
"Bagaimana keadaan Nyonya, Dokter?"
Dokter Harla menghela nafas mengulas senyum tipis. "Kandungannya baik-baik saja. Tapi karena syok tekanan darahnya jadi naik. Sepertinya Nyonya juga mengalami trauma."
Martha maupun Dokter Harla menoleh ke arah ranjang, di mana Maria terbaring dengan pandangan kosong ke luar jendela. Sementara itu, Laura terisak lirih di samping Maria.
Dokter Harla tidak bertanya apa yang membuat mental Maria begitu terguncang. Ia tidak berani mengusik permasalahan dalam rumah seorang Gibran Wiranata.
"Kalau begitu saya pamit. Saya sudah beri vitamin juga penambah nafsu makan kalau-kalau Nyonya kesulitan mengisi perut nanti."
Martha mengangguk, "Terima kasih, Dokter. Mari saya antar."
Keduanya keluar dari kamar Maria. Hal pertama yang mereka lihat saat Martha membuka pintu adalah sosok Gibran yang berdiri menyandarkan punggungnya di dinding. Tangan dan kakinya menyilang di depan. Pria itu mendongak menatap Martha maupun Dokter Harla dengan pandangan datar. Wajahnya yang tak beriak sungguh sulit untuk ditebak.
Namun Martha mengerti. Tanpa diminta wanita baya itu membuka suara. "Nyonya baik-baik saja. Beliau hanya syok dan perlu istirahat."
"Hm."
Martha menunduk hormat sebelum melanjutkan lagi langkahnya. Pun Dokter Harla yang memberi senyum penuh pengertian pada pria itu. Meski wajahnya kaku tanpa ekspresi, ia tahu betul pikiran Gibran tengah dilanda kekalutan.
Seperginya dua wanita itu, Gibran beranjak meluruskan tubuhnya. Tak lama Nick datang tergopoh menghampirinya. "Tuan—"
"Bersihkan mayat itu," pungkas Gibran berlalu dari sana.
Pria itu memasuki kamarnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kamar Maria. Nick menghela nafas berat. Ini yang ia takutkan, Maria mengetahui sisi gelap Gibran yang tidak diketahui semua orang.
Nick menoleh sebentar pada pintu kamar Maria yang tertutup rapat. Ia bergegas menjalankan perintah tuannya untuk segera membersihkan mayat pelayan di kandang Moru. Benar-benar bersih tanpa jejak. Hal ini sudah biasa Nick lakukan. Ia juga sudah memastikan kejadian ini tidak bocor keluar.
Nick menatap datar ponsel si pelayan yang berdenting menampilkan pesan. Sebuah pesan rahasia yang ia tahu betul siapa pengirimnya. Nick segera memblokir jaringan manapun yang berusaha masuk ke wilayah mereka.
"Perketat pengawasan terutama digital. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Hari ini Willis berhasil menyusupkan mata-mata, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti."
"Siap, Tuan!"
"Segera bereskan."
Nick bergegas kembali ke Mansion. Namun sebelum itu ia lempar ponsel si pelayan yang sudah ia rusak ke dalam danau. "Penyusup memang pantas mati," desisnya tajam.
Setelah itu Nick beranjak meninggalkan hutan. Tiba di Mansion, ia justru mendapati Gibran yang hendak pergi. Kontan ia menghalangi langkah tuannya yang akan memasuki mobil.
"Tuan, Anda mau ke mana?"
Bukannya menjawab, Gibran malah memberinya perintah. "Tinggal lah di sini selama beberapa hari. Kau tahu apa yang harus dilakukan. Aku harus pergi."
Setelah itu Gibran langsung memasuki mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi meninggalkan pekarangan.
Sementara di kamarnya, Maria termenung dengan pikiran kosong. Apa yang dilihatnya benar-benar membuat dunianya seolah berguncang. Otaknya seakan berhenti bekerja. Ia tidak tahu harus melakukan apa.
Ia juga tidak tahu bagaimana harus bersikap ke depannya. Menghadapi Gibran secara langsung jelas ia belum siap. Untuk saat ini Maria enggan bahkan sekedar bertatap muka sekalipun.
Gibran benar-benar berhasil mengubah semua pandangan Maria terhadapnya. Padahal, pagi ini mereka masih sama-sama saling tertawa, Maria masih tak segan merengek dan bermanja. Semua itu dijungkirbalikkan dalam sekejap. Hubungan mereka berubah hanya dalam waktu beberapa detik saja.
Entah apakah Maria harus menyesal. Yang pasti semuanya terasa kosong. Hati dan pikirannya, keduanya seolah bekerjasama untuk saling diam.
Ia tersiksa. Ia menderita saat mimpi buruk datang silih berganti. Laura sampai menemaninya setiap hari. Gadis itu menginap dan tidur di sampingnya atas permintaan Maria sendiri. Maria takut ketika ia harus terbangun di tengah malam.
Fisiknya tak mampu menerima makanan, tapi keberadaan bayi di perutnya membuat ia terus saja merasa lapar. Maria bingung harus bagaimana menyikapi kondisi ini. Ia jijik setiap kali melihat makanan termasuk buah sekalipun.
Akhirnya karena Maria tak sanggup, Dokter Harla memustuskan memberinya infus. Hanya dalam dua hari Maria berubah seperti mayat hidup. Wajahnya pucat dengan bibir yang memutih. Tubuhnya lemas tak mampu beranjak. Mungkin jika hal tersebut berlangsung beberapa lama lagi, tubuh Maria akan kurus kering tanpa daging.
"Nyonya ... cobalah makan sesuatu sedikit saja. Buah-buahan ini masih sangat segar. Anda pasti menyukainya." Entah sudah berapa kali Laura membujuk, namun Maria masih enggan menyentuh hidangan dalam bentuk apa pun.
Wanita itu hanya bisa menerima air jika haus. Tapi saat lapar, Maria tidak mampu memasukkan sebiji nasi pun meski dia ingin.
Mungkin saat itu Maria masih merasa baik-baik saja. Tapi setelah 3 hari terlewati Maria dibuat mencelos mendapati bercak darah pada kain segi tiga yang menutup celah intimnya.
Jantung Maria hampir berhenti berdetak seiring rasa takut menyelimuti. Penyesalan seketika hinggap pada dirinya. Maria menyalahkan sikapnya yang egois karena hanya memikirkan diri sendiri tanpa sekalipun menaruh peduli akan resiko yang bisa saja terjadi.
Maria merasa ia telah menjelma sebagai ibu yang jahat. Ia tak bisa berhenti terisak saat dokter mengatakan kandungannya melemah.
"Jika Anda seperti ini terus, Anda akan kehilangan bayi ini, Nyonya."
"Kondisi janin sangat lemah karena Anda jarang sekali makan. Maka dari itu, mulai sekarang cobalah makan sesuatu."
Maafkan Mama, Nak. Mama sudah jahat sama kamu.
Maria mengusap perutnya penuh rasa bersalah. Dan di saat seperti ini, lagi-lagi pikirannya malah tertuju pada Gibran. Maria ingin mengenyahkan pria itu dari pikirannya. Tapi yang ada rasa rindu ini malah semakin menguliti Maria.
"Laura ... apa kamu tahu Koko ke mana?" lirih Maria.
Laura menatap sedih pada Maria. "Ma-Maaf, Nyonya, ta-tapi saya tidak tahu. Yang saya tahu Tuan memerintahkan Tuan Nick untuk tinggal beberapa hari di sini."
Nick?
Benar. Nick pasti tahu sesuatu. Bukan, Nick tahu segalanya tentang Gibran.
"Bisakah kamu memanggilnya kemari?"
Sejenak Laura nampak ragu. Namun sesaat kemudian ia mengangguk menyanggupi.
Tak lama Laura datang bersama Nick yang lantas membungkuk begitu sampai di hadapan Maria. "Saya, Nyonya. Anda memerlukan sesuatu?"
"Di mana suamiku?"
Hening.
Mendengar pertanyaan Maria, senyum Nick mengembang dalam hati. Akhirnya setelah sekian hari Maria menanyakan keberadaan Gibran. Tapi untuk saat ini Nick masih belum bisa mengatakannya.
"Maaf, Nyonya. Tapi sekarang ini posisi Tuan sangat dirahasiakan. Saya tak bisa memberitahu siapa pun sekalipun itu Anda."
"Apa? Dia masih bisa pergi selama itu di saat kondisiku seperti ini?"
Nick menunduk, "Maaf."
Maria menghela nafas lelah. Sebenarnya apa yang ia harapkan? Untuk apa pula ia harus mencari bajingan psikopat gila itu.