
Liem berjalan keluar dari lift menuju ruang Direktur perusahaan Tjandra Group. Ia mengetuk pintu, lantas masuk begitu mendengar sahutan dari dalam.
Pria berdarah asli Tionghoa itu mendekat pada meja kebesaran yang terletak di tengah ruang. Di belakangnya, dinding kaca raksasa menampilkan hiruk pikuk metropolitan Jakarta.
Ia membungkuk, memberi hormat pada Rayan selaku pimpinan juga founder perusahaan tersebut.
"Gadis itu sudah sampai di Jakarta," ujar Liem memberi tahu.
Rayan mengangguk, "Beri dia kompensasi sesuai yang kita janjikan di awal."
"Baik, Tuan." Kemudia Liem menambahkan, "Sepertinya, Gibran Wiranata memang sulit dipengaruhi."
"Hem." Rayan membenarkan.
"Sarankan psikologi yang bagus kalau-kalau gadis bernama Jesi itu hilang kewarasan setelah bertemu langsung dengan Gibran."
"Bocah gila itu ... aku hanya bisa berharap putriku tidak ikutan gila tinggal bersamanya," dengus Rayan.
"Baik, Tuan."
Liem mendongak tampak ragu untuk menyampaikan, "Gibran Wiranata ... sepertinya dia juga tahu kita yang mengirim gadis itu untuk menggodanya."
"Yah ... aku memang harus mengakui kekuatan menantuku itu." Rayan membuka dokumen-dokumen penting di atas meja.
"Ada satu hal lagi, Tuan. Nyonya—"
"Nona," tegas Rayan meralat. "Dia putriku. Aku masih belum rela dia menikahi Balok Es Wiranata itu."
Liem mengangguk, "Baik. Maksud saya Nona Maria, Beliau sempat membeli mobil baru—"
"Aku tahu. Si Gila itu mengembalikannya beberapa jam kemudian."
Rayan menghela nafas panjang. Bahunya meluruh dengan pandangan sedikit lesu. "Kasihan sekali nasib Maria. Dia harus tahan hidup satu rumah dengan pria otoriter," bisiknya sambil bertumpang dagu.
"Bidadari kecilku yang malang ..."
***
Beberapa hari kemudian, Maria sudah diizinkan keluar kamar. Dan saat ini ia tengah berada di taman, duduk merenung, bersisian dengan Laura yang juga memasang raut tak semangat.
Laura menggerak-gerakkan kakinya yang berpijak di tanah. Sementara Maria, ia duduk anggun dengan kaki menyilang dan mata menatap ke depan.
Keduanya baru bertemu lagi hari ini. Bak anak yang merindukan orang tuanya, Laura langsung menghambur memeluk Maria dengan berurai air mata.
"Nyonya ... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Laura tiba-tiba. Kepalanya menunduk meneliti sepatunya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan.
"Kenapa?" Maria menoleh dengan kening berkerut.
Laura mendongak, balas menatap Maria masih dengan wajahnya yang lemas. "Sepertinya Tuan semakin mengawasi kita."
Maria mengangguk mengerti. Ia membenarkan perkataan Laura. Tapi, sejujurnya ia memikirkan hal lain.
"Laura, si Jesi itu ... apa benar ada hubungan dengan Koko?"
Laura berkedip nampak berpikir. "Bukankah semuanya sudah jelas bahwa itu hanya rumor?"
Maria terdiam. "Entahlah."
"Kenapa Nyonya tidak tanya langsung saja pada Tuan?"
Maria hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia meringis, melempar senyum kaku pada Laura. Tidak ada yang tahu mengenai kejadian malam itu selain dirinya, Gibran, Martha dan juga Jesi.
Masih jelas di ingatannya bagaimana rupa moncong pistol itu mengarah padanya. Raut Gibran yang menyeramkan, juga suaranya yang menggelegar saat meneriaki Martha benar-benar membuat Maria ketakutan.
Maria belum berani bertatap langsung dengan Gibran. Saat ini pun, sebisa mungkin ia akan menghindari tempat-tempat yang berpotensi besar mempertemukannya dengan Gibran. Meski sebetulnya pria itu bisa muncul kapan saja dan di mana saja.
Maria menoleh, "Benarkah?"
"He'em," angguk Laura.
Sejenak Maria berpikir sebelum kemudian ia mengangguk. Mereka pun pergi menuju rumah kaca yang dimaksud Laura. Maria baru ingat ia hanya pernah melewatinya saat berjalan-jalan dengan Gibran dan Tuan Shimamura.
Keduanya harus melalui koridor dan jalan setapak yang dipaving tak jauh dari taman. Jaraknya cukup jauh, namun pemandangan asri yang Maria dapatkan membuatnya betah meski berlama-lama.
Berbagai tanaman dan pagar hidup Maria temui di sepanjang jalan. Tiang-tiang pagu peneduh pun dirambati dedaunan, memperkental suasana klasik juga aestetik yang menyelimuti mansion besar milik Gibran.
Sialnya, ketenangan hati Maria harus terganggu oleh penampakan Gibran yang tengah bermain golf di lapangan. Maria lupa jalan menuju rumah kaca memang melewati lapang tersebut. Masalahnya, ia sama sekali tidak berpikir akan menemukan Gibran di sana.
Astaga, bagaimana ini?
Apa dia berbalik saja? Tapi itu sungguh tidak etis. Maria sudah terlanjur lewat dan terlihat oleh Gibran. Sekilas ia mendapati pria itu sempat meliriknya.
Merasa tidak punya pilihan, Maria mempercepat langkahnya hingga hampir berlari. Membuat Laura yang mengikutinya serta-merta keheranan.
Gadis itu berlari kecil dengan dahi mengernyit. Ia bertanya kenapa Maria mendadak mengubah tempo kakinya, namun Maria sama sekali tak memberi jawaban dan hanya menyuruhnya cepat-cepat.
Karena kurang fokus dengan langkahnya, Maria jadi kurang hati-hati saat menginjak garis-garis dari motif paving yang ia pijak. Alhasil tubuh wanita itu terhuyung saat tumit heels-nya mengenai lekukan yang membuatnya tergelincir dan limbung.
Beruntung ia langsung berpegangan pada tiang. Meski tidak sampai jatuh, tapi pergelangan kakinya luar biasa sakit.
"Astaga, Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?" Rupanya seruan Laura berhasil menarik perhatian orang-orang di lapangan.
Terutama Gibran yang tanpa membuang waktu melempar tongkat golf-nya secara sembarang dan langsung menghampiri keduanya.
"Ada apa?"
Suara berat pria itu membuat Maria terlonjak. Pun Laura yang seketika langsung menunduk memberi hormat.
"I-Ini ... Tuan. Sepertinya kaki Nyonya terkilir."
Gibran menunduk menatap kaki Maria yang terbalut hak tinggi. Persis ketika tangan Gibran terulur hendak membantu menahan tubuh Maria, wanita itu tiba-tiba mengkerut mengeratkan pelukannya pada tiang.
Hal tersebut membuat Gibran terpaku sesaat. Ia menatap Maria yang tak berani membalas tatapannya.
"A-Aku tidak apa-apa."
Laura menyanggah tak setuju, "Tidak apa-apa apanya? Lihat, kaki Nyonya sudah merah. Pasti sebentar lagi membiru!"
"Aku sungguh baik-baik saja!"
"Baik bagaimana? Jelas-jelas Nyonya tidak bisa jalan."
"Aku hanya beristirahat sejenak." Maria terus menyangkal.
"Dasar omong kosong. Kenapa Nyonya harus keras kepala begini?"
Di antara mereka yang terus berdebat, Gibran yang tidak sabaran justru menggendong Maria tanpa peringatan. Tentu wanita itu terkejut bukan main. Maria hampir berteriak jika saja ia tidak langsung tersadar.
Alih-alih bersuara, Maria membungkam mulutnya rapat-rapat. Hingga Gibran membawanya ke sebuah kursi tak jauh dari sana. Pria itu berjongkok berniat memeriksa kaki Maria. Namun reaksi tak biasa yang lagi-lagi Maria tunjukkan membuat Gibran mengurungkan niat.
Kini hanya tersisa mereka berdua setelah Laura pergi mengambil minyak zaitun atau apa pun atas perintah Gibran.
Gibran menatap datar tungkai Maria yang beringsut berusaha menjauh dari jangkauan tangannya. Hening pun menyelimuti sampai akhirnya Gibran membuka suara.
"Kau takut padaku?" Matanya sama sekali tak menatap Maria.
Maria yang mendengar pertanyaan itu sempat terhenyak sesaat, sebelum berusaha kembali tenang meski matanya berlarian menghindar.
"Apa aku membuatmu takut?" tanya Gibran, lagi. Kali ini mendongak menatap Maria.