
"Nyonya, apa Anda habis berperang? Kenapa tanda merahnya banyak sekali?" tanya Laura.
Maria memutar bola mata, menatap Laura dengan malas. "Jangan banyak tanya. Aku tahu kau sedang mengejekku. Cepat tutupi semuanya. Jangan sampai ada yang terlewat."
Mendengar nada ketus Maria, Laura pun menurut. Ia menepuk-nepuk spons guna meratakan alas bedak di kaki Maria. Namun, mulutnya tetap seolah tak ada rem.
"Lagian Anda aneh. Kenapa bercinta saja merah-merahnya harus sampai kaki?"
"Ya mana kutahu! Bukan aku yang membuatnya!"
"Iya, ya. Sepertinya Tuan terlalu bergairah," sahut Laura nampak berpikir.
"Ngomong-ngomong, kenapa Nyonya harus sewot? Biasa aja, dong. Bukankah malam tadi sangat membara? Harusnya pagi ini Anda berbunga-bunga."
"Berbunga-bunga?" Maria mendengus, "Bagaimana aku bisa berbunga-bunga? Dengan tidak tahu dirinya dia meninggalkanku seperti seonggok sampah di atas ranjang. Dia enak segar bugar. Lha, aku? Tubuhku bahkan terasa remuk redam," gumamnya tak jelas.
"Nyonya bilang apa? Agar-agar? Anda mau agar-agar?"
Bolehkah Maria menangisi kebodohan Laura? Bisa tidak, sih, mulutnya itu diganti supaya lebih pendiam?
"Bukan apa-apa. Sudahlah, beli celana panjang saja, sana."
Mengesalkan. Lama-lama Maria jengkel karena menutupi bekas kissmark Gibran memakan waktu cukup lama. Kalau begini caranya kapan ia bisa sarapan?
"Nyonya, saya harus beli celana ke mana? Mall di sini sangat jauh ..."
Oh, astaga. Maria lupa.
"Belum lagi harus melalui tebih batu. Nyonya, saya tidak mau lagi lewat jalan itu ... Menyeramkan tahu ..."
Maria menepuk kening, ia membuang nafas pasrah. "Ya sudah ... Ayo tutupi lagi."
Ia menjulurkan lagi kakinya ke hadapan Laura, membiarkan gadis itu melanjutkan pekerjaannya menutupi jejak panas Gibran.
Hampir mendekati waktu makan siang, Maria menyusul Gibran ke proyek. Ia tampil cantik dan elegan seperti biasa. Keberadaannya begitu mencolok hingga tak pelak sedikit menarik perhatian.
Maria bersidekap menatap Gibran di kejauhan. Di sampingnya, Laura berdiri memegangi payung guna menghalau panas matahari yang begitu terik seolah membakar kulit.
Tadinya ia berniat menghampiri pria itu, tapi kehadiran seorang wanita di samping Gibran membuat Maria urung dan menahan langkahnya sedikit jauh.
Tanpa alasan yang jelas hatinya memanas hingga rasa gerah di tubuhnya meningkat pesat ke ubun-ubun. Mengalirkan kegelisahan yang seketika membuat suasana hatinya memburuk.
Tanpa sadar Maria menghentak. Laura yang mengerti perasaan sang nyonya sontak berusaha keras memperbaiki mood wanita itu.
"Nyonya tidak usah cemburu. Tuan mana mau wanita modelan begitu," cetusnya.
Maria mendelik, "Siapa yang cemburu?"
Laura menutup mulut mengulum senyum, "Masih tidak mau mengaku, ya?" bisiknya pada diri sendiri. Penyangkalan Maria kerapkali membuat gemas.
"Pokoknya Anda tidak usah cemburu. Saya yakin Tuan orangnya setia, kok."
"Tahu dari mana?"
"Feeling."
Jawaban yang terkesan lugu itu membuat Maria mendengkus. Feeling, katanya. Laura tidak tahu saja Maria kapok mengandalkan feeling. Akibat ia terlalu berpegang teguh pada perasaan, ia tidak punya penopang saat pada akhirnya harus jatuh ke lubang perpisahan.
Maria menatap Gibran lama. Akankah kali ini juga sama?
Ia berbalik dan mulai melangkah ke arah yang berlawanan. Tentu hal tersebut membuat Maria terseok mengikuti.
"Eh, Anda mau ke mana?" serunya berusaha mengejar Maria. Sebisa mungkin tangannya memegang payung dengan stabil.
Maria tak menjawab, ia kembali memasuki mobil dan menutup pintunya dengan kasar.
Laura terperanjat di luar. Ia menggeleng sambil elus dada melihat tingkah laku majikannya. "Kalau cemburu kenapa tidak bilang, sih? Kenapa harus dipendam?"
"Tok, tok, tok ..." Laura mengetuk kaca mobil.
"Nyonya, makan siang ini—"
"Buang saja," ketus Maria memotong. Jendela yang sedetik lalu terbuka kini menutup kembali, menelan raut sebal Maria yang serta-merta membuat Laura melongo.
"E-Eh, tapi ..."
Tiba-tiba ia melihat sosok Nick yang berjalan tak jauh dari mereka. Spontan Laura melambai dan berseru memanggil pria itu.
Nick sempat menoleh heran sebelum mendekat disertai raut penasaran. Matanya sesekali melirik pada kaca gelap mobil. Meski tak terlihat, ia tahu Maria ada di dalam.
Keyakinan tersebut membuat Nick membungkuk singkat, memberi hormat pada Maria.
"Omo ... pintar sekali dia menebak," gumam Maria yang cukup terkejut dengan sikap sopan santun Nick.
Kembali pada Nick.
"Ada apa?" Pria itu bertanya pada Laura.
Ia mengernyit saat Laura mengulurkan sebuah paper bag yang ternyata berisi makanan.
"Ini apa?"
"Ya makanan lah."
Nick menghela nafas. "Maksud saya untuk siapa?"
"Oh ... Hehe." Laura meringis menggaruk tengkuk.
Ia berpikir keras. Haruskah ia katakan makanan ini untuk Gibran?
Tapi, melihat Maria yang kesal, entah kenapa ia juga ikutan kesal. Seolah mendukung suasana hati Maria, Laura merasa dirinya perlu melakukan sesuatu.
"Itu, untuk Mas itu!" tunjuknya pada seorang pria.
Laura sama sekali tidak tahu yang ia tunjuk merupakan satu dari sekian rekan Gibran sesama pengusaha.
Nick mengikuti arah pandang Laura. Keningnya berkerut merasa aneh. "Seriously?"
"Serius lah, Mase!"
"Sudah sana pergi. Jangan lupa kasihin makanannya! Bilang ini makan siang dari Nyonya!"
Setelah mengatakan itu Laura langsung masuk menyusul Maria, meninggalkan Nick yang masih dilanda kebingungan di tempatnya.
"Bukan untuk Tuan?" bisik Nick entah pada siapa.
"Ah, sudah lah. Mungkin Nyonya memang ingin berbagi."
***
"Tolong perhatikan kedalaman dan kondisi tanahnya. Buat seakurat mungkin sesuai perhitungan."
Gibran memperhatikan aktivitas pekerja dengan serius. Tak lupa ia juga melempar sedikit saran dan mengomentari apa pun yang menurutnya tak sesuai.
"Ternyata Anda memang perfeksionis, ya. Persis seperti apa yang orang-orang katakan," cetus wanita di samping Gibran.
Dia adalah Morena, satu-satunya pengusaha wanita yang ikut menanam modal dalam proyeknya. Sebetulnya ia tak begitu hebat, hanya cukup beruntung karena punya seseorang yang menyokongnya dari belakang.
"Kalau seperti ini, rasanya saya tidak akan menyesal telah menjalin kerja sama dengan Anda," lanjut Morena disertai tarikan bibir.
Matanya tak bisa menyembunyikan ketertarikan terhadap Gibran. Namun sayang, nampaknya Gibran sama sekali tak peduli dengan kode-kode yang coba Morena layangkan sejak tadi.
Pria itu berbalik menjauhi pembangunan. Tentu Morena mengikuti serta sesekali berusaha membuka perbincangan, kendati Gibran sekali pun tak ada meliriknya.
Tiba-tiba Gibran berhenti.
"Ada apa?"
Morena mengikuti arah pandang Gibran yang ternyata tengah mengamati Bagas, rekan kerja mereka yang juga ikut ke Papua.
Kelihatannya Bagas sedang menyantap makan siang.
"Pak Gibran mau makan siang? Kebetulan saya juga iya. Mau bareng?" tanya Morena percaya diri.
Wanita itu tak tahu saja bukan makanan yang membuat Gibran terpaku, melainkan logo saputangan yang tergeletak di samping kotak makan yang sedang disantap Bagas.
Itu saputangan miliknya. Kalau bukan ia sendiri yang memberikannya, hanya satu orang yang berkewenangan melakukan itu.
Rahang Gibran sedikit mengeras. Apa maksud Maria berbagi makan siang pada Bagas?