His Purpose

His Purpose
74. Maria's Afraid



"Koko?" Senyum Maria merekah ketika Gibran nampak mengerjapkan mata.


Ia semakin menggenggam erat tangan Gibran yang tak terpasang infus, menatap penuh harap pada sang suami yang kini mulai mengambil kesadarannya.


"Akhirnya kau bangun juga ..."


Gibran berkedip sayu, matanya sedikit melirik sekitar ruangan. "Di mana?" bisiknya serak.


"Rumah sakit. Semalam Koko pingsan. Tapi syukurlah tidak terjadi apa-apa." Maria berusaha mengulas senyum.


Hening. Gibran terdiam.


"Lantas kenapa kamu menangis?"


Sontak Maria tergagap mengusap matanya sendiri yang basah. "A-Ah ... ini? Biasa, bangun tidur pasti banyak kotoran mata."


"Aku habis menguap," lanjut Maria.


Gibran tak melanjutkan. Ia tahu Maria berbohong. Tubuhnya bergerak berusaha mengangkat punggung dari ranjang, namun hal itu dicegah Maria yang serta-merta menyuruh Gibran tetap berbaring.


"Koko jangan banyak bergerak dulu, ya. Kita tunggu Dokter periksa."


Gibran berdecak, namun ia menurut dan tetap diam di tempat. Maria menyodorkan segelas air yang langsung diminum tandas oleh Gibran. Tak sadarkan diri selama beberapa jam membuat pria itu kehausan.


Beberapa saat kemudian Nick masuk bersama dokter dan perawat. Tidak tanggung-tanggung, lima dokter sekaligus diboyong ke ruangan Gibran, bahkan Direktur rumah sakit itu sendiri turut serta dan memberi hormat pada salah satu pewaris Wiranata tersebut.


Gibran sedikit melongo di tempat, "Apa-apaan ini?" gumamnya tanpa suara.


Nick mendekat, lantas membungkuk sejenak sebelum kemudian mempersilakan dokter-dokter tersebut untuk mulai memeriksa sang atasan.


Berbagai rangkaian pemeriksaan Gibran lewati seraya menahan kesal, juga sejumlah pertanyaan yang sebetulnya sangat malas ia jawab.


Maria yang menyadari kedongkolan sang suami kontan menahan senyum. Dalam beberapa kesempatan ia menyentuh dan mengusap pundak Gibran guna menyalurkan sedikit ketenangan.


Dokter-dokter itu mundur beberapa langkah. Masing-masing dari mereka menggenggam catatan pemeriksaan dan mulai menjelaskan satu persatu mengenai kondisi Gibran, diakhiri oleh sang direktur yang kini tersenyum nampak puas.


"Syukurlah, dari hasil pemeriksaan kami kondisi Tuan Gibran saat ini bisa dikatakan sudah membaik. Tapi tunggu dua hari lagi untuk bisa pulang, ya?"


"Syukurlah ..." desah Maria lega. Ia menunduk melempar senyum pada Gibran, menyisir rambut sang pria tanpa repot-repot menyembunyikan rasa senangnya.


Atensinya kembali pada lima dokter di depan. "Tapi, Dok. Hal seperti kemarin tidak akan terjadi lagi, kan?" Ada kecemasan dalam suara Maria.


"Untuk hal itu kami tidak bisa memastikan, karena kondisi ini biasanya spontan terjadi saat pasien menemui sesuatu hal yang membuat ia merasa trauma atau kecemasan berlebih. Lebih lanjutnya Anda bisa bertanya pada dokter pribadi Beliau, mungkin?"


Spontan Maria melemparkan pandangannya pada Gibran. Yang ditatap justru membuang muka berlagak bicara dengan Nick.


"Itu berarti, ini bukan yang pertama kali, ya?" Maria kembali menatap dokter.


Dokter itu mengangguk, "Bisa dipastikan begitu."


Gibran berdehem, "Sudah selesai, kan? Saya mau istirahat. Tolong keluarlah."


Pengusiran Gibran sangat tidak sopan, tapi para dokter itu tak bisa berbuat apa-apa karena Gibran merupakan pasien VVIP.


Maria meringis malu. Ia meminta maaf seraya mengucapkan terima kasih dengan tulus. Para dokter itu keluar diantar oleh Nick. Entah asisten Gibran itu hendak membicarakan apa dengan mereka, yang Maria lihat Nick mengajak dokter yang sekaligus direktur rumah sakit itu ke suatu tempat.


Maria menoleh lagi pada Gibran. Sang suami tengah memejamkan matanya dengan satu tangan bertumpu di kening.


"Kenapa aku tidak tahu hal ini?"


Hening. Gibran tak bersuara, tapi Maria tahu pasti ia tidak tidur.


"Dokter bilang ini bukan yang pertama kali."


Gibran masih setia bungkam.


"Seberapa sering Koko mengalaminya?"


Masih tidak ada jawaban. Tidak tahan dengan sikap Gibran, Maria menarik paksa lengan pria itu yang menutup kening. "Koko, jawab. Seberapa sering Koko mengalami sakit seperti ini?"


Akhirnya Gibran membuka matanya perlahan. Saat itulah pandangan mereka bertemu. Maria sedikit terlena saat pria itu meraih tangannya lalu membawanya untuk dikecup.


Sentuhan itu sangat halus. Sementara matanya tak lepas menatap Maria. Beberapa saat keduanya terdiam dan hanyut dalam keheningan.


Kemudian Gibran berkata, "Tidak sesering yang kamu pikirkan."


"Tapi ini bukan yang pertama atau kedua kalinya, kan?" Maria berbisik.


Gibran tak menjawab. Itu berarti tebakan Maria benar.


"Yang penting aku baik-baik saja, kan?" Gibran mengangkat alis.


"Aku lapar," lanjut Gibran sekaligus mengalihkan pembicaraan.


Maria langsung menengok ke atas nakas. "Ada sop, bubur, sama sayuran rebus. Koko mau?"


"Iya, sih. Ya sudah, aku suapin, ya?"


"Hem." Gibran mengangguk.


Maria mulai menyuapi Gibran setelah sebelumnya mengatur ketinggian ranjang. Sebetulnya pria itu bisa makan sendiri, tapi Maria bersikeras karena katanya hal tersebut bisa membuat Gibran bertambah lelah.


Diam-diam Gibran mendengus geli dengan pendapat Maria. Mana ada orang kelelahan hanya karena makan.


Selepas sarapan Maria membantu Gibran meminum obat yang sebelumnya diantar perawat. Kini pria itu sudah bisa istirahat kembali dengan tenang.


Gibran meraih pergelangan Maria yang sedari tadi terlihat sibuk melayaninya, sementara dia sendiri belum makan. "Kamu juga harus makan. Telpon Nick atau Laura. Suruh mereka pesan makanan buat kamu."


Maria menunduk lesu. Bagaimana ia bisa makan? Melihat wajah pucat Gibran saja ia sudah sulit menelan air.


Tahu apa yang Maria pikirkan, Gibran pun berdecak samar. "Setidaknya makanlah sesuatu."


"Handphone kamu mana?" Gibran menadahkan tangan.


"Buat apa?" Maria bertanya, namun ia tetap menyerahkan ponselnya pada Gibran.


Pria itu tak menjawab, hanya saja jemarinya sibuk mengetikkan sesuatu. Tak lama Gibran menyerahkan kembali ponselnya.


"Aku sudah minta Nick membawa makan. Supaya cepat."


Maksudnya jika ia meminta pada Laura pasti akan lama. Tahu sendiri tabiat pelayan satu itu bagaimana.


Maria memakan habis sarapan yang dibawakan Nick, itu pun atas perintah Gibran. Padahal Maria sendiri sangat malas karena lidahnya mendadak terasa hambar.


Sepanjang hari itu Maria bisa bernafas lega karena Gibran nampak baik-baik saja. Setidaknya sampai siang, sebelum Gibran mengatakan bahwa ia akan keluar untuk pertemuan penting.


Pria itu dengan tergesa memakai setelan formalnya seperti biasa. Tanpa memedulikan tatapan tajam yang Maria layangkan padanya.


Maria baru saja kembali dari luar saat mendapati Gibran berpakaian rapi.


"Koko mau ke mana?"


"Aku ada jadwal meeting hari ini. Kamu tunggu di sini, atau pulang ke hotel saja, ya?"


Maria terdiam.


"Koko mau meeting? Di saat seperti ini?" tanyanya tak percaya.


Gibran mendongak, "Kenapa?"


Mata Maria terpejam berusaha sabar. Ia mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuh.


"Koko sadar tidak, sih? Koko masih sakit! Bisa-bisanya mau meeting di saat kondisi masih belum pulih."


"Ini meeting penting."


"Terus kesehatan Koko tidak penting, begitu?" balas Maria sengit.


"Aku sudah baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa," cetus Gibran enteng, kemudian lanjut mengancing kemeja.


Maria menggertakkan gigi dengan nafas terengah. Ia melempar majalah dari meja kopi hingga melayang mengenai kepala Gibran.


Lelaki itu menoleh dan terdiam mendapati kemarahan Maria.


"Mudah sekali Koko bilang begitu."


"Tidakkah Koko tahu kekhawatiranku seperti apa?"


"Aku nyaris mati karena melihat Koko hampir sekarat semalam! Tidakkah Koko sadar dengan ketakutanku? Aku takut! Aku takut Koko kenapa-napa! Aku bahkan tidak minum semalaman! Aku bahkan tidak bisa menikmati sarapanku dengan baik! Tapi sekarang Koko malah bersikap seperti ini? Dengan mudahnya Koko mengabaikan perintah dokter dan lebih memilih menghadiri rapat penting."


Maria mengusap kasar matanya yang berair. Ia terseguk pelan dengan tubuh gemetar karena marah.


"Aku sangat takut saat Koko tidak kunjung bangun." Maria meneguk ludah.


"Aku bahkan tidak bisa tidur karena terus berpikiran buruk."


Gibran terpaku menatap Maria. Wanita itu nampak mulai kewalahan bicara karena sedu sedan yang dikeluarkan mulutnya.


"Saking takutnya aku bahkan tak bisa berheti mengecek denyut nadi Koko. Ak-Aku ... aku ... hiks ... aku takut kalau aku tidur Koko ... Koko sudah—"


Maria tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia berlari keluar meninggalkan Gibran yang termenung dengan pandangan kosong menatap lantai.


Pria itu terkejut dengan pernyataan Maria. Ia tidak menyangka Maria semenderita itu saat dirinya pingsan semalam.


Gibran menelan ludah. Ia sedikit meremas dadanya sebelum kemudian mengempaskan diri terduduk di sofa. Nafasnya terhela panjang saat bersandar di sana.


Gibran menutup mata. Dan saat itu pula bayangan wajah Maria yang dipenuhi air mata mendominasi pikirannya.