
"Apa kabar?" tanya Jordian.
Saat ini mereka berada di salah satu tempat makan di Mall.
"Kabarku baik. Kamu sendiri? Masih di Club MotoGP?"
Jordian tersenyum, "Itulah alasanku di sini. Dan, ya ... kabarku juga baik, bahkan tak pernah sebaik ini," ucapnya sebelum menyeruput minuman.
Maria melakukan hal yang sama, ia mengangguk menanggapi pernyataan Jordian.
Kemudian pria itu bertanya lagi, "Kamu ... sudah menikah?"
Maria mengikuti arah pandang Jordian pada jari manisnya. Ia mengulum senyum sebagai jawaban. "Iya. Bukankah aku juga mengundangmu?"
Jordian tersenyum kecil, "Saat itu aku sangat sibuk, jadi tidak bisa datang. Maaf."
Maria menggeleng, "Tak apa. Aku bisa mengerti."
Kemungkinan yang Jordian tahu ia menikah dengan Gabriel. Apa ia harus menjelaskan yang sebenarnya? Sepertinya itu tidak penting.
Pandangan Jordian beralih pada Laura, Jill dan Dean yang duduk di meja terpisah. Keningnya berkerut samar, "Apa suamimu se-protektif itu?"
"Ya?" Maria mengerjap, lalu meringis menyadari apa yang dipikirkan lelaki itu.
Tentu Gabriel tak pernah berlebihan seperti ini. Gibran adalah pria paling posesif yang pernah ia kenal. Sialnya pria itu suaminya. Dan nahasnya Maria mulai menyukai suami dadakannya itu.
"Ah, itu ... dia hanya mengkhawatirkanku." Hanya itu yang bisa Maria katakan.
Tidak mungkin Maria bilang kalau suaminya agak gila dan abnormal, kan?
"Oh ... Kamu di sini liburan? Bulan madu?"
Maria hampir tersedak mendengar pertanyaan tersebut. Bulan madu? Apa ini bisa dibilang bulan madu?
Ia berdehem, "Eem ... Ya. Begitulah, hehe."
Astaga, sejak kapan ia jadi senang berbohong. Kenapa pula Maria melakukannya? Entahlah. Tapi, Maria merasa ia harus melindungi citra Gibran di depan orang lain.
Jordian mengangguk, "Begitu rupanya." Ia bergumam pelan.
"Tapi, kenapa aku tidak melihat suamimu? Kenapa kamu malah bersama pelayan dan pengawal?"
Seketika Maria terbengong, ia seolah mati kutu, tak tahu harus menjawab apa.
"Ah ... itu? Itu ... tadi mertuaku menelpon, katanya ada urusan sebentar. Hehe."
Hebat Maria. Kau semakin pintar mencari alasan.
"Oh ..." Jordian memberi anggukan mengerti.
Maria beralih membuka percakapan lain yang lebih mengalir. Cukup lama mereka mengobrol dan membahas berbagai hal semasa kuliah. Tak jarang keduanya juga tertawa menanggapi humor satu sama lain. Banyak hal menyebalkan di masa lalu namun terdengar lucu saat diceritakan. Salah satunya momen pertemuan pertama mereka di kampus.
Jordian merupakan teman satu angkatan Maria, namun mereka berada di fakultas yang berbeda.
Perbincangan keduanya terpecah oleh dering ponsel milik Jordian. Lelaki itu sejenak mengangkatnya sambil sesekali menatap Maria.
"Oh, oke. Aku ke sana sekarang."
"Ya. Terima kasih."
Pria itu mengakhiri panggilan dan memusatkan perhatian pada Maria.
"Sayang sekali aku harus pergi sekarang," ucapnya sedikit menyesal.
"Apa ... kita bisa bertemu lagi? Kamu berapa lama di sini?"
Maria mengangkat alis. Baru ia hendak menjawab seminggu, tapi mulutnya tertahan oleh satu pemikiran. Tidak pantas rasanya jika ia bertemu di luar sekarang dengan Jordian.
Ia sudah menikah. Tentu harus menjaga harkat dan martabatnya sebagai seorang istri. Tak baik jika ia terlalu sering bertemu dengan pria lain, terlebih disengaja. Meski itu temannya sekali pun.
Apalagi, Maria tahu Jordian sempat menyukainya dulu. Entah sekarang masih atau tidak. Tapi yang ia dengar pria itu beberapa kali kedapatan berkencan dengan sejumlah wanita. Berita itu sempat menghiasi urutan pertama media online.
"Itu ... aku tidak tahu." Maria menggaruk pipinya tak enak. "Aku dan suamiku berencana mengunjungi beberapa tempat. Hehe."
"Begitu? Sayang sekali."
"Oh, iya iya, silakan."
"Kamu masih mau di sini?"
"Iya. Ada beberapa barang yang ingin kubeli."
"Begitu. Oke, sampai jumpa."
Maria membalas senyum dan lambaian Jordian. Pria itu menjauh dan menghilang di pintu keluar.
Detik berikutnya Laura berlari menghampiri Maria. Raut gadis itu tak seceria biasanya.
"Kenapa?" tanya Maria heran.
"Entah. Saya hanya kurang menyukai pria itu," jawab Laura apa adanya.
Maria mengernyit. "Kenapa begitu?"
"Tidak tahu."
"Hey, dia teman pembalap yang kumaksud."
Laura tetap menekuk wajahnya. Hingga kemudian Jill dan Dean mendekat, mengingatkan Maria bahwa mereka harus segera kembali.
Maria sampai di Hotel tepat pukul empat sore lebih beberapa menit. Saat itu kamar masih kosong, pertanda Gibran belum kembali dari pekerjaannya.
Maria tak membawa apa pun. Semua belanjaan ia titip di kamar Laura, karena memang semua itu untuk para pelayan.
Maria melempar tas dan menghempaskan tubuh di atas ranjang. Matanya berkedip menatap langit-langit ruangan. Ia menghela nafas lalu bangun meregangkan leher. Sepertinya Maria harus segera mandi sekarang.
Ia pun bergegas memasuki bathroom dan melepas pakaian. Mengguyur tubuhnya di bawah shower sambil terpejam menikmati kesegaran.
Maria mulai menggosok tubuhnya dengan sabun. Ia sedang malas berendam dan ingin cepat-cepat selesai lalu berbaring di atas ranjang.
Namun, niat itu kandas saat tiba-tiba saja sepasang lengan melingkar di perutnya. Maria terhenyak merasakan seseorang berdiri di belakang, menempeli tubuhnya seraya memberi sentuhan sensual yang seketika membuat Maria melayang.
"K-Koko ..."
Maria tak dapat menahan lenguhan ketika tangan Gibran naik meremas dadanya. Pria itu menunduk mengecup lehernya disertai sesapan.
"Kapan pulang?" Nafas Maria mulai terengah. Terlebih ia tahu Gibran sama-sama polos tanpa sehelai pakaian.
Maria bisa merasakan ketegangan Gibran di belakanganya.
"Barusan," jawab Gibran seraya menarik dagu Maria untuk menoleh ke arahnya.
Tak berapa lama Gibran langsung meraup bibir Maria dan menariknya dalam pergumulan panas. Maria sampai harus berpegangan pada bisep Gibran membalas ciuman tersebut.
Suara decapan mengisi setiap sudut kamar mandi. Maria mengerang, melenguh, dan mendesah menanggapi setiap sentuhan Gibran.
Guyuran air seakan menambah suasana erotis di antara keduanya. Suhu dinginnya bahkan tak mampu memadamkan gairah yang membara pada setiap gesekan yang terhela.
Gibran memepet Maria ke dinding, menarik sedikit pinggangnya ke belakang, lalu ...
"Oh!" Maria terhenyak ketika Gibran memasukinya dari belakang.
Pria itu mendorong sekaligus miliknya memenuhi Maria, mulutnya terbuka mengeluarkan ******* lega, sementara matanya terpejam menikmati denyutan dari penyatuan mereka.
"Emh ..."
Gibran mulai bergerak dan kembali menghujani Maria dengan ciuman. Tangannya tak berhenti menggoda tubuh Maria lewat sentuhan juga remasan.
Sore itu, suara khas percintaan mengisi penuh kesunyian yang menggelora.
Berbanding terbalik dengan kamar di satu hotel yang jauh dari mereka, segerombolan orang berpakaian hitam menendang seorang pria yang hendak memasuki unitnya.
Pria itu tersungkur melewati ambang pintu dan membentur lantai dengan keras. Keningnya berkerut mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah. "Apa-apaan," desisnya pelan.
Pria itu tak lain adalah Jordian. Jordian mendongak dan bersiap melakukan serangan balik, namun gerakannya kalah cepat dengan orang-orang tersebut, hingga ia tak bisa mengelak ketika mereka mulai mengeroyoknya dengan cara membabi-buta.
Dari ambang pintu, Nick menyeringai disertai dengusan. Kemudian ia pergi dan membiarkan anak buahnya membereskan bocah tersebut.