His Purpose

His Purpose
98. Bloody Gloom



Ketegangan menguar menyelimuti suasana. Liem setia menatap Rayan yang kini tampak mengurut keningnya yang berkerut. Sesuatu yang besar baru saja menimpa perusahaan. Mitra asing yang beberapa waktu lalu menjalin kerja sama dengan mereka ternyata adalah perusahaan ilegal yang tak terdaftar di negara manapun.


Mereka tertipu. Orang-orang asing itu begitu ahli memalsukan surat-surat juga identitas. Rayan Adibrata mengalami kerugian yang fantastis. Bisa dibilang perusahaannya sedang di ambang situasi dan hampir pailit. Setengah aset dari perusahaan kini ludes untuk menutupi keuangan yang melonggar. Bahkan sejumlah cabang ikut terdampak dalam keadaan gelisah.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan Wiranata?" Liem bertanya.


Tak ada jawaban dari Rayan. Liem tahu itu pilihan paling sulit bagi tuannya mengingat hubungan mereka dengan Wiranata tak sebaik yang terlihat. Terlebih Liem tahu Rayan sangat membenci putra sulung Wiranata yang sialnya kini berstatus sebagai menantu.


Gengsi. Mungkin itulah yang mendasari keengganan Rayan.


"Keluarlah. Biar kupikir dulu langkah ke depannya." Rayan menyahut lesu.


Liem pun mengangguk singkat lantas keluar meninggalkan Rayan.


Sepeninggal Liem, Rayan nampak menghembuskan nafanya berat. Ia memutar kursi menghadap jendela besar di belakang. Bukannya ia tidak sadar, kekacauan ini pasti ada hubungannya dengan Gibran.


Ia teringat pembicaraan saat terakhir mereka bertemu.


"Kau tahu harus mencari siapa jika ingin mencariku," ucap Gibran lengkap dengan seringai tajam. Jari panjangnya menyelipkan sebuah kartu nama pada saku jas yang dikenakan Liem, sekretaris pribadi Rayan.


Anak itu seolah tahu apa yang akan terjadi. Atau justru dia sendiri dalang dari kekacauan ini. Bisa saja dia ingin Rayan mencarinya dan mengemis meminta bantuan.


Setelah merebut Maria dengan paksa, apa lagi yang Bajingan Gila itu inginkan?


Sementara di tempat lain, Gibran nampak gesit menggerakkan tubuhnya menghadapi beberapa serangan yang menghadang. Gibran mencekik laki-laki di depannya, sementara kakinya memutar ke belakang, menendang pria lain yang hendak menyergapnya dengan pisau.


Pisau itu terjatuh berikut orangnya. Setelahnya dengan tanpa ragu Gibran mematahkan leher pria yang sejak tadi ia cengkram, lalu menembak si pemegang pisau yang hendak bangkit melakukan perlawanan.


Keduanya tewas menyusul kawan-kawannya yang sudah lebih dulu Gibran tumbangkan. Gibran melanjutkan langkah hingga ke ujung lorong, berdiri di tepian anak tangga yang mengarah ke bawah dengan mata mengawasi.


Tubuhnya kembali siaga ketika ujung matanya menangkap sebuah pergerakan dari samping. Benar saja, tiga pria tiba-tiba muncul dari tumpukan kotak kayu dan melepaskan tembakan ke arah Gibran.


Gibran berhasil menghindari tembakan itu dengan menggulingkan tubuhnya ke samping, bersembunyi di tembok lorong yang sebelumnya ia lewati.


Gibran mengintip dan dengan cepat menarik kembali kepalanya yang hampir saja tertembak. Ia menoleh ke belakang lalu bergerak mengangkat salah satu tubuh yang tergeletak di sana, menggunakannya sebagai pelindung saat keluar dari lorong.


Serangan peluru seketika menyerbunya dengan membabi buta. Tubuh yang ia gunakan sebagai tameng kini penuh dengan lumuran darah. Gibran menjatuhkan tubuh itu dan langsung menembaki ketiga pria tersebut yang sepertinya kehabisan amunisi.


Gibran mengambil satu senjata berjenis laras panjang itu beserta amunisinya. Ia menendang kepala pria yang baru saja ia tembak kemudian berjalan dengan santai menuruni tangga.


Gudang penyimpanan bawah tanah itu cukup luas hingga membuatnya memerlukan waktu cukup lama untuk sampai di tujuan. Suasana yang gelap pun mengharuskan Gibran meningkatkan intuisi.


Dor!


Gibran menembak satu orang yang sembunyi di balik dinding. Tubuhnya langsung tergeletak sebelum sempat menyerang Gibran.


Gibran melempar pistolnya yang sudah kosong, beralih mengisi peluru pada senjata yang tadi sempat diambilnya dari tangan musuh.


Gibran memepet tubuhnya di tembok, mengamati situasi persimpangan koridor sambil menajamkan mata dan telinga. Dirasa cukup aman Gibran pun keluar secara perlahan. Ia berbelok ke arah kiri tanpa sedikit pun menurunkan kewaspadaan.


Tangannya siaga mengangkat senjata, langkahnya berayun tanpa suara. Gibran berhasil melewati tiga belokan sampai akhirnya ia terguling karena seseorang tiba-tiba menyerangnya dari atas kepala.


Gibran berusaha melepaskan lingkaran lengan yang mencekiknya. Pergerakannya terkunci saat pria di belakangnya membelit tubuh Gibran dengan kakinya.


Keduanya berguling di atas lantai beradu kekuatan. Gibran mengarahkan tubuh mereka ke arah tumpukan kayu dan membenturkannya dengan keras hingga kayu-kayu itu berjatuhan.


Ia menyeka darah di kening yang sempat terkena benturan. Nafas Gibran terengah ketika meregangkan lehernya yang tadi dicekik kuat.


"Tidak berguna," desisnya tajam.


Gibran mengambil kembali senapannya yang terlempar, melanjutkan lagi langkahnya dan langsung menembaki segerombolan orang yang muncul dari arah depan.


Lagi-lagi langkahnya tertahan ketika kelompok lain datang dan langsung mengepung Gibran. Gibran berdecak. Ini sangat menyebalkan. Gibran paling tidak suka waktunya dibuang-buang.


Mereka semua menodong pistol ke arah Gibran. Gibran melirik sekelilingnya tajam. Diam-diam ia mengeluarkan cakram bintang dari belakang pundaknya saat berlagak menggaruk leher, lalu melemparnya hingga mengenai beberapa senjata yang mereka pegang.


Kesempatan itu Gibran manfaatkan untuk menendang tangan salah satu orang di samping kanannya guna menjatuhkan senjata, mendekapnya dari belakang hingga saat tembakan demi tembakan datang Gibran mampu menghindarinya.


Pria itu tewas di pelukan Gibran. Sementara Gibran melawan dengan menyerang balik orang-orang tersebut dan menumbangkannya tanpa sisa.


Sudut bibir Gibran terangkat sinis. Ia menyeka wajahnya yang terkena cipratan darah, lalu melempar tubuh pria yang ia jadikan sebagai tameng.


Tanpa membuang waktu Gibran berjalan ke arah lorong kecil di sudut ruangan. Auranya yang gelap melengkapi suasana kelam ruang bawah tanah itu. Dalam satu detik Gibran menembak dua penjaga yang berdiri di sisi kanan kiri sebuah pintu, lantas menendang pintu tersebut hingga terbuka dengan gebrakan keras.


Seorang pria menyeringai menyambut kedatangan Gibran. Rautnya terlihat pongah menyandarkan punggung di kursi, menggoyangkannya pelan ke kanan dan ke kiri sembari terus menatap Gibran.


"Masih setangkas dulu," ucapnya sarkas.


Gibran balas menatap dingin pria tersebut. Ia melempar emblem ke atas meja, membuat pria itu mengangkat alis dengan lagak melempar tanya.


"Pelayanmu sudah kuhabisi," balasnya memberi tahu.


"Ow ...?" Pria itu mengerjap. "Kau sudah membunuhnya?" Ia nampak tak terkejut.


Kemudian tawa keras menggema di sepenjuru ruangan. Pria itu mengusap sudut matanya yang berair sambil terus menggaungkan tawa.


"Jika begini kau semakin menunjukkan darah Willis lebih kental dalam tubuhmu. Hahaha ..."


"Akuilah kau memang bagian dari kami," lanjut pria itu menyeringai.


Gibran berkedip datar cenderung malas. "Bukankah bagus jika aku pergi? Kau bisa bebas menguasai bisnis gelap si Tua Bangka tanpa harus merasa tersaingi olehku. Itu yang kau nantikan, bukan?"


Raut pria itu berubah datar. Tatapannya menajam dengan bibir mengatup lurus. Sementara Gibran menyeringai karena ucapannya tepat sasaran.


"Akuilah kau memang tak lebih hebat dariku."


"Kau hanya anak pungut yang diperbudak Willis untuk jadi mesin pembunuh."


Gibran mendekat ke tepi meja, membungkuk dengan menumpukan kedua tangannya di sana sambil terus menyeringai disertai tatapan tajam. "Jangan mengusikku jika tak ingin aku meledakkan markas sialanmu ini."


"Kali ini aku berbaik hati membiarkanmu. Tapi lain kali, aku bersumpah akan meleburnya bersama tubuhmu yang tak berguna ini."


Gibran kembali menagakkan tubuh, meraih senapan sebelum berbalik keluar meninggalkan ruangan. Ia menembak beberapa anak buah pria itu yang muncul di sekitar lorong.


Gibran menyentuh handsfree di telinganya. Seketika suara Gabriel terdengar, "Kenapa membiarkan dan meninggalkannya seperti itu? Kenapa tidak langsung habisi saja supaya tidak merepotkan?"


Sudut bibir Gibran berkedut, "Sepertinya dia masih berguna di masa depan."