His Purpose

His Purpose
51. Grandfather



"Hangat?"


"Hm."


Maria merengut, "Jawab dengan kata-kata. Jangan hanya bergumam. Koko punya mulut, kan?"


"Iya."


"Ish." Maria menyerah. Gibran memang paling malas bersuara.


Mendadak Maria ingat sesuatu. Ia menjauhkan dagunya dari kepala Gibran, lantas meneliti rambut pria itu dari belakang. "Koko, luka jahit waktu itu apa sudah sembuh?"


"Sudah."


"Boleh kulihat?"


Gibran tak menjawab. Namun sikap diamnya Maria anggap sebagai 'iya'.


Ia pun menelusuri rambut klimis Gibran yang terpangkas rapi, berusaha mencari sambil mengingat-ingat letak luka yang dimaksud. Segaris kecil ia temukan di bagian atas agak ke tengah.


Diam-diam Maria meringis. Sudah apanya? Lukanya hanya sedikit mulai membaik dari yang terakhir ia ingat.


Meski begitu Maria memilih bungkam. Maria takut Gibran merasa terganggu jika ia bersikap berlebihan.


Dalam keheningan tiba-tiba ponsel Gibran bergetar. Telpon dari Nick. Lelaki itu pun lantas mengangkatnya hingga mau tak mau Maria melonggarkan pelukan. Meski begitu satu tangan Gibran masih aktif mengelus kaki Maria.


"Ada apa?"


"Tuan, segeralah kembali. Seseorang menunggu Anda dan Nyonya di mansion."


Itu adalah kalimat Nick yang samar-samar Maria dengar. Maria mengerjap menatap Gibran dari atas. Pria itu sudah menutup panggilan dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.


"Ayo pulang." Gibran beranjak dari duduknya.


Maria mendongak, "Sekarang?"


"Hm."


"Ada tamu, ya?"


Gibran hanya mengangguk menanggapi pertanyaan itu. Maria yang mengerti pun langsung memakai kembali sepatunya, mengikuti Gibran untuk kembali ke mansion. Meski sepanjang jalan ia mati-matian berjalan normal mengingat langkah Gibran yang lebar-lebar.


Heels yang Maria pakai sangat tidak cocok dengan medan yang ia lewati. Beberapa kali kakinya tergelincir dan membuat Maria hampir terjungkal jika saja keseimbangan tubuhnya tidak cukup bauk.


Mendadak Maria mempertanyakan kenapa tadi ia bisa sampai di hutan dengan selamat.


Tiba-tiba Gibran berhenti. Ia berbalik menatap Maria yang berjarak sedikit jauh di belakangnya. Pria itu berdecak memperhatikan kaki Maria dan cara berjalannya yang begitu aneh.


"Lain kali pakai sneaker atau sandal jika mau kemari. Setidaknya yang tidak bertumit tajam."


Maria ikut berdecak, "Mana kutahu sebelumnya akan kemari. Aku hanya iseng dan tanpa sengaja menemukan tempat ini."


Gibran hanya mampu menghela nafas dan kembali melanjutkan langkahnya. Bedanya sekarang ia berjalan lebih pelan dari sebelumnya. Meski sudah begitu Maria masih tetap tertinggal jauh di belakang.


Beberapa kali Gibran menoleh hanya untuk mendapati Maria yang menggerutu dengan suara pelan. Ia yang tidak tahan kontan saja langsung menghampiri wanita yang kini tampak sibuk memaki tanah di bawah kakinya.


"Wanita selalu saja merepotkan," dengus Gibran sebelum kemudian berjongkok di depan Maria.


Spontan Maria menghentikan langkahnya. Mendengar apa yang Gibran katakan, lututnya serta-merta menyikut punggung yang terbalut jas mahal itu dengan pelan. Lagi-lagi Gibran mengatainya merepotkan.


Dasar pria. Sebentar baik, sebentar menyebalkan. Ingin sekali Maria menghempaskan tubuh Gibran ke danau tadi.


"Lalu kenapa Koko mau menggendong wanita merepotkan ini?" kesal Maria.


Gibran meliriknya sesaat. "Kau berjalan seperti kukang. Cepat naik."


Maria merengut. Kukang adalah hewan terlambat di dunia yang hanya mampu menempuh jarak kurang dari 0,03 kilometer, atau jika dihitung sekitar 30 meter perhari. Dan Gibran menganalogikannya seperti hewan tersebut? Keterlaluan.


Maria menghentak melewati Gibran begitu saja. Membuat pria itu seketika mendengus tak percaya.


"Kokooo ...!!!" Kakinya menendang-nendang di udara.


"Turuniiinn ... astaga kepalaku pusing ...!"


Telinga Gibran seolah tuli. Ia tak menghiraukan protesan Maria yang berkali-kali minta diturunkan. Hingga mereka tiba di lingkungan mansion, semua mata menatap keduanya penasaran, terutama Laura yang seketika berlari diikuti Jill dan juga Dean.


Gibran baru menurunkan Maria ketika sampai di lobi depan. Sesaat ia menahan tubuh Maria yang limbung karena hilang keseimbangan. Wanita itu nampak terengah dengan pandangan sedikit tak fokus. Begitu matanya menangkap Gibran, Maria langsung melayangkan serangan bertubi-tubi memukuli pria itu disertai histeria yang menimbulkan kegaduhan.


Nick yang baru keluar dari rumah refleks mendekat hendak menarik tubuh Maria dari Gibran. Sang nyonya nampak begitu kesetanan, hal yang membuat Nick khawatir karena sepertinya pukulan Maria tidak main-main.


Luka di kepala Gibran saja belum sepenuhnya hilang, bagaimana kalau ada luka baru lagi?


"Nyonya, tolong tenanglah. Anda bisa melukai Tuan lagi nanti!" seru Nick sambil berusaha menghentikan tangan Maria.


Wanita itu menoleh padanya, "Apa? Luka apa?"


Gibran menatap tajam asistennya yang kini meringis menggaruk belakang leher. Seakan cari mati pria itu menunjuk kepalanya sendiri, menyepertikan letak luka yang ada di kepala Gibran.


Maria menganga, "Jadi, luka itu ..."


Matanya bergeser pada Gibran yang kini tengah terpejam menahan kesal. Tak lama keduanya saling beradu pandang. Maria yang diliputi kekhawatiran sekaligus rasa bersalah mendadak kebingungan.


Ia melepas pegangan Gibran, menurunkan tangan yang sebelumnya memukuli pria itu, lalu menutup mulut dengan mata membuka lebar.


"Ke-Kenapa Koko diam saja? Kenapa tidak bilang aku yang-"


"Apa itu penting?"


"Meski aku bilang, kau tidak akan bisa mengobatinya," lanjut Gibran. Pria itu mulai melangkah memasuki pintu utama.


Maria mengejar di belakang, "Setidaknya aku tak akan memukulimu jika tahu hal itu!"


"Kau sudah tahu."


"Tapi aku tidak tahu aku yang menyebabkannya!"


"Koko!" Maria berseru ketika Gibran tak menghiraukannya.


Lelaki itu berhenti, Maria yang tidak siap serta-merta menabrak punggung Gibran, tangannya refleks memeluk pria itu guna mencari pegangan ketika tubuhnya terhuyung.


"Oh astaga. Kau mengejutkanku," gumam Maria menetralkan nafas.


Suasana hening mendadak terasa aneh bagi Maria. Ia mengerjap menatap sekeliling dan mendapati Martha beserta para pelayan tengah menunduk, Maria menduga mereka sedang memberi hormat pada Gibran.


Akan tetapi semua itu terpatahkan ketika sebuah suara bergema rendah memecah kesunyian.


"Akhirnya kau datang juga."


Maria merasakan tubuh Gibran yang menegang. Karena penasaran, ia melongokkan kepala melewati punggung Gibran untuk melihat siapa yang berani mencegat hingga menghentikan seekor beruang kutub di depannya.


Seorang pria lanjut usia yang masih terlihat bugar berdiri di hadapan mereka. Maria mengerjap, ia masih berusaha mencerna keadaan hingga tidak sadar posisinya yang riskan.


Pria itu berdehem. Sekilas matanya melirik lengan Maria yang melingkar di perut Gibran.


"Apa kabar, cucuku?"


Cucu?


Sebentar. Itu kakek Gibran?


Maria terus bertanya-tanya dalam hati. Ekspresinya yang melamun tak luput dari perhatian pria tersebut.


"Apa dia cucu menantuku?"


Gibran masih bungkam tak menjawab. Maria sendiri tidak tahu bagaimana raut Gibran sekarang. Yang dia tahu, interaksi dua pria itu terlalu aneh untuk seukuran kakek dan cucunya.


Apa sebelumnya mereka tidak pernah bertemu?