His Purpose

His Purpose
80. Man in Slumber [18+]



"Owhh ... sshh ... emh ... yes ..." Maria terpejam meremas seprai di bawah tubuhnya, meresapi hentakan Gibran yang kian lama kian mengencang menggempur pusat intimnya.


Ia merasa penuh. Gibran seolah kesetanan menahan pinggangnya dari belakang. Tak peduli lutut dan sikut Maria sudah kebas dan lemas menahan bobot tubuh juga serangan Gibran yang begitu ofensif.


Maria terengah menumpukan kepalanya di bantal, mungkin ia sudah ambruk jika saja Gibran tak menahan pinggangnya untuk tetap menungging, meski sesekali tangannya mencari pegangan ke depan, meremas kencang payu-dara Maria yang jelas sayang bila dianggurkan.


Lelaki itu mengerang, menggeram dan meraung dengan suara berat. Suara gesekan basah yang khas mengiringi percintaan mereka menjelang senja. Binar kekuningan menyusup dari jendela, menyuar cahaya redup yang diam-diam menyita perhatian Gibran.


Senja, kali ini Papa tak akan melepas mamamu apa pun yang terjadi.


"Oouuhhhh ..." Gibran mengerang panjang bersama tiga sentakan akhir yang berhasil membuat Maria melebur dalam pelepasan bersama.


Wanita itu ambruk sepenuhnya dengan nafas terengah. Gibran melepas tangannya dari pinggang Maria, menindih tubuh paripurna penuh kelembutan yang menyelimuti pusat tubuhnya dengan hangat.


Gibran mengecupi punggung Maria sambil sesekali bergerak pelan, enggan melepas penyatuan yang jujur saja bisa membuatnya kembali menegang jika dibiarkan.


"Eunghh ..." Maria melenguh. Celah tubuhnya masih berdenyut di antara cairan yang kini merembes membasahi seprai.


"Laura akan meledekku habis-habisan setelah ini," desahnya lelah.


Gibran tersenyum membaui rambut Maria yang berantakan. "Aku akan menyuruh Martha membereskannya."


"Capek?"


Maria mengangguk, "Hem. Tapi aku tahu Koko tak akan cukup sekali."


Gibran menyeringai, "Of course, Sugarplum."


Ia beranjak dari atas tubuh Maria, beralih memeluk wanita itu dari samping dan membelainya halus.


Maria berjengit setiap kali tangan Gibran menggelitik pinggiran dadanya, mengelus penuh godaan yang mana menimbulkan raut tak senang.


Gibran terkekeh gemas, ia menggigit bahu telanjang Maria tanpa sekali pun melepas pandangan. Dengan lembut ia membalik posisi Maria hingga terlentang, mengusap sebentar gundukan kenyal yang kerap kali membuatnya hilang akal, lalu turun ke perut, memberi elusan ringan yang membuat Maria terpejam damai.


Gibran menurunkan wajahnya mengecup perut rata itu, sorotnya menajam penuh makna. Maria tidak pernah tahu setiap makanan yang ia makan mengandung perangsang yang mampu membuatnya cepat hamil.


Ia menyeringai, kembali merangkul Maria dan membawanya dalam dekapan, melabuhkan kecupan sambil menghirup aroma gairah yang memancar di tubuh mereka.


Dengan begini kamu tidak akan bisa meninggalkanku. Sampai kapan pun.


***


Maria berdiri mematung di sudut perpustakaan, bersembunyi di balik rak tinggi yang menjulang sambil mendekap buku dalam pelukan.


Matanya lurus memaku seseorang yang nampak fokus di sudut dekat jendela. Pria itu tengah membaca, namun auranya begitu memancar mengalahkan lembayung sore yang bersinar di luar sana.


Jantung Maria berpacu hebat seiring kakinya yang mendekat. Seluruh tubuhnya bergetar gugup mencium harum maskulin yang menguar menghipnotis saraf, membekukan separuh otak yang akhir-akhir ini kerap terbayang wajahnya yang tampan bak model Asia kawakan.


Maria berdehem kecil, kepalanya menunduk menyembunyikan wajah yang kian memanas.


"Se-Selamat sore, Senior."


Tak ada jawaban. Pria itu bahkan tak menoleh barang sedetik pun. Maria menggigit bibir merasa cemas, diam-diam mempertanyakan keberanian yang tadi sempat menggebu ia kumpulkan.


"A-Aku ... aku ... bisakah kau membantuku? Aku kesulitan mengerjakan tugas ..." cicitnya hampir tak terdengar.


Hening menyelimuti. Maria hampir menyerah saat pria itu tak kunjung menghiraukan keberadaannya. Sampai lima menit kemudian sosok dingin itu mendongak, melempar sorot datar tak beriak yang membuat Maria terhenyak menahan nafas.


"I-Itu ... Kalau Senior keberatan, tidak apa-apa. A-Aku tidak memaksa," ujarnya terbata.


Maria meringis hendak mundur, namun suara berat tanpa emosi itu berhasil menghentikannya.


"Duduklah."


Kendati nada itu terdengar ketus, namun anehnya hati Maria malah semakin berdesir hebat. Matanya sedikit membola tak percaya. Sudah satu minggu ia menyiapkan mental demi untuk bicara sepatah saja dengan pria tersebut.


Sejak kejadian di mana pria itu memberikan payungnya untuk Maria, hari-hari Maria tak lepas dibayangi sosok tampan mahasiswa berprestise tinggi itu.


Diam-diam ia selalu mengamatinya meski dari jauh. Rasa penasaran yang besar mulai timbul menyesakkan dada. Keinginan melihat sosoknya semakin hari semakin tinggi intensitasnya.


Maria berusaha mengontrol senyum saat menarik kursi untuk kemudian duduk di sana, tepat di depan sang pujaan yang diam-diam ia harapkan.


Maria menyodorkan tugas yang sebetulnya sangat mampu ia kerjakan sendiri. Jujur saja, ini hanya alasan yang mungkin klise dan sering dilakukan orang-orang. Akan tetapi, ia tidak peduli, apa pun akan ia lakukan demi berhadapan langsung dengan sosok mengagumkan yang terkenal pendiam itu, meski hanya sekedar mencium wanginya, hal tersebut sudah membuat Maria lebih dari senang.


Mata Maria berbinar mendengar setiap penjelasan yang pria itu paparkan. Suaranya mampu menggetarkan dunia Maria dalam sekali tarikan nafas.


Ia benar-benar jatuh cinta, sampai rasanya ia menggigil oleh perasaan tak tertahankan. Pria itu mendongak, "Mengerti?"


Maria tak menjawab, ia masih larut dalam euforia merah muda yang mendadak melingkupi suasana perpustakaan yang sepi.


Pria itu melambaikan tangan di depannya. Maria tersentak, "Y-Ya?"


"Kamu tak mendengarkan?"


"A-Ah ... itu ... anu ..." Maria tak tahu harus menjawab apa. Karena sejatinya ia memang tak memperhatikan penjelasan pria itu. Yang ia lihat sejak tadi hanya wajah tampan dan pergerakan bibirnya yang menggoda.


Pria itu kembali memanggilnya, namun suaranya terdengar samar hingga Maria harus beberapa kali mengerjapkan mata.


"Plum?"


"Plum?"


Maria membuka matanya perlahan, terpaku menatap wajah seseorang yang hanya berjarak beberapa senti di atasnya. Kembali pria itu memanggil, "Plum? Kamu mendengarku?"


Kontan Maria berbisik, "Ya ... Senior."


Tubuh Gibran menegang. Ia menatap Maria lekat dengan raut yang sulit diartikan. Jakunnya bergerak ketika menelan ludah. Pupil matanya sedikit membesar dengan nafas tertahan.


"Apa?" bisik Gibran disertai getar samar.


Sunyi seakan mencekam mencekik lehernya. Pendar redup lampu tidur tak lagi menguar kesan romantis juga gelora yang beberapa jam lalu mereka reguk bersama.


Maria berkedip menyentuh wajah Gibran. Bibirnya mengulas senyum indah sembari mengecup mesra sang suami yang nampak bergeming menatapnya.


"Ada apa? Koko mau lagi, ya?"


Tak ada alasan lain Gibran membangunkannya di tengah malam. Maria tahu pasti Gibran kerap bangun dalam dua atau tiga jam sekali untuk kembali mengulang percintaan.


Tapi, biasanya lelaki itu akan langsung menyerang hingga ia terbangun secara paksa.


Meski sedikit heran, dengan sukarela Maria melebarkan kakinya mempersilakan Gibran untuk masuk menyatukan tubuh. Ia bisa merasakan milik Gibran yang menegang mengenai pangkal pahanya.


Maria menggigit bibir, sengaja menyenggol pusat gairah itu lantaran Gibran yang terus bergeming.


"Kenapa diam?"


"Apa yang kamu katakan tadi?"


"Apa?" tanya Maria tak mengerti.


"Saat kamu bangun. Kamu memanggilku apa?"


Maria mengernyit, mencoba berpikir dan mencerna pertanyaan Gibran. Apa jangan-jangan ia mengatakan sesuatu mengenai mimpinya dan pria asing itu? Apa ia mengigau?


Jika iya, gawat. Gibran pasti marah karena ia memanggil nama pria lain dalam tidurnya.


Astaga ... Bagaimana ini ...


Sebelum Gibran bertanya lagi, dengan cepat Maria membalik posisi mereka, menghempas tubuh Gibran hingga pria itu terlentang di bawahnya.


"Kamu— Oohh ..." Gibran menggeram kala Maria memasukkan pusat gairahnya ke dalam mulut, melulum dan menghisapnya disertai urutan yang membuat Gibran terengah dan mengerjap keenakan.


"Aarghh ... Apa yang kamu lakukan?"


Maria tersenyum menggerakkan jemarinya dengan lihai, sesekali memberi jilatan saat matanya mengerling menatap Gibran. "Tentu memuaskan suamiku yang sedang bergairah."


Setelah itu, Maria kembali mengerahkan servis terbaiknya untuk Gibran, membungkam pria itu dalam lautan gairah yang lagi-lagi menggulung mereka sepanjang malam.