His Purpose

His Purpose
57. Soft and Cuddly [18+]



Gibran merangkul tubuhnya dari belakang. Sementara bibirnya tak henti membuat Maria melayang. Pria itu menyesap, menggigit, hingga melulum Maria dalam ciuman yang menggebu.


Suara decapan menggema mengisi kesunyian. Maria mengalungkan tangannya di leher Gibran, menarik pria itu untuk menunduk semakin dalam.


Rasa manis dan pahit menyertai lidah mereka. Keduanya terbuai hingga tanpa sadar sudah berbaring di atas ranjang.


Gibran menindih tubuh Maria tanpa melepas ciuman. Menyingkirkan gelas yang sempat Maria jatuhkan saat ia menariknya tadi. Bunyi denting benda tersebut terdengar lirih menimpa karpet di bawah ranjang, sementara seprai putihnya kini ternoda dengan tumpahan wine.


Gibran tak peduli, yang saat ini ia lakukan adalah memperdalam ciuman mereka dan memberi tahu Maria tentang bukti gairahnya yang menegang.


Benar. Sejak tadi Gibran menahan hasratnya melihat wajah Maria yang memerah campuran tangis dan mabuk. Menurutnya itu sangat menggairahkan.


Terlebih gaun tipis wanita itu yang menerawang, rasanya Gibran ingin merobek dan mencabik kain sialan yang sepertinya sudah menjadi favorit Maria setiap kali menjelang tidur.


"Emh ..." Maria mendesah dengan mulut terbungkam.


Tubuhnya menggelinjang di bawah himpitan Gibran. Pria itu berat, tapi anehnya Maria sama sekali tak merasa terganggu dan justru semakin merapat dan mengeratkan pelukan.


Ciuman mereka terlepas saat Gibran menjauhkan wajah. Nafas mereka beradu dalam jarak tak sampai seruas jari. Mata Gibran berkabut, begitu pun Maria yang tampak sayu membalas pria itu.


Gibran mengangkat jemarinya dan mengusap bibir Maria yang mengkilap basah. Warna pink-nya kini berubah merah dan bengkak, bukti betapa keras dan menggebunya ciuman yang mereka lakukan.


Gibran mengecup kembali bibir itu, menyesapnya sejenak sebelum kembali menjauh guna menatap Maria. "Kau yang memancingku," bisiknya serak.


Maria tersenyum, "Aku sedang berusaha menjeratmu."


Gibran mendengus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Hal sepele namun berhasil membuat Maria tak mampu mengalihkan pandangan. Menurutnya, senyum sinis pria itu terlihat seksi dan menggoda.


Maria menggigit bibir, namun justru hal tersebut memancing Gibran untuk menggeram.


"Oh, sial!" makinya pelan.


"Berhenti menggigit bibirmu seperti itu, Sugarplum."


Maria mengerjap, "Sugar ... what?"


Gibran menghisap bibir bawah Maria yang tadi sempat digigit. "Bibirmu semanis buah plum," ucapnya parau.


"Omo ..." Maria hanya bisa menggumam mendengar pujian Gibran.


Bukan bibirnya yang manis, tapi kata-kata lelaki itu yang menurutnya overdosis melebihi gula.


Tak ingin membuang waktu Gibran kembali mencium Maria dan membuainya dalam balutan gairah yang membara. Pria itu melucuti satu persatu pakaian Maria, hingga kini ia setengah telanjang dengan sepasang lingerie yang menutup kedua intinya yang menantang.


Sungguh menggiurkan. Maria memiliki tubuh yang sempurna dan sekal. Kulitnya putih sehalus pualam. Mata Gibran semakin berkabut menelusuri dari atas ke bawah, membuat Maria seketika dilanda malu karena ditatap se-intens itu oleh Gibran.


Maria menggigiti kuku dengan gugup. Tanpa sadar ia menggumam, "Ini tidak adil. Kenapa dia belum membuka pakaiannya?"


Namun yang Maria tidak tahu hal itu didengar jelas oleh Gibran. Tanpa kata lelaki itu menarik tali kimononya hingga terlepas, menyingkap jubah tidur itu dan melemparnya asal ke sisi ranjang.


Maria terhenyak dengan mata membola. Ia berusaha mengalihkan muka dari pemandangan tubuh berotot Gibran yang hanya terbalut boxer ketat. Astaga, jangan bilang ini mimpi.


Tapi, Maria tahu betul ia dalam keadaan sadar. Hanya sedikit mabuk karena red wine yang bahkan hanya diminum satu tegukan.


Serta-merta Maria terlonjak mendapati kecupan ringan yang Gibran labuhkan di permukaan dada. Sekujur tubuhnya meremang dengan otot-otot menegang.


Kecupan itu menjalar hingga ke tulang selangka dan berakhir sesapan di leher. Maria mengerang kecil, ia menutup mulutnya dengan punggung tangan berusaha tak membuat kegaduhan.


Gibran tidak suka kebisingan.


"Mendesahlah sesukamu," ucap Gibran disela kegiatannya membuat kissmark.


"Ti-Tidak perlu. Ak-Aku bisa menahannya, ah ..." Berbanding terbalik dengan ucapannya, Maria justru mendesah saat Gibran dengan sengaja menggigit keras lehernya.


"Kubilang mendesahlah," titah lelaki itu tak ingin dibantah.


Maria mengulum bibir malu. Ia melirik kepala Gibran yang terbenam di sela lehernya. Maria mendongak, bibirnya sedikit terbuka dengan nafas terengah. Matanya terpejam menikmati buaian dan sentuhan pria itu di tubuhnya.


Decapan mulut Gibran berpadu dengan erangan Maria yang kini tak mampu mengatur nafasnya sendiri. Ia meremas rambut Gibran hingga sesekali menariknya sebagai pelampiasan. Pria itu tengah sibuk melulum puncak dadanya yang menegang, membuat Maria semakin tak karuan dan menggeliatkan tubuhnya di bawah Gibran.


"Koko ..."


Gibran tak menjawab, pria itu tak henti mengecupi tubuh Maria yang entah sejak kapan sudah polos tanpa sehelai benang pun. Maria yang biasa kedinginan justru sekarang merasa gerah hingga ia mematikan penghangat ruangan di kamar Gibran.


Pria itu bangkit dan membuka boxer-nya dengan tergesa, kemudian kembali di atas Maria dan memposisikan diri untuk memasukinya. Saat itulah tubuh Maria menegang. Mendadak matanya bergetar ketakutan.


Akan tetapi, semua itu bisa teratasi saat tangannya merangkul bahu Gibran yang saat ini tengah berusaha melakukan penyatuan. Maria membenamkan wajah di pundak kekar sang suami, matanya terpejam erat ketika bukti gairah Gibran telah bersiap menerobos masuk. Refleks Maria melebarkan kakinya memberi akses.


"Engh." Ia meringis saat Gibran mulai memasuki dirinya perlahan.


Hingga ...


Jleb.


Gibran terdiam dengan tubuh menegang kaku. Sementara Maria, ia membuka matanya perlahan dengan raut berangsur gugup.


Jemari lentiknya mencengkram punggung Gibran, bibirnya bergetar saat mulai berkata. "I-Ini bukan yang pertama untukku," bisiknya menelan ludah.


Hampir satu menit tak ada reaksi dari Gibran. Maria sudah pasrah seandainya lelaki itu menarik diri dan menghentikan kegiatan mereka.


Akan tetapi, Gibran justru membenamkan wajah di rambut Maria sembari menggeram berat. Tubuhnya mulai bergerak pelan namun membuai. Gibran memperlakukannya dengan lembut meski seiring waktu hujamannya kian mengencang.


Pria itu sesekali menggeram rendah, mencium dan memagut bibir Maria demi melampiaskan keinginannya yang menggebu.


Di suatu kesempatan pria itu berbisik, "Mereka yang meninggalkanmu adalah pria paling bodoh di muka bumi. Oh ... God. Emh ..."


Maria mengerang lirih menerima hujaman dari Gibran. Hingga keduanya mencapai puncak hampir bersamaan, Gibran membenamkan dirinya semakin dalam memasuki Maria, sampai akhirnya cairan hangat itu mengalir memenuhi Maria dengan kelegaan luar biasa.


"Ah ..."


Keduanya terengah satu sama lain. Gibran memeluk Maria sambil terus bergerak pelan, berusaha mengeluarkan seluruh benihnya yang tersisa. Sementara wanita itu sudah melemas di bawahnya.


Tanpa Maria sadari, Gibran menyeringai mengecup pucuk kepalanya.


Maaf, Sayangku. Akulah yang membuatmu mengalami patah hati berkali-kali selama ini.