
Abhimanyu mematung sejenak melihat keberadaan Sandra. Ia tidak menyangka mereka akan bertemu lagi di satu tempat yang sama. Lebih-lebih ternyata mereka terlibat dalam satu lingkup perusahaan.
Abhi baru tahu wanita itu juga termasuk salah satu pemegang saham Grand Hotel yang dikunjunginya saat ini. Ada rapat investor yang mengharuskan Abhi kemari.
"Hai, Sexy old man ..." Sandra melambai kecil dengan gerakan anggun. Alisnya terangkat menandakan ia juga cukup terkejut.
Omong kosong. Sandra pasti tahu Abhi akan kemari. Abhi tak menghiraukan sapaan wanita itu, ia melenggang memasuki lift diikuti Jo, sekretaris yang merangkap sebagai asistennya.
Ia juga tak bereaksi apa pun ketika Sandra memasuki lift yang sama. Mereka bungkam dalam keheningan, meski sesekali Abhi mendapati Sandra meliriknya dengan kerlingan menggoda.
Khas wanita itu sekali.
Abhi mengabaikannya hingga mereka tiba di lantai yang sama. Ia adalah pria profesional yang tak akan melibatkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Maka dari itu sebisa mungkin Abhi tak menganggap keberadaan Sandra meski mereka rapat di satu ruangan.
Selama rapat Sandra tak lepas melirikkan matanya pada Abhi. Matanya mengedip genit setiap kali mereka beradu pandang tanpa disengaja. Satu kebetulan mengharuskan keduanya duduk berseberangan.
Meski awalnya biasa saja lama-lama Abhi juga merasa muak. Terlebih di beberapa kesempatan Sandra seolah sengaja menyenggol sepatu Abhi di bawah meja.
Bisa saja itu orang lain yang memang tak sengaja melakukannya, tapi melihat seringai di bibir Sandra, Abhi yakin seratus persen wanita itu tengah berusaha menggodanya.
Iblis keparat!
Sepanjang meeting Abhi berusaha fokus dan akhirnya dia bisa menghela nafas lega ketika pertemuan itu di akhiri. Gegas ia beranjak keluar ruangan bersama Jo. Tapi kemudian ia berhenti saat tiba di depan lift.
Abhi berbalik menatap asistennya tersebut. "Kamu duluan ke bawah, nanti saya nyusul."
Jo tak kuasa membantah, ia mengangguk segan dan lekas memasuki lift untuk turun lebih dulu.
Sementara Abhi mengubah haluan kakinya ke toilet. Usai melepas hajat ia langsung keluar dan tanpa diduga kakinya berhenti beberapa langkah dari lorong.
Sandra dan seorang lelaki tengah bermesraan di sana. Lelaki itu tampak rakus menciumi sela lehernya ketika pandangan mereka tak sengaja bertemu. Sandra tersenyum santai sambil berusaha pelan melepas rangkulan lelaki itu yang sesekali menggerayangi tubuhnya.
Abhi membuang muka dan tetap lurus berjalan. Dengan wajah datar ia melewati dua manusia laknat tersebut. Abhi sempat mendapati lirikan Sandra yang menatapnya penuh arti.
Entah apa lagi yang sedang wanita itu rencanakan.
***
Maria berkedip menatap lurus ke arah sofa. Ini masih siang, tapi Gibran sudah tidur sepulas itu. Laptop di pangkuannya pun masih terbuka. Sepertinya akhir-akhir ini Gibran jarang terlelap. Ia sering terbangun oleh Maria.
Maria jadi merasa bersalah dan kasihan. Melihat Gibran yang seperti kelelahan membuatnya jadi tak tega. Padahal ia ingin pipis. Ya sudah lah sendiri saja.
Maria menurunkan kakinya dari ranjang dan berjalan pelan memasuki kamar mandi. Ia bersyukur baju pasien kali ini bukan tipe yang menggunakan celana, melainkan terusan sepanjang lutut yang memudahkan Maria membuka cawat meski dengan satu tangan.
Maria mendesah lega saat desakan itu berhasil terlepaskan. Ia lalu keluar dan lantas terkejut mendapati Gibran sudah berdiri di hadapannya.
Pria itu bersidekap sambil menatap tajam. Maria meringis seolah ketahuan telah berbuat salah. "Ko-Koko kelihatan pulas sekali. Aku jadi tidak enak jika harus membangunkan," cicit Maria.
Gibran tak bersuara, ia menuntun Maria kembali ke ranjang dan memastikannya merebah dengan nyaman. Karena Maria kerap mengeluh setiap kali ranjangnya dibuat datar, maka Gibran mengatur posisinya menjadi setengah berbaring.
Suara keributan tiba-tiba terdengar dari luar. Gibran maupun Maria kompak menatap pintu. Decakan pelan keluar dari mulut Gibran. Ia memaki siapa pun yang berani mengganggu ketentraman.
"Saya kakeknya! Saya berhak masuk!" Seruan itu terdengar samar.
Sontak Gibran menghentikan langkahnya yang baru setengah jalan.
"Tuan, maaf kami tidak menahannya. Pria tua ini terus memaksa masuk."
Pria yang ternyata adalah Romanjaya Wiranata menoleh sengit pada pengawal yang barusan bersuara. "Pria tua?"
Ekspresi tak terima Roman tanpa sadar membuat pengawal itu berkedip. Roman mendengus. "Huh, kau belum tahu sekeras apa pukulan orang yang disebut pria tua ini."
"Kakek?" panggil Maria. Ia terlonjak kecil saat lirikan itu berpindah padanya.
"Grandpa!" tegas Roman.
"Ah, ya ... Grandpa," ringis Maria. Ia lalu tersenyum sambil menggaruk rahang.
Situasi ini terasa canggung. Apalagi Gibran tampak diam saja tanpa melakukan apa pun. Maria tidak yakin raut pria itu karena ia hanya bisa melihat punggungnya. Tapi bisa dipastikan ekspresi Gibran tak lebih dari datar.
"Tuan?" Si pengawal menatap Gibran menunggu perintah.
Dan selanjutnya Gibran hanya mengendik memintanya keluar. Roman tersenyum penuh kemenangan pada pengawal tersebut.
"Hah, berani sekali dia pada tamu VVIP sepertiku," gumamnya. Namun raut itu berangsur hilang ketika matanya bertemu dengan Gibran.
Roman mengerjap mengatupkan bibir. Tingkahnya itu seperti anak kecil yang takut dimarahi orang tuanya.
Tanpa sadar Maria tertawa. Ia terkikik pelan hingga menarik perhatian dua orang tersebut. Kini giliran Maria yang dibungkam tatapan Gibran. Ia meringis sebelum tersenyum manis dan melempar kedipan manja.
Maria beralih menatap Roman. "Grandpa sendirian?"
Roman menjawab setengah gengsi. Ternyata ia masih saja berpura-pura ketus pada Maria. "Aku ini orang penting, tidak mungkin bepergian sendiri. Yah ... minimal dengan sopir."
Maria mengulum senyum merasa lucu. Ia mengangguk berpura-pura paham. "Oh, begitu. Terus, Grandpa mau apa ke sini?"
Roman tampak kebingungan sekarang. Ia terlihat enggan menjawab pertanyaan Maria.
"Grandpa pasti khawatir padaku," cetus Maria.
"Siapa bilang? Aku hanya ingin memastikan karena Abhimanyu bilang dia akan segera punya cucu."
Maria melirik Gibran yang setia terdiam. Namun tanpa siapa pun tahu ia tengah bersyukur karena Gibran tak begitu memusuhi kakeknya seperti biasa. Buktinya dia tak melakukan apa pun atau berucap ketus dengan kata-kata menyakitkan seperti yang kerap pria itu lakukan.
Maria mengulas senyum pada Roman. "Grandpa penasaran? Kalau penasaran sini, dong. Katanya mau memastikan? Bagaimana bisa tahu kalau Grandpa terus berdiri jauh di sana?"
Roman sedikit melirik Gibran, namun sang cucu justru mengabaikannya dan melenggang ke arah sofa, memeriksa kembali laptopnya yang tadi sempat terbengkalai.
Apa itu artinya Gibran mengijinkan Roman berada di sini lebih lama?
Hati Maria menghangat. Sudah ia bilang Gibran tak sekeras yang orang lihat. Dia memang banyak diam, tapi tindakannya seolah menegaskan jawaban.
"Tunggu apa lagi? Kemarilah. Lihat, perutku sudah membesar." Maria berseru pada Roman.
Akhirnya Roman pun mendekat, dan Maria tersenyum lebar menyambut elusan pria itu di perutnya.