
Maria mengerjap tampak gentar, sementara Gibran tengah berbicara serius dengan pengacaranya. Maria mengamati dalam diam sambil terus menimang-nimang apa yang harus ia katakan.
Astaga, kenapa jadi begini?
"D-Demi Tuhan, Koko aku hanya bercanda. Kenapa-" Maria berhenti berucap ketika sorot tajam Gibran beralih menatapnya.
"Baik, Tuan Wiranata, semuanya akan kami proses sebaik mungkin."
"Oke, thank you."
Pengacara itu menunduk segan pada Gibran. "Your welcome. Kalau begitu saya pergi. Mari, Tuan dan Nyonya?"
Maria lekas menatap Gibran sepenuhnya setelah pengacara itu pergi. Sang suami bersandar santai di sofa, seolah hal barusan bukanlah sesuatu yang besar yang patut dipikirkan.
"Kenapa Koko lakukan itu?"
"Bukankah kamu yang minta?" Gibran malah balik bertanya.
"Tapi ... harusnya Koko tahu aku tidak serius!"
Gibran mengangkat bahu. "Aku tak menganggapnya demikian."
Maria mengerang kesal, tak habis pikir dengan kenekatan Gibran. "Demi Tuhan kenapa Koko bisa sesantai itu!"
"Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan istriku terus curiga?"
"Tidak begini juga, kan?"
"Kau yang minta."
"Sudah kubilang aku tidak serius!"
"Aku sudah berkata iya berarti iya, pantang bagiku mengubah keputusan apalagi mengingkarinya."
"Tapi aku tidak mau punya suami miskin!"
Nick yang sejak tadi berdiri diam kontan tersedak. Setelah menguras habis harta suaminya, bisa-bisanya Maria berkata seperti itu.
Gibran menatap malas kecemasan Maria yang menurutnya tak berdasar. "Tanpa harta itu pun aku masih mampu membelikanmu 2 unit mobil Aventador dalam sebulan."
Maria berkedip sangsi. "Serius? Mana mungkin."
Gibran hanya melengos tak acuh. Punya istri hamil ternyata sangat menguras tenaga dan emosi.
"Jadi, Koko tidak jadi miskin?"
"Kamu begitu takut aku tak memiliki uang?"
"Tentu saja itu sangat memalukan!" sambar Maria. "Dan lagi Koko mau memberiku makan apa kalau tidak punya uang? Anak kita juga butuh biaya hidup, tahu."
Gibran melirik tajam pada Nick yang ketahuan menahan tawa, membuat Nick kontan menutup mulutnya dengan tangan, berdehem pelan sambil berusaha menormalkan ekspresinya.
"Berhenti memikirkan itu. Aku akan tetap memberikan kehidupan terbaik untuk kalian. Itu janjiku."
"Kamu sudah makan siang dan minum obat. Sekarang giliran tidur. Ayo?"
"Bagaimana aku bisa tidur di saat suamiku baru saja kehilangan semua asetnya?"
"Kau yang merampas semuanya jika lupa." Gibran masih berusaha menggiring Maria ke ranjang.
"Tarik semuanya. Tarik apa pun yang Koko katakan pada pengacara tadi."
Gibran menghela nafas pelan. Melihat Maria yang sepertinya tak mau menyerah ia pun memilih jujur. "Kamu mungkin salah paham. Semua aset yang kumaksud adalah yang kumiliki di Indonesia. Kekayaan yang kuberikan padamu adalah semua yang kumiliki di negara ini."
Maria berkedip. "Be-Begitukah? Jadi Koko masih punya banyak aset di luar negeri, kan?" Suaranya terdengar sedikit lega.
"Hm." Gibran mengangguk. "Salah satu perusahaanku berpusat di New York. Jadi kamu tidak perlu cemas aku akan jatuh miskin."
"Dan ... berapa total kekayaan Koko di sini?"
Sontak Maria menjatuhkan mulutnya tak percaya. "Apa?"
"Itu hanya beberapa persen dari keseluruhan," ringis Nick lagi.
Tubuh Maria seolah membeku. Otaknya seketika blank mendengar angka dengan 12 digit nol di belakangnya itu.
Maria menatap suaminya menuntut jawaban. "Katakan, apa Koko pemilik salah satu aplikasi terkenal serupa Facebook dan instagram? Atau telegram? Tweeter? Ah, sial apa pun itu namanya cepat beri tahu aku!"
Gibran tampak mengurut keningnya dalam. Ia sudah menduga inilah yang akan terjadi jika Maria mengetahui angka finansialnya. Padahal Gibran paling malas menyebutkan dari mana saja sumber uangnya berasal.
Bukannya Gibran yang menjawab, justru Nick yang dengan bangga memberitahu Maria. "Tuan memiliki perusahan produksi game dan beberapa aplikasi perangkat lunak, Nyonya. Beliau juga memiliki perusahaan media yang beberapa waktu lalu mendapat penghargaan di ajang internasional."
"Ada juga tambang batu bara dan migas serta perusahaan ritel lain dengan omset pertahun tidak kurang dari 100 triliun."
"Dan jangan lupakan juga perusahaan konstruksi, asuransi, dan bla bla bla ..." Nick tak berhenti bicara menyebutkan hampir semua sumber kekayaan Gibran.
Pria itu sudah seperti makelar yang mengoceh tanpa jeda. Sangat lancar seperti sudah terlatih. Dari semua kalimat yang keluar tidak ada satu pun kata yang meleset atau salah ucap.
"Sudah cukup," potong Gibran yang merasa pusing sendiri.
Jangankan Gibran, Maria bahkan sudah tidak tahu bentuk dari ekspresinya sekarang. Tubuhnya kaku sekaligus lemas. Apa yang Nick sebutkan itu?
"Ayo, tidurlah."
"Tunggu sebentar-"
"Apa lagi? Kamu sudah tahu aku tidak miskin, kan? Jadi, ayo istirahat dan tidurlah dengan tenang," tegas Gibran tak ingin dibantah.
Maria yang tak memiliki tenaga lagi untuk sekedar membantah hanya menurut saat Gibran menyeretnya hingga berbaring di atas ranjang. Pria itu bahkan memasangkan selimut sebelum kemudian mengecup singkat kening dan bibir Maria.
"Jangan stress. Tidur yang nyenyak. Aku pergi dulu," ucap Gibran terakhir kali sebelum kemudian keluar diikuti Nick yang tak lupa berpamitan pada Maria.
Sesuai janji, Gibran pergi saat papanya datang. Rayan masuk diikuti Paman Liem yang segera menanyakan keadaan Maria. Maria jawab ia baik-baik saja.
Rupanya ia masih larut dengan rentetan aset Gibran yang beberapa saat lalu Nick sebutkan. Mendadak Maria merasa kecil karena ia tahu kekayaan sang papa tidak ada apa-apanya.
Ya Tuhan, apa Maria baru saja menikahi salah satu daftar orang terkaya dalam majalah Forbes? Parahnya kini ia sedang hamil darah daging pria tersebut.
Maria memeluk perutnya dengan sayang. Tidak, lupakan secuil aset Gibran yang sebentar lagi akan jatuh ke tangannya, karena sekarang ia sadar ada aset yang lebih berharga dari semua yang Gibran miliki di dunia.
Adalah bayi dalam kandungannya, sang pewaris keturunan Wiranata yang kelak akan meneruskan kekuasaan ayahnya yang terlampau hebat.
Bravo, Maria! Sudah benar kau tidak jadi menikahi Gabriel. Dengan begini selamanya kau tidak akan merasakan kemiskinan.
Ah, senangnya. Ini pertama kalinya Maria sebersyukur itu menjadi orang kaya. Mengetahui hidupnya terjamin sampai mati membuat Maria merasa tenang. Apalagi ia tak perlu khawatir dengan masa depan sang anak.
Nak, tenang saja. Kamu tidak harus susah-susah untuk menjadi orang kaya. Sehat-sehat di dalam sana maka ayahmu akan menyuapimu makan dengan sendok permata.
Luar biasa.
"Maria?"
"Ya?"
"Ada apa kamu senyum-senyum?"
"Ah? Ti-Tidak ada. Hehe, Maria hanya sedang membayangkan hal-hal bagus supaya mimpi yang datang juga indah."
"Oh ..." Rayan mengangguk-angguk. "Kalau begitu tidurlah. Papa dan Paman Liem akan menungguimu di sini."
"Apa Koko yang meminta kalian menjagaku? Kenapa tidak minta perawat atau yang lainnya? Kurasa pengawal di depan juga sudah cukup?"
Rayan maupun pria di sampingnya sama sekali tak berniat menjawab. Mereka justru sibuk membicarakan pekerjaan dan sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Maria.
Menyebalkan.