
Maria membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah segar Gibran yang sepertinya habis mandi. Senyum pria itu mengembang kecil, jemarinya terulur mengusap halus hidung Maria yang sedikit berminyak.
"Morning, Sunshine."
Maria menggeliat merespon sentuhan Gibran. Ternyata sudah pagi. Yang membuatnya senang, Gibran tak memakai pakaian formal seperti biasa, melainkan sweater yang membuatnya nampak kasual.
Itu berarti hari ini Gibran di rumah, kan?
"Morn ..." Maria mengernyit saat melihat ke belakang Gibran. "Siapa?"
Gibran mengikuti arah pandang Maria, "Dokter Harla."
Wanita paruh baya itu menunduk penuh senyum, "Selamat pagi, Nyonya. Saya di sini bertujuan memeriksa Anda."
Kerutan Maria semakin dalam, "Periksa? Apanya yang mau diperiksa? Aku tidak merasa sedang sakit."
Di tengah kebingungan Maria buru-buru menunduk memeriksa pakaiannya. Semalam ia telanjang saat hampir bercinta dengan Gibran, meski tak berlanjut karena pria itu tiba-tiba berhenti dengan alasan mereka tak bisa melakukannya. Entah karena apa. Padahal Maria sudah begitu lama merindukan Gibran, termasuk penyatuan yang kerap mereka lakukan.
Meski begitu Gibran tetap memuaskannya dengan cara lain. Permainan tangan dan lidah pria itu cukup membuatnya kelelahan hingga tertidur, mengabaikan fakta bahwa Gibran mungkin saja kesakitan menahan keinginannya sendiri. Siapa suruh tak dilanjutkan.
"Kita harus memastikan sesuatu, Sugarplum." Itu suara Gibran.
"Sesuatu? Apa aku memiliki penyakit yang serius? Apa sangat berbahaya?" tanya Maria panik.
Gibran menghela nafas menatap Maria dengan sabar. Tangannya menyibak rambut Maria yang berantakan. "Tidak ada. Ini hanya pemeriksaan biasa. Kamu tenanglah."
"Begitu," gumam Maria. "Omong-omong, Koko yang memakaikan baju ini?" tunjuknya pada gaun yang ia pakai semalam.
Gibran tampak menggaruk kening, matanya sedikit melirik pada Dokter Harla yang mengulum senyum di tempatnya.
"Hm," sahut Gibran tersenyum tipis.
"Silakan, Dokter."
Dokter Harla mendekat, Gibran lantas berdiri membiarkan wanita itu melakukan pemeriksaan terhadap Maria. Berbagai pertanyaan dilontarkan dan dijawab Maria dengan bingung. Pasalnya, yang ditanya berupa tanggal haid dan kapan terakhir berhubungan intim, juga beberapa hal lain yang menyangkut perihal sensitif.
Wanita itu juga memeriksa tekanan darah hingga payu-dara Maria. Membuat si empunya malu karena tubuhnya dipenuhi ruam merah hasil karya Gibran semalam.
"Apa Anda sudah coba menggunakan alat tes kehamilan?" tanya Dokter Harla yang mau tidak mau membuat Maria menelan ludah.
Ia bukannya tidak mengerti pemeriksaan ini mengarah ke mana. Sejak tadi ia hanya diam dengan perasaan tak karuan. Sejenak Maria mendongak, menatap Gibran yang berdiri tepat di samping ranjang.
Pria itu nampak tenang. Mendadak Maria penasaran dengan apa yang Gibran pikirkan. Kenapa pria itu tiba-tiba mendatangkan dokter kandungan.
"Belum." Bukan Maria yang menjawab, melainkan Gibran.
Dokter Harla tersenyum maklum, "Apa akhir-akhir ini Anda mengalami mual?"
Maria mengerjap seraya berpikir. "Entahlah, aku merasa baik-baik saja. Hanya saat mencium bau-bau tertentu. Aku rasa penciumanku cukup sensitif sekarang ini."
"Nafsu makan Anda normal?"
Maria mengangguk. Ia memang sempat mogok makan saat awal-awal merindukan Gibran. Tapi selera makannya sama sekali tidak terganggu, malah Maria merasa berat badannya sedikit naik karena akhir-akhir ini ia cukup sering makan camilan tinggi kalori.
"Apakah Anda kerap merasa pusing? Atau Anda merasa daya tahan tubuh Anda menurun secara tiba-tiba dan cepat lelah?"
Bibir Maria sedikit mengerucut saat mengingat-ingat.
Namun tiba-tiba Gibran menyeletuk, "Justru dia jadi jauh lebih aktif dari biasanya, Dok. Baru saat hendak tidur terasa lelahnya. Mood-nya juga sering berubah-ubah."
Sontak Maria menoleh cepat. Matanya menyipit menatap Gibran curiga. Kenapa pria itu bisa tahu? Jangan-jangan saat pergi Maria diawasi?
Tidak heran, sih. Dari dulu Gibran selalu tahu apa pun kegiatan Maria selama di rumah.
Dokter Harla terkekeh geli. "Bisa dipastikan ini pengaruh hormon. Suasana hati Nyonya jadi tak menentu."
"Ngomong-ngomong, kapan terakhir Anda menstruasi?"
Maria yang penasaran mendadak hilang kesopanan, ia ikut melongok guna mengetahui apa yang coba Gibran beri tahu pada Dokter Harla. Dan saat itu juga Maria dibuat tercengang melihat aplikasi khusus berupa kalender yang sangat familiar. Di sana jelas tercatat kapan terakhir ia menstruasi.
Rupanya bukan hanya Maria, Dokter Harla pun dibuat tercenung sesaat, seolah tak percaya bahwa yang ia pegang adalah ponsel milik Gibran.
"Itu catatan tamu bulanan istri saya."
Tanpa dijelaskan pun semuanya pasti tahu. Tapi, apa Gibran serius menyimpan aplikasi seperti ini hanya untuk mencatat tanggal menstruasi Maria?
Dokter Harla terkekeh canggung, "Baiklah, dari sini saya bisa simpulkan Nyonya memang tengah berbadan dua. Tapi, untuk lebih jelasnya kita testpack dulu, ya? Baru setelah itu kita ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bagaimana?"
Maria tak menjawab. Ia bergeming dengan tubuh mematung sempurna. Suara Dokter Harla seolah mengabur saking fokusnya mencerna perkataan wanita itu barusan.
Apa katanya, berbadan dua? Maksudnya hamil?
"Plum?"
"Plum?"
Gibran memanggil beberapa kali. Maria tersentak lalu mendongak, "Hah?"
Pria itu memberi isyarat supaya Maria menunduk ke bawah, pada benda pipih kecil panjang yang terulur di tangan Gibran. Itu testpack.
"Coba, ya?"
Maria menatap ragu, "Aku ... benaran hamil?"
Gibran tersenyum kecil, "Maka dari itu coba dulu, supaya kita bisa tahu."
***
"Ini ..." Maria menatap tak percaya pada benda di tangannya.
Ia tak tahu harus berkata apa. Garis dua di sana sudah cukup menjelaskan segalanya. Maria terdiam saat Gibran membawanya dalam pelukan. Pria itu menciumi kepala Maria bertubi-tubi. Lengannya melingkar erat, lalu turun menyentuh perut Maria yang masih terlihat datar, mengusap pelan di sana, penuh perasaan.
"Kamu hamil, Sayang. Kita akan punya anak." Gibran terkekeh haru. Ia tak berhenti mencium dan menghirup rambut Maria yang masih wangi meski belum dibilas.
Tiba-tiba Maria bertanya, "Koko senang?"
"Tentu saja aku senang. Memangnya apa lagi?"
Gerakan Gibran terhenti, ia menunduk menatap Maria yang terduduk di bawahnya. Posisi Gibran yang berdiri membuat ia tak begitu jelas melihat ekspresi sang istri.
"Ada apa? Kamu tidak senang?"
Maria mendongak, barulah Gibran bisa melihat keresahan dalam tatapannya yang kosong.
"Plum ..."
"Entahlah. Aku ... aku hanya belum siap. Aku ... aku takut ... hiks ..."
Gibran tertegun. "Apa?"
Ada sedikit rasa kecewa saat Maria mengatakan itu. "Apa yang kamu takutkan? Kamu punya suami. Kamu tidak akan menjalaninya sendiri. Ada aku yang mendampingi."
"Bukan itu. Aku rasa ... aku memiliki pengalaman buruk perihal kehamilan. Entahlah, aku tidak mengerti. Tapi tiba-tiba hatiku merasa sakit. Ini sangat tidak nyaman ..." Maria terisak.
Sementara Gibran, pria itu berhasil dibuat bergeming oleh pernyataan Maria. Apa ini berhubungan dengan masa lalu mereka? Mungkinkah ini perasaan yang muncul dari alam bawah sadar Maria?
Jika iya, apa yang harus ia lakukan?
Gibran mengeratkan pelukan, menyandarkan kepala Maria untuk kembali bersandar di perutnya. "Semua akan baik-baik saja," bisiknya.
Aku berjanji akan menjagamu sampai mati.