His Purpose

His Purpose
60. His Claim



Gibran menyeruput kopinya perlahan, matanya masih terlihat sayu usai bercinta dengan Maria. Wanita itu nampak tertidur lemas setelah pelepasan terakhirnya yang entah ke berapa. Gibran tak menghitung berapa kali ia memasuki Maria, ia hanya berhenti saat wanita itu memohon-mohon tidak kuat.


Karena melihat Maria yang seakan mau pingsan, Gibran dengan sukarela mempercepat aktivitas mereka dan membiarkan wanita itu terlelap kelelahan.


Kepalanya sedikit menoleh ke belakang, Maria nampak terpejam damai di balik selimut. Ruam merah di tubuhnya semakin bertambah. Gibran tak peduli, lagi pula Maria bisa menutupnya dengan make up, seperti yang dilakukannya tadi pagi.


Ia kemudian bangkit dari duduknya di pinggir ranjang, menyimpan cangkir di tangannya ke atas nakas, lalu mengencangkan tali kimono yang membalut tubuhnya sebelum kemudian berjalan menuju ruang wardrobe.


Gibran mengambil kacamata yang seingatnya tertinggal di sana. Benar saja, benda itu persis bertengger di atas laci jam tangan. Ia menyeka dan meniupnya sebentar sebelum dipakai. Malam ini ia ada pekerjaan yang mengharuskannya lembur.


Mata Gibran tiba-tiba terpaku pada sebuah kotak di dalam laci, menyempil di antara deretan koleksi jam mewah miliknya. Gibran bergeming sesaat, perlahan ia menggeser kaca di atasnya lalu mengambil kotak biru muda tersebut seraya mengamatinya dengan lekat.


Pelan-pelan ia buka tutupnya, menghadirkan kilauan anting juga sebuah syal berupa scarf satin dengan warna dasar putih dan motif bunga soft blue.


Pria itu nampak terdiam lama, sebelum suara serak Maria menariknya dari lamunan.


"Koko ..."


Gibran lekas menutup kotak itu dan menyimpannya kembali di tempat semula. Ia pun keluar dari ruangan tersebut dan langsung mendapati Maria yang berkedip dengan wajah kantuknya yang sialan menggairahkan.


Gibran berdehem, "Kenapa bangun?"


Maria menggeleng lemah. "Tidak tahu," bisiknya tak semangat.


"Tidurlah."


"Koko mau ke mana?"


"Aku ada pekerjaan."


Maria mengerjap, "Di ruang kerja?"


"Hm."


"Kalau begitu ... apa aku boleh menyalakan lampunya? Aku tidak bisa tidur dalam keadaan gelap jika sendiri."


Gibran tak menyahut, namun tanpa banyak kata ia mengambil remot dan memencet satu tombol hingga ruangan seketika terang-benderang.


"Tidurlah," ucap Gibran sekali lagi.


"Heem ..." angguk Maria disertai senyum tulus. "Terima kasih."


Namun kemudian ia bertanya ragu, "Koko serius mengizinkanku tidur di sini?"


Bukannya apa, ia takut Gibran risih dan tak nyaman, apalagi Laura bilang pria itu paling tidak senang kamarnya dimasuki orang lain.


"Tidur saja," jawab pria itu singkat sebelum berlalu keluar.


Maria meremas selimutnya erat, menutupi mulut yang seketika mengembang tertahan dengan alasan yang tak jelas. Maria sendiri tak mengerti mengapa ia bisa sesenang ini. Terlebih ia bisa merasakan bagian bawah tubuhnya yang lengket setelah sebelumnya dipenuhi oleh milik Gibran saat mereka bercinta.


"Apa yang kupikirkan?" geleng Maria, merasa malu pada dirinya sendiri.


Ia pun menaikkan selimut dan lanjut mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, melupakan sejenak kisah panas mereka dan membawanya ke alam mimpi.


Pagi harinya Maria mendapati Gibran keluar dari kamar mandi. Sebuah handuk melingkar di pinggulnya, membuat Maria seketika dilanda rasa panas hingga susah payah menelan ludah.


"Astaga, baru juga bangun sudah disuguhkan pemandangan menggerahkan," gumamnya dalam hati.


Pria itu memasuki ruang pakaian tanpa sedikit pun menyadari perhatian Maria terhadapnya. Hingga beberapa saat kemudian Gibran muncul dengan pakaian lengkap, minus dasi yang baru mau dipasang.


Hal tersebut membuat Maria refleks bangun dan turun menghampiri Gibran, menghentikan tangannya yang tengah sibuk membuat simpul. Gibran mendongak disertai kernyitan samar di dahi.


"Dasi ini kurang cocok dengan warna bajumu," ucap Maria.


Hening menyelimuti keduanya. Maria meringis canggung melepaskan tangan Gibran. "Biar ... aku pilihkan?" tanyanya ragu.


Sejenak Gibran terdiam, sebelum ia mengangguk mengizinkan Maria melakukannya. Maria tersenyum lebar, ia segera berlari memasuki ruang pakaian. Namun, cekalan Gibran membuatnya berhenti.


"Ada apa?" Maria berkedip.


Seketika kecanggungan melingkupi Maria. Astaga, kenapa ia bisa lupa belum memakai baju?


"A-Ah ... Iya."


Maria berputar ke arah ranjang, matanya mengedar mencari pakaian yang kemarin ia kenakan, kemudian berlari ke kamar mandi untuk menggunakannya.


Selesai masalah pakaian, Maria segera mencari dasi untuk Gibran. Pria itu tengah duduk menunggu di sofa sambil membaca majalah bisnis.


Maria pun mendekat, "Koko, sepertinya ini cocok," ucapnya mengulurkan benda tersebut.


Gibran mendongak, lantas menyimpan majalahnya ke atas meja. "Pakaikan."


"Ya?"


"Tolong pakaikan."


Maria mengerjap cepat, "A-Ah ... baiklah."


Ia menggaruk tengkuk bingung. Bagaimana ia memakaikannya jika Gibran masih duduk di sana?


"Koko ... tidak berdiri?" tanyanya hati-hati.


"Begini saja," sahut Gibran sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Kepalanya menengadah dengan mata terpejam.


Gibran nampak kelelahan. Entah pria itu semalam tidur jam berapa. Ya sudahlah, kasihan juga kalau suruh berdiri.


Akhirnya Maria bergerak lebih dekat, berdiri tepat di hadapan Gibran. Tubuhnya condong mengangkat kerah kemeja yang dipakai Gibran lalu melingkarkan dasinya di sana.


Ketika sedang fokus-fokusnya membuat simpul, Maria tersentak saat tiba-tiba Gibran meraih pinggangnya dan membuat ia hilang keseimbangan hingga berakhir jatuh di pangakuan lelaki itu.


Kakinya mengangkangi Gibran dengan canggung. Sungguh posisi yang rentan bagi mereka berdua. Astaga, Maria ingin menjerit, berbanding terbalik dengan Gibran yang nampak tenang masih dengan mata terpejam, seolah yang ia lakukan barusan bukanlah apa-apa.


"Begini lebih mudah," ucap Gibran datar.


Maria berpikir. Iya juga, sih. Maria tidak perlu menahan pinggang dan kakinya seperti saat berdiri tadi.


Ia pun melanjutkan membuat simpul dasi di leher Gibran. Tak butuh waktu lama Maria menyelesaikannya, dasi itu sudah terpasang rapi melengkapi penampilan Gibran pagi ini. Maria menepuk-nepuk pelan bahu Gibran dengan senyum puas. Gibran terlihat tampan dan gagah sekarang.


"Selesai." Maria berseru kecil.


Gibran membuka mata dan seketika pandangan mereka langsung bertemu. Maria mengulum bibir canggung, bersiap turun dari pangkuan Gibran. Namun lengan pria itu begitu kuat melingkari pinggangnya.


Hal tersebut membuat Maria kebingungan. Di sisi lain posisi ini juga tidak aman bagi jantung dan hormon estrogen dalam tubuhnya yang bisa meluap-luap kapan saja.


"Koko ..." Maria memelas. Apalagi ia malu ditatap terus seperti itu oleh Gibran.


Lelaki itu tak mengatakan apa pun, tapi sudah mampu membuat Maria kelimpungan, hingga tanpa sadar tubuhnya bergerak saking gugupnya.


"Berhenti bergerak."


"Oh? Ba-baiklah." Maria menunduk, "Berhenti menatap seperti itu ..." cicitnya kemudian.


Maria ingat dia belum cuci muka karena terburu-buru takut Gibran menunggunya terlalu lama.


Gibran meraih dagu Maria untuk mendongak.


"Ko-Koko mau apa?" tanya Maria was-was. Ia takut Gibran menciumnya, padahal ia belum gosok gigi. Astaga ... Bagaimana ini ...


"Kau sudah melupakan Gabriel?" tanya Gibran tanpa diduga.


Maria mengerjap, bibirnya sedikit membuka tak percaya.


"Apa pun perasaanmu, kau adalah milikku. Ingat itu."


Suara Gibran terdengar tajam dan mengancam, hingga sesaat Maria merinding dibuatnya.