His Purpose

His Purpose
68. That Woman



"Dari mana saja?"


Pertanyaan bernada dingin itu menyergap Maria begitu memasuki kamar. Gibran tengah duduk bersilang kaki di sofa, membuka satu persatu lembar majalah di pangkuan.


Pria itu membuka kacamata, lantas mendongak, memfokuskan atensinya pada Maria. Sesaat Maria tersendat gugup. Akan tetapi, mengingat kekesalannya pada Gibran berhasil menepis semua intimidasi yang menguar.


"Jalan-jalan," ketusnya sembari membuka sepatu.


Melihat sikap defensif Maria, Gibran pun mengernyit. Bukankah seharusnya dia yang kesal?


"Tadi kamu ke proyek?"


Alih-alih menjawab, Maria justru menghentak melewati Gibran. Lelaki itu semakin dibuat tak mengerti. Apa wanita memang selalu serumit ini? Pikirnya.


"Nick bilang kamu datang."


"Ya terus?" sewot Maria.


Gibran menoleh, menatap aneh istrinya yang juga tengah menghunusnya dengan tatapan tajam.


"Kamu kenapa? Kenapa marah-marah?"


"Harusnya aku yang marah. Kenapa kamu kasih makan siang ke Bagas?" lanjut Gibran.


"Karena dia tampan!" sentak Maria sebelum berbalik membelakangi Gibran, mulai mencopot satu persatu perintilan aksesoris berupa kacamata, scarf, dan anting yang dipakainya tadi siang.


Sementara tasnya ia lempar ke atas ranjang.


"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan?"


Gibran mulai bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Maria.


"Apa? Memang benar kan dia tampan? Lagipula kenapa Koko harus bertanya? Bukankah Koko juga asik dengan wanita itu?"


Gibran mengernyit, "Wanita mana?"


Maria berbalik, "Jangan pura-pura tidak tahu. Sudahlah. Lagipula aku juga tak peduli Koko mau dengan siapa."


Sesaat Gibran tercenung, ia menahan tangan Maria yang hendak melewatinya. Tatapannya melunak saat memulai bicara. "Katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuatmu marah-marah tak jelas seperti ini."


"Tidak jelas? Jelas-jelas Koko dan wanita itu berduaan di proyek!"


"Sampai tidak sadar ada aku di sana," lanjut Maria bergumam.


Gibran terdiam nampak berpikir. Namun hal tersebut semakin membuat Maria jengkel hingga menghentak pegangan Gibran di lengannya.


"Maksud kamu Morena?"


Maria mendengus. Morena, katanya? Nama yang sangat jelek.


"Dia rekan sesama pengusaha." Gibran berusaha menjelaskan.


"Kami sedang meninjau pembangunan. Tidak hanya berdua, ada rekan yang lainnya juga."


Maria terdiam sebentar, kemudian ia memilih berlalu membuka lemari mencari baju ganti. "Bodo amat. Sudah kubilang Koko tak perlu jelaskan. Aku tidak peduli."


"Pasti sangat menyebalkan punya istri yang selalu curiga dan cemburu. Iya, kan? Aku memang seperti ini, makanya tidak ada satupun yang betah berhubungan denganku."


"Maaf karena Koko harus terjebak. Sudah kubilang ayo kita cerai saj—" ucapan Maria berheti saat sebuah tangan membekapnya dari belakang.


Gibran berada tepat di balik punggungnya.


"Mulutmu semakin melantur, Sugarplum. Apa perlu aku menghukumnya?" bisik Gibran tepat di samping telinga.


Maria mematung dengan jantung berdegup kencang. Darahnya berdesir cepat menghantarkan rasa panas yang mengalir hingga ke pipi.


"Wajahmu menghangat. Apa aku membuatmu gugup?"


Susah payah Maria menelan ludah. Apalagi Gibran dengan sengaja menyentuhkan bibirnya di daun telinga Maria, menyasar titik sensitif wanita itu yang sepertinya sudah ia hafal.


Tubuh Maria bergetar saat satu tangan Gibran menyasar perutnya, menariknya pelan hingga tubuh mereka semakin merapat.


"Rasa curiga dan cemburu itu wajar dirasakan pasangan. Tak perlu resah, karena itu bukan suatu kesalahan," bisik Gibran lagi.


"Tapi kesannya aku posesif," cicit Maria.


Sebuah kecupan Maria rasakan di samping kepala. "Tidak, kamu tidak posesif. Itu hakmu. Dan kamu boleh menggunakan hak itu padaku."


"Kenapa ..."


"Karena aku suamimu."


Untuk yang kesekian kali Maria merasakan sikap Gibran yang mulai melunak padanya. Pria itu tak lagi sedingin dulu. Tapi, entah kenapa Maria masih merasa kurang karena belum ada ungkapan cinta di antara mereka.


Sebetulnya, hubungan macam apa yang ia dan Gibran jalani? Apa perasaan pria itu padanya?


***


Gibran menyebutkan sejumlah menu yang langsung dicatat oleh pelayan. Saat ini mereka tengah berada di resto untuk makan malam.


Tidak seperti sebelumnya, kali ini Maria memakai kaus juga celana panjang guna menutupi ruam-ruam merah di tubuhnya.


Gibran sempat meminta Nick untuk memesan beberapa pakaian baru yang lebih tertutup. Mengetahui Maria cukup kesulitan menyembunyikan bekas percintaan mereka membuat Gibran mau tak mau harus menaruh perhatian.


"Sepertinya aku terlalu keras. Apa tubuhmu sakit?" Tiba-tiba Gibran bertanya.


Sontak Maria menoleh kanan kiri melihat sekitar. Gibran benar-benar bicara tanpa melihat sikon.


Maria menggeleng menjawab pertanyaan Gibran. Percuma ia bilang tubuhnya remuk redam. Toh, Gibran tetap menyerangnya dengan brutal tadi sore.


Gibran menghela nafas menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kamu tampak lebih pendiam," gumamnya.


"Apa aku memang terlalu kasar? Katakan saja, mungkin aku bisa bermain lebih lembut nanti."


Maria mendelik, "Sudah cukup. Tidakkah Koko malu membicarakan hal itu di sini?" ucapnya jengah.


Dan Gibran hanya mengangkat bahu sebagai respon.


Tak berapa lama pesanan mereka datang, kini hidangan laut yang menggiurkan tersaji di atas meja. Maria memandang lapar semua makanan itu. Salahkan Gibran yang terlalu menguras habis tenaganya hingga lemas tak bertulang.


Dengan telaten Gibran memisahkan daging kerang yang hendak Maria makan, lalu menaruh cangkangnya di wadah lain yang sebelumnya disediakan pelayan.


Pria itu melakukannya tanpa suara, wajahnya datar seperti biasa. Tapi bisa-bisanya Maria meleleh dengan aksi Gibran yang tak seberapa itu.


Maria mulai makan dengan pelan. Sesekali matanya melirik Gibran yang juga menikmati santap malamnya. Di tengah ketenangan, tiba-tiba seorang wanita datang memecah kesunyian.


"Pak Gibran? Makan malam di sini juga?"


Gibran menoleh.


Dia adalah wanita yang Maria lihat siang tadi. Sontak suasana hatinya kembali memburuk, selera makannya juga melayang entah ke mana.


Kening Maria berkerut samar, susah payah ia memasukkan makanan ke mulut, karena sebetulnya Maria ingin sekali melempar saus kerang di piringnya ke wajah wanita itu.


Gatel banget, sih.


Sekali lihat saja semua orang bisa tahu wanita itu memang tertarik pada Gibran.


Sejenak Gibran melirik Maria, lalu mengangguk singkat pada Morena. "Kamar kami memang di atas. Justru saya heran melihat Bu Morena, bukankah Anda menginap di hotel sebelah?"


Mendengar kata kami, Morena langsung menoleh pada Maria. Wanita itu meringis samar.


Kenapa? Baru sadar ada istrinya di sini? Dari tadi ke mana saja? Batin Maria.


Atensi Morena kembali pada Gibran, "Ah ... itu, Pak. Makanan di sana membosankan. Saya ke sini mau mencari suasana baru saja. Dan sepertinya menu di sini cukup membuat saya lapar. Hehe ... apa kepiting itu enak, Pak?"


Gibran menjawab tak acuh, "Pesan saja kalau penasaran."


Morena mengangguk, sudut bibirnya berkedut hambar. "Kalau begitu ... saya duduk ... di sana. Iya, di sana, hehe ..." tunjuknya pada meja tak jauh dari mereka.


Seolah merasa berat, kaki Morena menjauh. "Selamat makan, Pak Gibran, Bu Gibran ..."


"Hem."


Maria mencibir. Kalau mau makan ya makan saja. Kenapa harus haha hihi.