
Gibran terdiam menatap Maria yang tertidur pulas. Ia mengingat kembali penjelasan dokter sore tadi. Mimisan yang Maria alami karena dipicu oleh hantaman keras di otaknya, terlalu berlebihan dalam berpikir hingga memicu stress mendadak yang akhirnya menimbulkan keluarnya darah dari hidung.
Laura bilang terakhir kali wanita itu sedang menonton sebuah drama di saluran TV berbayar. Gibran sampai menghubungi pihak developer channel tersebut untuk mengetahui tayangan apa saja yang disiarkan di jam sekian.
Dan perhatian Gibran jatuh pada sebuah drama dengan latar belakang negara Swiss, waktunya bertepatan dengan sebelum Maria pingsan. Gibran menduga ada sesuatu dari negara tersebut yang memicu ingatan Maria keluar.
Menghela nafas panjang, Gibran bangkit dari sisi ranjang dan beralih menatap jendela. Ia berdiri bersilang tangan setelah sebelumnya membuka sedikit gorden hingga menampilkan pemandangan luar yang gelap gulita.
"Senior, kalau suatu hari nanti kita menikah, aku ingin kita buat rumah di Swiss. Lihat, lahan kosong ini sangat cocok untuk membangun hunian. Udara yang sejuk dari pegunungan dan danau yang indah benar-benar akan terasa nyaman. Satu lagi, aku akan awet muda jika tinggal di sana."
"Awet muda?"
"Huum. Di alam yang sedamai itu kecil kemungkinan kita akan merasa stress. Jika pun stress kita bisa mendamaikan diri dengan meresapi keindahan alam."
"Tapi ada satu yang penting agar aku bisa tetap awet muda."
"Apa?"
"Punya suami kaya dan setia. Hehe. Jadi, kalau Senior mau menikahiku Senior harus punya baaanyak sekali uang, dan tentu Senior harus setia. Tidak ada toleransi untuk perselingkuhan dan kekerasan. Iya, Senior juga tidak boleh kasar padaku."
Gibran menghirup udara dalam-dalam menahan sebuah tumpahan yang sekeras mungkin ia bendung di matanya. Ia lantas menunduk menatap kakinya yang terbalut sandal. "Kenapa aku bisa sebodoh itu dulu?" gumamnya hampir menyerupai bisikan.
Gibran menoleh sejenak pada Maria. Merasa kalau Maria tidak akan terbangun, akhirnya Gibran memutuskan keluar kamar sebentar.
Tujuan Gibran adalah dapur. Ia memerlukan sesuatu yang pahit untuk meredam segala kecamuk di otaknya.
Baru hendak membuat kopi tiba-tiba saja suara Rayan menyeruak. "Butuh wiski? Or ... vodka?"
Gibran menoleh. Mertuanya itu tengah berdiri di ambang pintu dengan tangan bersidekap menatapnya.
Gibran mengangkat alis. Tumben sekali Rayan menegurnya. Ia mendengus. "Bilang saja kau butuh teman."
Rayan mengangkat bahu, ia berbalik tak acuh meninggalkan dapur. Sesaat Gibran terdiam sebelum memutuskan mengikuti pria baya tersebut.
Rayan membuka pintu sebuah ruangan yang ternyata berisi meja bilyar serta bar dengan berbagai macam alkohol yang berjejer rapi di lemari tinggi.
Lelaki itu mengambil satu botol berupa whiskey serta es batu di lemari pendingin, lalu dua gelas yang salah satunya diserahkan pada Gibran.
Gibran diam saja saat Rayan menambahkan es dan mulai mengisi dua gelas tersebut.
Hening menyertai kebersamaan mereka yang terbilang sangat langka. Tak pernah sekalipun Gibran menganggap Rayan sebagai mertua, begitu pula Rayan yang enggan menerima Gibran sebagai menantu.
Keduanya seolah berada dalam sekat tinggi yang berbeda.
"Sepertinya ingatan Maria mulai rentan." Rayan membuka suara. Ia lalu menyesap perlahan cairan kuning di gelasnya.
Gibran turut melakukan hal yang sama, ia memutar pelan gelas tersebut dan mengamati pergerakan es batu di dalamnya.
"Dulu, beberapa bulan setelah dia resmi menjadi mahasiswi salah satu kampus di New York, dia kerap bercerita bahwa sepertinya dia jatuh cinta."
"Setiap kami berkomunikasi, pasti yang Maria ceritakan adalah sosok senior tampan yang luar biasa menawan." Rayan terkekeh hambar. Ia kembali menyesap wiski di gelasnya.
Pria itu menoleh pada Gibran yang setia mendengarkan. Ia lalu melanjutkan cerita sambil terus menatap lelaki di sampingnya.
"Hampir dua tahun semuanya berjalan lancar. Katanya dia berhasil menjadikan pria impiannya sebagai pacar. Dia berpacaran dengan lelaki yang diinginkan banyak wanita."
"Maria terdengar sangat bahagia waktu itu. Hingga suatu malam Maria menelponku sambil menangis."
Gibran sedikit melirik mertuanya seraya menyesap wiski.
"Maria tidak bilang apa pun. Hanya saja ... entahlah, ia berkata seolah akan pergi meninggalkanku," bisik Rayan di akhir kalimatnya. Ia menunduk mengamati gelas di meja.
Gibran menoleh cepat. Ia sudah melupakan gelasnya yang masih berisi setengah.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Maria terdengar sangat ketakutan. Dan saat itu aku sempat mendengar suara orang lain."
"Siapa?" tanya Gibran mulai penasaran.
Namun Rayan menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku yakin sesuatu tengah mengancam Maria saat itu. Aku belum sempat mencari tahu karena setibanya Liem di Amerika dia langsung menghubungi bahwa Maria mengalami kecelakaan."
Sepertinya Rayan mulai tidak kuat karena suaranya mulai bergetar. Dia juga mulai mabuk. Sementara Gibran bergeming dengan tubuh mematung.
"Maria diancam? Katakan, apa saja yang kau tahu saat itu?" desak Gibran.
Tapi lagi-lagi Rayan menjawab dengan gelengan. Gibran berdecak kesal dan menenggak rakus sisa wiski di gelasnya. Ia lalu menahan tangan Rayan yang hendak menuang kembali minuman beralkohol itu.
"Aku tidak tahu kau sepayah ini saat minum." Gibran menarik lengan mertuanya untuk berdiri. "Kalau begini kau tidak ada bedanya dengan Maria," lanjutnya menggerutu.
Gibran membawa Rayan ke kamarnya dan menggulingkan pria itu ke ranjang dengan sedikit kasar. Kemudian ia berbalik hendak pergi saat tiba-tiba saja Rayan bergumam.
"Willis ... mereka adalah iblis," bisik lelaki itu hampir tak terdengar.
Gibran terpaku beberapa lama di sana, lalu kakinya mulai melangkah perlahan keluar dari kamar Rayan. Pandangannya tak fokus seperti tengah berpikir.
Willis.
Apa sejak dulu Maria kerap mendapat ancaman dari keluarganya? Gibran ingat pernah menemukan luka lebam di pelipis gadis itu. Saat ditanya Maria hanya menjawab terbentur lemari.
Gibran kembali ke lantai atas, ia membuka pintu kamar Maria dengan pelan. Wanita itu masih lelap dalam tidur. Saking lelap mulutnya sampai terbuka separuh.
Gibran mendekat. Ia menatap lekat wajah sang istri yang damai sambil berusaha menelan ludah yang menggumpal di kerongkongan.
Tubuh Gibran mulai gemetar oleh emosi yang perlahan menyeruak ke permukaan. Nafasnya mulai tak beraturan saat ia bersimpuh di kaki ranjang, disusul bahunya yang berguncang dengan disertai isakan.
Gibran menelungkupkan wajah di tepi kasur dan menangisi semua yang telah terjadi di masa lalu.
Kebodohannya, sikap abainya terhadap Maria, juga kebrengsekannya yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan wanita itu.
Kamu benar, aku adalah iblis tak berperasaan.