His Purpose

His Purpose
133. Whiny Teary



Gibran menghampiri Nick yang menunggunya di parkiran rumah sakit. Nick yang mendapati kedatangan Gibran lantas berdiri tegap menunduk segan. "Tuan."


"Kamu bilang pria itu tewas?"


Pria yang Gibran maksud adalah Eden. Beberapa menit lalu Nick mengirim pesan, memberitahunya mengenai berita tersebut.


Nick mengangguk. "Empat pegawai rumah sakit itu juga."


Dua hari lalu Gibran memang memutuskan untuk melepas kelima bajingan itu. Pikirnya ia sudah cukup membalas dengan memotong tangan mereka. Siapa yang tahu setelahnya mereka akan meregang nyawa.


Sudah jelas ini perbuatan Willis. Bisa dibilang Eden orang ketiga yang kerap Sandra andalkan setelah Harley.


Gibran membuang nafas enggan membahas lebih. Ia meminta map di tangan Nick yang segera pria itu ulurkan.


"Ke depannya kamu pantau dulu pembangunan mansion di Swiss. Aku belum memberitahu Maria soal ini. Pastikan proyek ini tidak bocor pada siapa pun."


Nick mengangguk patuh. "Apa ini rumah yang Tuan bangun untuk kejutan Nyonya?"


Gibran tak menjawab, namun anggukan kecil sudah cukup membuat Nick mengerti.


"Kamu handle rapat hari ini. Aku tidak bisa meninggalkan istriku sekarang. Keadaannya belum memungkinkan untuk ditinggal lama." Gibran melirik jam tangan di pergelangannya. Rupanya sudah lima belas menit ia pergi.


"Pergilah. Maria pasti mencariku."


"Ah, satu lagi. Minta Derick jemput Laura kemari. Maria terus menanyakan gadis itu."


Sekali lagi Nick mengangguk. "Baik, Tuan."


Nick lekas memasuki mobil setelah Gibran menghilang ditelan pintu lobi. Ia segera menghubungi Derick, pilot pribadi Gibran untuk mengutarakan titah tuannya menjemput Laura.


***


"Lama!" rengut Maria begitu Gibran masuk.


Gibran mengulas senyum menghampiri wanita itu. "Sudah habis?" tanyanya sembari mengelus pucuk kepala Maria. Matanya melirik piring kosong di meja.


"Dari tadi."


Melihat raut keruh istrinya, bisa dipastikan wanita itu tengah menahan kesal. Gibran mengecup kilat bibir Maria sebelum kemudian membereskan piring dan gelas susu yang kosong. Ia juga menggeser meja overbed itu dan mengembalikannya ke tempat semula.


Gibran kembali ke hadapan Maria, menduduki kursi di samping ranjang sambil mengamati wanita itu dengan lekat. Ia meraih tangan kiri Maria yang sudah lepas dari infus dan menggenggamnya halus. "Kenapa? Kamu kesal karena aku lama?"


"Maaf, ya. Aku tidak tahu ternyata lima belas menit itu lama buat kamu."


Maria manyun. "Koko habis ketemu siapa?"


"Kan tadi sudah bilang, aku bertemu Nick."


"Kenapa harus sampai ke bawah? Biasanya juga Nick yang cari Koko."


"Kamu mencurigaiku?" tanya Gibran geli.


"Plum."


Diam. Maria enggan menoleh dan lebih memilih menatap jendela.


"Sayang."


Masih hening. Gibran pun menghela nafas dan membuangnya panjang. Dokter tidak pernah bilang hormon ibu hamil akan sebegini repotnya.


"Love ..."


"Lihatnya ke sini dong, Cinta."


Akhirnya Gibran beranjak dari kursi dan duduk di semping Maria. Jarinya menarik dagu wanita itu hingga kini mereka bertatapan. Gibran mengulas senyum kecil melihat rengutan di wajah Maria.


"Jangan cemberut terus, nanti cepat tua."


Maria menghela nafas menarik tangan Gibran yang mengusap pangkal hidungnya. "Koko jangan pergi-pergi terus. Aku takut." Akhirnya Maria mengutarakan isi hatinya yang mengganjal.


Sesaat netra Gibran terlihat meredup. Kemudian ia tersenyum mengecup pipi Maria sekilas. "Aku sudah buat penjagaan ketat di depan dan lobi. Kamu tenang saja, di sini aman, tidak akan terjadi apa-apa. Jika pun iya, aku sudah siapkan jalan darurat khusus untuk kita. Aku tahu kamu masih trauma dengan kebakaran kemarin, kan?" Gibran menyatukan rambut Maria ke belakang.


Maria tak menjawab, namun diamnya mengartikan iya. Maria memang masih takut. Tidak ada yang tahu kapan musibah datang. Contohnya kemarin, siapa yang akan mengira rumah sakit itu terbakar.


"Kenapa kita harus tinggal di lantai setinggi ini?" keluh Maria. "Kalau ada kebakaran lagi kita akan sulit lari."


"Sudah kubilang aku sudah persiapkan semuanya. Jangan dipikirkan lagi, lebih baik kamu istirahat. Tenangkan pikiranmu. Ingat anak kita, kamu tidak boleh stress."


Gibran mengusap pelan perut Maria. Keduanya menunduk, dan sorotnya sama-sama berubah hangat. "Aku tidak sabar ingin melihatnya."


Maria tersenyum. Ia ikut mengusap perutnya bersama Gibran. Jari mereka bertautan di sana.


"Kenapa aku tidak asing dengan perasaan ini?" ucap Maria tiba-tiba.


Gibran mendongak. Maria menatap Gibran dengan dalam. "Seolah ini bukan pertama kalinya aku merasakan momen ini. Entahlah, kenapa tiba-tiba aku merasa familiar."


Jantung Gibran seakan mencelos. Ia menatap lekat Maria yang kini kembali menunduk melihat calon anak mereka. Tatapan rumit itu tidak disadari Maria. Gibran menelan ludah saat rasa sesak mendadak muncul memukulnya seperti godam.


Kita belum merasakan momen ini. Tidak, mungkin hanya aku. Karena kamu yang pertama kali menyadari kehadirannya.


"Koko kenapa? Kok matanya berair? Atau aku salah lihat?" tanya Maria yang langsung membuat Gibran mengerjap.


Sialnya tidakan itu malah membuat air matanya jatuh. Tidak banyak, hanya setetes. Tapi tentu itu adalah hal langka karena selama yang Maria tahu Gibran tak pernah sekali pun menangis.


Buru-buru Gibran menyeka sudut matanya menggunakan ibu jari. Tiba-tiba ia tertawa. "Sepertinya aku tertular sifat sensitifmu."


Maria diam, ia masih ragu dengan alasan itu. Apalagi tadi Maria sempat melihat ada kesedihan mendalam di matanya.


Gibran kenapa? Apa benar dia tertular sifat cengeng Maria?