His Purpose

His Purpose
71. Bagas and His Reality



"Siang, Bu ..."


"Siang ..." Maria tersenyum.


Beberapa orang kolega Gibran yang memang sudah mengenal Maria, menyapa wanita itu dengan sopan.


Hari ini Maria kembali mengunjungi proyek guna mengantar makan siang untuk Gibran. Tapi sudah hampir setengah jam Gibran belum juga kelihatan batang hidungnya. Padahal rekan-rekan pria itu sudah sedari tadi berseliweran keluar proyek.


"Koko mana, ya? Tidak biasanya dia membiarkanku menunggu selama ini."


Di tengah kebimbangannya, tiba-tiba Bagas datang. Pria itu berdiri menghalangi atensi Maria yang sedang celingukan mencari suaminya.


"Hai?"


Maria tersentak, ia mendongak. "Eh? Pak ..."


"Bagas." Pria itu mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Senyumnya merekah lebar menatap Maria.


Maria jadi kikuk sendiri ditatap seperti itu. Wah, benar-benar si Laura. Dia sudah membuat anak orang jadi baper. Bagaimana ini. Benar kata Gibran, pasti karena makan siang kemarin Bagas jadi tertarik padanya.


Dasar pria lemah. Baru diberi perhatian begitu saja sudah merasa terbang. Bagaimana kalau lebih? Padahal kan Maria tidak benar-benar ingin memberinya makan siang.


Maria bukan perempuan polos yang tak mengerti apa pun. Dari sorot mata Bagas dia sudah tahu pria itu memandangnya tak biasa.


"Eh, iya, Pak Bagas, hehe ..."


Maria membalas uluran tangan Bagas. Hanya sebentar, bahkan ia hanya sedikit menggamit jemari lelaki itu sekilas.


Bagas tersenyum, "Anda menunggu Pak Gibran?"


Maria meringis canggung. Apa maksud pria itu menghampirinya? Tidak mungkin dia ingin menggoda Maria terang-terangan, kan? Di tempat yang juga ada Gibran? Cari mati memang.


"Haha ... Iya." Maria tidak tahu harus bersikap apa selain mengangguk mengiyakan.


Ini salahnya yang membiarkan Laura bertindak semena-mena. Alhasil ia sendiri yang susah.


"Sambil menunggu, boleh kita berbincang sebentar?"


"Hah? Oh, bo-boleh."


Astaga, Ya Tuhan ... Ini orang mau apa, sih? Tolong beri tahu Maria bagaimana cara menolak dengan halus.


Maria bergerak canggung di kursinya, matanya mengedar mencari keberadaan Gibran, sambil menyalakan kipas genggam yang kemudian ia dekatkan ke leher. Cuaca sangat panas siang ini, dan bodohnya Maria mau-mau saja menunggu di meja yang hanya berteduhkan payung.


Ia juga menyesal telah menjauhkan Laura. Tahu begini mending ia menunggu Gibran di mobil saja.


Bagas duduk di hadapan Maria. Pria itu menaruh tangannya di atas meja. Sesaat ia melirik lunch box di sana, tak ayal bibirnya langsung menyungging senyum.


"Kamu memang perhatian. Persis apa yang ayahmu katakan."


Mendengar itu Maria kontan menoleh, "Pak Bagas ... kenal Papa saya?"


Bagas tersenyum, ia mengangguk dengan raut ramah. Bagas ini tipe pria lemah lembut yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Ia punya karisma tersendiri yang bisa membuat seseorang merasa nyaman di dekatnya. Tentu Maria tidak termasuk, ia malah gelisah karena takut Gibran salah faham.


Maria sedikit melongo tak menyangka. Demi apa Bagas mengenal papanya?


"Kamu mungkin masih ingat dengan perjodohan beberapa tahun silam? Kamu menolak karena saat itu sudah memiliki pilihan."


Maria mengerjap. Sebentar, ini apa?


"Benar. Pria yang kamu tolak itu saya," lanjut Bagas lengkap dengan senyum khasnya.


"Saya sempat mendengar seseorang itu dari keluarga Wiranata. Tak disangka ternyata itu adalah Pak Gibran. Dan sekarang kita bertemu secara langsung, saya jadi tahu bagaimana sosok putri Pak Rayan yang dulu sempat membuat saya penasaran. Rupanya memang secantik yang dibicarakan."


"Maaf, mungkin saya terkesan lancang. Tapi saya tak memiliki maksud apa pun. Saya murni hanya ingin menyapa kamu. Dan jika beruntung ... mungkin kita bisa berteman?"


Maria masih terpaku dengan raut sedikit syok. Apa ini yang dimaksud dunia hanya seluas daun kelor? Kenapa ada kebetulan semacam ini?


"Oh ... Haha ... Begitu, ya?" Hanya itu respon yang mampu Maria berikan. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi pernyataan Bagas yang cukup mengejutkan.


Mendadak kipas di lehernya serasa kehilangan fungsi. Betapa tidak, sejak tadi benda mungil itu menghembuskan angin di lehernya, tapi kenapa leher Maria masih berkeringat?


Duh, Koko ke mana pula?


"Tolong jangan sungkan hanya karena kenyataan tersebut. Jika suatu saat kita bertemu lagi, saya harap kita masih bisa saling menyapa dengan baik."


"Iya, tentu ..."


Bagas tersenyum. Beberapa saat mereka terdiam hingga Maria menangkap keberadaan Gibran bersama Morena. Bibir yang tadi hendak tersungging mendadak surut digantikan oleh raut tak senang.


Maria menurunkan kipasnya dari leher. Bagas yang menyadari perubahan raut Maria ikut menoleh. Ia segera mengerti ketika melihat Gibran dan Morena yang mendekat.


Tak jauh berbeda dengan Maria, mata Gibran menyorot tajam saat beradu pandang dengan Bagas. Bagas membalas itu dengan senyum tenang. Ia bangkit dengan maksud segera menyingkir dari sana.


"Karena Pak Gibran sudah datang, kalau begitu saya pergi. Senang bisa berbincang dengan Anda walau sebentar. Mari, Bu Maria, Pak Gibran." Bagas memberi sedikit anggukan sebelum benar-benar melenggang dari sana.


Morena pun melakukan hal yang sama dan lekas menyusul Bagas meninggalkan ketegangan suami istri tersebut.


Maria masih merengut ketika Gibran berdiri di hadapannya. Pria itu melirik kotak makan di atas meja lalu mendengus. Ia melesakkan diri di kursi samping Maria, melipat tangan dengan kaki bersilang seperti biasa.


"Perbincangan yang menyenangkan?" Gibran bertanya sarkas, sedikit mengulang apa yang dikatakan Bagas.


Maria tak menjawab, wanita itu masih betah membuang muka.


"Kalian nampak begitu akrab," lanjut Gibran.


"Koko juga akrab dengan wanita itu." Akhirnya Maria menoleh. Namun rautnya terlihat tak bersahabat.


Maria cemburu.


Gibran menatap mata sang istri dengan lekat. "Kamu sangat seksi ketika sedang marah," celetuknya serta-merta, juga tak nyambung sama sekali.


Maria kembali membuang pandangan ke arah lain, "Dasar tidak waras," gumamnya.


Sudut bibir Gibran terangkat melihat rona merah yang tiba-tiba muncul di pipi Maria. Ia mengangkat jemarinya dan mengelus pelan di sana.


"Ada apa, Plum? Kamu cemburu? Gugup? Wajahmu merah, Sayang."


Maria menepis tangan Gibran, berusaha bersikap jual mahal meski sebenarnya ia senang karena jarang-jarang Gibran bersikap seperti ini.


"Ini karena cuacanya sangat panas. Karena Koko terlalu asik dengan Lalat Bau itu, aku jadi harus menunggu lama. Sudah gitu gerah pula," ketus Maria. Ia semakin mendekatkan kipas ke lehernya guna memperkuat alasan.


Gibran tak bicara lagi, ia mengambil alih kipas itu dan memeganginya dengan siku bertumpu pada meja. Posisi Gibran menyamping menghadap penuh pada Maria.


Tentu Maria bukan main salang tingkah ditatap sedemikian rupa. Ia berusaha menghidar dari hunusan mata Gibran yang kerap menenggelamkan.


"Kita cari tempat lain. Di sini panas," ujar lelaki itu.


Di lain sisi, Bagas berterima kasih pada Morena. "Thanks, kamu sudah bersedia menahan Gibran. Aku jadi bisa bicara dengan Maria."


Morena mendengus, "Aku hanya kasihan melihatmu yang seperti sadboy."