
Maria meringis menyentuh perutnya ketika sang janin melakukan pergerakan. Karena pegal ia pun berpindah sejenak dari sisi Gibran dan beralih meluruskan tubuh di sofa.
"Aduh, Nak, tenanglah," ucap Maria sambil mengusap-usap permukaan perut. Matanya terpejam dengan kening berkerut dalam. Rasanya sangat tidak nyaman setiap kali anaknya bergerak aktif di dalam sana.
Maria tidak bisa tidur barang sejenak pun. Padahal biasanya Maria kerap mudah sekali mengantuk saat siang. Tapi sebisa mungkin Maria tak melakukan itu sekarang. Maria harus menjaga Gibran. Maria takut terjadi apa-apa dengan suaminya jika ia terlelap.
Belum pulih hatinya dihantui kecemasan, tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya. Maria membuka dan membaca pesan yang berasal dari nomor asing tersebut lalu mematung.
Sesaat Maria melirik pada Gibran yang terbujur di ranjang pasien. Ia menggenggam erat ponsel miliknya sambil menelan ludah. Grandpa sedang tidak ada, begitu pula Nick dan Gabriel. Papa juga belum sempat kemari karena banyak pekerjaan.
"Apa tidak apa-apa jika aku pergi sebentar?" gundah Maria bergumam.
Perlahan Maria beranjak dari sofa dan menghampiri Gibran. Ia menatap suaminya sendu, mengusap wajahnya yang rupawan kini berangsur pucat dan membiru.
"Koko, aku ingin sekali membantumu. Izinkan aku pergi sebentar. Ini untukmu. Aku tidak akan lama," bisik Maria yang kemudian menunduk mencium kening Gibran.
Ia lalu berbalik dan beranjak meninggalkan ruangan.
Maria membuang nafas sembari meyakinkan diri. Ia pasti bisa. Ia pasti bisa mendapatkan penawar itu. Gibran pasti sembuh. Iya, ini semua demi Gibran.
Maria yang sedang dilanda takut dan kebingungan tanpa pikir panjang menyanggupi pesan yang masuk di ponselnya beberapa saat lalu. Isi pesan tersebut memuat tentang penawar racun yang dibutuhkan Gibran.
Si pengirim mengatakan, Maria bisa mendapatkan penawar itu dengan syarat Maria harus menemuinya sekarang juga.
"Ini hanya sebentar. Jika itu hanya orang iseng, aku akan kembali lebih cepat," ucap Maria meyakinkan diri sendiri.
Sebetulnya ia pun sedikit tak yakin. Akan tetapi, mereka yang bungkam membuatnya mengambil jalur kenekatan ini. Jika Grandpa, Gabriel dan Nick tak ingin berbagi informasi, maka Maria yang akan cari tahu sendiri.
Siapa tahu orang itu memang benar memiliki penawarnya. Segala sesuatu harus dicoba, bukan? Maria akan mencoba apa pun untuk Gibran. Maria tidak mau terus diam dalam ketidakpastian.
Maria menaiki taksi yang ia hentikan di pinggir jalan. Bertepatan dengan itu Rayan memasuki ruangan Gibran dan bingung saat mendapati putrinya tak ada di sana.
"Maria?" panggil Rayan seraya mengedarkan mata.
Ia membuka pintu kamar mandi dan ruang tamu yang menutup rapat. Tak ada Maria di mana pun. Apa putrinya turun mencari makan? Padahal Rayan ke sini karena ingin mengantar makanan.
***
Maria turun dari taksi di sebuah cafe pusat kota. Kepalanya mengedar sesaat, menatap sekitar dan ponsel di tangan secara bergantian.
Satu pesan kembali masuk. Maria diminta naik ke lantai dua dan berjalan sedikit ke kanan untuk menemukan meja dekat vas bunga besar.
"Maksudnya guci, ya?" tanya Maria pada diri sendiri.
Dengan hati-hati Maria mulai menaiki satu persatu anak tangga. Kondisi perutnya yang tengah hamil besar cukup menyulitkan untuk berjalan. Tapi syukurlah, Maria bisa sampai undakan teratas dengan selamat, meski lelahnya luar biasa.
Cafe ini terbilang sepi untuk ukuran waktu makan siang. Tapi Maria tak begitu mempermasalahkan, ia segera mencari vas bunga yang dimaksud dan ketemu. Sebuah guci berukuran besar dengan tanaman hias cukup tinggi terlihat beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Maria melangkahkan kakinya pelan, tangannya setia memegangi perut yang entah kenapa bayinya mendadak bergerak begitu aktif, membuat Maria sesekali berhenti untuk meringis.
"Nak, tenanglah," bisiknya merintih lembut.
Ia melanjutkan langkah dan membuang nafas lega ketika sampai di sebelah guci tersebut. Seorang pria nampak berdiri membelakangi Maria dengan kedua tangan terselip di saku.
Posturnya cukup tinggi dan tegap terbalut jas pas badan.
Pria tersebut berbalik, dan alangkah terkejutnya Maria ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Pak Bagas?" serunya tak percaya. "Anda-"
Bagas tersenyum. "Maria, akhirnya aku bisa bertemu denganmu," ujarnya senang.
Namun tidak begitu dengan Maria. Ia merasa dipermainkan dan dibodohi sedemikian rupa.
"Anda sengaja?"
Bagas diam, netranya tak lepas memandang Maria. Sekarang sorot memuja itu begitu jelas terlihat.
"Bisa-bisanya," gumam Maria tak menyangka. Nafasnya bergetar oleh emosi yang perlahan menguak ke permukaan. "Bisa-bisanya Anda memandang situasi keluarga saya sebagai candaan!"
"Maaf, Maria, tapi aku tidak bermaksud bercanda. Aku serius ingin menemuimu. Hanya dengan cara itu kamu bisa dengan sukarela mau bertemu denganku."
"Cukup!" teriak Maria kesal. Ia merasa ditipu.
"Aku tahu kamu menyukaiku, tapi tidak harus begini juga, kan?" Maria sudah kehilangan bahasa formalnya. "Egois."
"Apa kamu tidak ada rasa simpati sedikit pun terhadap suamiku? Dia sedang terbaring lemah sekarang, dan aku meninggalkannya hanya untuk menemuimu!" Maria menutup wajahnya sambil menangis kesal.
"Aku sudah berharap lebih mendapatkan penawarnya," ujar Maria disertai isakan. Ia terseguk di hadapan Bagas.
"Maria," panggil Bagas pelan. Ia berusaha menyentuh bahu wanita itu yang bergetar, namun Maria dengan gesit menghindar.
"Dasar tak punya hati," desis Maria, menatap benci pada Bagas. "Sekarang aku tahu sifat aslimu yang sebenarnya." Ia berbalik pergi.
Bagas mengejar dan berupaya menghalangi langkah Maria.
"Maria, aku mencintaimu! Dari sejak pertama kita bertemu!" teriak Bagas pada akhirnya.
"Tapi aku tidak!" balas Maria tak kalah keras seraya menoleh sengit pada Bagas. "Aku bahkan tidak pernah bertemu denganmu selain saat di Papua dulu. Jangan mengada-ada, kapan kamu bertemu denganku sebelum itu?"
Netra Bagas meredup. "Kamu mungkin tidak tahu, tapi aku sering memperhatikanmu sejak kamu sering mengunjungi papamu di perusahaan. Alasan kenapa aku tanpa pikir panjang menjalin mitra dengan Beliau, itu semua karena kamu."
Maria mendengus, membuka mulutnya tak percaya. "Dasar gila. Enyah saja kau, sialan."
Maria kembali melangkah, namun karena hamil ia tak bisa cepat-cepat menuruni tangga hingga Bagas tetap mampu mengejarnya.
"Maria, dengarkan dulu. Setidaknya lihatlah perasaanku. Aku sudah menyukaimu sedari dulu, jauh sebelum suamimu!"
"Lalu aku harus bagaimana?" Lagi-lagi Maria berhenti. "Aku harus membalas perasaanmu, begitu? Aku sudah menikah. Seharusnya kamu cukup tahu diri untuk mengatakan itu pada wanita bersuami."
"Cukup, ya. Kamu sangat membuang waktuku," ujar Maria mengakhiri.
Ia menuruni tangga hati-hati. Namun, baru sampai di pertengahan tiba-tiba saja ...
Buk!
Bagas menangkap tubuh Maria yang limbung. "Maaf, Maria. Aku benar-benar tidak bisa membendung perasaan ini. Kamu harus menjadi milikku. Toh, suamimu sebentar lagi juga mati."