
"Plum." Gibran berusaha mendekati Maria yang sedari tadi terus membuang muka.
Sejak Gibran turun dari mobil wanita itu santer menghindarinya. Tapi alih-alih kecewa, Gibran justru merasa lucu karena ia tahu Maria tak benar-benar marah padanya, hanya saja wanita itu tengah diterpa rasa gengsi yang menggunung.
Biasa, wanita jika sebelumnya sudah berlagak marah, ke depannya ia akan sulit bersikap biasa. Harus pria yang memulai lebih dulu.
"Kamu lucu manyun terus," rayu Gibran yang kini mati-matian menahan tawa.
Maria masih setia bersidekap ke arah lain, membuat Gibran geregetan dan akhirnya berlalu memasuki rumah mendahuluinya.
Sontak Maria menganga tak percaya. Lamat-lamat ia menoleh mengikuti gerak langkah Gibran. "Hell ..." gumamnya dengan wajah tak tertolong.
Rayan yang menyaksikan itu dari dalam rumah lantas menggeleng. Ia berdecak melihat kelakuan dua pasangan muda yang menurutnya sangat aneh itu.
Dengan perasaan kesal dan dongkol, Maria berjalan menghentak memasuki rumah. "Bukannya sapa, peluk, cium, kasih oleh-oleh, ini malah cuek. Dasar pria kayu. Aw!"
Maria memekik saat jari kelingkingnya tersandung undakan pintu. Ia membungkuk bermaksud meraih kakinya yang kesakitan namun urung karena tubuhnya malah terhuyung ke depan akibat keseimbangan yang kurang sempurna.
Hap!
Maria tak jadi jatuh karena Gibran menangkapnya tepat waktu. "Kamu ini selalu membuatku jantungan," ujar Gibran dengan nafas sedikit terengah.
Sepertinya pria itu berlari saat menghampirinya. Jantung Gibran juga berdetak cepat selaras dengan wajahnya yang menguar cemas.
Gibran menegakkan tubuh keduanya dan memeluk Maria dengan perasaan lega. "Telat sedetik saja bahaya," gumamnya sambil mengusap-usap punggung Maria.
Maria manyun. "Koko, sih!"
Gibran mengernyit. "Aku kenapa?"
Maria menggerak-gerakkan badannya dalam dekapan Gibran. "Menyebalkan!"
"Kamu sudah tidak marah, ya?"
Seakan tersadar, Maria langsung menjauhkan tubuhnya dari Gibran. "Apa, sih!" ketusnya yang kemudian berjalan terentak-entak memasuki lift.
Dengan santai Gibran menyusul. "Hati-hati, Plum. Kamu sedang hamil, jangan begitu jalannya."
Ia tersenyum saat Maria memelankan langkah dan mengubah cara berjalan. Bukankah Gibran sudah bilang Maria menggemaskan?
"Plum?" Gibran tak berhenti menegur saat pintu lift menutup. "Kamu sudah tidak marah, kan?"
Maria diam. Gibran tersenyum sembari mendekat dan memojokkan Maria hingga menepi.
Sontak Maria gelagapan melirik pria itu. "Ko-Koko mau apa?" Ia bertanya setengah ketus.
Alih-alih menjawab, Gibran justru mengurungnya dengan kedua tangan. Wajah mereka sangat dekat hingga Maria bisa mencium aroma segar dari mulut Gibran.
Gibran itu tipe-tipe yang enak dicium kapan saja. Mulutnya tidak bau. Eh, apa sih.
"Kamu masih marah? Kecewa? Atau ... sebenarnya kamu senang aku bisa berbuat senekat ini padamu? Itu menunjukkan seberapa besar aku menginginkanmu," bisik Gibran seraya mengusap pelipis Maria menggunakan telunjuk.
Maria menelan ludah gugup. Mereka sudah sering lebih dekat dari ini, tapi entah kenapa dominasi Gibran selalu sukses membuatnya ketar-ketir.
"Aku tergila-gila padamu, Plum. Alasan kenapa aku bisa tidak memikirkan apa pun untuk memilikimu. Termasuk menendang adikku sendiri. Asal kamu tahu, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkanmu, My Sugarplum."
"Kamu segalanya bagiku. Maka jangan pernah berpikir untuk bisa lari. Aku bukan sedang mengancammu, Sayang. Aku hanya mengingatkan. Kamu sendiri tahu aku bisa berbuat apa saja demi bisa menahanmu di sisiku. Kamu boleh marah, kamu boleh kecewa, kamu hanya tidak boleh menjauh apalagi pergi."
Cup.
Ia menjauh sedikit hanya untuk mendapati Maria yang berkedip cepat. Mengusap pinggiran bibir Maria yang basah, Gibran pun berkata. "Cukup ngambeknya, ya. Kasihan Baby kalau Mommy nya tegang terus."
Tiba-tiba saja wajah Maria mengkerut seperti hendak menangis. Sontak Gibran tergagap. "Ada apa, Plum? Aku salah lagi, ya?"
"Lepasinnn ..." rengek Maria dengan air mata yang mulai keluar.
Hal tersebut tentu membuat Gibran cemas bukan main. "Sayang?"
"Lepasin! Tanganku sakit, huaaaa ... hiks, hiks, Koko jahaaattt ... tanganku kenapa dijepit ..."
Kontan Gibran menjauhkan tubuhnya dari Maria. Mukanya pias menatap khawatir tangan kanan wanita itu yang masih dalam pemulihan.
"Astaga, maaf aku lupa tanganmu masih sakit. Kemari, aku usap. Tidak, kita ke dokter saja. Ayo!"
Gibran hendak menekan kembali pintu lift guna kembali ke lantai bawah, tapi Maria segera menggeleng. "Aku malas pergi-pergi. Koko suruh saja dokternya ke sini. Hiks, kalau tanganku bengkok bagaimana? Aku tidak akan memaafkan Koko jika itu terjadi. Aku tidak mau cacat ..."
"Hus! Jangan bicara sembarangan. Aku akan membayar dokter termahal jika ada masalah dengan tanganmu. Sudah jangan menangis lagi. Aku telpon dulu dokternya."
***
"Syukurlah tidak ada pergeseran, jadi masih aman. Tolong untuk ke depannya lebih hati-hati, ya? Ibu juga jangan terlalu banyak bergerak dulu. Harus sangat hati-hati karena itu bisa menyebabkan pergeseran tulang yang patah. Ibu kan masih dalam masa pemulihan dan belum sembuh benar. Masih kurang dari 50 persen, makanya harus dijaga sekali."
Maria mendelik pada Gibran yang kini memasang wajah bersalah di belakang sang dokter. Ia mengirim senyum minta maaf yang kemudian Maria abaikan.
Diam-diam Gibran memaki dalam hati. Baru mereka mau berbaikan, Gibran malah berbuat salah lagi. Itu yang ia sesalkan. Semoga Maria tak lebih marah dari kemarin.
"Terima kasih, Dokter. Pokoknya saya mau tangan saya sempurna lagi. Saya tidak mau cacat," aku Maria jujur.
Dokter paruh baya itu tersenyum. "Tentu, Ibu pasti bisa sembuh total, apalagi memiliki suami yang sangat perhatian seperti Pak Gibran, pasti sembuhnya cepat."
Dokter tidak tahu saja dia yang hampir meremukkan tanganku tadi. Batin Maria.
"Ah, kalau begitu saya permisi, ya. Setelah ini masih ada jadwal praktek."
"Oh, begitu? Maaf ya, Dok, saya jadi merepotkan," ucap Maria tak enak.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini sudah kewajiban saya karena Ibu juga merupakan pasien yang memang saya awasi secara khusus."
"Ah, iya." Maria tidak tahu harus bilang apa.
"Ya sudah, saya permisi. Vitaminnya jangan lupa dimakan, ya. Semoga Anda bisa secepatnya sembuh."
"Amiin."
Seperginya dokter tersebut, Gibran mendekat dan duduk di pinggir ranjang menghadap Maria. "Maaf ya, Sayang. Aku sungguh lupa tadi. Sekarang masih sakit?"
Maria mencebik sekaligus mencibir. "Lupa atau tidak punya mata?"
"Maaf." Gibran tak ubahnya seekor anjing yang takut dimarahi tuan.
Sementara di tempat lain, Sandra tengah menggosok rambut basahnya menggunakan handuk saat tiba-tiba saja pintu lift di penthouse-nya terbuka.
Ia yang hendak menuju dapur kontan berhenti dan menoleh. Belum sempat Sandra mencerna semuanya, sebuah terjangan datang membuat ia tak mampu berkutik.
"Abhi! Emh—"
Abhimanyu, pria itu menciumnya dengan sangat panas dan menggebu, melucuti Sandra dengan amarahnya lalu melebur wanita itu dengan kumulus yang menggelora.