His Purpose

His Purpose
187. Whises and Denial



Tuh, kan, ketahuan. Sama anak pula.


Maria benar-benar ingin menenggelamkan diri. Ini semua karena kecerobohan Gibran. Entah dia terlalu tidak sabar atau memang instingnya sudah menurun. Biasanya lelaki itu selalu berhati-hati, terlebih dalam hal urusan ranjang.


Sewaktu Sandra masih bayi saja mereka kerap berhubungan intim di kamar yang berbeda, takut suara aneh mereka berpengaruh buruk seperti kata psikolog.


Maria menatap kebersamaan Sandra dan Gibran di ruang bermain balita itu. Untung Gibran bisa segera mengalihkan perhatian Sandra. Pria itu mengeluarkan oleh-oleh yang dijanjikan, yaitu sepatu yang sama persis seperti yang dipakai putri Pangeran Inggris.


Entah berapa uang yang digelontorkan suaminya untuk mendapat barang limited itu. Yang pasti kali ini Maria tidak akan mengomel karena nyatanya barang mahal tersebut menyelamatkan Maria dari situasi rawan tadi.


Maria memijat keningnya dengan nafas terbuang lega.


"Nyonya, sepertinya Anda kelelahan setelah memasak banyak tadi." Laura berujar di sampingnya.


Aku bukan lelah memasak, kepalaku pusing karena terpergok mesum oleh anak sendiri.


"Yuhuuu ... Dydy! Dydy! Catch me!"


Sandra nampak berlarian di tengah ruangan dengan sepatu barunya. Di belakangnya Gibran berlari kecil seolah ia kesulitan menangkap si kecil.


Maria menggeleng. Sayang sekali beli barang mahal-mahal jika sehari saja sudah rusak. Lihat betapa teledornya Sandra memakai barang. Tapi meski begitu Gibran tak pernah mempermasalahkan.


Kalau itu Maria, ia sudah mengamuk dan mengomeli Sandra agar memakai sepatunya dengan hati-hati.


"Hap! I got you!" seru Gibran yang berhasil menangkap Sandra.


Gadis kecil itu cekikikan, meronta di gendongan ayahnya. Gibran menghujani sang putri dengan ciuman yang membuat Sandra menggeliat geli.


"Hahaha ... Dydy belenti!"


Gibran tak kuasa menahan rasa gemasnya terhadap Sandra. Tubuh gembilnya ia timang-timang dengan gerakan hendak melempar. Kontan Sandra mengejat-ngejat minta turun.


"Mommy! Mommy! Help me! Huaaa ... Dydy, Nda mau mimi!!! Hiks ... hiks ... Mommy, Nda mau mimi!"


Sandra menjerit-jerit meminta bantuan Maria. Spontan Maria menegakkan tubuh. "Koko, ih, jangan keterlaluan. Sandra bisa pusing nanti." Ia mendekat berusaha menghentikan tingkah keduanya.


Gibran tertawa menurunkan putrinya dan memeluknya erat sebentar, melabuhkan ciuman di kedua pipinya yang bulat seperti bakpau.


"Gemas!" ujar Gibran gereget.


Sandra langsung melarikan dirinya pada Maria selepas turun dari pelukan sang ayah. "Mau mimi ..." ucapnya menggesek mata.


Sepertinya Sandra mengantuk. Maria segera membawanya untuk digendong. "Ayo, kita tidur siang, ya?"


Gibran mengikuti Maria ke kamar Sandra.


"Koko mandi, gih. Aku susuin Sandra dulu."


"Nanti susuin aku," bisik Gibran di telinga Maria.


Maria kontan mendelik memukul pelan bisep Gibran. Ia melirik Sandra yang melenggut sayu di pelukannya, memberi isyarat bahwa Gibran harus belajar dari kejadian tadi.


Gibran tersenyum, mengecup Maria dan Sandra bergantian sebelum berlalu keluar. "Jangan lama ya, Plum."


Maria menggeleng. Lama tidaknya tergantung kapan Sandra bisa tidur nyenyak. Maria mulai menidurkan Sandra di atas ranjangnya yang dipenuhi kelambu dan hiasan seperti di istana-istana Disney, lalu membuka kancing dress-nya untuk menyusui si kecil hingga terlelap.


Maria memang belum menyapih Sandra hingga sekarang umurnya hampir 3 tahun. Mungkin nanti genap di ulang tahun Sandra, Maria akan menghentikan total asupan ASI-nya.


Usai menyusui Sandra, Maria lekas berpindah ke kamarnya yang letaknya cukup berjarak dengan kamar Sandra.


Gibran sengaja menempatkan kamar anak tidak begitu berdampingan lantaran mereka tidak tahu, kapan saja mereka berhubungan dan anaknya sedang bangun.


Seperti sekarang misalnya. Maria tahu kejadiannya akan seperti ini bila memasuki kamar. Gibran langsung menyergap dan menyerangnya membabi-buta.


Maria hanya bisa melenguh dan merintih meresapi semua sentuhan Gibran di ruang wardrobe. Lelaki itu baru usai mandi ketika Maria masuk.


"Emh ..."


Nafas Gibran terengah di tengkuknya. Keduanya saling bertatapan lewat cermin di depan. Gibran memompa tubuh Maria dari belakang. Tangannya meremas buah dada sang istri hingga basah oleh ASI yang keluar.


Erangan Gibran turut memacu hasrat kian menggelora. Maria tak kuasa menahan diri saat pelepasan itu datang menghantam kesadarannya. Gibran menggeram panjang disertai tiga hentakan akhir yang membuat pusat tubuh Maria terasa semakin hangat. Sesuatu merembes di antara sela paha, mengalir ke bawah melewati mata kaki hingga tercecer di lantai.


Gibran memeluk Maria membenamkan wajahnya di sela leher wanita itu. Sesekali mengecupi ringan kulit Maria yang lembut.


Setahun setelah melahirkan, Maria rutin mengikuti kelas yoga. Porsi tubuhnya semakin menggoda dengan dua bagian favorit yang kian berisi.


"Sshh ... emh ..." Gibran kembali meremas dada Maria. Bagian tersebut sudah lengket, pun tangan Gibran ikut lembab tak berhenti main di sana.


"Orang lain melakukan operasi untuk mendapat buah dada sebesar ini." Gibran tersenyum menatap lekat netra Maria yang masih terlihat sayu.


Keduanya masih berdiri di depan cermin. Maria bisa melihat betapa kacau penampilannya saat ini.


"Ternyata cukup dengan melahirkan dan menyusui, bagian ini menjadi jauh lebih seksi, padat dan sekal. Aku suka perubahan ini."


Maria merintih kecil ketika Gibran memainkan kedua puncak kembar miliknya.


"Kamu sudah lepas KB?"


"Hm? Kenapa?" Maria sedikit menoleh mendengar bisikan Gibran tersebut.


"Kita ikut program kehamilan, ya."


"Promil?"


"Hm." Gibran mengecup bahu telanjang Maria.


"Tidak usah, lah."


Gibran mengkerut sedikit melonggarkan pelukannya. "Kenapa? Kamu tidak mau menambah anak lagi?"


Maria tampak diam seperti enggan menjawab.


"Plum?"


"Kamu tidak mau Sandra memiliki adik?"


Alih-alih menjawab, Maria menarik diri melepas penyatuan mereka. Wanita itu bergerak mengikat rambut, mengambil kimono yang menggantung sebelum kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Kita bicarakan ini nanti, ya. Aku capek, mau mandi," ujarnya lalu menghilang di balik pintu.


Gibran mematung mendapati respon Maria tersebut. Maria betul-betul menolak memiliki anak lagi? Kenapa? Apa dia trauma setelah operasi melahirkan Sandra?


Sampai sore menjelang pun Maria masih bungkam dan enggan menanggapi setiap kali Gibran membahas masalah kehamilan.


Wanita itu terus mengajak Sandra bermain tanpa menghiraukan keinginan Gibran yang ingin berduaan dengannya. Padahal Gibran berharap sepulangnya dari Dubai ia dan Maria bisa menghabiskan momen romantis dan menjauh sejenak dari putri mereka.


Sandra bukan anak yang rewel meski ditinggal lama ayah ibunya. Asal sedia ASI, semuanya pasti aman. Sandra anaknya anteng dengan siapa saja, meski kadang menjadi menyebalkan ketika mendapati seseorang yang tak disuka.


"Plum?" Gibran berdiri di ambang pintu kamar Sandra.


Maria tengah menepuk-nepuk anak itu berusaha membuatnya tertidur.


"Syuut ..." Maria menyuruh Gibran untuk diam.


Gibran menghela nafas menghampiri keduanya dan duduk di tepi ranjang, tepat di belakang Maria yang berbaring miring memeluk Sandra.


"Dydy ..." bisik Sandra setengah mengantuk.


Maria meminta Sandra untuk segera tidur. Anak itu pun memejamkan mata dan terlelap.


"Sayang," bisik Gibran menyentuh lengan Maria.


"Apa, sih?"


Membuang nafas, Gibran pun menggeleng disertai senyuman. "Lekaslah tidur. Kamu pasti capek jagain anak kita."


Gibran tak jadi membahas anak lagi. Melihat raut lelah di wajah Maria, Gibran seakan merasakan betapa capeknya mengurus anak meski hanya di rumah saja. Gibran tentu tak bisa memaksakan keinginan untuk menambah momongan. Ia tak mau Maria kelelahan.