His Purpose

His Purpose
160. Distress



Gibran urung berbaring ketika ponselnya bergetar di atas nakas. Maria yang hendak terlelap pun turut menoleh ketika suaminya meraih ponsel tersebut.


Gibran nampak terdiam sebentar sebelum menempelkan benda pipih itu di telinga. "Halo?"


Kali ini keningnya berkerut samar. Sesaat ia menoleh pada Maria dan memberi isyarat agar wanita itu menunggunya sebentar, sementara dirinya beranjak keluar kamar.


Maria penasaran. Siapa yang menelpon sampai Gibran harus meninggalkannya seperti itu.


Tak lama Gibran kembali dengan cukup tergesa. Lelaki itu melintasi Maria yang kini sudah sepenuhnya duduk dengan raut penasaran. Gibran masuk ke ruang wardrobe, rupanya dia mengambil dompet dan kunci mobil. Kontan Maria beranjak berdiri.


"Koko mau ke mana?"


Gibran masih berbicara dengan seseorang di seberang sana hingga sedetik kemudian telpon itu berakhir. Ia menyentuh bahu Maria. "Aku keluar sebentar, ya?"


"Ke mana?" Kening Maria berkerut. "Sepertinya ada sesuatu yang gawat? Apa yang terjadi?"


"Papa kecelakaan. Polisi bilang kecelakaan tunggal. Sekarang sedang ditangani di ruang operasi."


Maria terhenyak. "Pa-Papa? Papa siapa?"


"Abhi."


"Astaga." Maria menutup mulutnya terkejut.


"Kamu tunggu di sini, ya? Aku harus ke sana karena Gabriel sedang di Brunei. Mungkin dia baru bisa kembali besok."


Maria mengangguk cepat. "Hati-hati."


Gibran mengangguk dan mengecup kening Maria lama. Tak lupa ia juga menyapa perut Maria sebelum pergi. Jika saja Maria tidak sedang hamil, mungkin ia sudah memaksa ikut. Sayangnya keadaan tak mendukung.


Gibran pergi masih dengan piyama tidurnya. Maria sempat membekali pria itu sweater untuk berjaga-jaga. Ia lega karena Gibran pergi bersama Nick. Dengan begitu ia tidak sendirian di jalan. Maria takut karena sepertinya tadi Gibran sudah sangat mengantuk.


"Semoga Papa Abhi baik-baik saja," bisik Maria sambil menangkupkan tangan dan terpejam.


Pagi menjelang Gibran masih belum memberi kabar. Padahal Maria ingin tahu perkembangan mertuanya itu bagaimana. Sepanjang malam Maria kesulitan tidur karena resah. Tapi syukurnya Gibran bersedia menemaninya lewat panggilan video.


Rayan juga sudah mengetahui mengenai kecelakaan yang menimpa besannya tersebut. Meski hubungan mereka kurang begitu baik, tapi Maria yakin Rayan akan tetap menyempatkan diri menjenguk rekan bisnisnya itu.


Pagi berganti siang, akhirnya Maria mendapati Gibran pulang. Lelaki itu sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana bahan. Sepertinya baru.


Maria yang sudah menunggu-nunggu kedatangan Gibran kontan menyongsong begitu lelaki itu masuk dari pintu utama.


"Papa bagaimana?"


Gibran tak menjawab, ia hanya tersenyum dan malah menunduk menciumi perut Maria.


"Koko, ih."


"Hm?"


"Papa bagaimana?"


Gibran seperti enggan menjawab pertanyaan Maria. Ia menegakkan tubuh dan mengecup kening Maria singkat. "Apanya yang bagaimana?"


Ingin sekali Maria berdecak. "Tentu saja keadaannya."


"Baik," jawab pria itu singkat.


"Ish! Serius!"


"Aku serius, Plum. Dia tidak apa-apa."


Dari semalam Gibran tidak ada panik-paniknya. Heran, apa dia tidak punya sedikit saja rasa khawatir pada ayahnya? Tapi, dengan Gibran yang bersedia menjadi wali itu sudah menunjukkan bahwa dia peduli.


Maria tak bertanya lagi, meski sebetulnya ia masih penasaran dan ragu dengan jawaban Gibran. Bagaimana mungkin ia percaya Papa Abhi baik-baik saja sementara tadi ia melihat keadaan mobilnya di berita televisi.


Sebagai pengusaha tersohor di tanah air, tentu hal-hal yang menyangkut Abhimanyu Wiranata kerap kali menjadi sorotan, termasuk insiden kecelakaan semalam.


"Koko mau ke rumah sakit lagi?"


Abhimanyu dirawat di rumah sakit miliknya sendiri.


"Untuk apa? Toh Gabriel hari ini pulang. Dan lagi, si Kakek Tua juga ada di sana," sahut Gibran dengan suara yang mendadak malas.


"Maksud Koko Kakek Roman?"


"Hm."


"Koko masih saja seperti itu pada mereka. Mereka kan keluarga Koko."


Gibran tak menyahut. Saat Maria mendongak ia mendapati sorot Gibran begitu rumit tak bisa ditebak. Sepelik apa hubungan Gibran dan keluarganya hingga Gibran selalu enggan jika disangkutpautkan dengan mereka?


***


Abhimanyu terbaring lemah di ranjang ICU. Berbagai peralatan medis menempeli hampir lima puluh persen tubuhnya.


Di luar, Roman menatap sang putera dengan prihatin. Ia tak bisa masuk karena dokter melarang selama keadaan Abhi masih kritis.


"Kenapa kalian menjadi serumit ini?" gumamnya pelan. "Sampai kapan semua peperangan ini akan terjadi?"


"Jangan sampai ada nyawa yang terenggut. Bagaimana pun kalian pernah menjadi satu keluarga."


Suara langkah yang mendekat menarik atensi Roman dari keterpakuannya. Ia menoleh dan mendapati Sandra berjalan santai dengan tangan bersidekap dan senyum mengembang.


Raut Roman berubah datar. "Mau apa kamu ke sini?"


Sandra mengangkat alis. "Melihat keadaan mantan suamiku, tentu saja."


"Perempuan iblis. Beraninya kamu—" Roman menarik nafas dalam. "Aku akan melaporkanmu ke polisi. Ingat, statusmu di sini adalah orang asing," tekannya yang sontak membuat Sandra tertawa lirih.


Wanita itu mengangkat tangannya yang memegang sebuah map. "Silahkan. Kita akan tahu siapa yang salah di sini." Sandra mendengus. "Hasil visum ini jelas akan memberatkan putramu."


Kening Roman berkerut dalam. "Apa maksudmu?"


Sandra tak langsung menjawab. Sudut bibirnya berkedut samar menatap lelaki yang merupakan mantan mertuanya itu.


Sandra berbalik dan meninggalkan Roman sendiri dengan rasa penasarannya. Apa yang wanita itu maksud barusan? Hasil visum apa? Apa Abhi melakukan sesuatu pada Sandra?


Roman menoleh lamat pada Abhimanyu. Sorotnya rumit memandang Abhi yang kini tak berdaya di bawah bayang-bayang monitor.


***


"Koko belum jawab pertanyaanku soal kalung itu." Maria merengut.


Gibran mengalihkan sejenak pandangannya dari laptop guna menatap Maria. Ia memandang lama sang istri sebelum menghela nafas panjang. "Kamu begitu ingin tahu dengan benda itu."


Itu bukan pertanyaan, tapi fakta.


"Ya habisnya Koko mencurigakan. Jangan-jangan itu kalung mantan pacar Koko. Koko gagal move on, ya?!"


Gibran yang kurang fokus justru kelepasan bicara. "Iya."


Ia tak menyadari raut Maria yang kini berubah gelap menatap tajam padanya. "Tuh, kan! Benar, kan?! Jadi Koko masih sering memikirkan mantan sampai sekarang?!"


Maria sudah merengut dengan mata berkaca.


Gibran yang baru sadar akan kesalahannya sontak menghentikan gerakan jarinya yang tengah mengetik.


"Plum, maksudku bukan begitu."


"Lalu apa?" Maria menggasak matanya yang berair. "Jelas-jelas Koko bilang masih suka memikirkan mantan. Hiks, Koko jahat. Koko saja suka melarangku mengingat Gabriel. Tapi sekarang ..."


"Sayang, kamu salah paham." Gibran beranjak menghampiri Maria yang entah tengah membereskan apa di ruang wardrobe.


Sedari tadi wanita itu bersimpuh di lantai, sementara Gibran duduk di sofa sambil bekerja. Kini Gibran berlutut di hadapan Maria yang masih sibuk mengusap air mata. Ia raih bahu sang istri dengan lembut guna menatapnya.


"Kamu salah paham. Tadi aku tidak fokus dengan pembicaraan kita, termasuk pertanyaanmu."


"Hiks, bohong. Koko bilang itu kalung mantan."


Memang. Apa aku harus jujur sekarang? Sementara aku sendiri takut dengan reaksi Maria bagaimana.


"Itu ... "