
Rayan dan Dean serta orang-orangnya berhasil sampai di tempat yang ditunjukkan Celine. Sebuah bangunan berupa menara yang lumayan tinggi berdiri kokoh menguarkan rasa kelam.
Jantung Rayan seolah disentak hebat membayangkan seandainya benar Maria dikurung di sini.
"Ini tempatnya, Paman. Sebelumnya aku tidak tahu tujuan Bagas membangun proyek menara ini. Tapi sepertinya sekarang aku bisa mengerti."
"Terima kasih," ucap Rayan merasa terbantu. "Semoga Maria baik-baik saja."
Dean dan anak buahnya sudah siap menodong pintu dengan senjata, sementara beberapa lainnya berpencar mengepung bangunan tersebut.
Brak!
Salah satu dari mereka menendang pintu. Namun justru semuanya dibuat heran karena pintu ganda yang terbuat dari besi tebal itu tak terkunci dan mudah sekali terbuka.
Celine yang pertama kali berlari masuk. Ia berhenti di depan sebuah lift yang terbuka lebar dengan genangan air membanjiri hampir seluruh ruangan.
Entah apa yang sebelumnya terjadi. Tapi, "Sepertinya kita terlambat," ucap Celine. Ia menengadah ke atas.
Tangga melingkar yang kalau diperkirakan lebih dari seribu undakan itu amat sangat tinggi.
"Mereka sudah pindah ke tempat lain."
"Kamu yakin?" Rayan benar-benar tak bisa percaya. "Kenapa kita tidak periksa ke atas?"
Dean lengsung menyela. "Itu akan memakan waktu sangat lama, Tuan. Lebih baik sebagian dari kita melanjutkan pencarian ke tempat lain. Sisanya tetap lakukan penelusuran di sini untuk memastikan."
Baiklah. Rayan setuju usulan itu. Mereka pun beranjak meninggalkan menara tersebut dan segera beralih lokasi.
Di sisi lain, Maria membuka mata dan terbangun di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Sebuah ruangan luas yang terlihat kosong dan gelap.
Susah payah Maria bangkit seraya menahan pusing. Ia duduk memijat kepalanya yang terasa pening. Tubuh Maria yang masih setengah basah menggigil kedinginan. Bajunya lembab belum sepenuhnya kering, pun rambut tak kalah sama nasibnya.
Maria meringis pelan. Ingatan terakhirnya jatuh pada Bagas yang terus mengguyurnya di dalam lift. Bagas memaksa Maria untuk bersedia menikahinya. Namun, Maria yang enggan menyanggupi memilih bungkam.
Bagas yang geram tak berhenti mengairi lift hingga merendam hampir 70 persen tubuh Maria, membuat nafas Maria kian terasa sesak dan jatuh tak sadarkan diri. Maria pingsan dan tenggelam dalam genangan air tersebut. Ia tidak tahu kapan Bagas berhenti dan mengeluarkannya dari sana.
Tapi, sepertinya Maria bukan lagi ada di menara menyesakkan itu.
Maria berupaya bangkit berdiri. Pelan, kakinya mengayun seraya menatap sekitar. Tempat itu sangat hampa, hanya ada beberapa tumpukan kayu di tepi ruangan. Pencahayaan pun begitu remang, Maria tak bisa melihat secara jelas termasuk saat kakinya terantuk sesuatu.
"Eh!" Maria hampir jatuh jika saja ia tak segera menarik tubuhnya ke belakang. Maria baru saja menendang sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.
Menunduk, Maria mendapati satu tubuh penuh luka tergeletak tak sadarkan diri. Matanya menelusuri orang tersebut yang terbaring menelungkup.
Pelan-pelan ia berjongkok, membalik pelan bahunya sebelum kemudian tercengang.
"Gabriel?" bisiknya tak menyangka. Kenapa dia ada di sini? Apa yang terjadi?
Maria mengguncang tubuh Gabriel berusaha membangunkan pria itu, namun sepertinya luka Gabriel terlalu parah hingga menyebabkannya pingsan.
Suara langkah yang mendekat membuat Maria mendongak. Bagas muncul dengan raut dingin menatap Maria.
Sesaat suasana diliputi hening. Kewaspadaan Maria bangkit melihat keberadaan psikopat gila itu.
Iya, Bagas adalah orang gila. Pria itu seperti pesakitan yang lebih pantas tinggal di Rumah Sakit Jiwa.
Bagas bergerak mengikis jarak, sementara Maria refleks mundur menghindari pria itu.
Maria mengkerut ketika Bagas membungkuk meraih dagunya. Wajah mereka lumayan dekat hingga Maria bisa merasakan nafas Bagas berhembus menjijikan.
"Kalau saja kamu bersikap baik, mungkin aku tidak akan berbuat sekasar ini padamu," ucap Bagas.
Maria menggeleng. "Sadarlah, Bagas. Yang kamu rasakan ini obsesi, bukan cinta."
"Tahu apa kamu tentang cinta? Hatiku aku yang merasakan, bukan kamu atau siapa pun." Bagas sedikit menyentak dagu Maria sebelum berdiri.
Ia pun berbalik meninggalkan Maria yang kini menghela nafas pasrah.
Netra Maria jatuh pada Gabriel. Ia kembali mendekati pria itu dan berusaha membangunkannya dengan guncangan yang sedikit kencang.
"Gabriel bangun. Gabriel!"
Berhasil. Gabriel membuka matanya perlahan dan langsung berpandangan dengan Maria. Sorotnya terlihat sangat lemah, pun suaranya pelan saat berkata. "Maria?" bisiknya hampir tak terdengar.
"A-aku ... Seseorang menculikku."
"Culik?"
Maria mengangguk. "Justru aku heran kenapa kamu juga ada di sini."
"Siapa yang menculikmu?" Kini Gabriel berusaha bangkit meskipun susah. Tangannya terangkat memijat kepala serta tengkuk yang berdenyut pegal.
"Bagas," jawab Maria ragu. "Kenapa? Kamu kenal?"
Gabriel nampak terdiam. Ia lalu menggeleng pertanda tidak tahu.
"Dia mitra kerja yang paling dekat dengan Papa." Maria melanjutkan. "Dia gila. Dia terobsesi ingin menikahiku."
Maria menceritakan sedikit kronologis penculikan itu pada Gabriel. Seketika Gabriel berpikir, sesuatu melintas di otaknya dan berusaha menerka-nerka.
Jika ia dan Maria berakhir di tempat yang sama, itu artinya Bagas yang dimaksud adalah satu dari sekian orang komplotan Willis. Bagas ada hubungannya dengan gembong mafia itu.
Mereka saling terdiam lama. Gabriel menoleh, ia mendapati tubuh Maria menggigil kedinginan. Sejak tadi Maria menggosok-gosok tangan dan mengusap lengan sambil meniupinya berkali-kali.
Tak tega, Gabriel pun lantas membuka jasnya dan menyerahkannya pada Maria.
Maria menoleh.
"Pakailah," kata Gabriel. "Memang kotor, tapi setidaknya bisa bantu menghangatkan."
Tak punya alasan untuk menolak karena sejujurnya Maria pun sangat membutuhkan. Maria menerima jas tersebut dan lekas memakainya.
"Aku dikeroyok," ucap Gabriel tiba-tiba. Ia menghela nafas. "Aku berusaha mencari penawar, tapi apa daya kemampuanku payah. Haha."
Maria menoleh cepat. "Penawar? D-di mana penawar itu? Siapa yang memilikinya?" tanya ia beruntun.
Namun Gabriel diam enggan menjawab.
"El ..." mohon Maria.
Gabriel tetap bungkam tak mengatakan lebih.
"Setidaknya beri tahu aku di mana harus mendapatkannya? Aku akan coba berusaha."
Gabriel menggeleng. "Mereka bukan tandinganmu."
"Aku tidak peduli! Koko sangat membutuhkan itu!"
"Tapi kamu juga harus memikirkan keselamatanmu, Maria."
"Hiks ... Waktunya tinggal berapa jam lagi." Maria menangis menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku takut Koko tidak akan bangun setelah ini."
Maria sesenggukan memikirkan kondisi Gibran yang entah bagaimana keadaannya sekarang.
"Gibran pasti baik-baik saja. Dia kuat."
Maria menggeleng. Sekuat apa pun manusia tetap tak bisa menghindari kematian.
Kalian memang saling mencintai, Maria. Sedari dulu. Bertahun-tahun hubungan kita aku bahkan tak mampu merebut hatimu sepenuhnya. Aku tahu, di sudut hatimu yang paling dalam kamu masih menyimpan perasaan itu untuk Gibran.
***
Harley merapatkan topi di kepalanya. Langkahnya tegap menyusuri lorong koridor yang nampak sepi.
Sejumlah pengawal yang berjaga di depan ruangan Gibran kontan mengambil sikap siaga menodongkan senjata.
Lelaki itu merogoh kartu identitas dari saku jaket bagian dada. Spontan para pengawal itu menurukan pistolnya perlahan. Mereka membiarkan Harley memasuki ruangan Gibran.
Harley berjalan dan berhenti tepat di samping ranjang pasien. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil sebesar kuku tangan juga satu buah suntikan.
Harley menusukkan jarum suntik itu pada botol tersebut, lalu menjentiknya pelan dengan jari. Matanya menatap sejenak tubuh Gibran yang sudah membiru, kemudian meraih selang infus dan menekan jarum suntik tersebut di sana.
Setelah itu Harley langsung keluar dan secepat kilat meninggalkan rumah sakit.
"Sudah, Nyonya. Perlu beberapa jam lagi untuk Tuan Muda bangun."