
"Sepertinya dugaan Tuan benar. Nyonya memang sedang hamil muda." Nick meletakkan cangkir berisi kopi sambil mengulum senyum.
Gibran meraih cangkir tersebut lalu menyeruputnya pelan. "Kita masih harus memastikannya."
"Tetap saja, saya yakin Nyonya memang sedang mengandung. Sejauh yang saya tahu wanita hamil memang kerap mengalami lonjakan emosi hingga memicu perubahan sikap yang tak biasa. Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini, Nyonya seringkali melakukan hal-hal aneh yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan."
"Sebentar. Tapi katanya wanita yang sedang datang bulan juga sensitif. Emosi mereka sering tidak stabil dan cenderung menakutkan. Atau jangan-jangan Nyonya menstruasi?" Nick terhenyak dengan tebakannya sendiri.
Sementara Gibran, lelaki itu dengan santai membuka tablet meneliti pasar saham. "Tidak mungkin. Jadwal tamunya sudah lewat."
Nick menoleh cepat. "Bagaimana Tuan bisa tahu?"
Gibran balas menatap Nick dengan satu alis terangkat. Sudut bibirnya menyeringai tipis. Hal tersebut membuat Nick seketika merinding. Gibran dan kegilaannya. Dia seolah menguasai apa pun mengenai Maria. Tidak tanggung-tanggung, lelaki itu bahkan mengetahui jadwal bulanan sang istri.
"Astaga, jangan-jangan Tuan juga hafal ukuran bra dan kain segitiga Nyonya," gumam Nick tak sadar.
Gibran yang mendengar itu mendengus singkat. "Aku bahkan tahu diameter satu persatu giginya."
Nick berkedip. Bercanda Gibran sungguh tindak lucu. Pria itu tidak berbakat melempar humor. Lihat saja wajahnya yang datar tak beriak. Alih-alih tertawa, jatuhnya malah menyeramkan.
Nick berdehem, "Saya hampir lupa. Tuan ditunggu Nyonya Besar di bawah."
Ekspresi Gibran seketika berubah. Wajah yang semula berseri selepas video call dengan Maria kini berangsur lenyap berganti kelam. Tanpa sadar Nick memilin jarinya gugup. Ia tahu betul hubungan Gibran dan keluarganya sedang tidak baik. Tapi, bukankah itu tujuan Gibran kemari? Menemui ibu serta kakeknya di Amerika.
"Tuan—"
"Kamu duluan."
Gibran bangkit meninggalkan sofa menuju meja konsol di samping dekat jendela. Pria itu entah sedang apa membelakangi Nick. Nick pun tak bisa melakukan apa pun selain patuh. Ia keluar sesuai permintaan Gibran, memberi ruang pada sang atasan yang sepertinya tengah dilanda kegelisahan.
Selepas kepergian Nick, Gibran menumpukan kedua tangannya di meja. Matanya menyorot tajam ke luar jendela, menatap hamparan gedung yang berkilau terpapar cahaya sang raja siang.
Menginjak kaki di New York sama saja dengan membuka luka lama yang coba Gibran sembuhkan. Ia terpejam sebentar menahan letupan emosi yang perlahan meluap.
Gibran pikir setelah berhari-hari membiasakan diri hatinya akan jauh lebih kebal. Nyatanya tidak. Padahal Gibran sengaja tidak menghubungi Maria sampai dua hari lalu wanita itu mengancam tidak akan makan jika ia tak kunjung menelpon. Mau tak mau Gibran mengubur segala ego dan usahanya tersebut.
Ia sadar betul tindak-tanduknya akan berpengaruh pada Maria, juga bayi mereka yang kemungkinan besar sedang tumbuh dalam rahim wanita itu.
Gibran menarik dan membuang nafasnya dalam-dalam. Lantas ia beranjak, berbalik menuju pintu dengan raut dipenuhi keyakinan.
Akan kulakukan apa pun yang terbaik untuk keluarga kita, Sugarplum.
***
Kabut ketegangan menyelimuti suasana sebuah meja di resto yang terbilang private. Gibran menatap dingin wanita di hadapannya. Entah kapan terakhir mereka bertatap muka, Gibran sendiri malas mengingatnya.
"Beberapa hari sampai di New York kamu masih enggan menginjakkan kaki di rumah? Dan justru lebih memilih sembunyi di hotel ketimbang menyambangi ibu dan kakekmu?"
Gibran mendengus sinis, "Aku tidak sembunyi. Aku hanya tidak sudi menghirup udara di sana."
"Gibran. Kata-katamu terlalu kasar, Nak." Sandra Willis berucap dengan nada yang begitu halus, namun siapa pun tahu tersirat ancaman di sana.
Akan tetapi, semua itu seakan tak berpengaruh pada Gibran yang nampak tak acuh, duduk bersidekap dengan kaki menyilang menatap lurus sang ibu.
"Pulanglah. Temui kakekmu dan segeralah lakukan pertunangan. Kita sudah berkali-kali mengundurnya. Akan sangat memalukan jika kali ini kamu juga mangkir."
"Ini perkara kalian, tapi justru aku yang direpotkan. Kenapa tidak dia saja yang menikahi wanita keluarga White itu?"
"Gibran."
"Willis sudah berkuasa tanpa harus berdampingan dengan mereka."
Sandra berkedip datar. Gibran dan pendiriannya, sejak dulu sangat sulit diruntuhkan.
"Kita akan semakin berkuasa."
"Aku tidak peduli," tukas Gibran.
"Kau akan bahagia—"
"I am married."
Hening. Keduanya saling tatap dalam diam. Beribu makna yang tak dapat diartikan menuai ketegangan di antara mereka. Sandra menatap sang anak tanpa ekspresi. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Kemungkinan besar wanita itu memang sudah tahu.
"Berhenti mengganggu hidupku, atau kupastikan perusahaan Willis akan hancur di tanganku. Kamu tahu senekat apa putramu ini, Mom." Gibran menekan panggilan yang lebih tepat dibilang sarkasme.
Sandra mengulas senyum tipis, "Kau sangat mirip dengan kakekmu."
Gibran dan David sama-sama memiliki kepribadian yang keras. Itulah mengapa ayahnya begitu berambisi mencengkram Gibran dalam kuasanya.
Anak itu masih bisa mendirikan usaha yang menggurita kendati dalam pelarian. Sudah bisa dipastikan bagaimana hebatnya Gibran tanpa campur tangan keluarga. Diam-diam pria itu sudah mempersiapkan segalanya sejak dini.
Sandra ingat, Gibran sudah bisa meraup uang jutaan dollar meski dirinya masih berstatus sebagai pelajar. Ia sudah mandiri sedari mengenyam pendidikan dasar.
Tak heran jika saat ini kekuasaannya hampir melampaui ayah bahkan kakeknya sendiri. Dengar-dengar, ia juga dekat dengan seorang mafia. Pantas keberadaannya begitu sulit ditemukan. Gibran memiliki koneksi di manapun ia berada.
"Tapi aku tidak serakah," sahut Gibran menimpali ucapan Sandra.
Sudut bibir Sandra berkedut, "Kamu salah. Kamu sangat serakah. Buktinya kamu merebut kekasih adikmu sendiri," ucapnya telak.
"Jangan mengira Mom tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana."
Rahang Gibran mengetat samar. Ibu jarinya sedikit bergerak, pertanda ia terganggu dengan pernyataan tersebut. Meski begitu Gibran masih terlihat tenang, ia pandai menguasai diri dalam situasi apa pun.
"Siapa wanita itu?"
Hening. Gibran tak berniat menjawab pertanyaan sang ibu. Akan tetapi, kalimat berikutnya cukup membuat Gibran dilanda cemas.
"Apa dia wanita yang membuatmu mengubur mimpi kuliah di Swiss?"
Gibran masih tetap bungkam. Sandra menilik ekspresi putranya yang tak menghadirkan perubahan berarti. Lantas ia pun mengangguk, "Dia wanita sama yang dimaksud kakekmu?"
Tanpa Sandra ketahui tangan Gibran mengepal di bawah meja. Ini adalah satu dari sekian alasan tujuannya kemari. Gibran ingin memastikan sesuatu yang sudah lama ia curigai.
Mengenai kecelakaan yang Maria alami, hanya kebetulan, atau justru memang sudah direncanakan. Jika iya, Gibran bersumpah demi apa pun ia tak akan tinggal diam.
Ia akan menghancurkan siapa saja yang berani menyakiti Maria, meski itu kakeknya sendiri.