sana, sementara dirinya meringkuk nyaman di ranjang yang seharusnya cukup untuk berdua.
Ia menoleh pada Gibran, pria itu tengah mengancing kemejanya dengan santai. "Koko tidur di sana semalam?" Sesuatu yang tidak patut dipertanyakan. Jelas-jelas jawabannya terpampang nyata.
"Hmm."
"Pasti tidak nyaman, kan? Apa tubuh Koko terasa pegal?"
"Tidak. Sofanya cukup besar."
"Tetap saja tidak seempuk ranjang."
Gibran menghentikan jemarinya yang tengah mengancing kemeja. Ia mendongak menatap datar Maria. "Kau ingin kita tidur seranjang?"
Tentu Maria langsung gelagapan. "Bu-Bukan seperti itu. Maksudku, tubuhku jauh lebih kecil. Akan lebih leluasa jika aku yang tidur di sana."
Gibran tak menanggapi. Ia kembali fokus berpakaian dan mengabaikan Maria.
Maria cemberut di tempatnya tanpa sama sekali berniat membantu Gibran. Biar saja pria gengsian itu kesusahan sendiri.
Tiba-tiba Gibran bersuara. "Ketimbang merengut lebih baik kamu bersiap. Kita akan pergi sebentar lagi."
Mata Maria melebar. Ia berkedip menatap Gibran. "Kita mau pergi? Ke mana?" tanyanya antusias.
Pria itu menghela nafas persis setelah kancing terakhirnya terpasang. Kemudian berjalan ke arah sofa, di mana jam tangan mewahnya tergeletak di atas meja.
"Kau akan tahu nanti. Cepat pergi mandi dan bersihkan kotoran matamu yang tebal itu."
Sontak Maria menyentuh matanya yang ternyata sangat lengket. "Astaga," bisiknya malu.
Seketika ia menelan ludah dan meraup tisu untuk membersihkannya. Ingin rasanya Maria menjerit sekarang juga. Bisa-bisanya ia lupa baru bangun tidur.
Ya ampun, ini memalukan. Maria pasti terlihat jelek dengan rambut berantakan dan muka bantal. Nafasnya juga pasti bau. Dan sialnya ia dengan percaya diri terus berbicara pada Gibran.
Gibran yang sudah selesai memasang jam tangan serta merta berbalik saat mendengar suara bantingan pintu di belakangnya. Ia mendapati Maria sudah raib dari tempatnya berdiri tadi. Wanita itu pasti langsung memasuki kamar mandi.
"Selamat pagi, Tuan." Nick menjawab di dering pertama.
"Pagi. Hubungi semua klien sekarang juga. Katakan, tempat meeting kita berubah."
"Jangan bertanya. Lakukan saja secepatnya."
Ia menutup panggilan secara sepihak. Tak peduli mungkin Nick tengah kebingungan di tempatnya sekarang.
Beberapa saat kemudian Maria sudah selesai mandi dan bersiap. Karena Gibran menyuruhnya berpakaian sopan, kemeja lengan panjang dan rok di bawah lutut menjadi pilihan.
Maria tampak anggun dengan rambutnya yang digerai dan sedikit diikat ke belakang. Ia pun sengaja menyerasikan bajunya dengan Gibran. Entahlah, ia hanya ingin mereka tampak selaras hari ini.
"Yuk!" Seru Maria. Senyumnya riang menatap Gibran.
Kendati Gibran tak membalasnya, Maria tak peduli. Ia senang karena akhirnya ia bisa keluar dan tak melulu diam di kamar. Untuk pertama kali setelah pernikahannya dengan Gibran, Maria kembali merasakan apa itu jalan-jalan.
Rupanya Gibran mengajak Maria ke sebuah tempat makan outdoor yang berada di Distrik Phra Nakhon. Letaknya tepat beberapa meter dari Grand Palace atau istana raja Thailand.
Ia senang, meski tujuan Gibran kemari untuk pekerjaan, setidaknya Maria bisa melepas bosan karena tempatnya menakjubkan.
Sebuah taman yang luas dengan area air mancur cukup besar sebagai ikon yang mencolok berhasil membuat Maria terkagum-kagum. Berbagai bunga aneka warna melengkapi keindahan, membuat siapa pun betah berlama-lama meski sekedar diam.
Setelah beberapa kali pengalamannya berlibur ke Thailand, baru sekarang Maria tahu ada tempat seindah ini di samping Grand Palace. Sebelumnya ia hanya mengunjungi tempat-tempat tertentu yang sekiranya terkenal dan santer dibicarakan dunia.
Sementara Gibran melakukan meeting selepas sarapan, Maria berjalan-jalan sendiri di sekitar taman. Meski begitu ia tahu Nick memperhatikan dan mengawasinya dari jauh. Tak apa, Maria mengerti ajudan Gibran itu khawatir dirinya tersesat.
Maria tidak mungkin melarikan diri, ia tidak memegang pasport dan kartu identitas lainnya. Entah bagaimana mereka mengurus penerbangan kemarin. Setahunya meski itu pesawat pribadi sekali pun tetap memerlukan benda-benda di atas.
Maria menoleh ke belakang. Pandangannya terpaku pada Gibran yang nampak serius berbincang dengan beberapa orang pria berjas lainnya.
Ia tersenyum kecil. Gibran adalah lelaki yang memiliki prestise tinggi. Ia juga tahu, di balik sosoknya yang dingin dan terkesan tak acuh, sebenarnya Gibran menyimpan sedikit kepedulian terhadapnya.
Maria bisa menangkap perhatian lelaki itu walau kecil. Anehnya, hal tersebut sudah mampu membuat hatinya berdesir.
Maria tahu, ia tak bisa terus menerus menghindari pesona Gibran. Ia sadar betul kemungkinan suatu saat dirinya akan jatuh dan terbawa arus.
Dan saat itu terjadi, ketakutan terbesarnya tak lain hatinya sendiri. Maria takut, saat perasaan itu sepenuhnya berlabuh, Gibran sudah memiliki dermaga lain yang menjadi tumpuannya.
Maria berkedip saat Gibran menoleh. Ia tersenyum dan melambai kecil sebelum memutuskan berbalik dan meneruskan langkahnya menyusuri taman. Meninggalkan tatapan rumit Gibran di belakang sana, yang tanpa ia sadari cukup lama menatapnya.
"Mr. Wiranata?"
"Mr. Wiranata, Anda mendengar kami?"
Gibran terlonjak dan kembali mengalihkan pandangan pada koleganya. Ia berdehem, "Maaf. Silakan dilanjut."
Nick menatap Gibran. Tak biasanya lelaki itu kehilangan fokus saat bekerja. Apa mungkin karena Maria ikut bersamanya?
Saat itulah Gibran memberinya isyarat untuk pergi dari sana, mengikuti Maria yang kini cukup jauh dari jangkauan mereka.