His Purpose

His Purpose
179. Heroine : Goodness in the Dark



Gibran menuntun Maria yang tak henti mengedarkan pandangan. Di pelukannya, sang putri terlelap dengan damai. Gibran menahan punggung Maria dari belakang ketika menaiki satu persatu anak tangga.


Dua bulan berlalu setelah insiden penculikan itu terjadi, Gibran baru bisa mengajak Maria dan putrinya keluar lantaran kondisi keduanya belum memungkinkan diajak keluar.


"Ini ... kita mau ke mana?" tanya Maria seraya mendongak menatap Gibran.


Gibran hanya merespon dengan senyum. "Perhatikan saja langkahmu, awas jatuh. Untuk pertanyaan barusan nanti kamu juga tahu."


Tak lama mereka sampai di sebuah bangunan megah yang nampak berkilau diterpa sinar matahari pagi. Kemilaunya memikat mata bahkan dari jarak cukup jauh sekalipun.


"Ini istana siapa?" tanya Maria polos.


Gibran terkekeh, namun kekehan tersebut memelan seiring kakinya mengayun menggiring Maria masuk.


"Alas kakinya buka, Sayang."


"Oh?" Maria segera melepas flatshoes-nya dan berjalan masuk mengikuti Gibran.


Sepanjang koridor Maria tak henti dibuat kagum oleh interior dan desain bangunan yang menurutnya lebih mirip istana Ratu Es yang terdampar di padang sauna. Begitu mencolok mata dan menarik perhatian akan perbedaannya.


Tapi, karena tempatnya jauh dari hiruk-pikuk manusia, tempat ini begitu damai dan tentram.


"Ini berlian asli, ya?" Karena penasaran, akhirnya Maria memberanikan diri menyentuh salah satu tiang yang dilewatinya. Sejak tadi pilar-pilar di sana yang paling menarik perhatian Maria.


Gibran hanya mengulas senyum halus. Tanpa dijawab pun Maria bisa membedakan sendiri mana berlian asli dan palsu. Sang istri langganan membeli perhiasan.


"Asli," gumam Maria tercengang. "Astaga, Nak. Apa Daddy membuatkanmu istana?" Maria menunduk pada bayi di gendongannya.


Selanjutnya langkah Gibran menuntun mereka memasuki sebuah ruang serupa aula luas yang kosong nan terbuka dengan warna putih bersih membentang oleh kilau marmer. Wangi bunga menguar menyentuh indera penciuman.


Gibran terdiam, Maria turut menghentikan langkah ketika sang suami mendadak bergeming. Mata Gibran menatap lurus ke depan, membuat Maria tanpa sadar menoleh melihat apa yang membuat suaminya begitu terpaku dengan wajah meredup.


Seketika Maria mengerti ketika matanya mendapati sebuah pusara megah berlapis marmer dengan nisan bercorak emas.


Maria melangkah meninggalkan Gibran mendekati pusara tersebut. Foto seorang wanita cantik berwajah aristokrat, campuran Asia-Amerika terselip di antara bunga-bunga yang mengelilingi pusara.


Nama Sandra Willis terukir kuat dan indah dengan kilau keemasan. Maria menoleh ketika merasakan rangkulan di bahu. Gibran berdiri di samping Maria dengan mata tak lepas dari pusara di depan mereka.


"Ini ... siapa?" tanya Maria penasaran.


Sandra, Maria pernah mendengar nama itu ketika di rumah sakit. Dan dugaan pertama Maria jatuh pada wanita berjasa yang menyelamatkannya dari tembakan David Willis ketika penculikan 2 bulan lalu.


"My Mom," bisik Gibran dengan pandangan sedikit kosong.


Maria terhenyak, matanya sedikit membola tak percaya ketika menoleh kembali pada pusara itu. Sandra Willis. Benar, nama yang sama dengan David Willis, kakek Gibran.


Itu berarti ... wanita ini mertuanya?


Pelan-pelan Maria bersimpuh di samping makam Sandra. Tangannya terangkat gemetar mengusap nisan lalu mengambil figura di sana untuk diteliti lebih dalam.


Ini ...


"Tolooong ...!"


"Help me! Somebody help!!!"


Maria berusaha memberontak ketika beberapa pria menyeretnya ke sebuah gang sempit di sela pertengahan kota.


Beberapa dari mereka menahan tubuhnya, sementara satu pria berusaha menciumi Maria ketika sebuah tembakan tiba-tiba melayang mengenai kepalanya.


Pria tersebut jatuh tergeletak di hadapan Maria. Kepalanya bersimbah darah ditembus peluru.


Teman-temannya yang lain kontan melepaskan Maria dan maju menghadapi si penembak yang ternyata adalah seorang wanita.


Maria mengamati perkelahian tak seimbang itu dengan waswas. Ia buru-buru merogoh ponsel hendak menghubungi Aaron, akan tetapi ia dibuat melongo ketika semua pria-pria berbadan besar itu tumbang dengan luka tembak di masing-masing tubuh mereka.


Maria menelan ludah menatap wanita itu terpaku. Cantik dan kuat, itulah kesan pertama Maria ketika melihatnya.


"Thank—" kalimatnya berhenti di udara lantaran wanita itu pergi begitu saja.


Menyadari ia sendirian dengan tebaran mayat di gang tersebut, Maria pun kontan berlari mengikuti si wanita.


Namun sebelum itu ia sempat melihat emblem pada pakaian pria-pria tadi, itu emblem yang sama yang sering Maria lihat di kemeja anak buah Willis.


Jadi mereka suruhan David Willis?


"What's your name?" Maria bertanya sambil berlari menyelaraskan langkahnya dengan si wanita penolong itu.


Namun langkahnya kalah jauh oleh kaki panjang wanita tersebut hingga saat sampai di penghujung gang wanita itu sudah keburu memasuki mobil.


"E-eh! Thank ... you." Maria melambai sambil meringis. "Astaga, siapa dia? Cantik sekali."


Wanita itu Sandra Willis. Mereka bertemu untuk kedua kalinya, di penghujung nafas Sandra yang lagi-lagi menyelamatkan Maria dari ancaman nyawa.


"Ma'm ..." bisik Maria tergemap.


Ia tak kuasa berucap ketika fakta lain terungkap bahwa Sandra adalah ibunda Gibran, ibu mertua yang selama ini diam-diam Maria pertanyakan.


Ternyata, Sandra si wanita penyelamat itu adalah mertuanya. Pertemuan mereka di masa lalu maupun masa sekarang sama-sama dalam situasi yang serupa. Bedanya kali ini Sandra sampai kehilangan nyawa melindungi Maria.


"Plum?"


Maria menoleh.


"Ada apa?" tanya Gibran yang penasaran melihat istrinya bergeming.


Maria menelan ludah sebelum menjawab pelan. "Wanita ini ... dia yang pernah menolongku dari kejaran anak buah David Willis."


Gibran tak terkejut, sebenarnya baru-baru ini terkuak, pelaku kebakaran rumah sakit tempo lalu adalah Jim, atas perintah David Willis yang ingin mencelakakan Maria.


Sandra dan aksi diam-diamnya membuat orang kerap terkecoh dengan topeng yang digunakannya di luar. Gibran betul-betul tak mengerti dengan jalan pikiran sang ibu yang selalu di luar logika.


"Alisandra Wiranata. Bolehkah aku menyematkan nama itu pada putri kita?" Maria menoleh meminta persetujuan.


Gibran menatap sang istri lama, sebelum kemudian mengangguk dengan seulas senyum pertanda setuju dengan usulan Maria.


Maria balas tersenyum. "Aku ingin dia kuat juga seperti Grandma-nya yang tak kenal rasa takut. Keanggunan dan kekuatan, kedua hal itu benar-benar membuatku kagum."


Rupanya, jasa Sandra sebagai seorang ibu tak hanya sampai di sana. Wanita itu juga pernah mendonorkan satu ginjalnya untuk Gabriel yang kala itu divonis gagal ginjal saat remaja.


Gibran mengetahui hal itu dari berkas-berkas kesehatan dan rumah sakit yang Sandra simpan dalam brankas.


Sandra dikenal jahat sepanjang hidupnya. Namun, kematiannya menguar harum dalam sejarah keluarga Gibran dan Maria.


Gibran merangkul pundak Maria dan mengecup rambut sang istri yang kini dipotong pendek sejak melahirkan. Ia juga mengusap halus wajah Alisandra yang berkedip lucu dengan mata mengedar polos.


"My Sandra and Maria, you two are the most beautiful gifts in my life."