
Maria diam mematung memperhatikan Gibran. Pria itu dengan telaten mengumpulkan pecahan beling di lantai, mengelap tumpahan teh menggunakan handuk kecil yang sempat diambilnya dari kamar mandi.
Gibran benar-benar memastikan lantai itu bersih dan aman. Ia bahkan mengusapkan tangannya sendiri guna mendeteksi serbuk kaca yang tersisa.
"Aman," gumamnya sembari tersenyum. Ia mendongak menatap Maria yang masih saja terpaku di tempatnya.
"Maaf, kamu jadi gagal minum teh. Mau kubuatkan lagi?"
"Ti-Tidak perlu. Aku mau tidur."
Sikap Gibran benar-benar membuatnya gugup. Maria dilanda kecanggungan, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi suaminya sendiri.
Padahal jelas-jelas Maria yang salah, kenapa malah Gibran yang meminta maaf?
"Ya sudah. Ayo kita tidur." Gibran bangkit berniat menuntun Maria ke ranjang.
Sontak Maria menahan tubuhnya. "Koko mau apa?"
Gibran mengernyit, "Kamu mau tidur, kan?"
"A-Aku ... aku mau tidur sendiri," cicitnya tak berani menatap Gibran.
Melihat penolakan Maria, Gibran pun terdiam. Suasana menjadi hening sebelum kemudian Gibran mengangguk dengan senyum sukarela. "Aku hanya ingin membantumu."
Gibran memang tak berharap lebih bisa tidur satu ranjang dengan Maria, sementara hubungan mereka masih terbilang sangat renggang. Hanya saja hati Gibran merasa tersentil mendapati sorot ragu dan takut yang coba Maria sembunyikan.
Apa ia semenyeramkan itu di mata Maria?
"Ayo?"
Maria tak menolak saat Gibran membawanya berbaring di atas ranjang. Lelaki itu menyelimutinya, mengusap rambutnya dan memastikan stabilitas penghangat ruangan.
Tepat saat Gibran menunduk hendak mencium keningnya, Maria mengkerut membenamkan setengah wajahnya di bantal. Hal itu membuat Gibran seketika berhenti. Respon Maria mau tak mau membuat Gibran menarik kembali dirinya dan tersenyum.
Untuk kali ini ia harus puas hanya dengan mengusap rambut. "Tidurlah."
Gibran beranjak dan berbalik ke arah pintu. Tak lupa ia membawa serta bekas pecahan cangkir sebelum keluar.
Mendengar suara pintu yang ditutup, Maria pun membuka matanya perlahan. Matanya menatap sendu kekosongan yang Gibran tinggalkan. Apa sikapnya terlalu berlebihan? Ia hanya takut. Gibran yang sekarang terkesan manipulatif di matanya.
Bukankah psikopat tak kenal arti cinta? Lalu apa perasaan Gibran padanya selama ini?
Entah berapa lama Maria terlelap dalam tidur, sampai akhirnya dia terbangun oleh hantaman petir di luar jendela. Maria terperanjat duduk. Ia kembali berbaring meremas kuat selimutnya guna meringankan kegelisahan.
Kedengarannya di luar tengah hujan lebat. Pasti setelah ini balkon indahnya akan berantakan. Maria mengernyit berusaha memejamkan kembali matanya, namun ternyata kantuk begitu sulit ia gapai.
Langit seolah berperang melesatkan guntur, rasanya seperti angkasa hendak menyapu udara dan menghantamkan dirinya di dataran bumi. Hentakannya sampai merenggut denyut jantung Maria.
Maria tidak tahan. Ia pun bangun menyingkap selimut hendak memencet tombol di samping nakas, berniat memanggil Laura. Namun semua itu urung ia lakukan karena pasti hal tersebut akan sangat menyulitkan Laura di tengah hujan deras seperti ini.
Ia tidak mau mendengar berita seorang pelayan tersambar petir di malam hari demi memenuhi panggilan majikan.
Maria menoleh ke arah pintu. Ia berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk keluar. Hanya satu yang terpikir olehnya yaitu kamar Gibran.
Maria menarik pintu ganda itu hingga terbuka. Kaki yang semula hendak mengayun kini terpaku di tempat.
Maria melihat sosok Gibran berdiri di lorong menatap jendela. Pria itu tampak menerawang membelakangi Maria. Ia sama sekali tak terkesan takut mengamati badai di luar sana.
Sedang apa dia?
Maria menelan ludah. Ia berniat menarik lagi kakinya ke dalam, namun urung saat tiba-tiba saja Gibran membalik badan menghadap tepat ke arahnya.
Tanpa sadar Maria tersentak. Tubuhnya membeku hanya karena pandangan mereka bertemu.
"Kamu bangun?"
"A-Aku ... Se-Selamat malam!"
Hampir saja Maria menutup pintu jika saja lampu tak tiba-tiba padam, membuat Maria terkejut hingga tanpa sadar menjerit melarikan kakinya keluar.
Ia menubruk tubuh Gibran yang entah sejak kapan berdiri di depan kamar. Pria itu langsung mendekapnya berusaha menenangkan. "Tenanglah. Ini hanya mati lampu, kamu tidak perlu panik. Ada aku di sini."
Maria berusaha menenangkan nafasnya yang terengah. Saking takutnya ia tidak menyadari tubuhnya sampai berkeringat.
"Ayo masuk dan tidur lagi," ajak Gibran.
Maria meremas kuat piyama satin yang dipakai Gibran. Gibran menyadari detak jantung Maria meningkat karena ini. Tubuhnya bahkan gemetar.
Karena itu Gibran memeluk Maria dengan lebih lembut, berharap wanita itu merasa nyaman dan kecemasannya mereda.
"Sstt ... ayo tidur."
Maria menurut ketika Gibran menuntunnya memasuki kamar. Pria itu membawanya berbaring dan menyelimutinya seperti tadi. Gibran juga menyalakan senter ponsel lalu meletakkannya di tepi nakas.
Gibran duduk di tepi ranjang, menyibak anak rambut yang menghalangi wajah Maria sambil tersenyum menatap wanita itu dalam. Terlebih tangan Maria seolah enggan melepasnya. Entah sadar atau tidak ia menggenggam lengan Gibran terlalu erat, seolah takut untuk tinggalkan.
"Jangan cemas. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Gibran setengah berbisik.
Maria terlihat malu. Ia menarik tangannya dari lengan Gibran, namun urung saat lelaki itu menahannya.
"Biarkan seperti ini." Gibran beralih menggenggam tangan Maria. Jari mereka saling bertautan, menyalurkan hangat yang tanpa sadar membuat Maria merasa tenang.
Lama mereka terdiam dalam kesunyian. Anehnya petir yang menyambar tak lagi membuat Maria merasa terancam. Apa ini karena Gibran?
Tiba-tiba pria itu bersuara, "Kamu boleh takut pada apa pun. Tapi tolong jangan takut padaku. Aku benar-benar memohon untuk ini."
Gibran menunduk mengecup tangan Maria. "Meski ratusan nyawa ingin kulenyapkan, satu-satunya orang yang kuharapkan berdiri di sampingku sampai akhir adalah kamu."
"Nyawamu adalah nyawaku. Jika aku menyakitimu, itu berarti aku menyakiti diri sendiri."
Hening. Apa Gibran menyadari ketakutannya?
Gibran terlihat begitu serius. Maria tak menemukan satupun kebohongan dalam matanya.
Ia tak tahu harus bersikap seperti apa kecuali diam. Gibran mengusapkan ibu jarinya di punggung tangan Maria.
Halus. Sampai kemudian Maria menyadari sesuatu yang janggal.
Maria mengambil alih tangan Gibran dan membalik telapaknya. Ia mengernyit. "Ini ... kenapa?"
Sebuah luka sayat membentang cukup panjang. Maria mendongak menuntut jawaban.
Gibran meringis tanpa suara. Itu bekas luka saat ia berkelahi melawan anak buah Otoniel.
"Bukan apa-apa. Aku sempat jatuh dari motor dan tanpa sengaja menyentuh benda tajam."
Maria menyipit tak percaya. Apa itu masuk akal?
Seolah belum cukup, matanya juga menangkap luka lain di kening Gibran. Sontak ia bangun terduduk. "Apa ini juga karena jatuh dari motor?"
Gibran mengangguk, "Benar. Sudah, kamu tak perlu khawatir. Segeralah tidur."
Maria menahan tangan Gibran yang hendak mendorongnya berbaring. "Apa jatuh dari motor juga bisa menimbulkan memar di rahang?"
Meski dalam keadaan remang, penglihatan Maria masih cukup jelas untuk menyadari lebam di sekitaran wajah Gibran.
Kenapa Maria baru sadar sekarang, padahal tadi mereka sempat bersama sebentar?