
"Terima kasih, Pak Gibran. Semoga kita bisa terus bekerjasama ke depannya."
Gibran menyambut uluran tangan para koleganya, "Sama-sama."
Matanya kemudian melirik kursi sebelah yang kosong. Maria masih belum kembali sejak meminta izin ke toilet. Ia berdiri memakai mantelnya sebelum ikut keluar bersama yang lain.
Saat itulah Gibran menghentikan langkah Celine dengan menepuk pundaknya. "Maaf, apa Anda melihat istri saya?"
Bukan tanpa alasan Gibran bertanya, karena ia tahu wanita itu juga sempat ke kamar mandi.
Celine balas menatap Gibran, ia mengangkat alis dan tersenyum. "Ya, kami sempat berbincang sebentar di toilet. Tidak tahu sekarang Beliau ke mana."
"Kenapa? Beliau tidak mengabari Anda?"
Gibran tak menjawab, ia pergi begitu saja meninggalkan Celine yang kini mendengus mengangkat bahu.
Lelaki itu berjalan tergesa menuju toilet wanita seraya menghubungi Nick yang berada di bawah. Ia berpikir kemungkinan Maria sudah turun lebih dulu dan menunggunya di mobil. Akan tetapi, Nick mengatakan ia sama sekali belum melihat Maria keluar dari gedung. Lantas di mana wanita itu sekarang?
Tanpa pikir panjang Gibran membuka pintu toilet yang berujung menimbulkan kegaduhan. Para wanita di sana menjerit karena terkejut melihat Gibran yang tiba-tiba masuk.
"Sorry," ucapnya kembali menutup pintu.
"Dasar pria mesum!"
Gibran tak menghiraukan seluruh makian yang mengarah padanya. Ia kembali menelpon Nick dan memerintahkan pria itu untuk mengerahkan empat pengawal yang mereka bawa guna mencari Maria.
Gibran memasuki lift dan memeriksa semua lantai yang dilewatinya. Satu persatu gerai ia datangi, hingga hampir satu jam pencariannya belum membuahkan hasil. Maria tidak ditemukan di mana pun. Begitu pula Nick dan para ajudannya yang lain, mereka tidak melihat tanda-tanda kehadiran Maria walau seluruh tempat sudah ditelusuri.
"Sialan," desis Gibran menggertakkan gigi.
"Aku tidak mau tahu cari dia sampai dapat. Jika tidak, akan kupotong jari-jemari kalian," ucapnya tajam.
Lain Nick lain lagi para pengawal, mereka menunduk ketakutan mendapat ancaman Gibran yang terdengar serius. Tak butuh waktu lama keempatnya kembali berpencar mencari Maria yang mendadak sulit ditemukan. Entah wanita itu sembunyi di mana. Yang pasti, sosok Maria menentukan hidup dan mati mereka.
"Tuan, Nyonya tidak mungkin melarikan diri. Beliau tidak tahu-menahu seluk-beluk daerah ini. Kita bahkan sudah memanipulasi Google Maps di ponselnya. Jadi Anda tidak perlu khawatir."
Gibran berkacak pinggang menatap Nick, "Apa kau sebodoh itu? Bagaimana kalau dia bertanya pada orang-orang? Bagaimana kalau ada yang membantunya? Tidak menutup kemungkinan dia berada di bandara sekarang!" kecamnya.
"Tuan, Anda meragukan saya?" Kali ini Nick nampak serius.
"Anda tenang saja, Nyonya tidak akan lari kemana pun. Beliau tidak bisa keluar dari wilayah ini. Saya pertaruhkan nyawa saya."
Gibran menghembuskan nafasnya keras. Ia melengos mengalihkan pandangan dari Nick. Sesaat matanya melirik jam di pergelangan tangan, lalu berdecak menyadari belum ada informasi apa pun dari ajudannya.
"Pak Gibran?" Seseorang mendekat.
Gibran mau pun Nick menoleh ke sumber suara. Celine, wanita itu berjalan ke arah mereka dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin. Tangannya menyilang di depan dada.
"Masih mencari istri Anda?"
Gibran melirik tak acuh. Ia berusaha bersikap tenang menyamarkan kegelisahannya.
"Saya tahu Beliau di mana."
Namun perkataan Celine berikutnya berhasil menarik penuh atensi pria itu. Gibran menurunkan tangannya dari saku, mulai menatap Celine serius.
"Ikut saya?"
Sesaat Nick dan Gibran saling melirik satu sama lain. Keduanya memusatkan perhatian pada Celine yang tak lepas mengukir senyum di bibirnya yang terpoles lipstik merah.
Melihat Gibran yang mengangguk singkat, senyum Celine semakin melebar. Meski ia tahu Gibran tak sepenuhnya percaya dan ragu.
Nick pun ikut mengekori wanita itu bersama sang tuan. Celine mengarahkan mereka pada sebuah gang tak jauh dari mall. Tepatnya jalan kecil yang diapit dua bangunan klasik berupa toko roti dan bunga.
Gibran mengernyit, ia menoleh pada Celine yang mengangguk yakin. "Masuklah. Beliau ada di dalam."
Sejenak Gibran terdiam mengamati bangunan di hadapannya. Tak ingin membuang waktu lantas saja ia masuk bersama Nick yang juga merasa penasaran. Jika sang nyonya memang berada di sini sejak tadi, kenapa para ajudannya belum juga memberi kabar? Apa kinerja mereka menurun?
Gibran mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan butik tersebut. Beberapa detik kemudian matanya berhenti di salah satu sudut, tepatnya tak jauh dari ruang ganti yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
Maria bersidekap membelakanginya. Wanita itu sempat menoleh ke samping tanpa menyadari kehadiran Nick mau pun Gibran.
Rahang Gibran mengeras, sorotnya menajam begitu kakinya mengayun dengan langkah lebar. Serta-merta dia meraih tangan Maria kasar, membuat wanita itu seketika menoleh dengan raut terkejut.
Maria terhenyak, netra mereka bertemu dan saling terpaku. Mata Gibran yang menghunus tajam begitu membekukan Maria hingga ke sendi-sendinya.
Belum sempat Gibran bicara, suara seseorang yang baru keluar dari ruang ganti menarik perhatiannya juga Maria.
"Oh, astaga, apa baju ini benar cocok untukku?"
Roman menunduk mengamati penampilannya sendiri, tanpa tahu sepasang mata menatapnya tak senang. Gibran melirik Roman dan Maria sejenak. Pegangannya di tangan Maria mengerat hingga membuat wanita itu meringis dan menoleh dengan raut setengah heran.
"Koko, sakit," lirih Maria.
Bisikan itu berhasil menarik fokus Roman pada mereka. Pria itu terkejut melihat keberadaan Gibran.
"Gibran?" Mata tuanya memancarkan binar senang.
Berbanding terbalik dengan Gibran yang menatap pria itu setajam elang.
"Apa yang kau lakukan bersamanya?" Itu pertanyaan untuk Maria.
Cepat-cepat Maria menjawab ketika aura mencekam mulai menguar menyelimuti suasana. "Tadi aku tidak sengaja bertemu Kakek di mall. Beliau sedang bersama asistennya mencari baju. Karena tidak menemukan yang cocok, aku mengajaknya keluar untuk mencari toko lain."
Maria menatap Gibran was-was. Ia menggigit bibir berusaha menahan gugup yang mendadak meluap ke permukaan.
"Koko sudah selesai meeting-nya?" tanya Maria hati-hati. Ia berusaha menarik atensi lelaki itu yang sejak tadi tak lepas menatap Roman dengan aura permusuhan yang kental.
Maria tidak tahu ada masalah apa di antara mereka. Ia hanya tidak nyaman berada dalam situasi menegangkan ini.
Roman tersenyum kaku, tubuhnya bergerak canggung di hadapan Gibran. Tak lama asisten pria itu datang seolah menjadi penyelamat.
"Tuan, kolega kita sudah menunggu. Anda ingin berangkat sekarang?"
"A-Ah ... benarkah? Sayang sekali, padahal aku ingin berbincang dengan cucuku." Roman melirik Gibran dengan senyum yang dibuat seringan mungkin.
"Kalau begitu aku harus pergi."
"Ah, tunggu sebentar. Apa baju ini benar cocok untukku?"
Pria muda itu menunduk, "Lebih dari cocok, Tuan. Nyonya Muda memilihkan Anda pakaian yang tepat."
"Begitukah?" Mata Roman melirik Maria sesaat. Bibirnya sedikit mencebik, campuran senang dan gengsi.
Sontak Maria terkikik geli. Pria itu masih saja ketus padanya. Entah alasan apa yang membuat Kakek Gibran itu seolah memusuhinya. Tapi alih-alih takut, sikap Roman justru terkesan seperti anak kecil.
Selepas kepergian Kakek Roman, perhatian Maria sepenuhnya terarah pada Gibran. Ia mendongak menatap wajah sang suami yang masih saja kaku seperti boneka kayu.
Maria mengulas senyum menyentuh tangan pria itu lembut, "Ada apa? Kenapa Koko terlihat marah?"
"Ah ... aku tahu. Koko pasti mencariku tadi. Maaf, aku tidak bilang-bilang mau pergi. Habisnya aku juga bosan mendengar topik seputar pekerjaan."
"Sudah selesai, kan? Kita pulang sekarang?"
Gibran menunduk, menatap Maria heran. Hanya perasaannya saja atau sikap Maria memang sedikit aneh?