
Terhitung baru beberapa jam Gibran pergi, tapi Maria sudah mulai uring-uringan. Tidak ada yang mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Jika setiap hari Gibran selalu mengusap perutnya sebelum tidur, lalu sekarang siapa yang akan melakukannya? Bisakah Maria tidur nyenyak tanpa adanya Gibran?
Ah, hormon sialan. Merepotkan sekali. Dulu ia tidak seperti ini. Tapi sejak hamil semuanya berhubungan dengan Gibran.
Maria melirik ke samping mengambil kemeja Gibran dan menghirupnya dalam-dalam. Tadi ia memaksa lelaki itu melepas pakaian dan meninggalkannya untuk Maria. Meski awalnya heran Gibran tetap menuruti apa yang dimau, dia bahkan memberikan parfumnya pada Maria karena tahu Maria selalu membutuhkan itu setiap dia pergi.
Ada satu lagi yang menjadi masalah bagi Maria, yaitu Laura. Kenapa Gibran tak membawa Laura bersama mereka. Meski gadis itu menyebalkan setidaknya Maria ada teman untuk mengobrol.
Pelayan di sini membosankan semua, mungkin karena mereka masih takut dan dendam padanya, sebab terakhir kali Maria memang seorang majikan yang galak. Berdoa saja tidak ada yang nekat meracuninya untuk balas dendam.
"Baby ... Kalau satu jam lagi Daddy kamu tidak menghubungi, Mommy akan susul dia ke Singapura. Astaga ... Jakarta Singapura itu hanya sebentar. Harusnya ayah kamu sudah sampai dari setengah jam lalu. Kenapa dia belum menelpon juga?"
"Ngomong-ngomong, kamu lebih suka panggilan Mommy dan Daddy, Mama Papa, Ayah Ibu atau Bunda?"
Saking bosan Maria jadi seperti orang gila berbicara sendiri. Ia pikir pulang ke rumah ayahnya akan menyenangkan, tapi setelah tahu ia harus terpisah dari Gibran rasa senang itu sedikit berkurang.
Dulu saat pertama tinggal di mansion Gibran, Maria selalu ingin pulang. Sekarang sudah pulang Maria malah ingat kediaman antah berantah itu. Terutama Martha dan Laura. Mereka sedang apa ya sekarang?
Menyebalkan. Ini sangat memalukan. Maria tak ubahnya seperti manusia kesepian yang tak memiliki teman.
"Papa ke mana?" Maria bertanya saat ia turun ke lantai bawah.
Salah satu pelayan menjawab, "Beliau baru saja pergi karena panggilan mendesak dari kantor, Nona."
"Oh, begitu ..." Meski kecewa Maria tetap melempar senyum terima kasih pada si pelayan.
Sesuai dugaan, pelayan itu cukup terlonjak dengan sikapnya. Maria tak mau ambil pusing, ia memutuskan berjalan-jalan membuka pintu beranda belakang yang menampilkan taman dan kolam.
Jangan harap ada udara sejuk dan dingin seperti di rumah Gibran. Ini Jakarta, bukan hutan atau pun pegunungan.
Maria rasa selera Gibran mulai menular satu persatu padanya. Entah kenapa meskipun asing istana sang suami seolah merebut posisi ternyaman dalam hidup Maria.
Ah, Gibran belum juga menelpon. Maria sampai bawa-bawa ponsel saking berharapnya pria itu menghubungi.
Awas saja kalau nanti suaminya itu minta phonsex, jangan harap Maria kasih. Tapi ... yakin tidak dikasih? Sementara ia sendiri merasakan tubuh bawahnya berdenyut sekarang.
Lagi-lagi karena hormon. Iya, hormon, apalagi? Sebelumnya Maria tak pernah segila ini. Sudah ia bilang sejak hamil semuanya seolah berubah. Maria sering kewalahan menghadapi nafsunya sendiri.
"Nona, ada tamu."
"Siapa?" Maria berbalik menatap pelayan yang baru saja memberinya laporan.
"Nona Celine."
Kontan kening Maria berkerut dalam. Mau apa lagi wanita itu? Setelah sebelumnya menghasut Maria untuk kabur ke Jakarta, bukankah kemunculannya sekarang cukup mengejutkan?
"Dia menunggu di mana?"
"Ruang tamu, Nona."
"Ah, baik. Terima kasih. Nanti saya ke sana."
"Baik, Nona." Pelayan itu pergi melanjutkan kembali pekerjaannya.
Sementara Maria, ia berdiri diam beberapa saat sebelum kemudian memasuki rumah untuk menemui Celine.
***
Maria bersidekap angkuh menatap perempuan di hadapannya. Celine membalasnya dengan kedutan alis seolah mengejek Maria.
"Apa urusannya denganmu aku pulang atau tidak?" tantang Maria. "Kurasa kita tidak cukup dekat untuk saling mencampuri urusan."
"Dan ngomong-ngomong, kamu menguntitku? Aneh rasanya jika kebetulan tiba-tiba muncul." Mata Maria menyipit menatap Celine.
"Jujur saja, ada urusan apa kamu denganku? Apa yang kamu perlukan dariku?"
"Kita sudah lama tidak bersinggungan. Tidak ada alasan untuk bersitegang. Apa yang kamu mau?" tanya Maria beruntun.
Celine tak kunjung menjawab. Ia justru mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah amplop cokelat terulur di hadapan Maria.
Maria tak lantas menerima. Keningnya mengernyit bertanya-tanya. "Apa?"
Sekali lagi Celine menunjuk benda di tangannya tanpa suara. Mau tak mau Maria terima walau enggan. Meski bagaimana pun ia tetap penasaran.
Jarinya mulai membuka simpul tali dari amplop tersebut, lalu merogoh isinya yang ternyata sebuah kertas berupa foto yang sudah dicetak.
"Apa-apaan ini?" Karutan Maria semakin dalam melihat apa yang baru saja Celine berikan.
Apa maksud wanita itu memberikan ini?
Maria mendongak melempar tatapan tajam nan menuntut, yang dibalas Celine dengan senyum santai menyebalkan.
"Kamu ingin tahu masa lalu suamimu, kan?" Celine menyeringai. "Kamu bisa mendapatkannya dariku, kalau mau."
"Memangnya kamu pikir kamu siapa?" desis Maria tak senang.
Tanpa sadar tangannya meremas amplop di pangkuan. Melihat emosi di wajah Maria, Celine justru merasa menang.
Ia bangkit mengusap lipatan rok di pinggul, bersiap untuk pergi saat matanya kembali menatap Maria. "Pikirkan saja, kenapa pria sedingin dan sekejam itu bisa sangat mencintaimu?"
"Ah, aku salah. Mungkin dia hanya sedang berusaha menebus sesuatu?" Celine mengangkat bahu. "Siapa yang tahu?"
"Asal kamu tahu, Maria. Dia masih jauh dari seperti yang kamu pikir."
"Mungkin sekarang dia melimpahimu dengan kasih sayang, tapi siapa yang tahu setelah anak itu lahir kamu akan dibuang."
Tidak. Tidak mungkin. Gibran bukan orang yang seperti itu. Dia memperlakukanku dengan baik.
Maria menelan ludah tak yakin. Ia menunduk mengusap perutnya yang terlihat menonjol. "Daddy sayang kita, kok," bisiknya pelan.
Celine baru saja pergi meninggalkan rumah. Meski tak ingin, perkataan wanita itu telah berhasil membuat Maria tak karuan. Terlebih foto yang diberikan Celine padanya.
Maria membalik foto yang sejak tadi ia genggam. Jarinya meremat keras pinggiran kertas tersebut hingga kusut.
Dari mana Celine mendapatkan potret lama Gibran?
Maria tahu itu foto lama karena kualitas gambarnya yang sedikit antik. Apalagi wajah Gibran di sana terlihat jauh lebih muda, mungkin sekitar usia remaja.
Celine bisa memiliki barang selangka ini. Maria yang merupakan istri Gibran saja tidak pernah sekalipun melihat foto lelaki itu jika bukan dari majalah.
Apa benar Celine mengetahui masa lalu Gibran? Siapa Celine sebenarnya? Ada hubungan apa wanita itu dengan Gibran di masa lalu? Apa sebelumnya mereka pernah saling kenal?
Maria merengut cemas. Dadanya mulai diliputi rasa panas yang tak mampu dijelaskan. Yang pasti, mendadak Maria merasa sangat kecil sebagai seorang istri.
Perhatian Gibran berhasil membuainya hingga ia lupa kalau pria itu bagai sesuatu yang bersembunyi di balik tembok.
Yang mana kamu sebenarnya? Kapan aku bisa benar-benar mengerti dan memahamimu, Koko? Kapan kamu akan membuka semua rahasia yang kau simpan?