His Purpose

His Purpose
112. Jakarta



Gibran menatap lekat wanita di sampingnya yang tertidur pulas. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Jakarta seperti yang sebelumnya Gibran janjikan.


Sudut bibirnya menyungging senyum kala jemarinya memainkan anak rambut Maria yang berjatuhan di kening.


Ia pandangi lama sosok cantik itu. Wajahnya yang kekanakan tampak polos dan damai. Rasanya Gibran tak sanggup mendapati luka sekecil apa pun di kulit sehalus porselen itu.


"Kamu harus baik-baik saja," gumam Gibran.


Pagi harinya mereka sampai di ibu kota. Butuh beberapa waktu perjalanan dari bandara ke kediaman Tjandra. Tapi seberapa lama pun semuanya terbayar oleh kegembiraan Maria yang langsung melompat begitu mobil mereka sampai di pekarangan.


"Papa ...!!!" Maria berteriak menyongsong pelukan Rayan di teras rumah.


Keduanya berpelukan bahagia. Rayan tertawa renyah menyambut Maria. Tapi tak lama pria itu langsung melepas rangkulan tangannya dan sedikit menjauhkan tubuh sang putri.


Ia memandangi putrinya dari atas ke bawah. Rayan yakin betul tadi ia merasakan sesuatu saat mereka berpelukan.


Semuanya hening. Gibran mengamati Rayan yang kini mengarahkan tangannya ke perut Maria. Pria itu terlonjak dengan wajah terkejut. Ia mendongak menatap bergantian pada Gibran dan Maria.


"Ini ... ini ..."


Maria tersenyum mengusap perutnya. "Aku hamil, Pa. Sebentar lagi Papa akan punya cucu."


Berbeda dari Maria yang sumringah, raut Rayan justru terlihat kaku.


"Hamil?" Ia melirik Gibran yang kini menyeringai samar.


Jadi ini rencana bajingan itu untuk menguasai Maria sepenuhnya? Rayan bisa melihat raut meremehkan di wajah Gibran.


Selagi Maria menyeretnya memasuki rumah ia tak lepas berpikir dengan raut terpekur. Gibran mengamati itu semua dalam kemenangan. Sudah ia bilang, siapa pun tak bisa mengalahkannya sekali pun Rayan adalah ayah Maria.


Maria miliknya. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu.


"Wah ... Aku kangen sekali dengan rumah ini. Masih sama seperti terakhir aku tinggal."


"Lukisan itu juga masih di sana."


"Itu juga."


"Itu juga."


Rayan menghela nafas. "Sejak dulu mereka memang di sana, Maria."


Mereka berjalan menyusuri ruang tengah.


Maria melempar cengiran saat mendongak. "Iya. Aku hanya terlalu rindu dengan tempat ini. Dengan Papa tentu saja." Wanita itu kembali masuk ke pelukan Rayan dan bergelung manja di sana.


"Ah ... aku tidak ingin melepaskan ini. Papa ke mana saja? Kenapa tidak pernah datang lagi ke mansion?"


Rayan tersenyum mengusap pucuk rambut putrinya. "Papa sibuk. Rumah kamu terlalu jauh untuk sering Papa kunjungi."


"Memang. Rumah Koko sepertinya di pedalaman. Masa sekelilingnya semua hutan," rengut Maria menyetujui.


Gibran yang mendengar itu terlihat santai saja. Ia justru mengamati lukisan-lukisan yang Maria tunjuk tadi.


"Kamu mau berapa lama di sini?"


"Tiga bulan." Itu Gibran yang menjawab.


Maria sontak menoleh pada sang suami. "Tiga bulan? Koko serius? Kita akan tinggal di sini selama tiga bulan?"


"Kamu," ralat Gibran.


Maria mengernyit sedikit tak mengerti. "Aku? Terus Koko?"


"Aku akan sering mengunjungimu nanti."


"Jadi Koko tak ikut menginap di sini?" Suara Maria terdengar kecewa.


"Pola makanmu sudah mulai normal. Aku tidak akan terlalu khawatir meninggalkanmu."


Perkataan Gibran justru memecut emosi dalam diri Maria. "Jadi Koko tidak peduli lagi padaku?"


Gibran mengerjap mendengar sentakan itu. Apa ia salah bicara?


"Koko mengajakku ke Jakarta karena sengaja ingin membuangku?"


"Apa-apaan," desis Gibran tak menyangka.


Belum sempat ia menjelaskan Maria sudah lebih dulu menghentak meninggalkannya. "Koko jahat!"


Gibran menoleh sedikit gelagapan pada Nick dan mertuanya. Tapi alih-alih membantu Nick justru menertawakannya. Pun Rayan hanya diam saja seolah tak peduli putrinya marah.


"Itu urusan rumah tangga kalian. Aku tidak berhak ikut campur," terangnya datar lengkap dengan endikan bahu tak acuh.


Sialan. Mereka tak ada yang membantu sedikit pun.


***


"Nyonya, makan siang Anda."


Maria mengabaikan pelayan yang sedari tadi menawarinya dengan berbagai hal. Ia sampai bosan melihatnya bolak balik memasuki kamar.


"Simpan saja," ketus Maria.


Pelayan itu menangguk seraya meringis pelan mengikuti apa kata Maria. Nampan disimpan di atas meja, kemudian ia berbalik pergi keluar setelah sebelumnya menunduk segan.


Maria melirik tanpa minat menu makan siang yang dibawakan si pelayan tadi. Ia masih merajuk pada Gibran. Entah suaminya itu sudah pergi atau belum dari kediaman ini.


Pertanyaan itu terjawab saat sosoknya muncul di pintu kamar Maria. Gibran menutup pintu tersebut perlahan sebelum kemudian mendekat menghampiri istrinya yang segera memasang wajah cemberut sambil melipat tangan menghindari pandangan Gibran.


"Kamu tidak makan?" tanya pria itu lembut setelah mendudukkan diri di sampingnya.


"Belum lapar," ketus Maria. Ia berlagak membuka-buka majalah menghindari tatapan Gibran.


Gibran mengangguk, tangannya meraih piring di atas meja dan mulai menyendok isinya.


"Apa?" sewot Maria saat Gibran menyodorkan sendok itu padanya.


"A." Gibran memberi isyarat agar Maria membuka mulut. "A, Sayang."


"Aku maunya B," jawab Maria asal. Ia memalingkan muka membaca kembali majalahnya.


Terdengar kekehan pelan dari Gibran. "Bercanda kamu, ya."


Maria tak menanggapi dan masih bertahan dalam sikap apatis.


Lucu sekali.


Gibran pun menghela nafas menurunkan sendoknya. "Kamu salah paham, Plum. Maksudku tiga bulan ke depan kamu tinggal di sini untuk melepas rindu dengan papamu."


"Aku sama sekali tidak bermaksud membuangmu. Aku akan berkunjung setidaknya sekali dalam seminggu. Kamu tenang saja, mana mungkin aku mengabaikan istriku yang sedang hamil? Aku hanya ada urusan sebentar di luar negeri. Kurasa akan lebih baik jika kamu di sini dulu."


"Sebentar itu sampai tiga bulan?"


Gibran diam. Maria menoleh melirik sengit suaminya. "Koko serius meninggalkanku selama itu?"


Diam-diam Gibran berupaya menebalkan kesabaran. Menghadapi Maria yang sedang hamil ternyata sememusingkan ini.


"Sudah kubilang aku tidak benar-benar meninggalkanmu. Aku akan berkunjung seminggu sekali."


"Itu lama."


"Ah ..." Kini pria itu melipat bibirnya berpikir. Ia melupakan fakta bahwa semenjak hamil Maria tak bisa jauh-jauh darinya.


"Kalau begitu dua kali. Bagaimana?"


"Setiap hari," balas Maria tak masuk akal.


"Itu sama saja aku menginap, Plum."


"Aku memang ingin Koko menginap."


"Tapi aku harus ke luar negeri."


"Ke mana?"


"Luar negeri itu negara mana? Apa aku juga tidak boleh tahu? Semua Koko sembunyikan dariku."


Lama Gibran seakan berpikir sebelum kemudian membuang nafas menjawab. "Singapura."


"Sudah cukup? Yang pasti aku tidak berniat menemui wanita lain seperti dalam pikiranmu."


Maria membuang mukanya kasar. Ia malu karena tebakan Gibran tak sepenuhnya salah.


"Aku tahu isi kepalamu." Gibran tertawa kecil. "Belum apa-apa kamu sudah cemburu."


"Aku tidak cemburu!" elak Maria.


Gibran hanya mengalah mengiyakan. Ia kembali mengulurkan tangannya bermaksud menyuapi Maria. "Jadi, sekarang makan, ya?" pintanya lembut.


"Koko pergi hari ini juga?"


"Iya. Aku akan sering menghubungimu nanti. Sekarang makan dulu, ya? Kasian bayi kita, dia kelaparan karena kamu merajuk terus."


Maria manyun mengelus perutnya dengan sayang. "Maaf ..." lirihnya mau tak mau menerima suapan Gibran.