His Purpose

His Purpose
156. Terror



"Koko jangan begini, beraaatt ..." Maria menggerak-gerakan betisnya yang tertindih kaki Gibran.


"Oh, maaf." Gibran menarik kakinya dan beralih memeluk lengan kiri Maria.


Niatnya Gibran ingin tidur memeluk sang istri, seperti yang kerap ia lakukan sebelumnya. Akan tetapi, kondisi Maria malam ini cukup rewel. Apalagi sejak tangannya digips, wanita itu makin kesulitan mengatur posisi.


"Jangan begini, ah. Gerah tau." Kini Maria menarik lengannya dari rangkulan Gibran.


Pria itu menghela nafas berusaha sabar. "Kenapa kamu belum tidur juga? Ini sudah sangat malam."


Jam digital di kamar menunjukkan pukul 11:59. Beberapa detik lagi pukul dua belas. Dan Maria masih saja betah membuka mata.


Wanita itu merengut. "Badanku pegal-pegal. Tidak enak rasanya kalau diam saja. Maunya gerak-gerak terus."


"Mau aku pijat?" tanya Gibran tak tega.


Maria menoleh. "Tapi Koko kan capek habis jetlag. Dari siang belum istirahat," keluh Maria yang ujung-ujungnya mengkhawatirkan Gibran.


Terlihat sekali wajah Gibran sangat lelah. Matanya tampak sudah begitu mengantuk. Namun Gibran sangat jarang tidur duluan jika Maria belum tidur. Pria itu tidak akan mendahuluinya terutama saat Maria merasa tak nyaman seperti sekarang.


"Tak apa. Aku masih mampu jika sekedar memijat." Gibran beranjak duduk dan menyingkap selimut.


Ia sedikit membenarkan letak terusan Maria yang menyingkap di atas paha, sebelum kemudian menyentuh betisnya dan mulai memberi pijatan di sana.


"Enak?"


"Hm." Maria mengangguk. "Lumayan. Tapi pinggangku tidak bisa diam," tambahnya sambil sesekali menggerakkan pinggul. "Rasanya pegal hingga punggung."


"Coba tidur miring," usul Gibran.


"Tanganku sakit kalau miring."


"Ya Tuhan ..." Gibran mendesah lelah. Sekarang ia benar-benar bersyukur oknum-oknum yang membuat tangan Maria patah sudah tewas di tangan Sandra Willis.


Karena jika belum, Gibran juga akan melakukan hal yang sama guna melampiaskan kekesalannya saat ini.


"Ya sudah, bangun dulu sebentar."


Maria menurut, ia mengangkat punggungnya dari ranjang dan membiarkan Gibran mengatur bantal agak tinggi di belakang. Lelaki itu menuntunnya kembali berbaring.


Gibran duduk di samping Maria. Ia mulai menyasar lebih dulu pinggang belakang wanita itu, terutama bagian pinggul atas.


"Enak?"


Maria memgangguk. "Enak. Nanti kakinya juga, ya."


Gibran hanya tersenyum. Ia tak pernah seikhlas ini sebelumnya. Maria membuatnya banyak belajar mengatur emosi.


Gibran beralih memijat betis hingga telapak kaki Maria. Ia berlama-lama meremat jari-jemarinya sambil sesekali mengurut pergelangan dan mata kaki.


"Jari kamu cantik. Aku suka warna kuteknya. Ada gradasi." Gibran mengamati lama jari-jari kaki Maria lalu menunduk menciuminya dengan ekspresi memuja.


Maria mati-matian menahan jantungnya yang melonjak senang. Ia mengulum senyum saat Gibran balas menatapnya hangat.


Tiba-tiba saja bunyi 'kruyuk' memecah suasana di antara mereka. Kontan Maria menyentuh perutnya malu. Ia meringis, sementara Gibran terkekeh geli dan beranjak lebih dekat.


"Anak Daddy lapar, ya?" tanya lelaki itu di perut Maria. "Pantas dari tadi susah tidur."


"Aku susah tidur karena pegal," timpal Maria menegaskan.


Gibran mengangguk saja. "Iya. Ya sudah, kita turun dulu saja."


Gibran beranjak lalu membantu Maria turun dari ranjang.


"Tapi Koko capek."


"Capek atau tidak, memangnya kamu pikir aku bisa tidur di saat kamu seperti ini?" Gibran merangkul, mengusap kening menyingkirkan anak rambut Maria. "Sudah, jangan banyak berpikir. Ayo makan."


Maria menurut saja. Mereka keluar dari lift tak lama kemudian. Gibran menarik kursi makan untuk Maria duduki, sementara dirinya bergegas membuka lemari pendingin melihat bahan makanan.


"Ada tempura udang, mau aku gorengkan?" tanya Gibran seraya menoleh melihat respon Maria.


"Boleh."


Gibran pun mengeluarkan udang tersebut dari kulkas dan mulai memanaskan minyak. Tak butuh setengah jam gorengan tersebut tersaji di hadapan Maria.


"Ini saja cukup," sahut Maria. Ia mencomot satu dan menggigitnya setelah dicocol di saus.


Maria mengangguk pertanda puas. Ini cukup untuk mengganjal laparnya. "Koko mau?"


Gibran menggigit udang yang Maria sodorkan. Ia tersenyum mengecup kilat kepala sang istri lalu berbalik mencuci tangan di wastafel.


"Kamu mau makan sesuatu yang lain?"


Maria berpikir. "Tidak ada. Sepertinya ini juga kenyang."


"Oke, kalau begitu—"


Duaaarr!!!


"Aaaaa!!!" Mendengar sebuah ledakan Maria refleks berlari memeluk Gibran.


Ledakan tersebut berasal dari luar, tepatnya bagian depan kediaman. Tak jauh berbeda dengan Maria, Gibran pun sempat terkejut. Dan hal pertama yang ia pikirkan tentu anak dan istrinya.


Gibran mendekap Maria erat. "Sstt, tenang—"


"Itu apa, Ko?! Apa bom?" tanya Maria bergetar.


Tepat ketika itu Gibran melihat Rayan turun dengan pakaian tidurnya. Sepertinya dia juga terbangun mendengar ledakan tersebut.


Bukan hanya Rayan, Laura dan semua pelayan di rumah ini turut berhamburan ke lobi utama. Gibran yang penasaran hendak ke sana. "Kamu tunggu di sini."


Kontan Maria menggeleng takut. "Ikuuutt ..."


Tak ada pilihan. Meninggalkan Maria bukan pilihan yang tepat. Gibran khawatir sesuatu terjadi jika ia lengah lagi.


"Ya sudah, ayo."


Sesampainya di ruang depan, Jill dan Dean memecah kerumunan menghampiri Gibran. Dua pengawal wanita itu menunduk singkat sebelum bicara. "Lapor, Tuan. Di depan ada bom bunuh diri," ujarnya masih dengan suara tenang.


"Apa???" Pertanyaan itu datang serentak. Suasana langsung riuh begitu mendengar berita tersebut. Rayan dan Gibran hanya diam berpikir. Mereka sama terkejut, namun enggan menguar kepanikan.


Gibran sedikit melirik Maria yang kini sudah tegang. Bisa ia rasakan tubuhnya gemetar. Gibran memberi isyarat pada Laura untuk mendekat. Pelayan Maria itu langsung mengerti dan mengambil alih sang nyonya ke pelukannya.


"Nyonya tenang."


"Kamu tunggu di sini dulu, ya."


"Koko mau ke mana?" Maria menarik lengan piyama Gibran saat lelaki itu hendak beranjak.


"Aku harus lihat ke depan."


Sontak Maria menggeleng cemas. "Jangan! Itu bahaya! Kalau ada ledakan lagi bagaimana?"


"Plum, tenang, oke."


Selanjutnya Nick yang masuk menghadap Gibran. "Sudah aman, Tuan."


"See?" Gibran mengangkat alis seolah mengatakan 'lihat, kan?'


Rayan yang notabene sang pemilik rumah turut keluar mengikuti Nick. Gibran menyusul di belakang setelah sebelumnya menenangkan Maria.


"Di mana?" Rayan bertanya.


"Depan gerbang, Tuan," jawab Nick.


Bisa mereka lihat seonggok tubuh tak bernyawa tercecer mengenaskan. Puing-puing tembok yang menjadi runtuhan berserak di sekitarnya. Gerbang kediaman Tjandra rusak parah.


Rayan mengernyitkan hidung sedikit membuang muka, ia tak biasa menyaksikan hal semacam ini. Berbeda dengan Gibran dan orang-orangnya yang nampak begitu tenang.


"Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Bukankah aku sudah mengingatkan kalian untuk selalu waspada?" tanya Gibran tajam.


"Sebelumnya orang ini memaksa masuk, Tuan. Dia bahkan hendak memanjat pagar. Kami berusaha mencegah dan menariknya, tapi karena belakangan menyadari ada bom, kami mundur dan memilih menembaknya mati di tempat. Kami belum sempat mematikan peledak itu karena sisa beberapa detik saja. Maaf, Tuan."


Gibran menghela nafas panjang. Sementara di bagian negara lain, David tengah terkekeh menyesap cerutunya.


"Jika Sandra masih bisa bersikap lunak, maka kamu tidak akan bisa melawanku, Nak."


"Itu hanya peringatan."