His Purpose

His Purpose
76. Imagination



"Kenapa Koko tidak membangunkanku? Aku jadi tidak mandi seharian kemarin." Maria merengut, sesekali ia menciumi tubuhnya yang menguarkan bau tak sedap.


Mana semalam tidur dipeluk Gibran, pasti pria itu risih dengan aroma tubuhnya. Maria kan jadi malu. Mendadak kepercayaan dirinya turun di hadapan Gibran.


"Kamu terlihat nyenyak."


Padahal, bukan Gibran tak ingin membangunkan, sedari sore dan saat dokter melakukan pemeriksaan juga Gibran sempat menegur wanita itu. Tapi memang Maria yang tidur seperti orang mati, atau memang perempuan itu tak mau lepas darinya. Nick saja kesulitan memindahkan Maria.


"Ya setidaknya Koko suruh aku pindah. Pasti pegal semalaman peluk aku. Iya, kan?" tanya Maria sedih.


Harusnya Maria yang merawat Gibran, tapi ia malah merepotkan.


"No. Aku baik-baik saja," ucap Gibran sedikit tak acuh. Pria itu tengah membaca grafik di tabletnya.


Maria manyun. Ia menghentak memasuki kamar mandi setelah sebelumnya membawa baju ganti. Gibran mengalihkan atensinya dari tablet, melirik pintu yang kini tertutup menelan sang istri.


Ia mendengus lantas menggeleng geli. Entah hanya perasaannya saja atau memang Maria semakin hari semakin manja.


Nick memasuki ruangan dan memberi hormat. Ia pun mendekat menanyakan sesuatu, "Tuan, apa saya perlu menindaklanjuti Bagas?"


Gibran masih fokus meneliti pergerakan saham saat ia menjawab, "Tidak perlu."


"Tapi ..."


"Biarkan saja. Toh, tidak lama lagi kita pergi dari sini."


Memang, waktu mereka di Papua hanya tinggal sehari lagi.


"Bagaimana kalau dia berkata yang tidak-tidak pada Nyonya?"


Sesaat Gibran nampak termenung. "Mungkin memang sudah saatnya dia tahu," jawabnya sembari mengangkat bahu.


Terlihat tak peduli, tapi Nick yakin Gibran juga merasa resah.


"Bukankah akan sangat berbahaya jika Nyonya tahu hal ini lebih cepat? Ingatannya—"


"Tahu apa?"


Mereka dikejutkan oleh suara Maria yang tiba-tiba menyeruak. Wanita itu menyembulkan kepala di sela pintu kamar mandi yang terbuka.


"Koko, bisa ke sini sebentar?" cicit Maria disertai ringisan.


Gibran mengernyit. Meski heran, ia tetap turun dari ranjang sembari mengambil kantung infusnya tanpa tiang. Gibran berjalan mendekati pintu kamar mandi. "Ada apa?"


Alih-alih menjawab, Maria justru menariknya ke dalam. Melihat itu, Nick jadi gelagapan sendiri. Pria itu berdehem rusuh dan memutuskan untuk keluar dari ruangan Gibran.


"Astaga, mereka tidak akan melakukannya di sini, kan?"


Tak pelak Nick jadi berpikir yang tidak-tidak.


Berbanding terbalik dengan kejadian yang sebenarnya. Maria menyeret Gibran ke tempat kucuran air, ia menunjukkan keran serta shower yang tergantung di sana.


"Koko, ini kenapa tidak ada airnya?" rengek Maria seraya memutar-mutar gagang keran.


Kening Gibran berkerut, "Masa? Coba minggir."


Maria menyingkir dan membiarkan Gibran memeriksanya. Ia harap-harap cemas karena sebetulnya sudah kebelet ingin membasuh diri. Berbeda dari daerah tempat Mansion Gibran tinggal, Maria kurang betah karena ternyata udara di sini cukup gersang.


Maria jadi rindu kesejukan rumah Gibran yang setiap harinya selalu ada angin segar, sudah gitu wangi. Ya, meski ia harus selalu memakai mantel agar tak kedinginan, tapi Maria merasa sejak tinggal di sana kulitnya terlihat jauh lebih muda.


Atau itu hanya sugesti? Sepertinya pulang dari sini Maria harus segera melakukan perawatan. Ia rasa kulitnya sedikit menggelap karena sering panas-panasan.


Apalagi kemarin, saking mau menghentikan tangis, Maria nekat duduk di bawah terik matahari dalam kurun waktu cukup lama. Dan hebatnya sampai sekarang ia belum mandi.


Entah apa saja yang dilakukan Gibran, yang jelas tak berapa lama kemudian percikan air itu mengucur dari shower.


"Aku akan menyuruh Nick melayangkan protes pada pihak rumah sakit. Masa kamar kelas presiden seperti ini? Kerannya jelek."


Diam-diam Maria berdecak dalam hati. Iyalah jelek kalau dibandingkan dengan keran di rumah Gibran. Kualitas dan harganya juga sudah pasti jauh berbeda.


"Makasih ... Koko hebat bisa melakukan apa saja. Aku jadi merasa beruntung memiliki suami seperti Koko. Hihi~"


Gibran mendenguskan tawa. Ia mengusap pucuk kepala Maria sebelum kemudian keluar dari sana. Mengabaikan Maria yang tak mampu berkedip dengan degup jantung menggila.


"Koko lagi sakit, dia juga belum mandi. Tapi, entah kenapa dia tetap wangi dan tampan," bisik Maria sembari meraba rambutnya yang baru disentuh Gibran.


"Aku kan jadi iri."


Maria merengutkan hidung saat membaui ketiaknya. Lidahnya menjulur seperti hendak muntah.


"Agaknya deodorant-ku kurang mahal," cetusnya.


Maria mulai membuka baju hingga tubuhnya polos. Ia berdiri di bawah shower sambil bernyanyi pelan. Matanya terpejam menikmati kesegaran air yang mengguyur rambut hingga kaki.


Wangi sabun menguar memenuhi indera penciuman. Dan sialnya, ia malah membayangkan Gibran juga sentuhannya yang membuai.


Astaga, apa ia baru saja bergairah?


"Haish! Menjauhlah kalian wahai setan mesum! Hush, hush!"


Yang benar saja. Gibran sedang sakit, masa iya Maria malah berpikiran tak senonoh.


Saat Maria berjinjit hendak meraih shower di atas, tanpa sengaja benda itu jatuh mengenai kepalanya. "Aw!"


Sontak Maria menjerit kecil mengusap bagian yang terantuk. Ia meringis merasakan nyeri yang mungkin terkesan sepele.


Tiba-tiba saja ia terdiam. Sebuah ingatan asing melintas tanpa di minta.


Maria melihat rintik hujan yang sama persis seperti air shower yang mengalir. Lalu, seorang pria dengan payung biru muncul di sebelahnya. Rahangnya tegas dengan garis bibir yang datar.


Maria ingat, saat itu jantungnya berdegup kencang mencium aroma maskulin yang memabukkan. Maria menatap pria itu lama. Hingga pria tersebut menoleh dan menyerahkan payungnya pada Maria, Maria masih belum bisa melihat wajahnya secara jelas.


Yang Maria tahu, setelahnya pria itu pergi menembus hujan berteduhkan ransel yang digunakannya melindungi kepala.


Mulut Maria membuka hendak memanggil pria itu. Ia tidak tahu apa yang saat itu keluar dari mulutnya. Hal tersebut membuat Maria mengernyit sekaligus penasaran.


"Plum?"


Tok, tok, tok.


"Plum, kamu kenapa? Apa sesuatu terjadi?"


Suara Gibran di luar sana berhasil menarik Maria dari bayang-bayang asing tersebut. Ia terhenyak, sejenak hanya bisa diam menatap kosong dinding keramik di hadapannya.


"Plum?"


"I-iya! Aku baik-baik saja!" balas Maria berseru.


Gibran tak lagi mengetuk. Mungkin pria itu sudah kembali ke ranjangnya dan berbaring di sana. Berbeda dengan Maria yang masih bergeming di tempat. Ia meremas shower di tangan, sebelum kemudian melanjutkan mandinya dan berusaha mengabaikan kejadian barusan.


Yang tadi itu apa?


Kendati begitu hatinya masih kerap bertanya-tanya. Bayangan itu, hujan, payung, dan pria. Ketiganya terus melayang membayangi kepala Maria.


Tepat saat ia keluar dari kamar mandi, Gibran yang rupanya masih berdiri di depan pintu lekas berbalik menghadapnya. Matanya naik turun mengamati Maria yang sudah berpakaian lengkap.


"Benar, kamu baik-baik saja? Tadi kamu menjerit. Ada apa?" tanyanya beruntun.


Maria diam tak menjawab. Alih-alih membuka suara, ia malah mendongak menatap garis rahang Gibran yang entah kenapa mengingatkannya pada pria dalam bayangan tadi.