
"Omo ..."
"I-Ini ... Sebentar, kalian ... siapa?" tanya Maria pada dua orang wanita yang berdiri tegap di hadapannya.
Sikap sempurna yang disertai wajah kaku membuat Maria mati-matian menahan ringisan. Apa mereka benar-benar seorang wanita? Lumayan cantik, sih. Tapi kok dadanya rata? Lebih parah dari Laura yang sebelumnya Maria pikir tak memiliki buah dada.
Maria melirik Laura yang berdiri di sampingnya. Pasti gadis itu kesenangan karena ada yang lebih rata darinya. Ia mendengus, raut Laura sudah terbaca sekali pun berusaha disembunyikan.
Kedua wanita bersetelan jas itu menunduk sekilas. Salah satu dari mereka membuka suara menjawab pertanyaan Maria. "Selamat pagi, Nyonya. Kami di sini bertugas untuk mengawal Anda. Nama saya Jill, dan ini teman saya Dean."
Seketika Maria tersedak ludah sendiri. Laura dengan sigap mengusap-usap punggung sang nyonya dan meminta pelayan mengambilkan air. Wanita itu meneguk habis air minum tersebut hingga ke tetes terakhir dalam gelasnya.
Maria menepuk pelan dadanya sebelum kembali memusatkan perhatian pada Jill dan Dean. Ia berdehem, "Ehm, pe-pengawal?"
"Benar, Nyonya." Jill menjawab seadanya, lengkap dengan raut datar tanpa ekspresi yang sejak tadi membayangi wajah kedua wanita tersebut.
Tak pelak hal itu mengingatkan Maria pada Gibran yang kerap menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan kalimat pendek. Astaga, apakah ia akan kembali berurusan dengan bibit-bibit Gibran namun versi wanita?
Maria menggaruk lehernya bingung. Kemudian matanya menangkap sosok Nick yang baru masuk dari pintu utama mansion. Tampaknya pria itu sudah siap bekerja untuk Gibran.
Maria pun berseru memanggil Nick, membuat asisten Gibran itu lekas mendekat dan membungkuk menyapanya. "Saya, Nyonya. Apa Anda memerlukan sesuatu?"
Maria mengernyit melihat respon pria itu yang nampak gugup. Maria tidak tahu dalam hati Nick mati-matian menahan was-was berhadapan dengannya. Sejak ia menyaksikan langsung bagaimana kebrutalan Maria hingga menyebabkan tuannya terluka, Nick serta-merta jadi waspada tiap kali bertemu sang nyonya.
"Ada apa? Apa kau takut padaku? Kenapa wajahmu begitu?"
Nick mengerjap dengan kepala menunduk, menerima setiap pandangan dari empat wanita yang ada di sana. Ia pun mengulum senyum membalas tatapan Maria. Kepalanya menggeleng pelan, "Tidak, Nyonya. Itu, saya hanya malu harus berhadapan dengan wanita secantik Anda di pagi hari seperti ini. Hehe ..."
"Oya, Anda ada perlu apa memanggil saya?" Matanya sedikit melirik pada dua wanita tak jauh dari Maria.
Maria mengikuti arah pandang Nick, tanpa menghiraukan gombalan receh pria tersebut. "Siapa mereka?" tanyanya tanpa basa-basi.
Nick nampak terdiam sesaat, "Mereka adalah petarung wanita terbaik di negeri ini, Nyonya."
"Aku tidak bertanya soal itu. Aku tidak peduli mereka siapa. Yang kutanya apa peran mereka di rumah ini? Kenapa mereka bilang ingin mengawalku? Apa aku ini tahanan?"
Nick tergagap. Bagaimana ini? Aduh, ia jadi bingung. Serta-merta Nick menggaruk kepala. "Itu ... Tuan yang minta saya rekrut mereka, Nyonya."
Jika Anda ingin protes, proteslah padanya, lanjut Nick dalam hati.
"Lagi-lagi. Kenapa dia terus saja membuatku kesal?" gerutu Maria sambil berkacak pinggang.
Maria memutuskan mendatangi Gibran guna menanyakan hal tersebut secara langsung. Ia menaiki lift untuk sampai di lantai tiga, tempat kamar Gibran berada.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Maria membuka pintu kamar Gibran begitu saja dan menerobos masuk. Tapi kakinya otomatis berhenti saat dilihatnya Gibran tengah mengenakan kemeja, membelakanginya.
Astaga. Cepat-cepat Maria menutup kembali pintunya dan menunggu di luar. Sementara di dalam sana, Gibran menoleh mendengar pintu kamarnya ditutup secara kasar.
Tak lama pria itu keluar. Pakaiannya sudah terkancing rapi dan sempurna. Tubuhnya bersandar di pinggiran pintu, tangannya bersidekap, menatap lurus punggung Maria yang sepertinya tengah menggerutu.
Ia berdehem kecil, membuat wanita itu seketika menoleh dan memasang raut gugup yang coba disembunyikan. Maria tampak begitu keras menyingkirkan kecanggunan, padahal Gibran sendiri biasa-biasa saja.
"Ada apa?" tanya lelaki itu, datar.
"Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa dengan Koko sebenarnya? Kenapa tiba-tiba menyewa pengawal untukku? Koko ingin mengawasiku, begitu?" cerocos Maria.
Gibran menatap istrinya dengan tenang. Lama mereka hanya saling beradu pandang, hingga Maria tidak tahan dan menghentak kakinya ke lantai.
"Aku pikir Koko akan berubah setelah malam itu. Ternyata tidak. Koko malah semakin menyebalkan," sungut Maria.
Ia berniat berbalik dan meninggalkan Gibran, karena pikirnya percuma bertanya pada pria itu. Sampai perut bumi mengeluarkan laharnya pun mulut Gibran akan tetap diam tanpa kejelasan.
Pria itu suka bertindak seenaknya.
Belum sampai lima langkah, Gibran tiba-tiba bersuara. "Bukankah kamu ingin keluar?"
Maria berbalik perlahan, "Apa?"
Gibran masih menatapnya dengan tatapan tak berarti. "Aku akan mengizinkanmu. Dengan syarat membawa mereka kemana pun kamu pergi."
Maria diam berusaha mencerna perkataan Gibran. Beberapa detik kemudian ia tergagap, "M-Maksud Koko ... keluar Mansion?" tanyanya hati-hati.
Gibran mengangguk singkat.
Suasana berubah hening saat Maria berpikir.
"Benar-benar keluar mansion? Maksudku ... keluar dari area ini? Gerbang ..." Maria mengangkat kedua tangannya membentuk isyarat pintu yang sangat besar. Matanya mengeluarkan sedikit binar dan harapan.
"Hem," gumam Gibran sebagai jawaban.
Maria mematung sesaat. Ia menatap Gibran berkedip, sebelum kemudian mulutnya ternganga. Dan tanpa bisa dicegah tubuh Maria meloncat disertai sorak gembira yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Raut senang membayangi wajah Maria yang terpoles make up natural.
Tanpa peringatan wanita itu maju mendekati Gibran, mengecup pipinya singkat lalu berlari pergi dari sana, meninggalkan Gibran yang terpaku di tempatnya, mendengar pekikan bahagia dari Maria yang semakin menjauh seiring wanita tersebut memasuki lift.
"LAURAAA ... DEWA MEMBERKATI KITAAA ... YEAAYY ..." Maria berteriak keras begitu keluar dari lift.
Menarik perhatian semua orang, termasuk Nick yang rupanya masih berada di lantai dasar.
Wanita itu berlari ke arah Laura yang terbengong, memeluk tubuh kurusnya untuk kemudian mengajaknya meloncat-loncat. Tanpa peduli si pelayan nampak kewalahan mengimbangi semangatnya.
"Nyo-Nyonya, berhenti. Apa maksud Anda? Sejak kapan Anda menyembah Dewa?"
Maria menghentikan aksinya dan memberi Laura tatapan datar. "Bisakan kau tidak menghancurkan mood-ku sebentar saja? Aku sedang bahagia karena akhirnya Koko mengijinkanku melihat dunia luar!"
"APA?"
"Kau terkejut, bukan? Aku juga. Tapi aku senang."
Bukan hanya Laura yang terkejut, tapi Nick pun menatap Maria tak percaya. Tubuh lelaki itu mematung, mencoba memikirkan apa yang sebenarnya ingin Gibran lakukan.
Sementara masih di tempatnya berdiri, Gibran terdiam dengan ekspresi rumit. Tangannya menggenggam erat ponsel yang baru saja memunculkan satu pesan baru dari nomor tak dikenal.
Unknown : Aku pasti akan menemukanmu.