His Purpose

His Purpose
95. Reminder



Pagi harinya Maria tersenyum heran. Entah kenapa, tapi suasana Mansion tak seperti biasanya. Bagaimana Maria menjelaskannya. Aneh, canggung, dan ... sedikit kelam.


Apa karena hukumannya kemarin para pelayan jadi takut saat melihatnya?


"Ada apa? Kenapa malah diam di sini? Bukankah tadi bilang lapar?" Tiba-tiba Gibran muncul dari belakang, merangkul perut Maria dan memberi usapan sebagai sapaan selamat pagi pada bayi mereka.


"Entahlah. Hanya perasaanku saja atau memang udara hari ini jauh lebih dingin dari biasanya?"


"Seolah-olah baru ada yang meninggal," gumam Maria melanjutkan.


"Cukup. Lebih baik kita sarapan. Ayo?"


Gibran menggiring Maria memasuki ruang makan. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba Maria berhenti. Ia lantas berlari ke arah dapur yang kontan langsung diikuti Gibran.


"Maria!"


Maria membungkuk di depan wastafel dan memuntahkan banyak cairan dari perutnya. Wanita itu nampak kepayahan mengatasi rasa mual yang melanda. Gibran segera meminta minyak angin pada pelayan. Salah satu dari mereka langsung tunggang langgang ke belakang, hingga tak lama kemudian kembali membawa minyak yang diminta Gibran.


Gibran mengoleskan minyak tersebut di sekitaran leher Maria. Ia menopang tubuh istrinya yang lemas dengan wajah sepucat kapas. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba begini?"


Maria menggeleng lemah, "Tidak tahu ... Tapi bau makanan itu sangat busuk ..."


"Apa?"


Gibran melirik para pelayan yang seketika menunduk ketakutan. "Kalian menghidangkan makanan basi?"


Tak ada satupun dari mereka yang berani menjawab, hingga mau tak mau Martha sendiri yang turun tangan.


"Maaf, Tuan. Tapi makanan yang kami olah sudah terjamin fresh setiap harinya."


"Lalu kenapa istriku mencium bau busuk?"


Hening. Beberapa dari mereka kini saling melempar pandang. Raut bingung tersirat jelas di mata mereka. Hingga Maria menyentuh lengan Gibran berusaha menenangkan pria itu.


"Penciumanku sensitif sejak hamil," terangnya.


"Tapi—"


"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Sepertinya aku ingin makan di kamar saja."


Gibran tak punya pilihan lain. Ia segera membopong Maria kembali ke kamar demi mengutamakan kenyamanan wanita itu. Gibran membawa Maria ke balkon guna menghirup udara sejuk.


Balkon kamar Maria sudah di-desain sedemikian rupa menyerupai taman khayangan seperti yang ada di drama-drama Fantasi Timur, lengkap dengan aliran air kecil yang menambah suasana damai hingga burung-burung pun acap kali hinggap di sana.


Gibran melesakkan tubuh Maria di sofa, menyentuh keningnya yang berkeringat dingin, menandakan bahwa wanita itu memang benar-benar tersiksa.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?"


"Pusing, mual."


"Aku panggil Dokter Harla."


Maria menghentikan tangan Gibran yang hendak merogoh ponsel. Ia menggeleng pelan dan beralih merangkul lengan Gibran, menyandarkan kepalanya dengan nyaman.


"Aku tidak apa-apa. Ini wajar dirasakan ibu hamil."


Meski Maria bilang begitu, Gibran tak bisa menanggalkan kecemasannya. "Setidaknya biarkan aku tahu kondisimu."


"Aku kan sudah bilang tidak apa-apa. Lagipula kemarin Koko menyuruhnya ke sini, masa sekarang mau dipanggil lagi. Merepotkan."


Gibran mengernyit, "Kamu tahu dari mana?"


"Laura."


Gibran berdecak. "Pelayanmu itu terlalu cerewet."


"Apa saja yang dia katakan?"


Maria nampak berpikir, "Emm ... tidak ada. Hanya itu."


Tanpa sadar Gibran menghela nafas lega.


"Ada apa? Apa ada hal lain yang Koko sembunyikan dariku?"


Gibran mencium bahu Maria, menunduk memperhatikan tangannya yang mengusap halus perut wanita itu. "Tidak ada. Kalaupun ada itu bukan perselingkuhan."


"Kamu mau makan apa?"


"Entah. Rasanya aku tidak ingin makan apa pun hari ini."


"Aku tahu, tapi aku bingung harus makan apa."


"Mau buah? Mungkin itu bisa meredakan mualmu."


Maria menggeleng, "Tidak. Aku tidak tahu kenapa semua makanan terlihat jijik di mataku."


Kening Gibran berkerut dalam. Keanehan apa lagi yang dialami istrinya. Apa semua wanita hamil seperti ini. Selalu tak jelas.


Tiba-tiba Maria menyeletuk, "Aku mau Koko yang masak."


Sontak Gibran menolehkan kepalanya dengan pelan, menatap Maria malas. Kenapa tidak bilang dari tadi?


Pagi itu pun seisi Mansion dihebohkan dengan Gibran yang turun langsung ke dapur demi memenuhi keinginan sang istri. Gibran mengejutkan semua orang dengan keterampilannya mengolah masakan.


"Astaga ... aku baru tahu Tuan bisa memasak."


"Benar. Beliau terlihat sangat sexy, kan?"


"Kelihatan terampil juga, seperti sudah terbiasa."


Berbagai bisikan terdengar dari ambang pintu dapur. Sejumlah pelayan berkerumun berebut ingin melihat pemandangan langka itu. Hingga sebuah deheman mengejutkan mereka semua.


"Ehem!"


Serentak mereka menoleh ke belakang. "Kepala Koki!"


"Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat kerjakan pekerjaan kalian masing-masing!"


"Ba-Baik! Kami permisi."


Para pelayan itu berlarian membubarkan diri. Kepala Koki hanya bisa menggeleng sebelum melenggang masuk menghampiri Gibran.


"Tuan, apa tidak apa-apa Anda mengerjakannya sendiri? Saya akan dengan senang hati membantu Anda."


"Tidak perlu," sahut Gibran singkat. Ia terlihat fokus meniriskan makanan di piring.


Kepala Koki terlihat kagum melihat hasilnya. Tak jauh berbeda dengan restoran bintang lima, Gibran menatanya dengan cantik dan sempurna.


Tak berapa lama semuanya selesai. Gibran membawa semua hasil karyanya ke kamar Maria, dengan bantuan food trolley dan pelayan tentunya.


"Sayang, ayo sarapan."


Hening. Gibran diam sebentar di ambang pintu. Ia meminta pelayan meninggalkan troli-troli itu di tengah ruangan. Sementara Gibran mengitari kamar mencari Maria.


"Plum?"


Masih tak ada jawaban. Tiba-tiba seorang pelayan muncul dari arah kamar mandi, ia nampak terkejut melihat keberadaan Gibran dan beberapa pelayan lain di kamar Maria.


"Mana istriku?"


Pelayan itu menoleh ke balkon, sontak ia berubah panik mendapati ketiadaan Maria di sana.


"Ta-Tadi, Nyonya masih di sana. Beliau menyuruh saya menyiapkan air hangat untuk merendam kakinya."


Gibran melirik baskom kaca yang berembun di tangan si pelayan. Ia lantas melangkah cepat ke arah balkon. Rautnya terlihat cemas ketika melongok ke pagar pembatas, namun kemudian Gibran menghela nafas lega karena kekhawatirannya tak terbukti.


Akan tetapi, pernyataan pelayan itu selanjutnya membuat tubuh Gibran membeku.


"Tapi tadi Beliau sempat bertanya harimau kesayangan Tuan."


Gibran menoleh cepat. "Apa?"


"Ka-katanya ini keinginan bayi, Beliau ingin melihatnya. Sa-Saya jadi tak bisa melarang ..." Suara si pelayan sudah bergetar ketakutan.


Aura Gibran seolah-olah ingin membunuhnya. Sementara pelayan lain kini ikut menunduk, sebelumnya mereka mengujaninya tatapan seakan mengatakan 'bodoh'.


"Sialan!" desis Gibran berusaha menahan amarah.


Ia gegas berlari keluar kamar. Wajahnya merah dengan rahang mengetat. Tanpa menunggu waktu lama Gibran menyusuri jalur selatan yang tak bisa dilalui sembarang orang.


Tidak. Semoga apa dugaannya salah. Gibran benar-benar akan merasa gila jika benar Maria ke sana.


Namun kemudian ia terhenyak melihat gerbang menuju kandang Moru tak terkunci. Entah bagaimana gemboknya bisa terbuka. Tanpa pikir panjang Gibran masuk, terlebih saat sebuah teriakan yang disusul geraman Moru terdengar menggema memecah kesunyian hutan.


"Aaaaaaa ...!!!"


Itu suara Maria. Gibran tak salah lagi.