His Purpose

His Purpose
29. Someone and Incident



Valencia memasuki selasar balkon tempat berjalannya acara. Kepalanya celingukan menoleh ke sana kemari mencari seseorang. Lantas langkahnya mendekat kala menemukan seorang pria tengah berdiri di ujung koridor.


Pandangannya menerawang menatap langit malam. Kedua tangannya melesak ke dalam saku celana. Sungguh potret menakjubkan bagi Valencia melihat sang kekasih berpose seperti itu. Diam-diam ia mengeluarkan ponsel dan mengabadikannya.


Pria itu menoleh saat mendengar jepretan kamera. Valencia pun tersenyum menurunkan ponselnya, kemudian berjalan mendekat.


"Lama?" Ia merangkul lengan si pria dan bergelayut manja di sana. "Maaf, tadi aku bertemu seorang teman."


"Teman?" tanya pria itu heran.


Valencia mengangguk, "Hem. Bisa dibilang kita baru kenalan. Tapi aku menyukainya. Dia terlihat ramah."


Pria itu mengangguk, lantas melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Kalau begitu kita pulang sekarang. Aku belum prepare buat ke Dubai, lho. Kamu juga harus istirahat."


"Iya iya ... dasar bawel. Aku pasti istirahat, kok," sungut Valencia mengerucutkan bibir.


Pria itu tersenyum tipis, mengusap rambut Valencia dengan pelan. "Ayo."


"Hmm." Raut Valencia masih terlihat kesal. Namun begitu ia tetap mengikuti langkah sang kekasih untuk pergi dari sana.


Sementara di lain tempat, Maria mati-matian bersikap normal setelah tindakan mengejutkan dari Gibran. Jangan tanya wajahnya sudah seperti apa. Pastinya lebih merah dari kepiting rebus.


Sebetulnya Maria bertanya-tanya mengapa Gibran tiba-tiba bersikap demikian. Di hadapan para koleganya pula. Apa Gibran berniat melakukan pencitraan sama seperti yang dilakukannya pada Tuan Shimamura tempo hari?


Jika benar. Maka mulai dari saat ini Maria harus bersiap menebalkan hatinya agar tidak larut dalam kumulus ketidakpastian sikap Gibran.


Memang hanya sebuah tindakan kecil. Tapi efeknya mampu menghancurkan pertahanan hati wanita mana pun.


Maria menghela nafas. Ia menatap bayangan wajahnya di cermin wastafel yang ada di toilet. Karena tidak tahan dengan rasa malu yang merongrongnya, Maria memutuskan untuk menyingkir sejenak dari jangkauan Gibran.


Ia mencuci tangan dan mengeringkannya dengan tisu. Lantas membuka dompet koin yang dibawanya, mengeluarkan lipstik untuk kemudian ia oleskan di bibir.


Malam ini Maria tampil flawless dengan make up natural yang membuatnya tampak classy dengan hiasan mata yang menonjol. Ini pertama kalinya ia memakai jasa MUA di luar Indonesia.


Biasanya, jika ada kegiatan atau acara-acara tertentu di luar negeri Maria selalu mengandalkan kemampuan make up nya sendiri. Tak pernah sekali pun ia menyewa jasa make up di negeri orang.


Selain karena malas mencari, ia sendiri percaya seratus persen dengan kemampuannya merias diri.


"Dasar. Itu berarti Koko tidak mempercayaiku. Padahal aku bisa berdandan jauh lebih cetar dari ini," dengus Maria, memasukkan kembali lipstiknya ke dalam tas.


"Kenapa juga dia tidak membawa Laura? Harusnya dia tahu aku tidak nyaman dilayani oleh orang asing di sini." Maria tak berhenti menggerutu ketika keluar dari toilet.


"Tidak ada yang memijat kakiku ketika pegal."


"Tidak ada yang menemaniku menonton drama."


"Pokoknya tidak ada yang melayaniku sebaik Laura di sini. Sialnya aku baru sadar akan hal itu."


Berjauhan dengan Laura membuat Maria merasakan perbedaan yang signifikan. Jika biasanya ia akan bergosip di waktu senggang, sekarang ia hanya bisa berdiam diri di kamar.


Secara refleks jantungnya berdetak cepat ketika menyadari sosok itu nampak familiar. Maria yakin ia mengenali postur tubuh itu. Punggungnya, cara berjalannya, semuanya sama persis dengan ingatan yang melekat di otaknya.


Sejenak Maria merasa dirinya seolah linglung. Perlahan kakinya bergerak mengayun mengejar sosok itu. Namun ia kehilangan jejak ketika di persimpangan lorong. Ada sekitar 3 lift di sana, dan dua di antaranya sedang beroperasi mengangkut pengunjung hotel. Maria tidak tahu pria tadi menaiki lift yang mana.


Satu mengarah ke atas, satunya lagi mengarah ke lantai bawah. Maria simpulkan pria tersebut menuju lantai bawah. Maka dari itu Maria berniat mengikutinya ke sana.


Akan tetapi niatnya harus terhalang ketika secara tiba-tiba Nick datang berlarian dari arah belakang. Orang kepercayaan Gibran itu berseru memanggilnya. Maria menoleh, ia pun mendapati raut Nick yang kentara tegang berdiri di hadapannya.


Kening Maria berkerut, "Ada apa? Kenapa kau berlarian seperti itu?"


Dengan nafas berkejaran Nick menjawab, "Tu-Tuan. Tuan, Nyonya!"


Kerutan Maria semakin dalam, "Tenangkan dirimu dan bicaralah yang jelas. Ada apa dengan Koko?"


Nick menurut. Ia berusaha menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan akibat berlari. "Nyonya harus ikut saya sekarang juga. Seseorang telah menembak Tuan di dalam!"


Maria mematung, "A-Apa?" bisiknya tergagap.


Maria tidak tahu lagi apa yang ia pikirkan. Rasa penasaran yang tadi menghantuinya lenyap entah ke mana, diganti oleh kepanikan yang spontan membawanya berlari memasuki ballroom, meninggalkan lift yang kini berhenti di lantai dasar.


Sepertinya Nick tidak berbohong. Suasana di dalam sana begitu ricuh hingga ia kesulitan menemukan Gibran di antara banyaknya lautan orang.


Beruntung Nick dengan cepat menyusulnya. Dengan sigap pria itu membelah kerumunan, lalu meminta Maria untuk segera mengikutinya.


Susah payah Maria mengangkat gaun panjangnya guna memperluas langkah. Beberapa kali ia sempat terseok karena bersenggolan dengan sejumlah orang. Namun ia tidak peduli, yang ada di pikirannya sekarang adalah keadaan Gibran.


Maria tidak mengerti kenapa dia harus secemas ini terhadap kondisi Gibran. Mungkin karena tingginya rasa kemanusiaan yang disebabkan oleh rasa bersalahnya terhadap Gibran, Maria jadi sensitif dan ketakutan seperti sekarang.


Benar. Hal ini wajar karena Gibran adalah suaminya. Bukan hal aneh jika seorang istri mengkhawatirkan suaminya.


Nick membawanya ke salah satu sisi ruang, tepatnya dekat jendela yang mengarah ke selasar ballroom. Di sana ia mendapati Gibran. Pria itu terduduk di sebuah meja yang sebelumnya menjadi penyangga guci yang telah disingkirkan.


Dengan dikerumuni banyak orang pria itu berusaha menahan ringisan. Wajahnya masih datar tanpa ekspresi. Hanya saja bibir dan rahangnya mengatup ketat.


Kontan Maria berlari mendekat. Rupanya hal tersebut berhasil menarik perhatian Gibran hingga mengarah padanya.


"Koko! Apa yang terjadi? I-Ini kenapa? Tidak, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Maria beruntun. Kepanikan menghiasi wajahnya yang kini sepucat kapas.


Bukannya menjawab, Gibran justru menatap Maria dengan pandangan yang sulit diartikan. Maria tidak menyadari hal itu karena sibuk meneliti keadaan Gibran yang menurutnya sangat serius.


Beberapa saat kemudian Gibran bersuara, "Ini bukan apa-apa."


"Bukan apa-apa apanya! Keringatmu sebesar biji jagung!" Bantah Maria cepat. "Bisa-bisanya kamu bicara dalam kondisi seperti ini."


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa diam saja? Cepat bawa dia ke rumah sakit!" teriak Maria sedikit histeris karena Nick dan beberapa anak buahnya malah sibuk berbicara entah dengan siapa melalui handsfree. Memangnya siapa yang mau mereka beri laporan? Bosnya saja terluka parah di sini.