His Purpose

His Purpose
59. Elevator



"Bagaimana?"


"Maaf, Nyonya. Kami belum bisa menemukan Tuan Muda hingga saat ini. Tim kami sudah menelusuri hampir semua negara, namun keberadaan Tuan Muda begitu sulit ditemukan."


Seorang pria bersetelan jas hitam menunduk melaporkan hasil pencariannya. Hentakan kecil terjadi ketika sebuah majalah terlempar ke atas meja. Seorang wanita menegakkan tubuhnya di sofa, duduk bersilang kaki menatap pria tersebut dengan sorot mata yang tajam.


"Sudah hampir lima bulan dan kalian masih belum menemukannya? Apa yang sebenarnya kalian lakukan selama ini!" bentaknya keras.


Nafasnya terhela kasar saat tubuhnya terhempas di punggung sofa. "Bagaimana dengan Evan?"


"Beliau juga belum mengetahui pasti, Nyonya."


"Belum mengetahui pasti? Apa maksudnya? Dia sudah tahu keberadaan Gibran sebelumnya?"


"Mereka sempat bertemu di Thailand. Tapi malam itu juga Tuan menghilang lagi. Kami kehilangan jejak."


"Bodoh," decih wanita itu.


Sementara pria di hadapannya hanya bisa terdiam.


"Beberapa negara menghalangi akses keluar masuk orang asing, Nyonya. Alasannya untuk mencegah penularan virus yang saat ini tengah santer mewabah. Karena itu juga mengapa sampai sekarang kami belum totalitas melakukan pencarian."


"Aku tidak peduli. Yang aku mau adalah puteraku segera kembali!"


Kemudian wanita itu tampak berpikir, "Kalian sudah coba memeriksa negara tempat mantan suamiku tinggal?"


"Sudah. Saat itu kebetulan belum ada penguncian. Akan tetapi, Tuan juga tidak ditemukan di sana."


Kening wanita itu berkerut. "Tidak ada di sana? Lalu, di mana dia sekarang?" gumamnya berpikir keras.


Beberapa bulan lalu Gibran tiba-tiba menghilang seolah ditelan bumi. Entah apa yang sedang anak itu lakukan, dirinya juga sang ayah sudah mengerahkan pasukan terbaik menelusuri New York dan seluruh daratan Amerika. Namun tetap saja, tak ada setitik pun tanda-tanda kehadiran Gibran di mana pun. Dia seolah menghilang dari peredaran.


Sandra memijat keningnya pelan. Kepalanya tak lepas memikirkan sang anak yang sekarang entah ada di mana. Gibran itu sangat pendiam dan tertutup pada siapa pun, bahkan ia sendiri sebagai ibunya kerap tak mengerti jalan pikiran Gibran yang menurutnya terlalu rumit.


Sandra bangkit berdiri lalu berjalan keluar ruangan, meninggalkan pria tadi yang masih setia di tempatnya.


Ketukan heels terdengar tegas saat kaki jenjang itu berayun di sepanjang lorong. Sandra membuka sebuah pintu berukiran klasik lalu masuk dan menutup kembali benda kayu tersebut, menghampiri seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Pria itu menyesap dan menghembuskan asap cerutu dengan santai. Tubuhnya bersandar dengan kaki menyilang arogan. Rambut putih pria tersebut menandakan usianya yang telah senja. Namun aura dan kekuasaan seolah berada dalam genggamannya.


"Dad."


"Anak itu belum ditemukan?"


Sandra tak menjawab, dan David sudah tahu apa artinya. Pria itu kembali menyesap cerutu hingga menyulut asap putih yang langsung bertebaran ketika ia hembuskan. Nafas panjang terhela dari mulutnya.


Ia mendengkus mengukir senyum sinis, "Apa dia ingin memamerkan kekuatannya yang hampir setara dengan kita?"


"Bocah sombong itu ... Dia terlalu arogan dan berpikir seluruh dunia dalam genggamannya."


Mata David menyorot tajam, lengkap dengan seringai culas di bibir.


"Tapi aku sangat menyukainya. Hahaha ..." Tawa rendah terdengar begitu mengintimidasi.


"Putramu itu, dia sangat ambisius. Auranya memang sudah memancar sedari kecil. Alasan mengapa aku lebih memilihnya ketimbang putra keduamu yang lemah itu."


Sandra terdiam. Sejenak rautnya tak dapat ditebak, hingga kemudian tubuhnya melenggang ke arah jendela besar yang memaparkan lautan gedung kota New York.


"Pertunangannya kembali diundur. Ini sudah yang ke berapa kali," ucap Sandra.


Sandra menggumam mengiyakan.


"Beruntung keluarga White terlalu menyukai anak itu, sampai bersikeras ingin menjadikannya menantu meski berkali-kali dia berulah."


"Kita akan untung besar jika bergabung dengan mereka," lanjut David.


Matanya teguh akan tekat, bibirnya tak henti menyeringai penuh rencana.


Sementara di tempat lain, Gibran baru pulang dari kantor. Di belakangnya Nick mengikuti membawa tas serta sejumlah map milik pria itu.


Saat hendak memasuki lift, mereka menemukan Maria berdiri di sana. Nick yang memilih cari aman memutuskan pergi melalui tangga untuk mencapai ruang kerja Gibran, meninggalkan dua manusia yang kini saling diam diliputi kecanggungan.


Salah. Sepertinya hanya Maria yang merasa seperti itu. Karena Gibran terlihat santai-santai saja seperti biasa.


Maria bergerak kaku di tempatnya. Gibran mulai masuk hingga pintu lift kembali menutup dengan sendirinya. Ia semakin terhenyak ketika pria itu perlahan maju mengikis jarak, membuat Maria kelimpungan sendiri sampai akhirnya tak bisa lari karena Gibran mempersempit ruang geraknya dengan mengungkung Maria di antara dinding lift.


Pria itu tak mengatakan apa pun. Hanya saja matanya menyorot Maria penuh arti.


Tentu hal tersebut membuat Maria semakin tak berkutik. Ia bahkan hampir menjerit saking bingungnya harus bersikap seperti apa.


Gibran mengangkat tangan, melabuhkan jemarinya di leher Maria, memberi usapan halus di sana hingga Maria merinding dibuatnya. Bulu-bulu halus di tubuhnya ikut berdiri merespon sentuhan Gibran.


"Ko-Koko mau apa?" cicit Maria terbata.


Alih-alih menjawab, Gibran justru merundukkan wajahnya menghirup tengkuk Maria dengan mata terpejam.


Tubuh Maria semakin menegang. Otot-ototnya mendadak kaku mendapat perlakuan Gibran tersebut.


Belum hilang rasa gugupnya, Gibran menurunkan jari telunjuknya hingga berhenti tepat di belahan dada Maria yang menyembul.


Maria melotot, sementara Gibran berbisik di samping telinga. "Apa kau selalu seceroboh ini dalam berpakaian? Atau memang sengaja ingin menggodaku?"


Maria menelan ludah. Demi apa pun ia tidak tahu dan tidak sadar kancing blouse-nya terbuka!


"A-Anu ..."


Maria menggigit bibir ketika Gibran menyentuhkan tangan besarnya di sana, sedikit memberi remasan yang seketika membuat Maria menggila.


"Sudah kubilang jangan pernah menggigit bibir di depanku, Sugarplum."


Maria mendongak menatap Gibran. Rupanya pria itu juga tengah menatapnya dengan pandangan berkabut. Dan detik selanjutnya ciuman panas pun tak terhindarkan, membalut mereka dalam gairah serupa seperti semalam.


Gibran meraih pinggang Maria merapat padanya, sementara Maria melingkari leher Gibran dengan erat, menyambut serangan pria itu yang begitu menggebu.


Lidah mereka saling bertautan. Pun tangan Gibran sudah berkelana merayapi sebagian tubuhnya dengan sentuhan ringan, serta sesekali menyingkap roknya untuk mengelus paha.


Maria menggemam di sela ciuman. Ia memberi isyarat pada Gibran untuk menjauh sebentar guna mengambil nafas. Pria itu menurutinya, namun tak sampai lima detik mulutnya kembali menyerang menggulung Maria dalam ciuman yang lebih ganas.


Maria kewalahan, apalagi saat tangan Gibran sampai di pangkal pahanya dan menyentuh pinggiran kain tipis di sana.


Pria itu menjauhkan wajah, memberi kesempatan untuk Maria mengambil nafas banyak-banyak.


Maria mendesah merasakan sentuhan di bawahnya. Hingga tak lama ia terlonjak dengan mata terbelalak saat Gibran memasukkan dua jarinya sekaligus secara tiba-tiba.


"Koko!"


"This is so wet, Sugarplum," bisik Gibran.