His Purpose

His Purpose
30. Reality



"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang yang begitu berani melukai Koko di tengah kerumunan? Apa orang itu tidak berpikir akan ketahuan dan tertangkap dengan lebih mudah?"


"Benar-benar tindakan yang bodoh. Aku yakin sebelumnya orang itu tidak sekolah."


"Menembak seseorang di keramaian sama saja dengan bunuh diri."


Gibran tak menghiraukan ocehan Maria yang sejak tadi merecoki telinganya. Ia hanya diam membisu, bahkan setelah sadar peluru bersarang di salah satu bagian tubuhnya, Gibran masih bisa bersikap tenang.


Berbeda dengan Maria yang mendadak cerewet mengomentari banyak hal. Ia mengernyit menatap lengan atas Gibran yang terkoyak dan tengah diobati salah satu perawat.


"Ssshhh ..." Itu bukan suara Gibran, melainkan Maria.


"Berhentilah meringis. Kau berlagak seperti diri sendiri yang terluka," ucap Gibran tanpa menoleh.


Seketika Maria mencibir. Bibirnya mencebik mengumpati Gibran tanpa suara. Kemudian matanya terpaku pada tubuh atas Gibran yang tak tertutup kemeja. Maria bisa melihat otot perutnya yang terbentuk sempurna. Pahatan atletis itu serta-merta membuat pipi Maria merona.


Sial. Padahal Gibran tidak dengan sengaja ingin menggoda. Tapi lihatlah, bukan hanya Maria yang ketar-ketir, perawat wanita yang tengah membersihkan luka Gibran pun beberapa kali kedapatan mencuri pandang dengan raut memerah.


Maria mengipas-ngipas lehernya dengan tangan. Entah kenapa, tapi ia mendadak merasa gerah.


"Mau ke mana?" tanya Gibran ketika menangkap pergerakan Maria dari sudut matanya.


Maria yang hendak berjalan keluar seketika mengurungkan niat. "Aku? Aku ... aku mau keluar sebentar. Kenapa?"


Lama tak ada jawaban hingga membuat Maria mengira Gibran hanya melindur. Namun saat ia akan kembali melangkah, Gibran dengan tegas bersuara, "Tetap di situ."


Kontan Maria memaku kakinya di tempat. Ia menoleh pada Gibran, menatapnya berkedip dengan pandangan heran. Sementara Gibran, pria itu dengan santai mengabaikan Maria tanpa mau repot-repot membalas tatapannya, apalagi menjelaskan alasan mengapa Maria harus diam di sana.


Hampir sepuluh menit berlalu Maria terpaku, bahkan ia tak berani bergeser dari tempatnya. Bukannya apa, ia hanya malas mendapat pelototan dari Gibran seandainya melanggar perintah pria itu.


"Sudah selesai, Pak. Untuk sementara tangan kanannya jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya. Karena hal tersebut dapat memicu pendarahan dan memperlambat pemulihan."


"Hm." Gibran hanya menggumam seraya berusaha memakai kembali kemejanya.


Perawat itu meringis. Mungkin dalam hati merasa jengkel karena sarannya tak digubris sama sekali. Gibran bergerak seolah tak memiliki luka.


Maria yang tidak mengerti penjelasan si perawat hanya diam memerhatikan.


Ketika perawat itu ingin membantu memakaikan pakaian, Gibran menolaknya. Kira-kira seperti itulah yang Maria simpulkan. Karena sekali lagi ia tak memahami bahasa Thailand yang mereka ucapkan.


Perawat yang memiliki wajah lumayan cantik itu pun keluar, mungkin atas permintaan Gibran. Kini hanya tinggal Maria dan Gibran berdua di sana, berselimut keheningan yang seolah sudah menjadi bumbu di antara mereka.


Gibran tampak sibuk memasukkan lengan kemejanya. Karena kemeja sebelumnya kotor berlumur darah, Nick dengan cepat mencarikan gantinya di butik sekitar.


Maria yang terpaku seketika terperanjat ketika suara Gibran memecah lamunan. "Sampai kapan kamu akan berdiri di sana? Kemari."


"A-Aku?" Maria menunjuk dirinya sendiri.


"Memang di ruangan ini ada siapa lagi selain kamu?"


"Koko," jawab Maria polos.


Gibran menatap Maria datar. Hal tersebut membuat Maria berkedip cepat seraya buru-buru mendekat. "Ke-Kenapa? Koko butuh bantuan?" tanya Maria hati-hati.


"O-Ooh ... iya. Sini, aku bantu pakaikan." Di saat seperti ini Maria dituntut untuk melebarkan tingkat kepekaan. Karena menunggu Gibran berbicara panjang dan jelas merupakan sebuah kemustahilan.


Dengan hati-hati Maria memasukkan lengan kemeja Gibran sebelah kanan. Dalam hati ia meringis menahan ngeri. Kira-kira, seperti apa rasanya terkena timah panas yang mengoyak daging hingga berdarah-darah. Melihatnya saja membuat tangan Maria bergetar.


"Apa Koko punya musuh? Atau ada seseorang yang tidak menyukai Koko di luar sana? Kenapa mereka tega melakukan hal ini kepada sesama manusia?" gerutu Maria seraya tangannya sibuk mengancing kemeja Gibran.


"Meski begitu aku yakin dia bukan penembak jitu. Jika ingin menghabisi, kenapa tidak menembak kepala atau jantung? Kenapa harus lengan? Sudah pasti tembakanya meleset."


"Kamu berharap aku mati?"


"Te-Tentu saja tidak. Maksudnya aku bersyukur Koko bisa selamat."


Gibran tak berbicara lagi. Ia membiarkan Maria memasang satu persatu kancing kemejanya.


"Omong-omong, kenapa Koko menolak bantuan perawat tadi? Bukankah sama saja ujung-ujungnya minta bantuan?"


"Fokus saja pada pekerjaanmu. Kamu salah memasukkan kancing," ucap Gibran datar.


Seketika tangan Maria berhenti, "Omo! Maaf. Akan kuperbaiki ini. Hehe ..."


Sebetulnya, Maria terlalu gugup hingga kurang fokus. Jantungnya kelonjatan di dalam sana. Darahnya berdesir hangat hingga mengalir ke kepala. Hal yang paling Maria takutkan seandainya Gibran melihat wajahnya yang memerah.


Betapa tidak, perut yang sedari tadi mencuri fokusnya kini berada tepat di depan mata. Maria hanya berharap tangannya tidak khilaf menyentuh kulit menggiurkan itu.


Astaga. Gibran benar-benar meracuni otaknya. Ini pasti karena Maria sudah jarang beribadah dan berdoa. Hatinya jadi lemah disuguhi godaan sensualitas.


"Selesai!" Maria menghela nafas lega. Tingkahnya persis orang yang baru kelar melakukan pekerjaan berat.


Tepat setelah itu Nick masuk membuka pintu. Pria itu mendekat, membungkuk sejenak pada Maria sebelum kemudian menghadap Gibran yang tengah duduk di atas ranjang pasien.


Maria mendengus, entah apa yang membuat Gibran langsung ditempatkan di ruang rawat alih-alih UGD. Bukankah pria itu nampak segar bugar sebagai korban penembakan?


"Apa kalian berhasil menangkap orangnya?" tanya Maria pada Nick.


Nick, pria itu langsung melirik Gibran yang juga balas menatapnya dengan santai. Sebelah alisnya terangkat menyebalkan. Tentu saja Nick hanya bisa memendam itu dan tersenyum pada Maria. "Sudah, Nyonya."


"Benarkah? Siapa dia? Apa motifnya melakukan itu?"


Hening. Sejenak Nick terdiam nampak berpikir, sebelum kemudian ia tertawa garing sambil sesekali melirik Gibran. "Biasa, Nyonya. Saingan Tuan dalam dunia bisnis. Hahaha ..."


Kening Maria berkerut, "Lantas kenapa kamu tertawa? Apa menurutmu ini lucu? Atasanmu baru saja hampir kehilangan nyawa."


Seketika itu juga Nick langsung bungkam. Ia menunduk dan meminta maaf pada Maria. Sementara Gibran, pria itu menghela nafas seraya beranjak dari ranjang.


"Sudahlah. Kita kembali ke hotel sekarang," ucapnya mulai berjalan ke arah pintu.


Sesaat Maria melayangkan tatapan pada Nick, membuat Nick kontan menunduk sebagai tanda hormat. Wanita itu lantas mengikuti Gibran yang sudah lebih dulu keluar. Meninggalkan Nick yang serta-merta menghembuskan nafas merasa lega.


Pria itu menggeleng seraya menoleh ke arah pintu, di mana Maria maupun Gibran sudah lenyap dari sana.


Ia pun meringis, "Nyonya tidak tahu saja Tuan menyuruhku menembaknya untuk mengalihkan perhatian."