
Gibran menghentikan aktifitasnya di atas meja. Tangannya refleks menangkap kunci mobil yang Maria lempar mengenai dadanya. Hari ini ia memang bekerja dari rumah, sehingga bukan hal mustahil Maria menemukannya di ruang kerja.
Ia mendongak, hal pertama yang ditemukannya adalah raut kesal Maria. Mata wanita itu menyipit tajam ke arahnya. Bibirnya melengkung ke bawah siap meluapkan kemarahan.
"Apa Koko bercanda? Koko mempermainkanku, ya?"
"Apa-apaan pasar buah itu? Koko menyuruhku belanja buah dan sayur, begitu?"
Gibran menyandarkan punggungnya dan melipat tangan, bersidekap membalas tatapan Maria dengan tenang. "Bukankah kau ingin keluar? Aku sudah mengizinkanmu."
Maria menghentak kesal, "Bukan seperti itu juga ..." jeritnya gemas.
"Apa yang bisa kulakukan di tempat seperti itu? Koko pasti mengerti kemaunku, kan?"
Gibran mengangguk, "Tentu," jawabnya singkat.
"Lalu kenapa ..."
"Aku hanya menjawab rasa penasaranmu mengenai daerah ini. Dan sekarang kamu sudah tahu, wilayah ini tidak mudah, sangat jauh dari ekspektasimu sebelumnya."
"Tapi Koko hanya mengizinkanku menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer. Bahkan katanya itu masih jauh dari kota! Sebenarnya di mana kita tinggal sekarang? Seumur-umur aku belum pernah tahu ada desa seterpencil ini. Anehnya, kenapa rumah Koko bahkan lebih besar dari istana negara?"
Jalanan memang bagus dan beraspal. Tapi, entah kenapa daerahnya sangat sepi. Itu yang membuat Maria bingung. Pantas saja Gibran lebih sering menggunakan jalur udara ketimbang darat kemana pun ia pergi. Maria mengerti sekarang. Sepanjang jalan yang ia lihat tadi hanya ada hutan dan perbukitan, tidak nampak bangunan tinggi seperti halnya gedung perusahaan.
Lalu, di mana Gibran bekerja selama ini? Berapa lama yang pria itu habiskan untuk mencapai ke sana?
"Kamu akan tahu nanti, tapi bukan sekarang. Saat ini aku hanya bisa mengizinkanmu sejauh itu."
Maria merengut dan menatap Gibran benci, "Koko jahat!"
"Kenapa tidak ada satu pun hal baik yang aku dapatkan darimu? Kau ingin aku memilikimu. Tapi sikapmu sendiri sangat menyebalkan."
Ia pun berbalik dan keluar dengan membanting pintu. Tak peduli nanti Gibran akan marah seandainya benda kayu itu rusak.
"Makan saja mobil itu. Toh, tak ada guna aku memilikinya." Maria berjalan dengan langkah lebar-lebar. Wanita itu terus saja menggerutu dan memaki Gibran. Ia bahkan menangis saking kesalnya dengan sikap Gibran yang menurutnya semena-mena dan suka mengatur.
Laura menghampirinya saat baru keluar dari lift, "Nyonya, buahnya sudah habis saya bagikan."
"Baguslah," sahut Maria sambil lalu.
"Nyonya mau ke mana?"
"Ke mana saja. Tolong jangan ikuti aku."
Mulanya Laura nampak ragu. Tapi, melihat raut Maria yang kusut ia pun hanya bisa menurut dan membujuk Jill juga Dean untuk tetap diam di tempat.
***
"Tuan, apa yang akan Anda lakukan setelah ini?"
"Ah ... telpon Abhimanyu. Katakan padanya untuk tidak memberi tahu mantan istrinya mengenai keberadaan Gibran. Wanita itu terlalu memonopoli putranya. Sudah saatnya cucuku itu bebas."
"Selama ini aku begitu sulit untuk sekedar bertemu cucu sendiri. Selain Gabriel, aku bahkan tidak tahu perkembangan cucu pertamaku secara nyata."
"Sekarang, tidak akan kubiarkan wanita itu menyentuh dan mengganggu Gibran lagi. Anak itu berhak hidup dengan pilihannya sendiri."
Pemuda yang berdiri di samping sofa itu mengangguk. "Saya mengerti." Kemudian ia tampak ragu sejenak, "Bukankah siang tadi ... Anda bertemu istri Tuan Muda? Menurut Anda ... Beliau bagaimana?"
Kakek itu mendengus, "Sikapnya memang agak menyebalkan. Dan sepertinya dia juga sedikit bodoh," ucapnya tak acuh.
Pemuda tersebut tak bersuara lagi, ia memutuskan menelpon Abhimanyu Wiranata sesuai perintah sang atasan.
Sementara di tempat lain, Maria tengah merengut berjalan menghentak-hentak tak tentu arah. Terkadang dia akan berputar ke bagian barat mansion, lalu kembali dan lanjut berputar ke timur. Semua itu ia lakukan guna melampiaskan kemarahannya.
Satu kebiasaan Maria yang tidak orang lain tahu, wanita itu akan melakukan pergerakan yang over saat kesal, jengkel, dan amarah menguasai hatinya.
Entah sudah berapa kali Maria bolak-balik mengelilingi mansion. Keringat yang kerap membuatnya tak betah bahkan kali ini tak ia hiraukan.
Tak jarang pelayan dan para penjaga yang berpapasan dengannya menatap Maria aneh. Namun tentu mereka tak berani menegur. Peringatan dari Gibran untuk tidak mengganggu apa pun yang dilakukan istrinya cukup menjadi alasan mereka untuk diam.
Akan tetapi, sikap diam juga bisa menimbulkan kerugian. Terbukti saat tiba-tiba Maria hilang dari radar pengawasan dan memicu kegaduhan seluruh penghuni mansion. Terlebih saat kabar itu sampai ke telinga Gibran, tak ada satu pun dari mereka yang luput dari makian.
"Apa yang kalian lakukan sejak tadi?! Kenapa mengawasi satu orang saja tidak ada yang becus!" teriak Gibran pada seluruh penjaga juga pelayan yang berkumpul di lobi depan.
Mereka menunduk ketakutan, terutama Laura, Jill, dan Dean yang merasa memiliki andil paling besar dalam menjaga Maria.
"Cari dia sekarang juga! Kuberi kalian waktu satu jam untuk menemukannya." Gibran berlalu masuk diikuti oleh Nick.
Namun pria itu menyuruh Nick untuk segera mengecek ruang CCTV dan memeriksa setiap sudut mansion. Sementara ia ikut mencari ke tempat-tempat yang jarang dan memang terlarang bagi orang selain dirinya.
***
Maria berkedip mengedarkan matanya menatap sekitar. Bibirnya mencebik penasaran dengan wilayah yang baru saja ia masuki. Tanpa diketahui siapa pun Maria menemukan pintu gerbang kecil yang ia duga merupakan jalan alternatif untuk keluar mansion.
Maria dengan rasa penasarannya yang tinggi. Ia tidak akan tahan jika pertanyaan dalam hatinya belum terjawab. Seperti sekarang, Maria sangat ingin tahu ke mana jalan setapak yang dipijaknya itu akan mengarah.
Pepohonan rimbun mendominasi wilayah tersebut. Sepertinya mansion Gibran memang berada di tengah hutan. Sepanjang yang ia lihat sekeliling rumah pria itu hanya pohon-pohon kayu besar yang menyeramkan. Dan bodohnya Maria nekat menyusuri hutan itu sendirian.
Maria memeluk tubuhnya saat angin dingin berhembus menusuk kulit. Ia lupa tidak pakai mantel tadi. Tahu begini Maria tidak akan melepas baju hangat itu seperti anjuran Laura.
Lama ia berjalan mengikuti jalanan kecil itu. Hingga sesuatu di balik rimbunnya pohon menarik perhatian Maria sepenuhnya.
Maria berjalan mendekat. Takut-takut tangannya menyibak semak dengan perasaan was-was, khawatir ada ular atau binatang membahayakan yang sembunyi di sana.
Tapi syukurlah tidak ada apa pun dalam daun rimbun itu. Yang ada justru sebuah danau yang sangat jernih dan tampak kebiruan hingga memesona mata.
Maria membuka mulutnya tak percaya. "Waah ... apa aku sedang berada di Swiss sekarang?"