His Purpose

His Purpose
42. Indignation



"A-Aku ..."


"Tuan, ini minyaknya."


Maria menghela nafas lega dengan kedatangan Laura. Ia hampir saja mati kebingungan. Pertanyaan Gibran benar-benar tak terduga.


"Ini minyak urut milik Bu Martha, Tuan. Katanya dijamin ampuh buat yang keseleo." Gibran menerima minyak urut pemberian Laura.


Hal selanjutnya yang Gibran lakukan adalah melepas heels yang Maria kenakan. Lantas mengusap perlahan pergelangan kaki Maria, berusaha menyasar urat yang sepertinya salah tempat.


Sentuhan Gibran membuat Maria merinding. Bulu kuduknya seakan berdiri merespon setiap pergerakan Gibran di kakinya. Pria itu mulai menuangkan sedikit minyak dan mengurutnya pelan-pelan.


"Sshh ..." Maria meringis.


"Sakit?" tanya Gibran hampir menyerupai bisikan.


Maria tergagap. Alih-alih menjawab ia malah memperhatikan Gibran dari atas. Pria itu begitu telaten memijat kakinya, membuat Maria tanpa sadar menatap lama kepalanya yang terbalut topi.


Tiba-tiba ia mengerjap. Tahu-tahu topi itu sudah hinggap di kepala Maria. Ukurannya yang besar membuat benda tersebut melorot menutupi hampir setengah wajahnya.


"I-Ini ..."


"Panas," ucap Gibran dengan suara rendah.


Maria sedikit mengangkat topi itu ke atas guna melihat Gibran. Namun, pria itu sudah kembali berlutut dan menunduk tanpa sekalipun membalas tatapan Maria yang kini berkedip dengan wajah terselap.


Kretek!


"Aaww ...!!!"


Jeritan Maria mengakhiri gerak laku Gibran di bawah sana. Pria itu melepas kaki Maria, lantas mendongak menatap sang istri yang kini memasang raut hendak menangis.


"Coba gerakin."


Maria berusaha menahan isakan yang datang tanpa bisa dicegah. Apa yang dilakukan Gibran secara tiba-tiba membuatnya terkejut sekaligus kesakitan.


Dasar tidak punya hati. Kenapa tidak pelan-pelan saja?


"Masih sakit?"


"Sedikit," ketus Maria dengan wajah merengut.


Selanjutnya Gibran mengasongkan sepasang sandal rumah yang sempat Laura bawakan sekalian dengan minyak tadi. "Pakai ini," titahnya.


"Tidak mau."


Raut Gibran semakin datar. Matanya tak lepas menatap Maria penuh peringatan. Namun Maria tetap enggan dan keras kepala.


Alih-alih menuruti Gibran, wanita itu lebih memilih berjalan tanpa alas kaki. Maria melepas heels yang tersisa, lantas menentengnya dan bangkit dari kursi. Melewati Gibran yang masih berjongkok di hadapannya, Maria berseru mengajak Laura yang tengah berdiri seperti patung.


Gadis itu dihadapkan dengan pilihan sulit. Rasanya sangat tidak sopan jika ia mendahului Gibran sementara pria itu masih bungkam tak mengeluarkan suara. Mata tajamnya hanya menatap ke depan. Akan tetapi, hal tersebut justru menguarkan kecanggungan bagi Laura yang hanya seorang pelayan.


Laura menelan ludah gugup. Ia pun membungkuk pada Gibran sebelum kemudian memutuskan berlari menyusul Maria.


Sang nyonya nampak berjalan terpincang melewati jalanan tadi untuk kembali ke mansion. Sepertinya, ia enggan meneruskan niat awalnya ke rumah kaca. Padahal sebentar lagi mereka sampai. Tapi, ya sudahlah, Laura tahu Maria sedang dalam keadaan hati yang tidak baik setelah bertemu Gibran.


Serta-merta langkah mereka berhenti. Tanpa peringatan tiba-tiba saja Gibran sudah ada di hadapan mereka dan menyimpan sepasang sandal itu di depan kaki Maria.


Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia langsung pergi begitu saja melewati Maria tanpa sekalipun melirik atau melihatnya.


Maria mematung di tempat. Tubuhnya berdiri kaku sambil menunduk menatap sandal yang diletakkan Gibran.


Sesuatu tak diduga pun terjadi.


Duk!


Laura melotot dengan mulut membuka lebar melihat apa yang baru saja Maria lakukan. Sementara Gibran, lelaki itu langsung berhenti di tempatnya.


Gemerisik angin tak mampu memecah ketegangan. Suasana berubah hening begitu Maria melempar sepatunya tepat mengenai belakang kepala Gibran.


Nick yang melihat dari kejauhan kontan berlari mendekat. Meninggalkan sejumlah orang di lapangan yang juga menghentikan aktivitasnya dan beralih atensi pada pasangan tersebut.


Maria berdiri dengan nafas terengah. Sekali lagi ia lempar sepatu miliknya hingga menghantam punggung Gibran yang diam dengan tubuh sekaku papan.


Wanita itu menatap sang suami penuh emosi. Tangannya mengepal dengan bibir bergetar sarat akan kemarahan.


"Kenapa kau harus peduli?" seru Maria. Nafasnya tak beraturan, pun matanya berkaca menentang Gibran.


"Aku tak pernah menyuruhmu untuk peduli padaku, Sialan!!!" Maria berteriak seiring air matanya yang meluncur bebas.


"Kenapa kau terus saja mengganggu hidupku dengan sikap tak jelasmu?"


"Kau mendekat kemudian menjauh. Kau menciumku lalu pergi meninggalkanku seperti orang bodoh!"


"Kau menjual mobil yang kubeli. Kau tidak memperbolehkanku keluar rumah. Kau memperlakukanku semena-mena. Kenapa? Apa menurutmu aku wanita bodoh yang pantas dipermainkan?"


"Kau benci karena aku memaksamu menikahiku? Asal kau tahu saja, jika tidak memikirkan perusahaan Papa, aku juga tidak akan sudi menikah denganmu!"


"Persetan dengan arogansimu, Brengsek," bisik Maria. "Tetaplah menjadi orang asing di sana!"


Maria menendang sandal di bawah kakinya lalu pergi dengan langkah terpincang, meninggalkan Gibran yang masih diam tak bereaksi menerima kemarahannya.


Laura pun hanya bisa mematung dengan wajah syok. Kesadaran menimpanya ketika Maria sudah sedikit menjauh. Kontan ia tunggang-langgang mengikuti sang nyonya.


Sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Gibran berdiri kaku bak patung. Pria itu tak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Begitu pun sang asisten yang nampaknya tengah kebingungan hendak melakukan apa.


"Nyo-Nyonya hati-hati," tegur Laura ketika Maria berjalan serampangan.


Masalahnya wanita itu tak memakai alas kaki. Bagaimana kalau ada kerikil atau lebih parahnya lagi duri?


Maria tak menghiraukan keberadaan Laura. Ia tetap melangkah tanpa peduli dengan keadaan kakinya yang baru saja terkilir. Hatinya benar-benar penuh oleh gejolak memuakkan. Ia tak tahan. Mungkin, setelah ini ia bisa saja mengajukan perceraian.


Toh, pernikahannya sudah berjalan 2 bulan. Tidak ada yang aneh jika mereka berpisah, bukan? Bahkan ada yang menjalani pernikahan hanya dalam hitungan jam atau hari. Dua bulan masih termasuk wajar menurut Maria.


Biar saja ia menjadi janda. Yang penting ia bisa bebas dari Si Brengsek Gibran yang suka mengekang dan bersifat labil itu. Kadang cuek, kadang perhatian, kadang baik, lalu berubah. Pria itu juga sudah menjatuhkan harga dirinya.


Maria berusaha menyangkal bahwa ia masih kecewa dengan rumornya dengan si pelayan sok cantik bernama Jesi waktu itu.


Tidak. Itu bukan cemburu. Itu hanya perasaan marah karena ia merasa dilecehkan secara verbal sebagai istri. Maria jadi sedikit kehilangan mukanya di depan pelayan.


Meninggalkan Maria yang kini memasuki mansion bersama Laura, Gibran masih setia berdiri di tempatnya. Nick pun mendekat berusaha menegur karena pria itu seperti tak ada niat untuk beranjak.


Namun, matanya serta-merta membelalak kala mendapati cairan merah yang mengalir dari balik rambut Gibran.


"Astaga-Ya Tuhan-Tu-Tuan! Tuan, kepala Anda berdarah!" Nick berseru dengan nada terbata. Ia berusaha memegang kepala Gibran namun tak berani.


Sementara Gibran, pria itu malah datar-datar saja dan tetap tak acuh. Alih-alih mengkhawatirkan kepalanya, ia justru membungkuk mengambil sepatu Maria yang tergeletak di bawah kakinya, kemudian berlalu dari sana.


Nick melongo, "Astaga, apa sepatu itu lebih mahal dari kepalanya? Padahal ia nyaris mati karena benda itu."