
"Ada apa kau mencariku?" Rayan menduduki kursi bar di samping Gibran.
Ini kedua kali mereka bertemu di ruang anggur. Walaupun sebenernya Gibran merasa heran, Rayan tak begitu kuat minum alkohol, tapi pria itu sampai mengoleksi satu rak penuh botol minuman.
Gibran menyesap vodka di gelasnya secara perlahan, diam-diam Rayan mendengus karena Gibran minum tanpa seizinnya. Dia benar-benar menantu tak beretika.
"Aku pernah membantu perusahaanmu dengan satu syarat bukan?"
Rayan menoleh, menunggu lanjutan kalimat dari Gibran.
"Aku ingin mengambil syarat itu sekarang," ucapnya turut menatap Rayan. "Akuisisi perusahaan Adiwiguna. Itu syaratku."
"Apa?"
"Kita sama-sama diuntungkan. Aku menjatuhkan lawanku, dan kau mendapat perluasan kekuasaan. Am i right?"
"Aku tidak suka cara kotor sepertimu," cetus Rayan menolak.
"Yes or no? Atau aku membawa Maria kembali jauh dari jangkauanmu?" ancam Gibran sambil menyeringai.
Rahang Rayan mengeras. "Dia putriku! Aku yang jauh lebih berhak atas hidupnya, bukan kau!"
Gibran mengendik menyesap kembali isi gelasnya. "Sejak kau membiarkannya menikah denganku, hidup Maria sudah sepenuhnya menjadi milikku."
"Iblis keparat," desis Rayan. Ia tak percaya karena sempat berpikir Gibran berubah sedikit melunak. Ternyata itu hanya topeng untuk Maria.
"Dan iblis ini adalah menantumu," timpal Gibran merasa menang. "Akuilah, tidak ada orang yang lebih kaya dariku untuk Maria. Aku bisa memenuhi segala keinginannya. Dan sebentar lagi ... aku akan membangun istana impian yang ia harapkan semasa remaja."
Rayan mendengus. Gibran adalah montser yang siap menghancurkan siapa pun. "Jangan libatkan aku dalam masalah yang menyangkut keluargamu."
Ia tahu persis apa yang Gibran rencanakan merupakan satu dari sekian tujuannya menjatuhkan Willis. Sedangkan Rayan enggan bersinggungan dengan keluarga mafia itu. Cukup sekali putrinya hancur, ia tidak ingin menambah kesialan dengan bergabung bersama Gibran.
"Kau takut?" ejek Gibran.
"Bukan takut, hanya berusaha melindungi apa yang kumiliki." Rayan mengambil gelas dan mulai mengisinya dengan alkohol.
"Melindungi yang kau miliki?" Gibran mendengus. "Kau bahkan tidak sadar perusahaanmu hampir gulung tikar karena ulah mereka."
Rayan menoleh cepat. Jadi, perusahaan asing yang menipunya adalah milik Willis?
Melihat keterkejutan itu, sudut bibir Gibran berkedut kecil sebelum menyesap kembali vodka miliknya.
"Jangan terlalu banyak, aku tidak mau menggendongmu untuk yang kedua kali," celetuk Gibran tiba-tiba.
Lagi, Rayan menoleh cepat. "Kau ...?"
Gibran meliriknya sekilas. Tanpa diberi tahu pun Rayan pasti mengerti. Ia mendengus menyimpan gelasnya yang kini hanya sisa es batu, lantas beranjak menyelipkan tangannya di saku. Tanpa kata ia keluar meninggalkan Rayan yang kini sibuk memaki sendiri.
"Sialan, memalukan. Bisa-bisanya aku mabuk di depan dia," desisnya kesal.
Nick baru saja mengirim informasi pada Gibran bahwa Ginanjar adalah satu dari sekian orang budak Willis di Indonesia. Politikus yang juga seorang pengusaha itu kerap menjalankan perintah-perintah kotor dari Sandra maupun David Willis.
Dan lagi, kecelakaan kerja di proyek pengembang milik Gibran juga salah satu ulah kecil mereka. Sekarang Gibran mengerti kenapa bisa ia kebetulan bertemu Ginanjar di rumah sakit, pria itu pasti hendak menemui korban, lalu menekannya untuk membuat tuntutan yang akan menjatuhkan perusahaannya.
Dia pikir hal sepele seperti itu bisa menghancurkan Gibran. Akan Gibran pastikan bukan dirinya yang hancur, melainkan Ginanjar sendiri yang sudah bertindak bodoh mengusiknya.
***
Maria berkedip melihat lukisan yang baru saja ia buka. Benar, benda yang diantar kurir tadi adalah lukisan. Tapi ... "Ini ... aku?"
Tak lama suara pintu di belakangnya terbuka. Gibran masuk dan langsung mendapati Maria mematung di pinggir ranjang.
"Koko ... sejak kapan? Ini ...?" Maria tidak tahu harus bilang apa. Bagaimana bisa Gibran menyuruh seseorang melukis dirinya yang sedang tidur?
Iya, itu adalah gambar di mana Maria tengah meringkuk terlelap di atas sofa. Perutnya yang menonjol sangat jelas di sana. Apa Gibran diam-diam memasukkan orang lain ke kamar ini, lalu menyuruhnya melukis, begitu?
Gibran berjalan mendekat, lalu memeluk Maria dari belakang. Ia ikut mengamati potret indah tersebut sambil sedikit menggoyang-goyang tubuh mereka.
"Bagus, kan? Maaf, aku mengambil fotomu tanpa izin. Kamu cantik sekali, aku tidak tahan untuk tidak mengabadikannya."
Maria menoleh. "Oh ... jadi Koko foto aku? Bukan suruh orang lukis langsung?"
"Ish." Maria merengut sambil menghentak pelan. Kenapa ia tidak berpikir sampai ke sana?
"Kamu suka?"
"Suka, tapi ini mau ditaruh di mana?"
"Ya ... untuk sementara di kamar kamu. Nanti jika sudah waktunya aku akan simpan di rumah kita."
"Maksud Koko mansion?"
Gibran tak menjawab, hanya memandang Maria penuh arti lalu melepas rangkulannya.
"Mau makan malam di luar? Sekalian jalan-jalan. Kamu pasti suntuk di rumah terus."
"Suntuk sih suntuk, tapi apa Koko tidak lihat kondisi tanganku bagaimana?" Maria merengut. "Makan di luar hanya akan membuatku malu. Masa iya aku harus makan pakai tangan kiri? Nanti yang ada berjatuhan ke lantai."
Gibran terkekeh. "Tentu saja aku akan menyuapimu, Plum."
Maria semakin merengut. "Tetap saja aku malu."
Menghela nafas pelan, Gibran pun menyerah dan mengulas senyum hangat. "Ya sudah, kamu maunya bagaimana?"
"Kita makan di rumah saja. Lagi pula kasian Papa, masa kita pergi sementara Papa makan sendiri di sini?"
"Bagaimana kalau kita barbekyu?" lanjut Maria berseru.
"Barbeque?"
"Huum. Pasti seru makan bertiga di taman belakang!"
Gibran berkacak pinggang sambil menggaruk dahi. "Bertiga?" tanyanya memastikan.
"Iya."
"Kenapa tidak sekalian saja 10 orang?" gumam Gibran menggerutu.
"Koko bilang apa?"
"Tidak ada."
"Ya sudah, kita jadi makan bertiga, kan?"
Terpaksa Gibran mengulas senyum dan mengangguk. "Hm."
Seketika Maria bersorak gembira sampai tidak sadar tangannya goyang hingga kemudian ia meringis. Maria melempar cengiran saat Gibran mendecak memelototinya.
"Hehe, aku tidak sengaja."
"Yee ... bakar-bakaran ..."
"Ajak juga Nick dan Laura. Oh, Jill dan Dean juga!"
Gibran semakin memutar mata. Kenapa tidak satu kediaman saja Maria ajak makan? Padahal yang Gibran inginkan makan malam berdua, romantis. Tapi berbeda dari harapannya Maria malah mau makan ramai-ramai.
Sial.
"Aku akan minta Laura menyiapkan semuanya."
"Kira-kira yang enak apa saja, ya?"
"Daging, sosis, bakso, umm ..." Maria menyentuh dagunya berpikir. "Sepertinya ikan juga boleh."
"Koko ada rekomendasi?"
Dengan enggan Gibran menjawab. "Terserah." Ia menyentuh tengkuk yang tiba-tiba terasa pegal. "Aku mandi dulu," ucapnya berjalan ke kamar mandi.
Maria yang tidak peka dengan suasana hati Gibran sama sekali tak menghiraukan lelaki itu, membuat Gibran yang sudah menutup pintu kontan mendengus.
"Tahu begini aku akan terus mengurungmu di mansion sampai rumah kita di Swiss bisa ditempati."