
Gibran tersenyum melihat wanita di sampingnya. Wajah Maria yang terlelap tampak begitu polos dan murni. Siapa yang tahu wanita dengan wajah selembut itu ternyata pernah mencambuki pelayan.
Gibran terkekeh, ia selalu ingin tertawa setiap kali mengingat ekspresi cemburu Maria.
"Jangan pernah berubah. Aku menyukai kamu yang manja," bisik Gibran seraya mengusap rambut Maria. Wajahnya mendekat mencium kening wanita itu.
Mengeratkan pelukan, Gibran pun terlelap ikut menyusul ke alam mimpi.
Pagi harinya dapur kembali dibuat heboh. Para pelayan dan koki berkumpul di ambang pintu. Saling berbisik dan berlomba melongok ke dalam dengan raut penasaran.
Maria yang baru saja memasuki ruang makan bersama Laura dibuat keheranan. Ia mengernyit melihat koridor menuju dapur begitu penuh dan sesak.
"Ada apa ini?"
Suara Maria berhasil membuat semuanya terperanjat. Mereka gelagapan saling bergeser memberi ruang untuk Maria. Seketika Maria mengerti apa yang membuat tempat itu begitu ramai.
Di dalam sana, Gibran sudah seperti selebriti chef yang digandrungi banyak penggemar.
Maria menoleh ke belakang, melirik satu persatu pelayan yang diam-diam mencuri pandang ke arah dapur.
Aih, menyebalkan.
"Kamu sudah bangun?"
Suara Gibran mengalun menarik atensi Maria. Pria itu tak malu-malu melempar senyum yang sontak membuat para pelayan di sana menahan nafas. Mereka seolah lupa wajah malaikat di hadapannya adalah pria yang membunuh rekan mereka dengan brutal.
Mungkin Gibran merupakan wujud lain dari malaikat maut.
"Hm," sahut Maria malas.
Ia berbalik dan lebih memilih duduk di ruang makan. Di sana sudah ada potongan buah yang entah kapan disiapkan. Seingat Maria saat ia kemari mangkuk itu belum ada. Mungkin Martha atau salah satu koki yang membuatnya. Mereka menganggur karena Gibran mengambil alih pekerjaan.
Tak lama Gibran datang membawa berbagai menu dibantu pelayan. Maria memperhatikan itu dalam diam. Kini meja tampak penuh oleh hidangan yang dimasak Gibran.
"Untuk apa makanan sebanyak ini? Koko tahu aku tidak bisa makan."
Gibran menjawab sambil menaruh satu persatu piring ke atas meja. "Aku pastikan kamu memakan semuanya sampai habis."
Maria melirik suaminya sebentar, kemudian ia menghela nafas tanpa berkata apa pun lagi. Terserah. Siapa yang bisa melawan kehendak Gibran di rumah ini.
"Makanlah." Gibran duduk di samping Maria. Pria itu lagi-lagi melempar senyum. Kalau begini terus bisa-bisa seisi mansion mimisan masal karena ulahnya.
Maria mulai mencomot salah satu menu. Mulanya ia hanya ingin menghargai Gibran tanpa sedikit pun berharap bisa menelannya. Karena akhir-akhir ini pencernaannya sangat sensitif menolak semua makanan.
Akan tetapi Maria sukses dibuat terdiam. Ia baru saja menelan dua udang goreng tepung tanpa hambatan apa pun. Maria mengernyit, ia juga baru sadar tidak merasa mual saat mencium baunya.
Maria mencoba yang lain berupa olahan daging sapi. Dan hasilnya tetap sama, masakan Gibran dapat ia telan dengan baik.
Melihat itu Gibran pun tersenyum. "Coba ini. Ikan sangat bagus untuk ibu hamil."
Ia menyodorkan satu piring besar berisi ikan entah jenis apa yang terlihat begitu lezat. Maria meneguk ludah. Aneh sekali, kenapa mendadak nafsu makannya meningkat pesat.
Meski awalnya malu, pada akhirnya Maria melahap ikan tersebut sampai habis, hanya menyisakan duri dan kepala. Ia bahkan menandaskan menu lain setelahnya.
Sekitar lima piring makanan sudah masuk ke perut Maria. Dan Maria masih menginginkan yang lain kendati lambungnya sudah terasa penuh. Mulutnya tak bisa berhenti mengunyah, seolah balas dendam karena akhir-akhir ini Maria jarang makan.
Maria bahkan tidak sadar ia sudah mengosongkan hampir semua piring di meja. Jatah Gibran pun ia ambil dan habiskan. Apa pun yang hendak Gibran makan Maria pasti langsung merebutnya.
Meski begitu Gibran tidak marah. Pria itu justru terlihat menikmati pemandangan istrinya yang makan dengan lahap.
Tak lama kemudian Maria bersandar mengusap perutnya kekenyangan. Ia bahkan tidak sadar sampai belepotan. Hal tersebut berhasil mengundang tawa Gibran yang langsung menyeka pinggiran bibir Maria menggunakan kain halus.
"Gimana? Enak, kan? Aku sudah bilang kamu pasti akan menghabiskan semuanya."
"Tidak semua. Masih ada 2 piring lagi," ketus Maria yang sebenarnya tengah berusaha menyembunyikan malu.
Maria merengut kesal. Ia menoleh ke mana saja asal tidak ditatap Gibran. Pria sialan itu benar-benar ahli membuat lawannya salah tingkah.
Tanpa mereka sadari Martha menatap keduanya dengan raut haru sekaligus geli. Ia terharu karena akhirnya Maria bisa makan. Tapi Martha juga geli karena ternyata Maria hanya bisa memakan masakan Gibran.
"Ah, terbayar sudah rasa lapar si kecil dalam seminggu ini," kata Laura yang berdiri di samping Martha.
Memang Gibran hanya meminta mereka berdua yang menemani di ruang makan. Gibran tak suka terlalu banyak orang.
Martha mengangguk, "Benar. Dan sepertinya memang hanya Tuan yang bisa mengatasi kerewelan Nyonya."
"Padahal waktu itu Nyonya sangat membenci Tuan," gumam Laura menambahkan.
Martha tersenyum, ia menoleh menatap Laura. "Itulah kekuatan seorang anak. Sekeras apa pun orang tuanya berusaha menghindar, mereka akan tetap kembali ke satu titik yang sama. Meski sudah berpisah sekalipun, anak selalu menjadi penghubung untuk keduanya bertemu."
***
"Itu ... mereka siapa?"
Laura menoleh mengikuti arah pandang Maria. "Oh ... mereka tim arsitek yang Tuan pesan. Tuan Nick baru bisa memenuhinya sekarang."
Maria mengernyit, "Arsitek? Untuk apa?"
Laura meringis. Sepertinya Maria lupa akan kesalahan sendiri.
"Itu ... lapang golf yang Nyonya tanami ... kabarnya mau dibuat taman."
Maria mengerjap, "Taman? Bukankah di sini sudah banyak taman?"
Jika tidak ingat kesopanan, Laura sudah memukul Maria sejak tadi. Wanita itu memasang ekspresi seakan tak memiliki dosa.
Di sisi lain Gibran juga sepertinya tak berdaya jika harus merusak dan mencabut kembali pohon-pohon yang ditanam Maria.
Laura jadi teringat kata-kata pria itu yang tak sengaja ia dengar.
"Aku tidak mungkin menghancurkan pinus ini. Ini mahakarya yang berasal dari keinginan anakku di perut Maria. Akan lebih baik jika diperindah saja," ucap Gibran saat itu.
Laura ingat betul bagaimana ekspresi Nick yang menurutnya sangat konyol. Campuran ingin tertawa namun berusaha keras mempertahankan wibawa.
"Selamat siang. Anda pasti Nyonya Wiranata?" Seorang pria muda tiba-tiba berdiri di hadapan mereka.
Sesaat Maria maupun Laura saling melempar tatap.
"Iya, betul. Anda ..."
"Perkenalkan, saya Ardito. Saya bersama tim mewakili perusahaan atas—"
"Sugar, kamu di sini?"
Maria menoleh ke belakang. Nick dan Gibran tengah berjalan ke arah mereka. Namun mata Gibran nampak menghunus lurus ke belakang Maria.
Secara impulsif Gibran melingkarkan lengannya di pinggang Maria, mendekapnya erat seolah menunjukkan kepemilikan.
"Maaf, Anda dan tim pasti sudah menunggu lama," ucap Gibran, datar sekaligus dingin.
"Ah, iya. Bukan masalah, Pak. Tadi kami sempat berkeliling melihat tempatnya," jawab Ardito ramah.
"Kalau begitu, mari kita ke sana?" tambahnya lagi.
Diam-diam Gibran mengirim pelototan pada Nick. Ini pertama kalinya ia tidak puas dengan kinerja asisten pribadinya itu.
Dari sekian banyak arsitek, kenapa harus mereka yang masih muda?