
Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Maria diperbolehkan pulang. Hanya tangannya yang masih memerlukan waktu untuk pemulihan. Dokter menyarankannya untuk check up setiap minggu.
Tentu saja karena pengaruh keluarga dan suaminya Maria mendapat perlakuan khusus. Ia tidak perlu pulang pergi ke rumah sakit karena dokternya sendiri yang akan menyempatkan diri datang ke rumah.
Atas permintaan Rayan, Maria pulang satu mobil dengan pria itu. Tidak ada perdebatan dari Gibran, dia sendiri hanya mengangguk tanpa bantahan.
Aneh. Biasanya Gibran selalu menaruh genderang perang dengan ayahnya. Tapi justru sekarang malah sebaliknya, sang ayah yang tampak begitu gencar berusaha merundung Gibran.
"Papa ..." tegur Maria karena Rayan tak juga melepas hunusan matanya dari sang suami.
Rayan mendengus dan berdecak. "Masuklah." Ia membuka pintu penumpang belakang, menuntun Maria dengan penuh kehati-hatian.
Setelahnya Rayan berputar menduduki kursi di sebelah Maria. Terakhir ia melirik Gibran penuh kemenangan. Niat hati ingin membuat menantunya kesal, tapi Gibran malah datar-datar saja membalas tatapannya.
Sial, malah Rayan sendiri yang kesal.
Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah sakit. Gibran menatap kepergian istri dan mertuanya sebelum kemudian dia juga masuk ke dalam mobil setelah dibukakan pintu oleh Nick. Keduanya lekas menyusul membelah jalanan yang padat merayap di pagi hari.
Beberapa kali Nick melirik Gibran lewat spion, pria itu nampak pendiam sejak kemarin. Entah ada apa Nick pun tak tahu.
Mereka tiba di kediaman Tjandra. Maria yang semula ingin menghampiri Gibran langsung diboyong memasuki rumah oleh ayahnya.
Maria menoleh ke belakang, suaminya itu baru turun dari mobil, dan tatapan mereka pun bertemu sebentar sebelum Maria meluruskan kepala ke depan karena harus fokus dengan langkahnya.
Maria diantarkan sampai kamar oleh Rayan. Tapi hingga bermenit-menit kemudian ia tak kunjung mendapati Gibran menyusul.
"Kamu istirahat, ya. Kalau ada apa-apa panggil pelayan. Papa mau ke kantor dulu."
Maria mengangguk membiarkan ayahnya pergi.
"Koko ke mana?" gumamnya entah pada siapa.
Alih-alih Gibran yang ia temui, mata Maria justru melotot melihat siapa yang baru saja membuka pintu. Senyum lebar menyambut Maria dalam keterpakuan.
"Laura? Kamu ..."
"Nyonya ...!!!" Laura berlari mendekati ranjang dan hendak memeluk Maria jika saja Maria tak segera mencegah gadis itu.
Laura merengut, tapi kemudian mengerti setelah Maria menjelaskan. "Tindakanmu bisa membuatku sakit."
Sontak saja wajah Laura berubah sedih. Matanya berkaca-kaca melihat tangan kanan Maria yang digips. "Astaga Nyonya ... maafkan saya. Hiks, kenapa Nyonya bisa seperti ini ... ini pasti gara-gara saya tidak ada di samping Nyonya. Tidak ada yang menjaga Nyonya sebaik saya ..."
Maria meringis. Jika Gibran mendengar sudah pasti gadis itu akan ditendang kembali keluar Jakarta.
"Lama tidak bertemu, tapi sekalinya bertemu keadaan Nyonya sangat mengenaskan. Apa saja yang Tuan lakukan hingga tidak bisa melindungi Nyonya?" Laura terisak sambil menggerutu kecil. Ia bersungut-sungut tak jelas. Pasti memaki Gibran. Hanya dia yang berani melakukan itu.
"Ini musibah, Laura. Bukan salah siapa pun apalagi Koko. Kamu jangan sembarangan bicara, ya."
"Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa ada di sini? Disuruh atau kamu sendiri yang berinisiatif?"
Laura menyerot ingusnya kencang. Ia menyeka pipi dan sudut matanya yang banjir. "Pilot Tuan jemput saya di mansion, bersama Jill dan juga Dean."
"Jill ...? Ah, iya."
Gibran memang sempat mengutarakan niatnya menugaskan dua pengawal wanita itu.
"Lalu, di mana mereka sekarang?"
"Selamat pagi, Nyonya."
Laura tak perlu menjawab karena keduanya langsung muncul di ambang pintu. Ah, rupanya sejak tadi mereka di sana.
Dua wanita tangguh itu mendekat dan membungkuk memberi salam. Astaga, apa mereka mempelajari tata krama level tinggi? Kenapa sikapnya selalu sekaku ini?
"Yah ... seperti yang dilihat, keadaanku begini, hehe."
Maria jadi canggung sendiri. Percayalah, berhadapan dengan orang-orang pendiam dan kaku itu tidak mudah. Ia kerap merasa serba salah di depan mereka.
"Kalian ke mana saja? Lama tidak ada kabar?"
"Kami menjalankan tugas lapangan dari Tuan," jawab Jill pendek.
"Ah, lapangan ..."
Ya ampun, sudah seperti anak SMK saja. Atau jangan-jangan sebetulnya mereka menduduki satu posisi di perusahaan yang mengharuskannya kerja di luar? Misalnya meninjau proyek. Ah, itu konyol.
Tapi kalau dipikir-pikir, seorang pengawal termasuk pekerja lapangan atau bukan, ya? Entahlah, mereka kan biasanya berasal dari instansi pemerintahan atau swasta.
"Apa kalian melihat suamiku? Kenapa sejak tadi dia belum masuk, ya?"
Laura yang sudah menyusut habis air matanya lantas mengerjap. "Tadi saya lihat Tuan pergi lagi setelah tak lama Nyonya masuk."
Maria menuntut penjelasan lebih. Tapi Laura hanya bisa menjelaskan itu.
"Saya tidak tahu alasannya. Yang saya lihat Tuan memang pergi setelah Nyonya masuk bersama Tuan Tjandra."
Maria beralih menatap Jill dan Dean yang diam tak mengatakan apa pun. Itu berarti yang dikatakan Laura benar. Tapi, ke mana Gibran pergi? Padahal mereka baru sampai rumah. Dan lagi, bisa-bisanya lelaki itu tidak berpamitan. Setidaknya ia harus bicara dulu pada istrinya yang baru pulang dari rumah sakit ini, kan?
Jill dan Dean pamit keluar, sementara Laura bertanya keinginan Maria. "Nyonya ingin makan sesuatu? Biar saya siapkan."
"Ah ... aku tidak tahu. Kamu kupasin buah saja."
"Buah? Baik, kalau begitu saya ke dapur—"
"Eh, tunggu!"
Laura kembali berbalik.
"Aku mau tiramisu."
Sesaat Laura berpikir. "Baiklah, saya coba tanya pihak dapur dulu, ya. Kalau tidak ada saya minta koki membuatnya."
Maria mengangguk. "Terima kasih."
"Sama-sama, Nyonya."
Maria berdiri sepeninggal Laura. Ia berjalan ke arah jendela dan menggeser pintu balkon. Pekarangan rumahnya cukup asri meski tak sesejuk rumah Gibran di daerah antah berantah itu.
Ia menunduk mencoba melihat ke arah lobi, tapi rupanya pandangan yang dia dapat tidak luas. Maria tak bisa memastikan apa mobil Gibran masih ada atau memang sudah pergi seperti kata Laura.
"Koko ke mana, sih? Kok bisa dia pergi sementara istrinya sedang sakit begini? Minimal dia bilang dulu, kek." Maria menggerutu.
Sementara di lain tempat Gibran tengah dalam perjalanan bersama Nick. Nick sempat melirik pria itu sebentar. "Apa tidak apa-apa kita pergi? Tuan meninggalkan Nyonya seperti itu, Beliau pasti marah."
Gibran melihat jalanan di sampingnya. "Aku sudah menempatkan pengamanan ketat. Kamu tenang saja."
"Bukan masalah keamanan," ringis Nick. "Tapi hubungan kalian. Setidaknya Tuan harus pamit dulu, kan?"
Gibran berdecak. "Bagaimana aku bisa pamit jika si Tua itu mengusirku seperti kambing? Aku bahkan tidak bisa mencium istriku."
Lagi-lagi Nick meringis. "Sejak kebakaran kemarin, sepertinya Anda berubah menjadi menantu yang patuh?"
Entah itu sindiran atau pertanyaan. Yang pasti keduanya sama-sama membuat Gibran kesal.